Ngluyur: Sebuah Postingan Telat (bag. 1)

Aku ingin bercerita tentang kegiatan ngluyurku 2 bulan lalu [Wohoo, telatnya! Nape ga sekalian 2 tahun aje, mpok?!]

6 Juni 2009

Karena ngambil cuti dari tanggal 5-9 Juni, hari Sabtu itu aku sudah berada di Malang. Seperti biasa kalo lagi ada di rumah, hari itu kugunakan untuk “menyewa” adikku, menjadikannya tukang ojek untuk mengantarkanku puter-puter ke Kota [maklum, rumah asli terletak di desa yang masih 1 jam perjalanan dari kota].

Tujuan pertama: menjenguk mantan teman kos yang baru saja “keguguran” (janinnya meninggal dalam kandungan, innalillah). Aku ga sendirian karena udah janjian di Kacuk dengan salah satu mantan mbak kost. Mbak kost datang bersama adik perempuannya. Maka berangkatlah kami berempat ke daerah Bumiayu. Temanku ini, tak dinyana, menyambut kami dengan wajah sumringah seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia bercerita dengan entengnya tentang kejadian itu. Sugoooi!! Lama-lama pembicaraan jadi merembet ke masalah-masalah kehamilan. Bagaimana mbak kostku juga pernah “gagal”, adiknya mbak kost yang harus dioperasi caesar… sebagai satu-satunya perempuan yang belum menikah, hatiku jadi ketir-ketir. [He?! Lupa nanya bagaimana perasaan adikku sebagai satu-satunya perjaka di sana. Kqkqkq]
Baca lebih lanjut

BBB (Benar Benar Bodoh)

Setelah sukses dengan ngluyur 1, 2, dan 3, mungkin memang tiba saatnya aku mengalami apes. Karena cerita berikut akan penuh dengan kesedihan, kemeranaan, dan ketidak-beruntungan, jadi cerita ini juga akan penuh dengan ketidak-jelasan.

Hari Sabtu lalu, 9 Mei 2009, sebenarnya aku sudah berencana menghabiskan hari dengan berleha-leha di kosan setelah dua minggu yang sangat melelahkan, sekalian mengurus DPT ke Kelurahan. Ternyata hari Kamis malam, Siko memberi tahu tentang akan diadakannya suatu pertemuan yang sangat menentukan masa depan study-ku. Aku sempat bimbang, meskipun pada hari Jumat siang aku sudah memutuskan untuk pergi ke Bintaro dengan KRL. Namun tak dinyana, Jumat sore, pekerjaan yang kukerjakan selama seminggu terakhir harus direvisi dengan deadline hari Senin. Sementara ada pekerjaan lain yang juga jatuh deadline hari Senin. Hiks! Akhirnya dengan sangat sedih, aku kembali merubah rencana menjadi: pergi ke kantor di hari Sabtu.
Baca lebih lanjut

Ngluyur (part 3)

Hari minggu kemarin, sepulang dari tahsin, aku sengaja ke kantor untuk menyelesaikan beberapa keperluan. Lepas dhuhur dan setelah menunaikan ibadah sholat, aku berniat pergi ke kantor pos untuk membeli materai (hasil dicerewetin satu orang di kantor *huh!*). Menyusuri jalan Lapangan Banteng Timur, sampailah aku di Kantor Pos Pusat. Tentu saja, kantor pos tutup di hari minggu! Dudul banget dah!

Karena hari masih siang (pukul 13.00), aku iseng jalan terus ke utara, ke arah pasar baru. Maka tercetuslah ide “ngluyur” (lagi! hehehe). Padahal tas-ku sedang berisi PR yang harus segera diselesaikan. Ah, biar deh…
Baca lebih lanjut

Ngluyur?! (another story of ngluyur)

Minggu lalu, tepatnya tanggal 28-30 April, sebagai realisasi dari postingan ini, aku ngluyur ke Bojonegoro dan Tuban. Sebenarnya bukan ngluyur karena aku pergi dalam rangka melaksanakan tugas dari kantor untuk mengunjungi dan melakukan penilaian terhadap kantor vertikal di daerah. Dan… ini merupakan DL pertamaku! 😀

Aku bersama rombongan yang terdiri dari Ibu Kasubbag, 1 orang pendamping dari BC, dan 2 orang pendamping dari Perbend berangkat hari Selasa pagi dengan naik GA. Perlu diketahui, ini merupakan penerbangan pertamaku! Aku pernah mendengar bahwa yang paling ga enak adalah saat-saat take off/landing. Namun ternyata, aku enjoy aja tuh. Malah deg-degannya pas di atas, kalo lagi kepikiran bahwa aku lagi berada beratus meter di udara, dan pesawat itu tidak ada yang penyangganya. Fufufu… T-T Ah, sudahlah! Alhamdulillah, langit cerah dan cuaca sedang bagus. Perjalanan lancar. Sampai di Juanda pukul 08.00. Untuk pergi ke Bojonegoro, kami masih harus naik travel yang memakan waktu sekitar 3,5 jam.

OK. Aku ga akan cerita tentang kerjaan kantor di sini, karena postingan bertajuk “ngluyur” lebih kutujukan untuk memuat kisah-kisah “ngluyur” alias sight seeing alias jalan-jalan. Namun sayangnya, karena jadwal yang padat (nggaya!!) –aku harus mengunjungi 3 kantor di 2 kota dalam 3 hari- maka aku ga sempat jalan-jalan. Aku hanya sempat melewati beberapa obyek wisata, jadi tulisan berikut ga akan terlalu bermutu. Tapi karena terlanjur pengin cerita, aku ceritain saja ya… ^-^v
Baca lebih lanjut

Ngluyur (part 2)

Masih meneruskan petualangan 2 hari lalu…

Day 3:

Proses berhemat, masih berlanjut. Hari ini kujadwalkan untuk pergi ke Kota Tua (sering terbalik dengan Kota Lama… eh, itu kan di Malang, dudul!). Kali ini ga masak nasi, tapi beli jajanan pasar macam klepon, lopis, dan gethuk, total: Rp4000,-. Dan tetep, masih ada cemilan yang kubeli di hari Kamis lalu.

Berangkat jam 10, rute busway: Rawasari Selatan-Harmoni-Kota.

1st destination: Museum Bank Mandiri— HTM: Rp2000,-

Keren banget! Keren banget! Hawa jadulnya BERASSSAAA! Museumnya dibiarin seperti aslinya, tapi terawat dengan baik. Penjelasan hanya lewat tulisan di beberapa tempat. Juga foto-foto jadul. Bank Mandiri seperti kita tahu merupakan leburan dari beberapa bank besar, namun museum ini sendiri merupakan bekas gedung NHM (Nederlandsche Handels Maatschapiij –kayanya tulisanku salah-) yang didirikan tahun 30-an (penjelasan selengkapnya silakan dicari sendiri di internet) meski ada juga beberapa barang milik NIB dan bank-bank lain yang aku lupa namanya 😛

Point yang menarik:

Ngluyur (part 1)

Attention: Tulisan berikut tidak akan memberikan manfaat bagi Anda. Saya hanya sedang ingin mengabadikan kisah lontang-lantung saya. Bagi yang tidak berkepentingan, silahkan lewati bagian ini.

Liburan 4 hari lalu, kuputuskan untuk tidak pulang kampung. Iya, padahal hampir semua temanku pada pulang kampung. Tapi bukan karena Ncep ga pulang kampung, makanya aku ga pulang kampung… bukan itu! Alasannya sesederhana:
(1) Aku takut tiket Gajayana bakal naik jadi 400 ribu, yang berarti aku harus membayar 800 ribu untuk PP, belum termasuk biaya hidup di kampung;
(2) Sayang aja meninggalkan kuliah kedua tahsin karena aku masih anak-baru-banget. Jadi aku beneran golput?! Hehehe, iya. Tapi kata ayah sih, emang aku ga dikasih undangan. Tapi (lagi) aku sudah minta agar kartu pemilihku dikirimkan ke sini, jadi insyaallah aku akan ikut untuk Pemilu Presiden nanti.
Baca lebih lanjut