Tentang Kesederhanaan

Salah satu alasan kenapa aku pingin memindahkan keluarga ini ke desa adalah:

untuk belajar arti kesederhanaan.

Karena rasanya susah mengajarkan hidup sederhana di tengah gempuran budaya konsumerisme dan materialisme ibu kota.

Makanya impianku adalah hidup seperti keluarga cemara. Hidup sederhana. Makan secukupnya. Pakaian selayaknya. Mensyukuri setiap rupiah dan setiap rejeki yang datang (karena rejeki tidak selalu berupa rupiah kan?!). Sabar. Nriman. Ayem. Tentrem. Bahagia.

Namun walau berangan-angan seperti itu, ada satu hal yang terlupa:

sudahkah aku, sebagai ibunya, siap untuk hidup seperti itu?!

Hari sabtu minggu lalu, aku dan mz nug (yang kebetulan lagi pulang *asyik, abi di rumah!) pergi ke pengajian di mesjid BI. Iseng saja sih, belum pernah ikut sebelumnya, tidak tahu pematerinya. Berangkat sudah telat (emak rempong tentu saja sibuk dulu belanja ke pasar), sudah pasrah ketinggalan materi. Namun ternyata acara yang dijadwal mulai pukul 9, sampai jam 10 pun belum masuk ke acara inti. Sehingga wajar donk di sela waktu menunggu, aku punya banyak waktu untuk melamun (jangan ditiru ya, bukannya sholat sunah masjid malah melamun :p)

Pertama dan terakhir kali aku ke masjid BI adalah ketika patah hati, sesaat sebelum “ketemu” mz nug. Di sana untuk pertama kalinya aku mengikuti mabit (ikutan mabit kok alasannya patah hati, hahaha). Masjid BI tetap bagus seperti biasanya. Tetap mewah. Namun hari itu ada kemewahan lain yang menyilaukan mataku.

Pakaian para akhwat.

Bukan. Bukan sejenis jilbab lilit-lilit yang lagi diperdebatkan itu. Bukan pula sanggul punuk onta. Jilbabnya lebar. Gamisnya ga ada lekukan. Cuma… cuma… aku tahu dari bahannya, itu semua mahal-mahal T-T

Mungkin karena tempatnya mewah, jadi yang datang juga kebanyakan dari kalangan berada. Dan tetiba sifat minderku kambuh. Aku yang datang dengan pakaian seadanya, terasa tidak pantas berada di sana. Lembar infak pun setiap lembarnya tertera nominal yang jumlahnya 2/3 uang makan sebulan :p

Jadi karena pikiran-pikiran aneh ini aku malah ga konsentrasi ke materi. 😦

Sampai akhirnya aku harus keluar duluan karena maagku kambuh. Aku pun membeli sio may di luar pagar, sekedarnya untuk mengganjal lapar. Ketika itu ada ibu-ibu keluar dengan anaknya. Sang ibu menawari anaknya sio may. Tapi dengan syarat, belinya 3 ribu aja ya…

Saat itu aku langsung terhenyak. Diriku yang mengaku miskin (kan emang keuangannya lagi mepet), yang ngaku mau hidup sederhana, yang bajunya ndeso, tapi beli sio may 7 ribu. Sedang si ibu yang tampak rapi, dengan baju dan jilbab mahal seperti yang kutuduhkan, makanannya dihemat dan dibatasin…

Bagaimana bisa menerapkan gaya hidup hemat kalo aku sendiri belum bisa hemat?!

Ah, hidup sederhana ternyata harus diterapkan dalam segala hal. Ga cuma baju, tapi juga makanan (ini nih yang sering), rumah, kendaraan…

Bismillah. Semoga bisa lebih istiqomah…