Diari Parenting: The Project

Iseng bikin proyek ah…

Dalam rangka persiapan resign, sudah pernah kusinggung di sini kalo aku mulai gemar belajar ilmu parenting. Beli buku, ikutan grup, follow fb ibu hebat… Tapi ternyata seleraku tidak berubah: lebih suka belajar berdasarkan pengalaman orang daripada ngikutin omongan mereka yang dikatakan “ahli pendidikan”. Apalagi kalo orangnya “jualan” banget, baik ngejual buku maupun seminar. Yang kaya gini biasae aku pasif aja. Ngikutin tapi ga aktif. Beli buku iya (dengan catatan bukunya murah 😛 ). Ikut seminar? Tunggu dulu! *ramodal

Makanya senang banget kalo nemu buku yang based on pengalaman pribadi penulisnya. Kaya buku “Ibu, Darimana Aku Berasal?” yang sempat kutulis di sini.

Kemarin pas abi di rumah, kesempatan donk buat jalan-jalan. Akhirnya setelah sekian lama, bisa mampir lagi ke Gramedia Matraman! *penting! Tujuan sebenarnya nyari buku pendidikan anak usia dini yang berbasis montessory. Tapi kok ya ga nemu. Daripada mubazir udah jauh-jauh ke sini, akhirnya iseng nyamber satu buku yang murah. Iya, murah. Cuma 39 ribu. Kertasnya buram sih. Tapi ini penerbit BIP lho… Penerbit yang sudah aku percaya untuk urusan buku anak-anak yang murah namun berkualitas.

Saranku lay out covernya perlu diperbaiki biar lebih "menjual" deh :P

Saranku lay out covernya perlu diperbaiki biar lebih “menjual” deh 😛

Dan ternyata pilihanku tidak salah.

Walau bukan buku terkenal, aku sukaaa banget dengan isi buku ini. Masing-masing bab dibagi menjadi 3 bagian: diari umum, diariku, dan diari bunda. Diari umum berisi teori parenting yang umum, yang sesuai ilmu psikologi. Diariku berisi pengalaman sang penulis dalam menjadi ibu bagi ketiga putrinya. Yang seru, kondisi penulis ternyata sama dengan kondisiku: anak keduanya kembar! Wah, seneng banget berasa ketemu temen senasib! Adapun diari bunda adalah kolom kosong yang… KITA ISI SENDIRI! Hehehe, gini aja heboh. Tapi menurutku seru menuliskan pengalaman pribadi yang related dengan issue yang sedang dibahas.

Lalu berhubung aku males corat-coret pake bolpen, tetiba dapet ide, kenapa ga kutulis aja di blog secara lengkap?! Nantinya proyek diari parenting ini akan berisi ceritaku sesuai bab-bab yang ada di buku itu. Jadi kalo blogger-blogger terkenal pada bikin 30 days writing challenges, proyek ini, proyek itu… Nah, sebagai emak-emak aku mau bikin proyek diari ini aja ah…

Tapi tapi… kecepatan postingnya sesuai mood ya… ga ada batesan harus kelar dalam seminggu atau sebulan… ^-^v

Lebaran dan Baju Baru

Dua hari kemarin, aku menghabiskan uang setengah juta lebih buat belanja BAJU!

Iya, harus di capslock, soalnya nur ini asline tipe orang yang ga bisa belanja baju lho.. Selain buta mode, aku juga suka keder ngeluarin uang lumayan banyak buat sehelai baju. Lha kan sehelai baju ga ada yang sepuluh ribuan (kecuali kalo mau ngelayap ke Senen). Makanya selama ini kebanyakan bajuku ya baju lungsuran.

Namun sejak menikah, trus punya anak, mau ga mau harus belanja baju to ya… Mosok suami ma anak-anak disuruh pakai baju lungsuran juga?! (walau si kembar akhirnya lebih banyak pake baju lungsuran nindy, hehehe) 

Asline shock sih  lihat berapa banyak uang yang habis. Tapi mau gimana lagi? Paduan balita dan 2 bayi kembar tentu saja butuh dana kan?! (ortunya pake baju yang sudah dua tahun ini setia menemani ke kantor saja, maaf ya abi… 😀 )

Dan petualangan dua hari kemarin berbuah pada pemikiran:

Itu orang-orang yang nyinyir sama ibu-ibu yang sibuk belanja baju jelang lebaran pasti belum punya anak ya?! Kalo orang tua sih gapapa pake baju biasa. Tapi yo mosok tega sih ngebiarin anak-anaknya pake baju butut di depan banyak tamu?!

Lanjut ke:

Buat yang nyinyirin ibu-ibu yang sibuk bikin kue jelang lebaran, ngerasain ga sih, dengan semakin mudahnya jaman dan hilangnya kebiasaan bikin kue sendiri, lebaran semakin lama semakin hampa?! Karena effort (kerja keras) jelang lebaran, bahu membahu bekerjasama seluruh anggota keluarga itu lah yang membuat lebaran terasa istimewa. Kebersamaan itu lah yang membuat lebaran terasa spesial.

Ini hasil belanja sesi kedua. Jaketnya harga 70 ribuan. Celananya 4 juga 70 ribuan. Baju kaos 200rb/6. Semua hasil diskonan. :P

Ini hasil belanja sesi kedua. Jaketnya harga 70 ribuan. Celananya 70rb/4. Baju kaos 200rb/6. Semua hasil diskonan. 😛

Ya tahu sih, intinya harusnya persiapan rohaniah lebih dipentingkan daripada persiapan lahiriah. Tapi… tapi… kalo persiapan lahiriah bisa membawa hati untuk beranjak mempersiapkan diri juga, gapapa kan?! *pembelaan dari ibu-ibu yang sudah habis-habisan belanja lebaran

Jadi, buat ibu-ibu yang baca postingan ini, sudah pada belanja baju lebaran belum? Btw, Jakarta Great Sale sudah mulai dari tanggal 7 kemarin lho… :mrgreen:

Laki-Laki Dayus

Pagi tadi sebelum berangkat, sambil sibuk dengan semua printilan, aku ga sengaja dengar di teve lagi ada pembahasan tentang laki-laki dayus.

Eh, jayus?! *tetiba inget antok SMA 3 😛

Gayung bersambut, begitu sampe kantor, pagi-pagi si kiki sudah heboh patah hati bergosip tentang temen seangkatannya yang mau nikah. Kok heboh?! Soalnya menurut pengakuannya, sebelum pengumuman mau nikah itu, ni cowok terkenal alim, rajin ke masjid, celananya ngatung, pokokmen yang ikhwan banget gitu lah. Eh tetiba begitu mau nikah, tersebarlah di sosmed foto prewednya, dengan perempuan ga berjilbab, gaun off shoulder, peluk-pelukan. Shocking!

Karena dia pikir temennya itu bakalan menikah dengan seorang akhwat berjilbab lebar, via ta’aruf, endesbre endesbre…

Jadi, apa hubungannya dengan si gayus… eh, jayus… eh, dayus, tadi?!

Agak susah ternyata nyari penjelasan tentang dayus ini. Soalnya… rata-rata sumbernya bahasa malay bo! Beta tidak mengerti! 😆 Untung blog ini lumayan bisa dibaca. Itupun menyadur dari tulisan bahasa malaysianya. Baiklah, mari gabungkan dengan tulisan ini.

Nabi SAW bersabda :

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمترجلة، والديوث. رواه أحمد والنسائي
Artinya : Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat : Si penderhaka kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki DAYUS” ( Riwayat Ahmad & An-Nasaie)

Wih, disejajarkan dengan durhaka ke ibu bapak lho… *dikutuk jadi batu Jadi apa sih dayus itu?

Sabda Nabi :

وعن عمار بن ياسر عن رسول الله قال ثلاثة لا يدخلون الجنة أبدا الديوث والرجلة من النساء والمدمن الخمر قالوا يا رسول الله أما المدمن الخمر فقد عرفناه فما الديوث قال الذي لا يبالي من دخل على أهله
Artinya : Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah SAW berkata : “Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaitu Si DAYUS, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak” lalu sahabat berkata : Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu DAYUS? , berkata nabi : “Yaitu orang yang tidak mempedulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (isri dan anak-anaknya) – ( Riwayat At-Tabrani)

Dan ini :

قالوا يا رسول الله وما الديوث قال من يقر السوء في أهله
Artinya : Apakah dayus itu wahai Rasulullah ?. Jawab Nabi : Yaitu seseorang (lelaki) yang membiarkan kejahatan (berzina, membuka aurat, bergaul bebas laki perempuan) dilakukan oleh ahlinya (isteri dan keluarganya)

Simpulannya, dayus adalah adalah seorang suami atau ayah yang membiarkan kemaksiatan terjadi dalam keluarganya. Yaitu ketika dia melihat kemungkaran oleh anggota keluarganya, dia hanya diam saja dan tidak merubahnya. Lawannya adalah al-ghayyur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat.

Dayus ini termasuk dosa besar. Karena Allah telah menetapkan suami sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, pemimpin atas anak dan istrinya, dan kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Dari Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian ra’in (penanggung jawab) dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa adalah penanggung jawab atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Suami menjadi penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan ditanya tentangnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Berikut beberapa ciri dayus menurut blog luar negeri:

  • Membiarkan kecantikan/aurat/bentuk tubuh isterinya dinikmati oleh lelaki lain sepanjang waktu di kantor (jika bekerja) atau di luar rumah (mungkin maksudnya bajunya tipis atau terlalu ketat?!).
  • Membiarkan isterinya pulang lewat waktu dan tidak diketahuinya bersama dengan lelaki apa dan siapa, serta apa yang dibuatnya di kantor dan siapa yang menghantar.
  • Membiarkan aurat isterinya dan anak perempuan dewasanya terlihat (tersingkap kainnya) ketika naik motor atau kendaraan yang menyebabkan aurat terlihat (sepeda?!).
  • Membiarkan anak perempuannya berkencan dengan tunangannya atau teman lelaki bukan mahramnya.
  • Membiarkan anak perempuannya berdua-duaan dengan pasangannya di rumah (pacaran di teras?!).
  • Menyuruh, mengarahkan, dan bangga bila anak perempuan dan isterinya memakai pakaian yang seksi di luar rumah (naudzubillah… amit-amit kalo ini mah!).
  • Membiarkan anak perempuannya mengikuti kontes kecantikan dan lain-lain yang memamerkan kecantikan kepada jutaan manusia bukan mahram.
  • Membiarkan isterinya atau anaknya menjadi artis dan berpelukan dengan lelaki lain, dengan alasan atas dasar seni dan akting semata-mata. Apakah selama berakting, nafsu seorang lelaki bisa hilang? Tidak sekali-sekali.
  • Membiarkan isteri bekerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.
  • Membiarkan isteri disentuh anggota tubuhnya oleh lelaki lain tanpa sebab yang ditoleransi oleh Islam seperti menyelamatkannya dari lemas dan yang sepertinya (kalo berdesak-desakan di KRL gimana ya?! *untung cepat resign 😛 ).
  • Membiarkan isterinya melahirkan dengan bantuan dokter lelaki padahal tidak dalam kondisi terdesak atau tidak punya pilihan. Jikalau memang terdesak atau tiada pilihan atau ada kasus darurat tertentu, maka ada keringanan dan bukan dayus.
  • Membawa isteri dan anak perempuan untuk diperiksa pada bagian auratnya oleh dokter lelaki sedangkan klinik atau rumah sakit tersebut mempunyai dokter wanita. Tidak pula dia berada dalam kondisi darurat.
  • Membiarkan isteri pergi kerja menumpang dengan teman lelaki sekantor tanpa sedikit pun rasa cemburu.
  • Membiarkan isteri sering pergi hanya bersama dengan sopir laki-laki tanpa pengawasan.

Duh, semoga para suami kita bukan termasuk suami yang seperti itu. Dan semoga kita bisa mendidik anak-anak laki-laki kita agar memiliki kehormatan dan harga diri serta memegang teguh ajaran Islam.

NB: Salah satu alasanku resign adalah tidak tahan dengan fitnah di tempat kerja. Ga munafik lah, kadang pas di rapat ketemu cowok cakep kan?! Atau masalah-masalah syubhat. Kadang juga muak kalo pas di kereta sebelahan dengan ibu-ibu yang menggelendot mesra ke bapak-bapak yang bukan muhrimnya (bisa disimpulkan dari percakapan mereka *sudah pernah dibahas sama suami) Jakarta oh Jakarta…

Galau Calon IRT

Masih galau juga ya…

Hehehe, tapi bukan galau yang “ragu” gitu sih… Kali ini galaunya lebih ke deg-degan…

Serius, ternyata mau jadi IRT itu lebih deg-degan daripada mau masuk kerja ya… (ya iya wong ikatan dinas, udah “hampir” jelas kerjaannya bakalan kaya apa aja)

Beberapa hari yang lalu, status fb ku berbunyi “puyeng…”. Menjawab pertanyaan temanku, aku jawab puyengnya bukan karena flu, tapi karena banyak banget yang mesti dipelajari.

Belajar apa emang?!

Belajar jadi Ibu Rumah Tangga yang baik!

Barangkali karena dalam resign ini ada sedikit “keterpaksaan“, makanya aku tidak punya banyak persiapan. Baru setelah baca tulisan temenku ini, aku kepikiran: Iya sih, aku udah mulai nyicil persiapan untuk kehidupan nanti. Tapi apakah aku sudah belajar untuk menjadi ibu yang baik?

Karena percuma donk aku resign dengan alasan demi anak tapi yang disiapin malah bisnis sesudah resign. Kalo gitu sama aja donk dengan ketika masih bekerja. Atau kalo sudah nemenin anak tapi kualitasnya gitu-gitu doank, sekedar “selalu ada mendampingi mereka” tanpa planning yang bagus, sama aja donk dengan anak-anak itu ditungguin ART.

Rugi kan?!

Makanya aku mulai bergerak mencari tahu tentang ilmu parenting, tentang ilmu menjadi ibu yang baik, sehingga kemudian berkenalan dengan metode montessory, komunitas ibu profesional, komunitas home scholling, ibu-ibu hebat di luar sana (tetiba sosok Astri Nugraha terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan sosok mbak Kiki Barkiah 😛 ), dsb, dsb… lalu… puyeng deh! Hahaha

Betapa banyak hal yang aku belum tahu. Betapa banyak hal yang harus dipelajari. Dan betapa sempit waktu yang tersisa untuk mempelajari semua itu (sekalian pengumuman: SK saya sudah keluar teman-teman 😀 tinggal 2,5 bulan nih ngantor di Jakarta :mrgreen: )

Sejauh ini, hasil analisa ngawur saya, ada minimal 4 hal yang harus disiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik 😛

1. Fisik yang kuat

Beda dengan kerja kantoran, hampir 80% pekerjaan di rumah itu berhubungan dengan fisik. Apalagi kalo yang diasuh ada balita. Apalagi dua yang terkecil adalah cowok kembar. Belum bisa merangkak saja si nashir udah kemana-mana (-__-!) Trus pingin berkebun juga kan? Jadi kekuatan fisik itu syarat wajib *tenggak habbatus sauda banyak-banyak

2. Ilmu yang luas

Dari ilmu agama, ilmu parenting, ilmu pendidikan, pengetahuan soal masak-memasak, berkebun, beternak, pertukangan, dsb.

3. Kemandirian

Karena suami jauh dan no ART, jadi memang harus bener-bener mandiri. Bisa naik motor dan nyetir mobil (punya ayah) bukan lagi keinginan, tapi kebutuhan.

4. Sabar, ikhlas, dan tawakkal

Sabar ngadepin anak-anak (jangan sampe karena kecapekan trus jadi singa arema), ikhlas dengan kondisi dan keadaan, tawakkal bila sudah berikhtiar sekuat tenaga.

Jadi, sampai saat ini kira-kira aku sudah memenuhi berapa poin ya?!

Aarrghhh… puyeng 😛

Renungan Untuk Para Orang Tua

BERNAHKAH HIDUP KITA SUDAH MENGALAMI KEMAJUAN ??

Saat ini kita semua berada diabad milenium.
Yah Kita semua…….

Kita semua adalah orang2 modern dg berbagai kemajuan yg luar biasa berhasil kita capai..

Kita sering merasa telah berhasil menciptakan peradaban yg jauh lebih baik. Tapi apa memang demikian…??

Cobalah sejenak kita renungkan, apakah benar kita berhasil atau malah gagal menciptakan peradaban yg lebih baik dari generesi penerus terdahulu kita…

Perhatikan …….
Kita telah berhasil membangun gedung2 yg lebih tinggi tapi belum berhasil membangun kesabaran yg …………………

Kita berhasil membangun jalan yg bebas hambatan yg begitu hebat. Tapi memiliki sudut pandang yg semakin sempit.

Kita berhasil mencari uang lebih byk tapi memiliki waktu yg lebih sedikit.

Kita memiliki rumah yg lebih besar tapi keluarga yg jauh lebih kecil..

Kita memiliki rumah yg lebih banyak tapi lebih sedikit kita tinggali.

Kita memiliki lebih banyak gelar tapi logika yg makin sempit.

Kita memiliki lebih banyak pengetahuan tapi nurani yg semakin sedikit.

Lebih banyak ahli tapi jauh lebih banyak masalah.

Lebih banyak obat2an tapi kesehatan kita jauh lebih rentan.

Kita minum dan merokok terlalu banyak,meluangkan waktu dg terlalu ceroboh, tertawa semakin sedikit,menyetir terlalu cepat, marah terlalu besar, tidur terlalu malam, dan bangun terlalu lelah.

Membaca terlalu sedikit, menonton TV terlalu banyak dan berdoa semakin jarang.

Kita telah melipat gandakan barang miliki kita, tapi mengurangi harga diri kita.

Kita terlalu banyak bicara tapi terlalu jarang mendengarkan.

Kita belajar bagaimana mencari uang yg banyak tapi bukan mencari kehidupan bahagia dan penuh arti.

Kita telah mencapai bulan tapi justru memiliki masalah dg menyeberangi jalan dan menemui tetangga baru kita disebelah rumah kita sendiri.

Kita telah mengalahkan luar angkasa tapi gagal mengalahkan nafsu diri kita sendiri.

Kita telah melakukan hal2 besar tapi bukan hal2 yg mulia.

Kita telah berhasil membersihkan udara tapi telah gagal membersihkan jiwa.

Kita menulis lebih banyak tapi membaca lebih sedikit.
Kita berencana lebih banyak tapi mencapai jauh lebih sedikit.

Kita belajar untuk bisa selalu bergerak lebih cepat bukannya menjadi lebih sabar.

Kita begitu banyak menciptakan alat komunikasi namun berkomunikasi dengan keluarga semakin sedikit.

Sesungguhnya kita sedang berada dijaman semua makanan cepat disajikan namun lebih lambat dicerna.

Banyak dilahirkan orang2 besar tapi dg karakter yg sangat kerdil.

Pendapatan yg semakin tinggi tapi hubungan yg semakin renggang.

Inilah zaman dimana banyak negosiasi perdamaian dibuat tapi jauh lebih banyak peperangan.

Ini adalah jaman perjalanan dibuat singkat, popok sekali pakai dibuang, moralitas yg sudah terbuang, hubungan hanya satu malam, berat badan berlebihan.

Dan pil2 yg bisa melakukan segalanya mulai dari menceriakan, menenangkan, sampai membunuh dan mematikan.

Ini adalah jaman dimana banyak barang tersedia dipasar tapi orang tidak mampu untuk membelinya.

Ini adalah jaman dimana kemajuan teknologi dapat menyampaikan pesan ini kepada anda tapi sekaligus jaman dimana anda dapat memilih. Apakah anda hanya mendengarkan renungan ini atau ataukah hanya berkata,… ah, ini tidak penting, tak ada waktu untuk merenung.

Ingatlah…… Luangkanlah lebih banyak waktu untuk orang2 yg kita kasihi sekarang juga karena mereka tidak selalu ada sisi kita selamanya.

Ingatlah.. Ucapkanlah kata yg baik dan kalimat cinta untuk orang yang selama ini memandang anda dengan penuh ketakutan.

Ingatlah..
Berikanlah pelukan terhangat untuk orang2 terbaik disisi anda, karena itu adalah satu2nya harta yg dpt anda berikan tanpa memerlukan biaya sepeserpun.

Berikanlah waktu untuk mencintai,berikanlah waktu untuk berbicara, berikanlah waktu untuk berbagi fikiran yg berharga dibenak anda.

Seorang anak sama sekali tidak meminta banyak harta dari orang tuanya, tapi banyak waktu yg diberikan untuk bersama.

Seorang anak tak membutuhkan orang tua yg memliki kedekatan dg seorang pejabat, pengusaha dan orang terhormat, melainkan hanya kedekatan anda bersamanya.

Ingatlah selalu, hidup tak diukur dg jumlah nafas kita, tapi bagaimana kita menghabiskan nafas kita.

Mari kita renungkan, apakah kita berada dalam proses kemajuan ataukah kemunduran..Dari peradaban jalan yg kita sedang jalani saat ini…?

George Carlin

sumber: http://ayahkita.blogspot.com/2014/03/renungan-terbaik-untuk-para-orang-tua.html

Dari KRL Sampe Resign

Hihihi, bingung mau kasih judul apa…

Tentang KRL

Kemarin sempet heboh soal kapturan path berisi keluhan seorang mbak-mbak terhadap ibu hamil (yeee… basi kali nur) Hehehe, ini soalnya tadi pagi ada peristiwa pemicu sih, jadi kok ya tetiba pingin ditulis di sini. Kalo untuk embak itu sih aku lebih ke kasihan ya, karena temen yang dipercaya bisa ndengerin curhat ternyata malah “menikam dari belakang” nyebar-nyebarin curhatannya (ini setelah tahu kalo path itu sistem pertemanannya sangat pribadi dan terbatas -aku kan gak nge-path- :p). Rasanya kasusnya jadi beda tipis dengan si mbak yang dulu protes terhadap pelayanan di satu rumah sakit trus tetiba emailnya beredar luas dan apesnya justru menyeret si mbak tersebut ke dalam ranah hukum. Kedua sih ngedoain biar si embak KRL ini nyadar, bahwa orang hamil itu memang fisiknya lebih lemah daripada orang biasa. Berdoa pula supaya si embak ini lain kali kalo lagi emosi jangan gegabah cuap-cuap di dunia maya (termasuk aku nih!). Trus juga berdoa semoga kita semua terbebas dari ikut-ikutan ngejelekin orang dan nge-bully orang -yang ga kita kenal- di dunia maya.

Kalo masalah ibu hamil di kereta, kataku seharusnya kesadaran tumbuh dari dua pihak ya… Kalo emang si ibu hamil lagi kehabisan tempat duduk prioritas trus minta tempat duduk ke kursi umum (ini biasa terjadi di gerbong campuran), wajar donk kalo si embak agak gondok. Tapi kalo si embak emang lagi duduk di kursi prioritas, ya sudah seharusnya si ibu hamil yang gondok. Tapi bila inget kejadian tadi pagi, aku jadi sadar, kadang emang ada lhooo… ibu hamil yang nyebelin. Eh, sumpah lho beneran. Kaya mentang-mentang hamil trus minta tempat duduk dengan nada kasar, kataku itu termasuk yang nyebelin. Ya kita tahu sih, harusnya ngasih tempat duduk. Tapi kita jadi ikhlas kalo mintanya baik-baik kan?! Ada juga ibu hamil yang sudah tahu kereta penuh tapi maksa naik. Iya sih dapet duduk, tapi jalan ke kursinya itu lho kejepit-jepit. Kasihan bayinya… Pengalaman pas hamil si kembar dulu, pas sistem CL lagi kacau-kacaunya, aku selalu diwanti-wanti suami, JANGAN MEMAKSAKAN DIRI! Tiga kata ini selalu diulang-ulang juga oleh announcer kan?! Kalo penuh? Ikut kereta berikutnya. Di atas KRL ga ada yang ngasih tempat duduk? Turun. Pingin duduk enak? Berangkat lebih pagi, ikut ke stasiun pemberangkatan pertama (senada dengan usulan si embak yang protes itu kan?!) Telat? Gaji kepotong? Ya resiko. Tokh hamil cuma 9 bulan ini. Intinya kalo pingin dimengerti orang lain, kita (aku) juga harus mengerti orang lain.

-semoga dengan ini aku tidak dibully, aku juga pernah hamil makanya nulis begini-

TENTANG ANAK-ANAK

Sudah lama ya aku tidak up date kabar lagi di blog ini? Buat yang penasaran dengan perkembangan anak-anakku terutama si kembar (hahaha, kek ada yang nungguin up date-an blog ini aja :p) mohon maaf karena mulai sekarang kayane aku akan lebih protektif. Ini gegara membaca soal penyakit ‘ain. Selengkapnya baca di sini dan di sini ya. Intinya penyakit ‘ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata, yaitu pandangan mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya. Lagipula kan sekarang marak kasus pedopil (amit-amit… na’udzubillahi min dzalik…) jadi mending meminimalisir up load foto-foto close up dari anak-anak yang unyu-unyu ini. Takut disalahgunakan orang. Bahkan saking ekstrimnya, suami sampe nyuruh ganti juga itu semua foto profile yang pake gambar anak-anak. Jadilah avatar krisan ini kembali merajalela baik di WA maupun gtalk. FB aja sih yang belum coz jarang utik-utik FB. *bentar lagi deh bi…

TENTANG RESIGN

Alhamdulillah tadi pagi barusan melewati tahapan exit interview. Berarti sebentar lagi bisa keluar SK resignnya. Bisa segera move on: ngurus pindah KK, cuti besar, dan ngepack-i barang-barang. Rumah insyaalloh mau dibeli sama saudara kembarnya temen kantorku *bosone ribet rek Doain semoga semua lancar ya…

Tentang Kesederhanaan

Salah satu alasan kenapa aku pingin memindahkan keluarga ini ke desa adalah:

untuk belajar arti kesederhanaan.

Karena rasanya susah mengajarkan hidup sederhana di tengah gempuran budaya konsumerisme dan materialisme ibu kota.

Makanya impianku adalah hidup seperti keluarga cemara. Hidup sederhana. Makan secukupnya. Pakaian selayaknya. Mensyukuri setiap rupiah dan setiap rejeki yang datang (karena rejeki tidak selalu berupa rupiah kan?!). Sabar. Nriman. Ayem. Tentrem. Bahagia.

Namun walau berangan-angan seperti itu, ada satu hal yang terlupa:

sudahkah aku, sebagai ibunya, siap untuk hidup seperti itu?!

Hari sabtu minggu lalu, aku dan mz nug (yang kebetulan lagi pulang *asyik, abi di rumah!) pergi ke pengajian di mesjid BI. Iseng saja sih, belum pernah ikut sebelumnya, tidak tahu pematerinya. Berangkat sudah telat (emak rempong tentu saja sibuk dulu belanja ke pasar), sudah pasrah ketinggalan materi. Namun ternyata acara yang dijadwal mulai pukul 9, sampai jam 10 pun belum masuk ke acara inti. Sehingga wajar donk di sela waktu menunggu, aku punya banyak waktu untuk melamun (jangan ditiru ya, bukannya sholat sunah masjid malah melamun :p)

Pertama dan terakhir kali aku ke masjid BI adalah ketika patah hati, sesaat sebelum “ketemu” mz nug. Di sana untuk pertama kalinya aku mengikuti mabit (ikutan mabit kok alasannya patah hati, hahaha). Masjid BI tetap bagus seperti biasanya. Tetap mewah. Namun hari itu ada kemewahan lain yang menyilaukan mataku.

Pakaian para akhwat.

Bukan. Bukan sejenis jilbab lilit-lilit yang lagi diperdebatkan itu. Bukan pula sanggul punuk onta. Jilbabnya lebar. Gamisnya ga ada lekukan. Cuma… cuma… aku tahu dari bahannya, itu semua mahal-mahal T-T

Mungkin karena tempatnya mewah, jadi yang datang juga kebanyakan dari kalangan berada. Dan tetiba sifat minderku kambuh. Aku yang datang dengan pakaian seadanya, terasa tidak pantas berada di sana. Lembar infak pun setiap lembarnya tertera nominal yang jumlahnya 2/3 uang makan sebulan :p

Jadi karena pikiran-pikiran aneh ini aku malah ga konsentrasi ke materi. 😦

Sampai akhirnya aku harus keluar duluan karena maagku kambuh. Aku pun membeli sio may di luar pagar, sekedarnya untuk mengganjal lapar. Ketika itu ada ibu-ibu keluar dengan anaknya. Sang ibu menawari anaknya sio may. Tapi dengan syarat, belinya 3 ribu aja ya…

Saat itu aku langsung terhenyak. Diriku yang mengaku miskin (kan emang keuangannya lagi mepet), yang ngaku mau hidup sederhana, yang bajunya ndeso, tapi beli sio may 7 ribu. Sedang si ibu yang tampak rapi, dengan baju dan jilbab mahal seperti yang kutuduhkan, makanannya dihemat dan dibatasin…

Bagaimana bisa menerapkan gaya hidup hemat kalo aku sendiri belum bisa hemat?!

Ah, hidup sederhana ternyata harus diterapkan dalam segala hal. Ga cuma baju, tapi juga makanan (ini nih yang sering), rumah, kendaraan…

Bismillah. Semoga bisa lebih istiqomah…