Bayangan

Walau sudah bertekad buat resign, tentu saja yang namanya perasaan galau itu pasti pernah datang.

Pagi ini aku berjalan menuju nursery room sambil mengamati kotak-kotak ubin di bawah kakiku. Sepatuku yang berhak 3 cm. Rok-ku yang melambai-lambai…

Tetiba aku sadar. BARANGKALI, sebentar lagi bukan lagi ubin yang kuinjak, tapi tanah kering tegalan. Juga bukan lagi rok bersih yang kukenakan, tapi celana panjang lusuh yang biasa dipakai untuk pergi ke kandang ayam.

Kau mungkin akan bilang, mosok se nur? Yo gak mungkin lah se-ngenes itu…

BARANGKALI, tetapi tetap saja mungkin terjadi kan?!

Jujur dengan percepatan resign ini (aku lebih suka menyebutnya percepatan, karena cepat atau lambat keputusan resign pasti akan diambil juga), ada banyak hal yang terlalu mendadak sehingga tidak ada persiapan. Atau lebih tepatnya tidak ada bayangan.

Aku masih bingung apa yang akan kulakukan nanti. Rencana pasti ada. Jangan kau tuduh aku ga punya rencana. Blue print usaha ada. Bahkan aku sudah menyusun langkah-langkahnya. Pun hampir memulai langkah persiapannya.

Tapi untuk kehidupan sebenarnya yang akan kujalani nanti, hingga sekarang aku belum punya bayangan. Dan aku gelisah karenanya…

Mungkin karena aku orang Jawa, yang ndeso, yang masih sedikit percaya dengan kejawen, makanya aku percaya akan adanya isyarat. Dari alam, dari rangkaian peristiwa, dari mimpi. Isyarat itu akan hadir semacam bayangan yang meneguhkan. Iya, aku suka menyebutnya “bayangan”. Dan dia lebih kuat dari logika. Dari sejak akan sekolah di SMP4, sekolah di SMA3, sekolah di STAN, bekerja di keuangan, menikah dengan mz nug, dan yang terakhir: mutasi mz nug, semua selalu ada bayangannya. Semacam wangsit. Semacam ramalan bahwa aku akan berada di sana, dengan orang-orang itu, akan terjadi peristiwa itu. Sedangkan ini?!

Aku merasa masih ada yang salah. Bukan. Bukan soal keputusan ini. Seluruh isyarat peristiwa mendorongku untuk mengambil keputusan ini. Tidak, ini sudah benar. Tapi kenapa masih juga ada yang mengganjal?!

Mungkin karena aku sudah lama absen sholat malam? Mungkin karena aku sudah lama tidak lagi puasa? Mungkin karena aku terlalu jauh dari Tuhan?

Gusti Alloh, nyuwun pangapunten…