Hikmah Banyak Anak

Bukaaann… bukan menentang program KB.

Dan juga bukan karena semboyan “banyak anak banyak rejeki”. Bukan pula alasan agama.

Intinya, aku merasa, anak lebih dari satu itu memang ada baiknya. Lebih dari satu, bukan lebih dari selusin. Huehehehe…

Dulu ketika jaman anak cuma satu, terasa banget kalo nindy itu segala-galanya buat aku. Kalo diumpamakan cintaku 100%: 50% buat nindy, 25% buat suami, 25% buat keluarga. Kecenderungan ini aku lihat pula pada mereka yang anaknya baru satu. Semua-mua disiapin dengan perfect. Semua-mua diusahakan yang terbaik. Anak seolah-olah raja. Yah, mungkin sindrom ibu baru juga berperan di sini sih…

Makanya aku ga mau punya anak cuma satu. Takut terlalu memanjakan…

Ternyata memang keadaan jauh berbeda ketika jumlah anak mulai bertambah. Ketika kehamilan kedua, aku nekat aja tuh makan tape, makan durian, makan nanas… tentu saja dalam jumlah yang sangat sedikit. Tapi aku ga kebayang bakal melakukan itu saat hamil nindy. Setelah lahir pun bawaannya lebih slow. Besok mau MPASI, baru hari ini beli perlengkapannya. Kalo jaman dulu udah dari sebulan sebelumnya kali.

Sikap ke nindy pun mulai berubah. Karena aku harus memikirkan juga kepentingan  adik-adiknya, makanya aku jadi ikhlas ketika nindy harus ditaruh di malang. Pandangan hidup terasa lebih meluas.

Tapi… terlalu banyak anak juga ga baik sih.

Ibaratnya bilangan utuh, kalau terlalu banyak pembagi, maka hasil akhirnya akan kecil sekali. Ini aku lihat setelah aku membandingkan keluargaku dengan keluarga mz nug. Di keluargaku, ibuk cuma punya 2 anak. Di keluarga mz nug, mz nug ada 6 bersaudara. Ketika cucu lahir, ibuk sibuk banget dikit-dikit ke Jakarta nengokin cucu. Ya secara keluarga kami cuma sedikit. Sementara dari pihak purworejo lebih slow. Masih ada anak yang masih berada dalam tanggungan kan?!

Jadi kesimpulannya?! Dua anak cukup. Tiga istimewa. Empat?! Udah ah, ga mau nerusin. Hahaha…

#Resign2014

Ga dipikir-pikir lagi nur?!

Memang cukup menghebohkan ketika seseorang bertitle PNS memutuskan keluar dari kementerian dan melepas status PNS-nya. Apalagi yang bersangkutan masih menanggung ikatan dinas sehingga harus membayar ganti rugi ke negara sekian juta rupiah.

Tapi mau gimana lagi?! Ketika satu tindakan harus diambil. Bismillah. Insyaalloh, saya sudah memutuskan untuk resign tahun ini.

Kenapa?! 

Nah ini… Daripada menimbulkan banyak syak swasangka, berikut aku ceritakan kronologisnya. Intinya, ga mungkin lah… keputusan segede itu aku putuskan begitu saja berdasarkan emosi sesaat. 😉

Masa SD

Iya, alih-alih bercita-cita sebagai dokter, astronot, atau penyanyi, waktu SD cita-citaku adalah “menjadi guru”, yang kemudian kuralat “menjadi PNS”. Kenapa?! Soalnya aku lihat jam kerja PNS itu yang cukup fleksibel. Masuk jam 8, jam 2 siang sudah pulang. Andai nanti aku telah menjadi ibu, aku akan masih punya banyak waktu luang untuk menemani anak-anakku. Buatku gambaran itu adalah gambaran ibu yang ideal. Tetap bekerja, tapi juga tetap mendampingi anak-anaknya. (catt: ga berani jadi guru soale ga kuat mental menanggung beban psikologis kalo sampe anak didiknya ada yang ga berhasil atau ada yang nakal)

Lulus SMA

Jujur, aku memilih masuk STAN waktu itu hanya karena 3 hal: sekolah gratis, ikatan dinas (jadi ga usah nyari kerja lagi), dan sekolah pake seragam (cemen banget ya, secara kalo masuk universitas aku takut dirempongkan masalah “penampilan” :p). Sempat terlupa soal cita-cita PNS itu dan benar-benar ga punya gambaran kerja di kementerian keuangan itu kaya apa (eaaa… susah ya ga sebut merk)

Lulus STAN dan bekerja 2007-2010

Alhamdulillah aku termasuk 10 besar lulusan terbaik dari spesialisasiku, berhak ikut ujian DIV langsung, dan lulus juga ujian psikotest DIV. Ketika kemudian hasil ujian itu tidak diakui, 2 tahun kemudian teman-temanku ikut lagi ujian masuk DIV. Saat itu banyak yang bertanya, kenapa aku ga ikutan?! Bahkan sampai ada temanku yang menuduhku “pengecut”. Memang saat itu aku tinggal selangkah lagi meraih gelar S1 di sekolah tinggi yang “biasa-biasa saja”, jadi memang agak sayang bila ditinggal (nasehat ortu). Tapi di satu sisi, aku punya feeling, bahwa aku tidak boleh terikat terlalu lama dengan instansi ini. Kalo aku ambil DIV, maka masa ikatan dinas yang harus kujalani tentu akan semakin lama lagi.

Menikah dan beli rumah, 2012

Sebelum menikah, aku bertanya kepada mz nug, apakah aku harus tetap bekerja atau di rumah saja mengurus anak? Karena aku lihat mz nug termasuk “ikhwan” (salahkan pemilihan kata ini, tapi memang kata ini yang paling mewakili) jadi aku menanyakan hal itu. Waktu itu jawabannya tidak, aku harus tetap bekerja. Baiklah.

Dari awal menikah juga sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kemana pun mz nug pergi, aku harus menetap di satu tempat yang kami jadikan home base. Dengan demikian ada harapan ketika mendekati masa pensiun nanti, mz nug akan ditempatkan di home base dan kita tinggal menjalani sisanya dengan tenang (ckckck, jek ate rabi wes mikir pensiun) Selain itu kami berdua sepikiran juga bahwa hidup nomaden itu kurang baik bagi perkembangan anak. Ini berkaca ke pribadiku sih, yang susah beradaptasi. Ga kebayang baru masuk berapa bulan atau berapa tahun, terpaksa harus pindah lagi, nyari sekolah lagi, nyari temen lagi. Kok kasihan gitu. Belum lagi biaya pindah, tenaga dan waktu buat berpindah-pindah. Makanya ye, kemarin jadi sensi pas ada yang bilang “sepakat menikah tapi sepakat juga untuk tidak serumah”. Iya nih, ini kami emang kaya gitu. Trus masalah buat lo?! :p

Lalu waktu memilih beli rumah di perumnas klender (rumah di gang kelinci itu) memang pertimbangannya adalah bila satu saat nanti mz nug mutasi, rumah itu tidak akan terlalu jauh dari kantor. Jadi kalo ada apa-apa dengan anak di rumah, aku bisa langsung kabur (masih dalam jangkauan). Tapi terus entah kenapa terselip juga pemikiran, kalo ada apa-apa di kemudian hari, akan lebih cepat menjualnya (dan alhamdulillah sih, ini udah ada yang bersedia beli)

Ketika baru menempati rumah itu, kalo ga salah pas ulang tahun pernikahan kedua, tetiba aku iseng bikin bagan semacam blue print gitu. Jadi di blue print itu, memang ada rencana resign atau mutasi nanti di tahun 2017. Pertimbangannya:

  1. Jakarta bukan tempat yang ideal untuk membesarkan anak. Lingkungannya. Gaya hidup konsumtifnya. Polusinya. Makanannya (kebanyakan nonton acara investigasi). Biaya sekolahnya yang mahal.
  2. Jakarta bukan tempat yang ideal untuk tinggal. Banjirnya. Macetnya. Tingkat kesetresannya.
  3. Tahun 2017 insyaalloh hutangku di koperasi sudah lunas. Ikatan dinas juga sudah selesai. Jadi kalau pun resign, tidak perlu bayar ganti rugi.
  4. Masih ada waktu 5 tahun untuk mulai merintis usaha bila memang opsi resign yang akan diambil.

Namun kemudian, ternyata kami mendapat anugerah anak kembar. Seperti yang pernah kusinggung di sini, aku beneran puyeng. Apalagi dari awal begitu lahiran, ibuk sudah meminta agar nindy ditaruh di Malang. Karena aku pasti kerepotan mengurus 2 bayi plus 1 balita. Aku menolak. Siapa sih orang tua yang tega berpisah dengan anak?! Waktu itu wacana resign menyeruak. Mz nug yang awalnya ingin aku tetap bekerja, setelah melihat kondisi kami, akhirnya mengikhlaskan. Ibuk juga ikhlas. Namun ternyata ayah belum bisa menerima keputusan itu.

Aku akhirnya mencoba bertahan. 6 bulan kucoba untuk meng-handle semua. Namun ternyata aku kalah.

Kondisi fisik dan mentalku ga kuat menanggung semua ini. Karena capek, nindy sering kubentak-bentak. Padahal dia mencari perhatian hanya karena haus kasih sayang. Sesederhana pingin digendong saja aku ga bisa karena aku punya luka cesar. Sementara ribut dengan nindy, si kembar juga terabaikan. Kalo dulu nindy kuberi stimulasi ini itu, pada si kembar aku benar-benar ga ada waktu buat megang. Hampir ga pernah aku mengajak mereka bermain, membelajari ini itu, karena nindy selalu merajuk padaku. Akhirnya perkembangan si kembar juga sedikit terlambat. Aku frustasi. Semua hal kulakukan dengan tidak maksimal. Ditambah drama ART berkali-kali (aku menyadari bahwa beban kerja di rumahku memang berat, 2 bayi ga sama dengan 1 bayi, apalagi 2 bayi plus 1 balita bung!). Ibuk dan ayah di Malang sampai pusing pergi kesana-kemari mencari ART yang bisa dipercaya, sampai kecapekan, ga doyan makan mikirin kondisi cucu-cucunya.  Bahkan mz nug yang pulang cuma 2 bulan sekali, setiap kepulangannya selalu diwarnai dengan kejadian “lari-lari ke UGD”. Apa itu kencan berdua suami istri?! Sekedar ngobrol bareng intim aja ga bisa. Dahsyat!

Sampai titik dimana kemarin, drama ART terakhir, ibuk meminta lagi: nindy harus ditaruh di Malang. Diiringi tangis luar biasa aku menyetujui keputusan itu. Tapi keesokan harinya, setelah tangisku reda, aku mulai berpikir jernih.

Abi di Kalimantan, aku dan si kembar di Jakarta, nindy di Malang. Kami ini keluarga macam apa?!

Dan pertanyaan di film “Usagi Drop” terus-menerus menghantuiku: seberapa besar aku bisa berkorban untuk anak-anakku?!

Pekerjaan ini? Karier ini? Seberapa penting ini semua dibandingkan keluarga?

Lalu perhitungan finansial yang kubahas dengan adikku. Blak-blakan. Angka di atas kertas bicara. Kami kerja kaya romusha! Kerja keras ga ketemu keluarga tapi ga bisa dapat apa-apa bahkan minus setiap bulan. Sampai kapan tabungan itu bisa bertahan mem-back up pengeluaran?! Padahal semua juga tahu, aku bukan tipe istri boros. Bahkan cenderung tipe orang pelit bin medit.

Opsi mutasi juga terpaksa disingkirkan karena hingga sekarang peraturan tentang mutasi masih tidak jelas kapan disahkan. Padahal aku harus mengejar momen sebelum nindy berumur 4 tahun, karena aku pernah membaca, memori/ingatan permanen akan mulai terbentuk di usia itu. Aku ga mau nindy punya ingatan bahwa umminya telah membuangnya dan lebih memilih adik-adiknya.

Cuti di luar tanggungan negara juga bukan pilihan karena aku tidak ingin lagi bekerja setengah 8 sampai jam 5 kaya gini. Nanti pas usia sekolah, siapa yang mau antar jemput anak-anakku?! Walau sudah berstatus PNS, pekerjaan PNS di sini berbeda jauh dengan bayanganku masa SD dulu. Belum lagi bila harus konser, pulang malam, dinas luar berhari-hari…

Maka demikian, bismillah, opsi resign pun diambil. 6 bulan prosesnya, dan insyaalloh tidak sampai 4 bulan, aku akan bisa berkumpul kembali dengan nindy, dengan keluargaku di Malang sana. Semoga Alloh melancarkan jalan ini. Semoga jalan ini dilimpahi keberkahan.

Mohon doa restu semua….

Si Kembar 5 Bulan, Nindy 2,5 Tahun

Lagi-lagi postingan borongan. Singkat aja deh.

SI KEMBAR

Ga terasa, si kembar udah jalan 5 bulan aja. Ni anak-anak yang waktu pulang dari RS cuma segede guling (beneran lho, aziz apa ya dulu yang nyeletuk: eh, gulingnya ada 6 -__-!) sekarang tau-tau bajunya udah ukuran L! 😀

Setelah tertunda hampir 2 minggu karena sakit campak, lalu ada simbah njenar, lalu hujan, dll, akhirnya lunas juga itu imunisasi DPT III. Alhamdulillah, utangnya tinggal imunisasi campak nanti di 9 bulan. Btw, si kembar keren lho, disuntik udah ga nangis. Cuma njerit trus diem. Demam juga ga pake lama. Ihh… jagoanku kuat-kuat… *uyel2 BB Nashir 7,5kg, Nazar 7,3kg.

nashir-nazar per 5 bulan... emaknya lagi demen ma kamera 360 jadi maaf kalo fotonya agak ga natural... yg penting cakep kan?! huehehe

nashir-nazar per 5 bulan… emaknya lagi demen ma kamera 360 jadi maaf kalo fotonya agak ga natural… yg penting cakep kan?! huehehe

Dari sisi perkembangan sebenarnya sama, cuma entah males atau apa, si Nashir lebih menonjol di motorik sementara Nazar lebih ke verbal. Nashir kalo ditaruh telentang kepala di utara misal, guling-guling-guling ke kanan sampe kepalanya tau-tau udah di selatan -__-! Sedang Nazar kalo lagi ngoceh bisa setengah jam sendiri, udah bisa bilang “maamaa, paapaa…” Nazar aslinya juga bisa tengkurap cuma males. Nashir pun sebenarnya juga bisa ngoceh cuma pendiem. Yo terserah anaknya lah… yang penting sehat.

Deg-degan sebentar lagi MPASI tapi belum ada persiapan sama sekali kecuali beli tepung gasol di toko deket rumah (btw, gasol sekarang mahal ya… ingetnya dulu pas jaman nindy masih 14rb, sekarang 18,5rb, huehehe) Si Nazar kayane mulai tumbuh gigi, udah suka ngginggit p*t*ng. Dua-duanya gusinya memang sudah keras. Gemar banget nggigitin teether. Semoga pas makan nanti mereka udah bisa duduk tegak kaya nindy dulu. Sekarang masih harus disangga. Tapi ga ngoyo sih… kan tiap anak beda-beda…

NINDY 

Anak gadisku… sudah gede… Di sekolah sudah ga ditungguin di kelas lagi. Mbaknya enak nunggu di luar aja. Tapi kalo sama umminya kolokannya kambuh. Udah tahu warna abu-abu. Goresan tangannya udah mulai bisa membentuk lingkaran. Udah bisa nyusun balok hingga tinggi tanpa jatuh, itu kan butuh ketelitian dan kesabaran. Cepet banget hapal puzzle. Udah bisa menghitung dengan benar dan tahu maknanya (uuh, bangganya!) “Dedeknya kembar, dedeknya ada dua…” Lagi suka kata “banget”. “Bagus banget… harum banget…”. Masih belum lancar juga bicaranya (salahkan bentuk lidah) tapi aku sabar menunggu… BB terakhir 12,5kg (alhamdulillah, akhirnya bergerak lagi itu angka timbangan)

senyummu ki asli manis bener lho nduk...

senyummu ki asli manis bener lho nduk…

Selalu sehat ya nduk… le… Tambah pinter, sholeh dan sholehah. Semoga Alloh selalu melindungi kalian…

Mobil Impian

Saat berkeluh kesah kemarin, aku sempat menyinggung soal bawa anak-anak ke TPA dengan naik mobil.

Emang rencana mo beli nur?!

Hahaha, sudah pasti: tidak. Lha wong buat memenuhi kebutuhan sehari-hari aja udah empot-empotan kok malah beli mobil :p

Cuma ya namanya manusia, pasti punya keinginan untuk memiliki sesuatu. Eh, aku jarang kan nyebutin pingin sesuatu barang di blog ini?! *korek2arsip Gapapa ya… dua hari ini isinya curhat mulu. Hehehe (padahal blog iki isine yo curhatan kabeh :p)

Jadi asline keinginan punya mobil ini sudah lamaaa sekali kupendam. Dulu pas jaman anak satu, alasan pingin punya mobil itu cuma karena “enak ya… kemana-mana ga keujanan…”. Sekarang setelah ada si kembar, alasan pingin punya mobil itu karena “masak iya tiga-tiganya diangkut pake motor?!” *sedih T-T

Yo wes yo wes… jadi pingin mobil yang kaya apa to nur?!

Syarat pertama: 7 seat. Ya kan keluarga besar, jadi mobil 5 seat otomatis udah ga masuk lirikan. 😀

Trus?!

Masih “muda”. Maksudnya walau ga baru, tapi keluaran tahun 2000 ke atas yang irit bensin gitu lah… Takut tar pas udah punya mobil, uangnya habis cuma buat bensin, parkir, ma servis, terus makan manusianya malah keteteran *lebay

Hahaha, trus apa lagi?!

Ya yang tangguh, awet, ga gampang rusak (males banget kan kalo dikit-dikit masuk bengkel), udah power steering dan bodynya ramping soale kemungkinan besar nanti yang nyetir cewek (motoran aja belum bisa udah mikir nyetir mobil :p), pokoke yang sreg di hati.

Udah sih. Oiya, kalo bisa tunai alias ga utangan soale utange wes numpuk. (syarat yang paling susah dipenuhi ini!)

Dan so far… hatiku jatuh pada… Suzuki Ertiga!

Huaa... mupeng bangeeett... Bodinya ramping cantik. Warnanya bagus. Bisa muat banyak. Kabarnya juga irit dan lumayan tangguh. *ileran

Huaa… mupeng bangeeett… Bodinya ramping cantik. Warnanya bagus. Bisa muat banyak. Kabarnya juga irit dan lumayan tangguh. *ileran

Eh, kalo punya mimpi katanya harus setinggi-tingginya. Kok malah “cuma” pingin mobil low MPV nur?!  

Ah biarlah, secara ini yang masih memungkinkan dibeli kalo terpaksa mau nekad ambil utangan lagi *ditimpuk kabag sebelah yang ketua koperasi, lunasin dulu yang sekarang woy! Juga ga pantes aja rasanya ngarepin CRV, Alphard, atau sebangsanya itu. Kalo pun dapet mobil mahal-mahal kaya gitu, mending kujual trus beli mobil murah nan irit, sisanya buat usaha nutup utang deh. (triple U: ujung-ujungnya utang)

Ah, segitu saja deh. Katanya muslim(ah) ga boleh berpanjang angan. Ga kok, ga berpanjang angan. Cuma ngences aja… *lap-iler Ini ditulis juga biar ga dipendem mulu. Dan siapa tahu diantara yang baca ada yang ndoain trus doanya diijabah, ujug-ujug kami nerima rejeki buat beli mobil impian ini. Amin… 🙂 (tuh kan, berpanjang angan lagi!)

NB: Ini jadi rajin posting soale kantor lagi sepi rek! Semua orang di bagianku berangkat raker ke Cirebon, dari hari Rabu. Kemarin siang, file LAKIP terakhir sudah kukirim ke tim layout. Sementara singkirkan dulu lah draft KMK dan aplikasi ABK itu. *pura2galiat

ART, LDR, Anak 3, Kembar, dan Angan-angan

Itu judul tulisan apa clue buat googling sih nur?!

Wakakakak… Asli iki lagi puyeng makane judule rodo ga genah koyo ngono :p

Beberapa hari lalu nemu link cerita tentang ibu aktivis salah satu partai yang anaknya 7 (tujuh) dan no ART. Trus ternyata soal “ART, yay or nay?!” ini memang lagi heboh setelah hebohnya (kembali) “WM vs SHM”. Nggak lah, ga mau mbahas WM, SHM, dsb itu. Ini yang memang lagi “in” di kehidupan pribadi ya memang soal ART.

Nggak lah. Aku ga mau nulis kenapa aku (lagi-lagi) dipuyengkan sama masalah ART. Soale kalo kujabarkan di sini sama saja membuka aib orang sementara katanya kalo menutup aib orang insyaalloh aib kita bakal ditutup pas hari akhir nanti (bener ga sih?! suwe ga ngaji…) Intine akuuuu pun… ingin sekali bebas dari ketergantungan dengan ART! Ngiri bener sama orang yang bisa hidup tanpa ART. Anak dititip di TPA yang insyaalloh berbasis Islam. Bebas nentuin pola asuh terhadap anak (nek aku ndek omah tak guwak tenan iku tipi! *sabar nur sabar…) Hubungan dengan suami lebih erat karena semua hal diselesaikan bersama…

Eh, sek, kerjasama dengan suami?!

Nah, di titik ini lah aku menyerah.  Kondisi LDR ini lah yang menjadi penyebab pertama aku ga belum bisa hidup tanpa ART. Aku lihat mereka yang anaknya dititip di TPA, yang hidupnya tanpa ART, suaminya selalu ada di samping mereka. Yah, sekali-kali mungkin dinas luar. Tapi kan jelas berkebalikan denganku yang kondisinya adalah sekali-kali pulang :p

Selanjutnya adalah jumlah anak yang mencapai 3 kepala. Anak 1 dan 2 itu berbeda lho dengan anak 3! *kabeh yo iso ngitung nur! Yah maksudku kita kan masih mungkin ya nggendong 2 anak, atau yang satu digendong dan yang gede dituntun. Tapi aku?! Dua terakhir dari 3N ini kembar bung! Nggendong 3 sekaligus?!

Kemudian tentu kenyataan bahwa aku punya anak kembar. Ngurusin 3 anak yang lahirnya berurutan jelas beda banget dengan anak kembar. Kalo berurutan kan enak, yang paling gede biasanya udah bisa mbantuin ngemong yang paling kecil. Lha ini, sibling rivalry-nya si nindy aja masih belum sembuh juga *mewek

Terakhir sih alasannya klasik: anak masih kecil-kecil. Ibuk juga bilang: saiki ngalah sek. Nanti kalo udah besar kan udah ga butuh ART lagi. Amin… Ibuk dulu juga nitip Aziz ke tetangga sampe Aziz usia sekolah.

(Lha itu nitip nur?! Iya nitip, tapi kan jaman dulu masih banyak orang baik. Tetangga bisa di percaya. Ini kondisinya di Jakarta! Nitip paling ke TPA. TPA adanya di kantor. Pergi ke kantor naik KRL. KRL penuh terus dan sering error. Nggendong 3 anak dan kegencet-gencet di kereta?! Bawa mobil ke kantor?! Sekali lagi: ga ada suami. Iya yang lain suami nyetir, istri ngurus anak. Lha kalo pas nyetir ada salah satu yang rewel bagaimana nanganinnya?!)

Kembali ke ibuk. Trus yang bantuin urusan domestik siapa?! Yo aku lah! Sejak umur 4 tahun aku sudah dikasih sapu sendiri. Spesial karena ukurannya kecil sesuai tinggi badanku. Sejak usia 4 tahun itu aku sudah punya kewajiban nyapu rumah. Belum bisa ngepel sih. Selanjutnya sampe lulus SD tugasku meliputi: nyapu rumah, ngepel rumah, nyiram halaman, nyapu halaman, ambil air buat ngisi gentong, mbantu masak, nyuci piring, ngasih makan ayam, nyuci baju sendiri, nyuci baju adik, setrika baju sendiri, belanja, bahkan mandiin adik. Banyak kan?! Itu karena kami ga ada ART. Tapi hidup kami baik-baik saja dan bahagia.

Itu!

Aku berangan-angan untuk hidup seperti itu. Tapi nanti… Nanti kalo anak-anak udah agak besar. Mungkin usia 5 tahunan. Saat nindy sudah bisa mbantuin aku (hahaha, eksploitasi anak! tapi kan sebagai perempuan dia wajib belajar ngerjain pekerjaan rumah). Jadi sementara ditahan dulu lah keinginannya. Atau sampai ada kondisi yang memungkinkan aku untuk mengurangi ketergantungan terhadap ART ini. #kode

Jadi, kesimpulannya: tulisan ini adalah pembenaran?! Iya emang :p Tapi sekaligus juga menghibur diri kenapa sampai sekarang masih terus juga harus ngalamin drama ART. Menguatkan diri, mengingatkan kembali kenapa ambil keputusan pake ART. Membagi kepeningan kepada pembaca bahwa ini lhooo… salah satu hal yang sering bikin aku pusing mikirinnya. Huehehe… 😀

Rainbow

There is always a rainbow over the storm…

Kalo ga salah begitu deh kata-kata Sid di Ace Age 4: Continental Drift waktu “kapal” mereka terbawa arus menjauh dari daratan. Yah maafkan kalo salah soale kemampuan bahasa enggres saya bener-bener kaya IQ jongkok kalo di tes IQ tuh…

*halah, kok jadi tes IQ?!

Intine selalu ada masa-masa indah di tengah setelah badai. Padaku sendiri karena badainya ga habis-habis ya kataku selalu ada keberuntungan di tengah ujian. Eh, tapi ternyata badai itu “dibutuhkan” dalam kehidupan lho… Soale kalo ga ada badai gitu hidup jadi terasa datar-datar saja. Kan manusia ini memang akan senantiasa diuji. Bahkan kalo udah selesai badai-badai gitu, saat kita sampe di lautan yang tenang, justru itu yang harus diwaspadai. Karena justru di lautan yang tenang seperti itu seringnya banyak hiu diam-diam lagi pada berenang di bawah perahu kita. Hiii… Itu kata film animasi kocak yang sangat menyentuh berjudul My Neighbors the Yamadas (Hōhokekyo Tonari no Yamada-kun) Btw, this movie is recommended for married couple. Very recommended lah, karena selain mbanyol-e ga ketulungan (dan guyonannya itu cuma bisa dimengerti orang dewasa), kita bisa dapet quotes keren macem “children are the best reason for riding out life’s storm

kok apal nur?! iya, soale yang ini dicatet bener. hahaha

Jadi apa sih nur “rainbow-rainbow-an” yang sampe bikin kamu menyempatkan diri bikin postingan chusus?!

Alhamdulillah di tengah badai ini, rejeki mz nug justru mengalir. Per Oktober kemarin beliaunya sudah 3a. Walau sampe sekarang belum dapet itu kenaikan gajinya *hiks! tapi mari kita bersyukur bahwa akhirnyaaa… D3 STAN ini bisa mencapai golongan 3a juga!

(sejenak melupakan fakta soal keterlambatan kenaikan pangkat walau angka kredit sudah mencukupi dari kapan tahun)

Lalu, sekitar sebulan lalu, beliau dapet SK jadi ketua tim. Alhamdulillah… Walau ternyata ketua tim itu hanya mendapat tambahan tanggung jawab tanpa ada tambahan penghasilan *sopo se sing nggawe aturan iki?! *mangkel namun buatku kesempatan karier itu lebih bagus daripada sekedar tambahan materi

ish, sok wise!

Lha iya, di tengah kondisi instansi yang lagi nggak genah kaya gini, mendapatkan KESEMPATAN itu sama aja seperti mendapatkan emas to ya… Ga semua orang bisa mendapat kesempatan lho! Jadi ini wajib bin harus disyukuri. Biarlah suami belajar menjadi pemimpin. Dan mari kita doakan semoga beliau amanah dan selamat. Amin…

Lalu, apa lagi?! Kemarin sih sempet si kembar kena campak, aku kena tipus, trus barusan aku kena linu-linu di kaki yang bikin ga bisa jalan *ini serius Alhamdulillah dengan semua itu nindy sehat-sehat saja. Palingan mbeler beberapa minggu, sempet muntah-muntah sampe lemes semalaman (yang bikin aku TL4) tapi overall: SEHAT. Dan makannya lahap. Ini patut disyukuri! Karena memang si mbarep ini lagi agak ga kerumat.

Hmmm… apa lagi?! Oiya, LAKIP dah mau masuk proses lay out. Terus jabatan eselon IV yang sempet kosong kini sudah diisi dengan ibu baru yang merupakan eks anggota SMKO Biro. Maka pindahlah itu tusi SMKO Bagian ke kubikel yang baru. Aaahhh, senangnya… Satu beban lepas. Terimakasih ya Alloh…

Yah, begitulah. Pelangi-pelangi di tengah badai yang memaksaku untuk tetap ingat: Gusti Alloh mboten sare. Sekarang mulai mengurangi keluhan di WA dan belajar menuliskan hal-hal positip dan banyak kata “alhamdulillah” biar suami ga kepikiran terus sama yang di rumah sehingga bisa bekerja dengan tenang.

Terakhir, mau numpang ngiklan: nur punya blog baru lho… Jadi dalam rangka bersih-bersih rumah, aku mau jual-jualin barang yang sekiranya sudah tak terpakai tapi masih layak gitu. Alhamdulillah sih udah ada yang sold. Sila di cek di http://bersih2rumah.wordpress.com/. Mampir ya kakaaak… :mrgreen:

hikari's garage sale