Diari Parenting 1: Berkarier VS Full Time Mother

Duaaarrr! Pembukaan pertama malah membahas isu yang super sensitip yak… *tutupmuka

Setelah 7 tahun bekerja dan 4 tahun menjadi working mom, tahun 2014 ini aku memutuskan untuk resign dan mencoba menjadi stay at home mom (iya, bukan FTM soale kepikiran mau nyambi-nyambi juga)

Tapi kalo ada yang datang padaku dan bilang dirinya juga pingin resign, jawabanku sudah pasti: coba dipikir-pikir dulu!

Iya, aku ga mau jadi orang yang bilang IRT itu lebih baik atau working mom itu lebih baik. Nggak! Semua sama-sama baik. Karena kondisi tiap keluarga beda-beda. Ya kalo seorang single mother ga bekerja, trus anaknya makan apa? Atau ketika ada cicilan yang memberatkan. Atau ada ganti rugi yang besar yang harus dibayar ketika resign. Begitu pun jika di rumah sudah ada keluarga dekat yang membantu mengawasi anak-anak, apa salahnya mengejar karier? Selama bisa menyeimbangkan kehidupan kantor dan rumah tangga, kataku sah-sah saja seseorang menjadi ibu bekerja.

Intinya, jangan sampai keputusan resign diambil karena emosi sesaat, apalagi karena ikut-ikutan. Aku pernah membaca di blog seseorang, bahwa indikasi seseorang seharusnya resign adalah saat besar pasak daripada tiang. Kita bekerja tapi ga ada hasilnya. Lha kalo kaya gitu buat apa? Mending fokus ke pendidikan anak-anak.

Lain lagi bila memang alasan agama yang diambil. Maka itu memang harga mati. Bahwa tanggung jawab tertinggi atas seorang istri (dan ibu) adalah pada keluarganya. Apalagi bila suami bekerja dan hasilnya juga tampak mencukupi. Istilahe, nguber opo maneh se? Urip kok mikir ndonya terus…  😛 Pengetahuan agamaku sendiri masih cetek jadi alasan ini memang belum menjadi alasan mendasarku dalam memutuskan resign. Tapi aku kagum dengan ibu-ibu di luar sana, mbak kiki barkiah yang lulusan teknik ITB (teknik ITB rek! utekku ga nutut!) ataupun mbak fita chakra, penulis buku diari parenting ini yang lulusan S2. Mereka para orang pintar dengan basic pendidikan yang ga main-main (kalo aku kan S1 nya ga niat :mrgreen: ) namun mendedikasikan dirinya untuk keluarga.

Bismillah. Semoga keputusan ini membawa keberkahan bagi kami…

Diari Parenting: The Project

Iseng bikin proyek ah…

Dalam rangka persiapan resign, sudah pernah kusinggung di sini kalo aku mulai gemar belajar ilmu parenting. Beli buku, ikutan grup, follow fb ibu hebat… Tapi ternyata seleraku tidak berubah: lebih suka belajar berdasarkan pengalaman orang daripada ngikutin omongan mereka yang dikatakan “ahli pendidikan”. Apalagi kalo orangnya “jualan” banget, baik ngejual buku maupun seminar. Yang kaya gini biasae aku pasif aja. Ngikutin tapi ga aktif. Beli buku iya (dengan catatan bukunya murah 😛 ). Ikut seminar? Tunggu dulu! *ramodal

Makanya senang banget kalo nemu buku yang based on pengalaman pribadi penulisnya. Kaya buku “Ibu, Darimana Aku Berasal?” yang sempat kutulis di sini.

Kemarin pas abi di rumah, kesempatan donk buat jalan-jalan. Akhirnya setelah sekian lama, bisa mampir lagi ke Gramedia Matraman! *penting! Tujuan sebenarnya nyari buku pendidikan anak usia dini yang berbasis montessory. Tapi kok ya ga nemu. Daripada mubazir udah jauh-jauh ke sini, akhirnya iseng nyamber satu buku yang murah. Iya, murah. Cuma 39 ribu. Kertasnya buram sih. Tapi ini penerbit BIP lho… Penerbit yang sudah aku percaya untuk urusan buku anak-anak yang murah namun berkualitas.

Saranku lay out covernya perlu diperbaiki biar lebih "menjual" deh :P

Saranku lay out covernya perlu diperbaiki biar lebih “menjual” deh 😛

Dan ternyata pilihanku tidak salah.

Walau bukan buku terkenal, aku sukaaa banget dengan isi buku ini. Masing-masing bab dibagi menjadi 3 bagian: diari umum, diariku, dan diari bunda. Diari umum berisi teori parenting yang umum, yang sesuai ilmu psikologi. Diariku berisi pengalaman sang penulis dalam menjadi ibu bagi ketiga putrinya. Yang seru, kondisi penulis ternyata sama dengan kondisiku: anak keduanya kembar! Wah, seneng banget berasa ketemu temen senasib! Adapun diari bunda adalah kolom kosong yang… KITA ISI SENDIRI! Hehehe, gini aja heboh. Tapi menurutku seru menuliskan pengalaman pribadi yang related dengan issue yang sedang dibahas.

Lalu berhubung aku males corat-coret pake bolpen, tetiba dapet ide, kenapa ga kutulis aja di blog secara lengkap?! Nantinya proyek diari parenting ini akan berisi ceritaku sesuai bab-bab yang ada di buku itu. Jadi kalo blogger-blogger terkenal pada bikin 30 days writing challenges, proyek ini, proyek itu… Nah, sebagai emak-emak aku mau bikin proyek diari ini aja ah…

Tapi tapi… kecepatan postingnya sesuai mood ya… ga ada batesan harus kelar dalam seminggu atau sebulan… ^-^v