Antara Aku, JIL, dan Isu-isu Itu

Huff… pinginnya sih ga nyinggung capres-capresan. Tapi postingan ini memang terinspirasi dari sana.šŸ˜¦

Beberapa waktu lalu ada tulisan yang cukup menohokku. Katanya (kalo ga salah inget) orang buru-buru ngeshare berita (tanpa mengecek kebenarannya) salah satu alasannya adalah: karena berita itu mengusik nalurinya dalam bertahan hidup.

Jleb!

Pasalnya setelah menulis sikap netralku di sini, beberapa hari kemudian ada pernyataan dari anggota tim salah satu capres yang mengemukakan wacana penghapusanĀ kolom agama dari KTP. Aku kaget. Lalu tanpa berpikir panjang aku menshare tulisan itu di sosmed.

Sedih. Maksud hati ga ikut-ikutan posting memihak, ternyata tetap saja tak terhindarkan.

LaluĀ ada temanku yang menulis (hmm… sebenarnya meretweet sih) bahwa kampanye paling busuk adalah yang membawa-bawa soal agama.

Yah, sebenarnya aku juga setujuĀ dengan hal tersebut. Aku benci kalo agama dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Tapi khusus untuk pilpres ini, menurutku: memang ada “perang agama” di sini.

Terutama masalah JIL itu.

Ketika SMA, aku dekat dengan karya-karya keluaran komunitas utan kayu. Sebutlah Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu… orang-orang yang membela eks PKI, pro seks bebas… Bahkan saat itu pikiranku hampir seide: bahwa PKI adalah korban, bahwa seks bebas adalah dosa masing-masing orang… Ketika kuliah, salah satu mbak kos ku mengenalkanku dengan Sitok Srengenge. Aku pun menyatakan kekaguman akan diksinya yang hebat, puisi-puisinya yang kuat…

HinggaĀ suatu hari, aku membaca salah satu artikel di koran (yang sampe sekarang jadi kublack list diam-diam). Aku lupa siapa penulisnya. Yang jelas disana dikatakan bahwa Al Quran hanyalah karya pendeta teman Siti Khadijah. Bahwa Nabi Muhammad hanyalah mengumpulkan dongeng-dongeng yang sudah lama beredar di jazirah arab dan menuangkannya di Quran.

Sejak itu, aku mengenal istilah JIL. Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, apa visi misi mereka…

Dari dulu aku orangnya parnoan, gampang trauma pula. Aku juga penggemar teori konspirasi. Buku-buku tentang dajjal, fremanson, sampe syiah dan JIL habis kulahap. Makanya aku memberi nama tsabita ke nindy agar dia bisa teguh memegang ajaran Islam di jaman yang semakin gila ini. Aku juga memberi nama ali untuk si kembar, agar mereka ingat bahwa syiah adalah perusak ajaran. UntukĀ hariĀ lahir pun kupilihkan tanggal 11 September, tanggal dimana pada tahun milenium dulu, umat Islam mulai disudutkan, diperangi, dan difitnah habis-habisan.

Jadi JIL mengusik naluriku dalam bertahan hidup? Iya. Sangat! Aku yang paranoid ini benar-benar ketakutan bila sampai mereka berkuasa. Mereka orang-orang pintar, sangat pintar! Sudah dua kali aku membaca tulisan mereka. Dan subhanalloh, sulit sekali menghapus isi tulisan itu dari kepala. Aku yang dibesarkan dengan back ground seperti ini saja (ayahku guru agama), hampir-hampir kalah dan terpengaruh oleh tulisan mereka yang “tampakĀ sangat masuk akal”. Lha, aku saja bisa terhipnotis, apalagi mereka yangĀ masih awam akan Islam?

Ada lagi tulisan yang mengatakan: Islam terlalu agung untuk disandingkan dengan politik. Islam akan baik-baik saja dan ga usah parno deh… Ga akan semudah itu agama ini diruntuhkan…

Iya, tentu saja ga akan semudah itu Islam runtuh. Tapi tengoklah negara-negara Islam itu. Bukankah mereka yang mayoritas justru terkalahkan oleh minoritas? Bukankah arab palestina justru yang terusir dari tanah perjanjian? Masih ingatkah kalian akan sejarah muslim Bosnia?

Intanshurullaha yansyurkum, wayutsabit aqdamakum.. ā€œHai orangā€orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmuā€ (Q.S Muhammad :7)

Alloh tentu tidak butuh pertolongan kita. Tapi Alloh mengisyaratkan bahwa “menolong agama Alloh” itu tindakan nyata.

Ketika aku lulus SD, kami pindah dari Malang Timur ke Malang Selatan. Waktu beres-beres pindahan, aku menemukan secarik kertas berwarna kekuningan, tampak dari tahun 80-an. Isinya? Propaganda tentang kristenisasi.

Jadi, isu-isu itu bukan hal baru. Aku membaca sendiri kertas itu. Aku mengalami juga masa-masa 98. Aku takut sekali dengan isu perpecahan, apalagi isu peperangan.

Jadi kawan, maafkan bila beberapa pemuka agama kami seolah-olah tidak subyektif dan tampak memihak. Mungkin ini bagimu terlihat memuakkan. Tapi ijinkan kami berusaha melindungi agama kami. Karena inilah cara kami untuk mempertahankan diri.

One thought on “Antara Aku, JIL, dan Isu-isu Itu

  1. Ping-balik: Kisah Ngeri Mayat Berasap - KOPI LEKAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s