Galau Calon IRT

Masih galau juga ya…

Hehehe, tapi bukan galau yang “ragu” gitu sih… Kali ini galaunya lebih ke deg-degan…

Serius, ternyata mau jadi IRT itu lebih deg-degan daripada mau masuk kerja ya… (ya iya wong ikatan dinas, udah “hampir” jelas kerjaannya bakalan kaya apa aja)

Beberapa hari yang lalu, status fb ku berbunyi “puyeng…”. Menjawab pertanyaan temanku, aku jawab puyengnya bukan karena flu, tapi karena banyak banget yang mesti dipelajari.

Belajar apa emang?!

Belajar jadi Ibu Rumah Tangga yang baik!

Barangkali karena dalam resign ini ada sedikit “keterpaksaan“, makanya aku tidak punya banyak persiapan. Baru setelah baca tulisan temenku ini, aku kepikiran: Iya sih, aku udah mulai nyicil persiapan untuk kehidupan nanti. Tapi apakah aku sudah belajar untuk menjadi ibu yang baik?

Karena percuma donk aku resign dengan alasan demi anak tapi yang disiapin malah bisnis sesudah resign. Kalo gitu sama aja donk dengan ketika masih bekerja. Atau kalo sudah nemenin anak tapi kualitasnya gitu-gitu doank, sekedar “selalu ada mendampingi mereka” tanpa planning yang bagus, sama aja donk dengan anak-anak itu ditungguin ART.

Rugi kan?!

Makanya aku mulai bergerak mencari tahu tentang ilmu parenting, tentang ilmu menjadi ibu yang baik, sehingga kemudian berkenalan dengan metode montessory, komunitas ibu profesional, komunitas home scholling, ibu-ibu hebat di luar sana (tetiba sosok Astri Nugraha terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan sosok mbak Kiki Barkiah 😛 ), dsb, dsb… lalu… puyeng deh! Hahaha

Betapa banyak hal yang aku belum tahu. Betapa banyak hal yang harus dipelajari. Dan betapa sempit waktu yang tersisa untuk mempelajari semua itu (sekalian pengumuman: SK saya sudah keluar teman-teman 😀 tinggal 2,5 bulan nih ngantor di Jakarta :mrgreen: )

Sejauh ini, hasil analisa ngawur saya, ada minimal 4 hal yang harus disiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik 😛

1. Fisik yang kuat

Beda dengan kerja kantoran, hampir 80% pekerjaan di rumah itu berhubungan dengan fisik. Apalagi kalo yang diasuh ada balita. Apalagi dua yang terkecil adalah cowok kembar. Belum bisa merangkak saja si nashir udah kemana-mana (-__-!) Trus pingin berkebun juga kan? Jadi kekuatan fisik itu syarat wajib *tenggak habbatus sauda banyak-banyak

2. Ilmu yang luas

Dari ilmu agama, ilmu parenting, ilmu pendidikan, pengetahuan soal masak-memasak, berkebun, beternak, pertukangan, dsb.

3. Kemandirian

Karena suami jauh dan no ART, jadi memang harus bener-bener mandiri. Bisa naik motor dan nyetir mobil (punya ayah) bukan lagi keinginan, tapi kebutuhan.

4. Sabar, ikhlas, dan tawakkal

Sabar ngadepin anak-anak (jangan sampe karena kecapekan trus jadi singa arema), ikhlas dengan kondisi dan keadaan, tawakkal bila sudah berikhtiar sekuat tenaga.

Jadi, sampai saat ini kira-kira aku sudah memenuhi berapa poin ya?!

Aarrghhh… puyeng 😛