Perdana Sakit Cacar

Di usia (menjelang) 29 tahun! Huhuhu…

Dari dulu memang aku belum pernah sakit cacar. Sakit paling berat yang pernah kuingat adalah gondongen (pembengkakan kelenjar di leher). Makanya begitu nazar menunjukkan gejala bentol-bentol berisi air, aku kira itu adalah reaksi alergi *toyor kepala kanan kiri Habisnya aku dulu kalo kebanyakan makan telur emang bentol-bentol kecil isi air gitu sih… Jadi kupikir nazar gatel-gatel gara-gara laksa yang kumakan (siangnya memang alergiku sempat kambuh) Lalu ga ada demam pula. Seingetku, cuma semalam dia agak rewel. Itupun kupikir gara-gara hidungnya buntu. Bahkan setelah lama kelamaan bintil-bintil itu berubah merah, lalu mengering, dan mengelupas satu-satu, aku masih ga ngeh kalo itu adalah cacar.

Sekitar seminggu setelah nazar sembuh, aku menemukan bintil kecil di punggungku. Waktu itu ga kupedulikan. Hari rabu (28/5) pagi, aku menemukan lagi dua bintil isi air di atas PD sebelah kiri. Iseng kutekan salah satunya dan pecah donk! *dodol kok emang Hari itu aku berangkat ke kantor seperti biasa. Sempat mengeluh migren (kali kedua seminggu itu) makanya kuhajar lagi dengan kopi. Eh, kok sore pas pulang badan rasanya menggigil. Untung ga pingsan lagi di kereta😛 Sampe rumah karena khawatir, dengan menanggung demam yang mulai tinggi aku nekad mengayuh sepeda ke klinik terdekat (sepedaan malem-malem+jalan nanjak+kondisi demam itu ajib sekali lho sodara!) Waktu itu sudah mulai banyak bintil berair di badan, tapi kok ndilalah dokternya bilang “kalo cacar biasanya bergerombol bu” dan cuma ngasih salep alih-alih langsung nyuruh segera nenggak acyclovir *zzz…. masih dendam sama bu dokter *soale kalo cepet ketahuan kan nashir bisa segera diungsikan

Hari kamis (29/5) libur. Seharian demam di angka 38 ke atas. Paracetamol ga mempan. Tapi sempat sih sore hari pas agak mendingan malah kupake bikin simple banana bread *ga bisa diem Akibatnya, malam demam tinggi lagi😦

Hari jumat (30/5) kembali lagi ke klinik. Dapet dokter yang ga pro ASI. Langsung nyuruh berhentiin ASI buat anak-anak. Bahkan dipompa pun ga boleh. Katanya ada virusnya (yang setelah kubaca-baca di internet, sama sekali tidak terbukti. Virus cacar hanya menular melalui cairan lesi) Karena sebel sama dokternya, habis dari klinik nekad tetap beli kelapa ijo. Sesuatu yang akan kusesali sesudahnya karena lesinya jadi buanyaaakk banget yang keluar! Yo wes lah. Sudah terlanjur ini.

Cacar memenuhi muka. Sampe ke bibir, kelopak mata, dan dalam telinga juga.

Cacar memenuhi muka. Sampe ke bibir, kelopak mata, dan dalam telinga juga.

Hari sabtu (31/5) nashir positive tertular penyakitku T-T Mbak pon juga T-T sedang nazar bener-bener aman, tak terlihat gejala satu pun. Mbak tutik juga karena dulu sudah pernah kena cacar. Kuputuskan untuk tetap nyusuin nashir, berharap dia dapet acyclovir dalam ASI. Sedang untuk nazar aku pake ASIP *memandang stok yang semakin kritis 

Hari minggu (1/6) cacarku mulai memerah. Sedang nashir justru mulai demam.

Hari selasa (3/6) cacarku sudah mulai menghitam. Seharusnya sudah boleh masuk kerja. Tapi aku tunggu biar ada yang ngelupas untuk memastikan cacarku ini tidak akan menulari orang lain lagi. *sudah terbayang ratusan ribu potongan TC Nashir mulai aktif lagi. Cacarnya mulai memerah. Alhamdulillah bintilnya ga sebanyak nazar dulu (dan tentu saja tidak sebanyak aku)

Hari kamis (5/6) sudah duduk manis di kantor lagi.

PR besarnya tentu menghilangkan bekas cacar. Ga muluk-muluk, yang di wajah saja deh! Yang di badan (punggung penuh sepunggung!) saya ikhlaskan sama yang menciptakan…

Catatan:

  1. Ada small pox, ada chicken pox. Yang small pox lebih parah daripada chicken pox. Ciri small pox: lesinya muncul sampai di telapak tangan (kemarin aku yang ini, hohoho!)
  2. Acyclovir hanya efektif bekerja jika diminum dalam waktu 72 jam sejak kemunculan lesi pertama
  3. Kalo sudah minum acyclovir, ga usah minum air kelapa lagi karena akan memperparah lesi
  4. Tetap mandi dan jaga kebersihan kulit. Enakan mandi pake air anget dicampur daun sirih. Nasihat umum: jangan menggaruk lesi karena akan berbekas (yang ini aku belum membuktikan sih, soalnya cacarnya belum selesai dan alhamdulillah kemarin ga terlalu gatal) Biasanya dokter meresepkan bedak salicyl buat mengurangin gatal
  5. Acyclovir merembes lewat ASI.
  6. Virus cacar tidak menular lewat ASI. Jadi ibu tetap bisa nyusuin selama di aerola tidak ada lesi dan dapat memastikan si anak sama sekali tidak bersentuhan dengan lesi. Amannya ya dipompa. Tapi balik lagi, kalo masih mengkonsumsi acyclovir, sebaiknya pake ASIP saja dulu. Biasanya resepnya cuma untuk 3 hari kok!
  7. Cacar air tidak selalu diawali dengan demam. Pada pengalamanku, demam tinggi justru saat lesi-lesi bermunculan. Bayi/balita akan lebih kuat menghadapi ini daripada orang dewasa (makanya to, ini disebut penyakit anak-anak😛 ) Penyakit sampingan lainnya adalah batuk pilek ringan mirip orang flu
  8. Selama cacar wajib karantina. Silakan keluar kalo lesi sudah mengering dan mulai mengelupas, agar sampeyan tidak nularin teman-teman lain
  9. Kesimpulan pribadi: Kalo cacar ga perlu ke dokter. Acyclovyr harganya sekitar 7 ribu di apotek. Salepnya juga 5 ribu. Bedak salicyl bisa pake merk apa saja. Yang penting jaga kesehatan, banyak istirahat, banyak makan makanan bergizi. Karena cacar sejatinya adalah penyakit virus biasa. *nyesel kemarin buang-buang duit buat ke dokter sampe 2x😥

3 thoughts on “Perdana Sakit Cacar

  1. Ping-balik: Ramadhan 1435H | Catatan Keluarga Nugroho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s