Tentang Penyair Hujan

Sekitar seminggu lalu aku menangis sendirian di depan kompie. Siang-siang. Di kantor pula. Si kiki yang sudah ngerti akan kebiasaan anehku cuma mahfum saja dan membiarkanku dalam ke-geje-an. Yah, mau ngapain sih diributin kalo nangisnya cuma gara-gara puisinya Eyang Sapardi Djoko Damono?! (selanjutnya disingkat SDD)

Adalah ketika aku menonton Minggu Pagi di Victoria Park, ada satu lagu backsound yang langsung nemplok di otakku. Usut punya usut, lagu tersebut ternyata merupakan hasil salah satu proyek Musikalisasi Puisi SDD. Seingatku, temenku yang menggilai SDD ya antara Shepty atau Mice. Maka dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, aku segera menghubungi Mice untuk meminta file dimaksud yang baru dikabulkan setelah dia kembali dari cuti lamarannya. #selamat ya kakaaak…

Lagu tersebut judulnya “Sajak Kecil untuk Cinta”. Berikut liriknya.

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaimu harus menjadi aku

Ternyata proyek musikalisasi puisi SDD ini sudah ada sejak lama. Yang menggarap (kalo ga salah) namanya mas Ari dan mbak Reda. Sebelumnya aku pernah mendengar musiknya mengalun di video buatan Mice. Satu puisi yang sudah lama sekali kukenal: Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Kembali ke adegan siang itu, aku sebenarnya sedang mencari lirik atas lagu-lagu lain yang terkumpul dalam album Gadis Kecil. Terdamparlah aku ke blog mbak Astri ini, dan nemu puisi pertama yang bikin aku nangis: Selamat Pagi, Indonesia

selamat pagi, Indonesia,
seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar
dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak,
dan menjeritkan salam padamu,
kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan,
benteng kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit,
o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

(teringat jutaan detik yang tersia di kantor)

Kemudian nemu lirik lagu kedua yang nampol di otak: Buat Ning

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
(barangkali tanpa salam terlebih dahulu)

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

Awalnya aku menafsirkan puisi ini dengan dangkal-dangkal saja. Namun setelah tahu maknanya: bahwa ini adalah tentang dua orang yang telah menghabiskan waktu bersama-sama selama bertahun-tahun (kalender yang telah berganti-ganti dari Januari lalu Desember lalu Januari lagi) hingga tibalah masa menghadapi kenyataan bahwa salah seorang dari mereka harus “dijemput” duluan. Perpisahan yang pasti ada dalam setiap pertemuan. Tangisku makin menggugu. Teringat tahun-tahun yang kuhabiskan dengan ibuk, ayah, dan aziz, juga mz nug. Aku langsung meng-gtalk mz nug: adek sayang mz nug. Menulis SMS ke ibuk: Diyah sayang ibuk. Menulis SMS ke ayah: Diyah sayang ayah. Dan mengirim SMS menanyakan kabar kepada adikku Aziz (kalo kutulis “sayang” juga bisa dicurigai sama pacarnya). Jawabannya beda-beda. Mz nug cuma mbales “iya”. Ibuk langsung telpon aku. Sedang ayah malah SMS kejam: “opo karepmu” *gubrak

Rasanya sedih banget membayangkan kenyataan yang harus dihadapi itu. Siapakah di antara kami nanti yang akan duluan naik “jemputan”?! *mewek lagi

Ah, sudahlah. Balik lagi ke SDD. Di antara lagu-lagu di sana, lagu berikutnya yang kusukai adalah Dalam Bis

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

Musiknya enak. Nadanya romantis. Dan dari dulu aku suka sekali dengan perjalanan.

Kemudian ada Gadis Kecil

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang, ada pohon
dan seekor burung…

Untuk puisi ini, aku mengartikan ngawur sebagai: Kesedihan ribuan anak-anak Indonesia yang masih hidup dalam kekurangan, sulit mendapat pendidikan, bahkan sulit makan. Hidup mereka senantiasa diliputi gerimis. Sedang sebagian besar orang hanya berdiri diam (di pinggir padang ada pohon) dan kadang malah komentar ga penting (seekor burung) tanpa ada niatan membantu. Entahlah, aku tak pandai dalam puisi.

Yang terakhir, hatiku melayang oleh puisi Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka

Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Rasanya kok syahdu bener. Dan diksinya itu lho: betapa parah cinta kita. Karena cinta itu ga cuma manis. Dia juga bikin sakit. Seperti tangisku yang turun ketika mengenang keluarga. Rasanya begitu perih. Tapi sisi lain puisi ini penuh dengan kata-kata menakjubkan indera: kabut cahaya, ranting cuaca, sayap warna. Dan entah kenapa, yang terlintas di otakku adalah art work-nya anime-anime keluaran Ghibli.

My Neighbor Totoro

Sejujurnya, sebelumnya aku tak terlalu mengenal Eyang SDD yang dikenal luas sebagai Penyair Hujan ini. Pengetahuanku hingga seminggu lalu baru sebatas Hujan Bulan Juni dan puisi Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Namun, sejak ini, aku jadi semakin kagum dengan eyang. Maaf bila postingan ini terasa sangat dangkal. Hanya tulisan orang yang ga ngerti puisi dan ingin mengabadikan tulisan-tulisan SDD yang luar biasa.

Arok Dedes

Aaaaah, aku terhura… eh, terharu…

Bercampur baur perasaan yang kurasakan saat ini. Sebuah buku luar biasa berhasil kubaca. Sebuah buku yang membuatku terlena dari deadline kerjaan, tak bisa berhenti membacanya selama 2 hari terakhir. Gaya bercerita yang menawan, konflik yang pelik, kata-kata yang walaupun terdengar asing di telinga dan sulit dilafalkan namun terasa indah, perang besar (ya, saya selalu suka dengan film kolosal dan peperangan besar), cerita yang rumit namun lebih masuk logika. Ah, Arok Dedes memiliki segala-galanya.

Aku lupa kenapa aku tiba-tiba tertarik dengan buku ini. Pertama menemukannya di perpustakaan, aku ingat kalo Feris pernah membacanya. Di bab awal-awal memang aku agak malas-malasan membacanya. Terlalu lambat. Namun begitu tengah buku terlewat, begitulah, aku melupakan bahwa ini masih jam kantor. Hehehe

Seperti biasa, tak usahlah aku menuliskan ceritanya di sini ya. Ada umi habibah yang sudah menceritakan dengan baik dan lengkap. Aku hanya ingin menuliskan kesan-kesanku saja.

  1. Buku ini membuatku terkenang ketika usiaku masih 13 tahun dan pertama kali menamatkan Ramayana dan Mahabarata. Saat itu setiap waktu istirahat kuhabiskan di perpus tenggelam di buku-buku ini. Sebenarnya waktu itu otak kecilku tak terlalu mampu mencerna kata-kata sulit dan cerita penuh intrik dengan didukung tokoh yang berjibun seperti itu. Tapi perasaanku jelas: aku terkagum-kagum. Dan perasaan yang sama seperti saat membaca Ramayana dan Mahabarata kembali muncul saat membaca Arok. Terlebih saat percakapan di sidang brahmana, dimana setiap orang mengungkapkan pendapatnya. Aku sukaaa… Kalo Ramayana Mahabarat kan wajar soalnya yang nulis memang hidup di jaman yang tidak terpaut jauh. Lha Arok Dedes ini?! Kok bisa ya manusia modern merekayasa adegan-adegan yang terjadi ratusan tahun lampau dengan begitu detail dan seolah nyata?!
  2. Buku ini terus terang membuatku membandingkannya dengan Taiko-nya Yoshikawa Eiji. Sama-sama berlatar sejarah, sama-sama nyerempet tokoh-tokoh nyata, sama-sama bisa membuat orang yang membacanya meyakini bahwa memang itulah yang benar-benar terjadi.
  3. Aku suka dengan Arok versi yang rasional ini. Apalagi sebagai orang asli Malang-Kediri. Dari dulu aku bertanya-tanya apakah bisa sebuah kerajaan besar bisa didirikan dan langgeng di bawah kekuasaan seseorang yang hanya “berandalan dan beringasan”?! Kupikir pastinya tidak akan semudah itu. Aku lebih bisa menerima bahwa pastilah Arok memiliki “sesuatu”, entah apakah itu. Mungkin memang tidak sehebat Arok di buku ini, tapi aku yakin Sri Rajasa bukanlah orang biasa.
  4. Selain Arok, aku juga suka Umang dan Dedes versi ini. Umang: tegas, tabah, pejuang. Dedes: cantik, pintar, ambisius. Dua-duanya perempuan yang kuat dengan sifatnya masing-masing. Sudah selayaknya bila keduanya sama-sama menjadi paramesywari.
  5. Kata-kata. Ah, kata-kata. Darimana sih Mbah Pram ini mendapatkan kata-kata jadul yang bertebaran di buku ini?!

Yang mungkin agak tidak bisa kubayangkan adalah setting tempat-tempat kejadian. Apalagi pas adegan Gunung Kelud meletus. Aku susah payah menghadirkan peta Malang dalam ingatanku dan tetap gagal untuk mengerti kenapa adegannya seperti itu. Dan terlepas dari nyata-tidaknya tokoh Arok Dedes serta berbagai keraguan akan keaslian kitab Pararaton, buatku setiap kisah masa lalu adalah pelajaran bagi masa kini yang bermanfaat untuk dipelajari.

Ngayal: Andai buku ini difilmkan (asal bikinnya sepenuh hati), pasti adegan-adegannya bakalan bagus banget. Heroik!

Kubenci dan Kucinta: Nh. Dini

Sekitar kelas 4 SD, aku mulai iseng menyingkat namaku dengan NH. Fauziah. Nama itu resmi kugunakan untuk menamai buku maupun lembaran-lembaran kertas ujian. Beruntung saat itu aku bersekolah dimana ayahku menjadi salah satu pengajarnya, sehingga kebiasaanku menyingkat nama dan hanya menampilkan nama belakang tidak menjadi masalah. Semua guru kenal aku sehingga tahu pasti lembaran ujian itu milikku walau hanya tertera nama belakang di sana.

Namun kebiasaan ini harus kuhilangkan ketika aku masuk SMP. Di negeri ini, orang lebih familiar dengan nama depan. Sekeras apapun aku menyukai nama belakangku, aku harus menerima bahwa semua orang lebih mengenal nama depanku.

Sekitar kelas 2 SMP, aku menemukan sebuah buku karya seseorang yang bernama “hampir” sama denganku: Nh. Dini. Ya, awal mula aku tertarik padanya adalah karena kemiripan nama kami. Buku pertama yang kubaca saat itu berjudul Sekayu. Sejak Sekayu, aku langsung jatuh hati pada gaya penceritaannya yang amat deskriptif. Padahal saat itu aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada gaya Budi Darma. Namun ternyata penceritaan gaya deskriptif tidak membosankan juga untuk diikuti. Entahlah, mungkin memang aku saja yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain. Klop dengan isi buku-buku Nh. Dini, khususnya serial kenangan, yang bercerita secara mendetail tentang kehidupan pribadinya. Mungkin di jaman sekarang buku-buku Nh. Dini akan mirip dengan isi sebuah blog. 🙂

Berawal dari Sekayu, berlanjut ke Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, seterusnya hingga sekarang aku sudah menamatkan sekitar 12 buku karya Nh. Dini. Dengan pengalaman sebanyak itu, wajarlah bila Nh.Dini berpengaruh besar dalam gaya penceritaanku. Walau sebenarnya bila ditanya lagi apa isi buku-buku yang kubaca itu, aku dengan malu akan menjawab: sudah lupaaaa. :mrgreen:

starry-night2

Lalu, dengan semua kecintaanku pada Nh. Dini, kenapa aku harus membencinya?!

Yaaahhh…agak terlalu kasar sih memang kalau disebut membenci.

Aku sedikit ingat catatan yang kutulis di diary-ku, entah umur berapa, saat aku sedang kesal-kesalnya karena hingga “berumur” pun tidak pernah ada laki-laki yang menyukaiku (awww… awww… *krisiskepercayaan). Aku ingat menulis demikian:

Nh. Dini hanya menyuguhkan impian semu. Seorang wanita muda yang cantik dan serba bisa, dikelilingi dan dipuja oleh banyak lelaki.

Segitunyaaa…. Karena pada dasarnya yang kutangkap dari banyak cerita Nh. Dini adalah tentang perempuan dan laki-laki di sekitarnya. Walau sebenarnya Dini tak melulu bercerita soal asmara, tapi tentu saja yang demikian itu lebih melekat di ingatan. Dan itu membuatku kadang jatuh ke kerendah-dirian.

Racun lain dari buku Nh. Dini adalah seks. Sebenarnya tidak melulu Nh. Dini yang kusalahkan. Banyak karya sastra lain yang jauh lebih parah dalam penggambarannya. Nh. Dini menggambarkannya dengan sangat halus malah. Cuma mungkin karena aku masih masa puber, jadi pikiran ini mudah sekali digiring ke arah sana. (ciyus nur? bukannya sekarang masih suka ngeres?!)

Aku ingat, berkat Tirai Menurun, aku menjadi tahu tentang ciuman dengan lidah sebelum aku akhirnya mengerti bahwa itu yang disebut sebagai french kiss. Ketika membaca Pada Sebuah Kapal baru-baru ini, ingatanku melayang pada buku lain yang aku lupa judulnya. Samar aku ingat bagaimana dia menyerahkan keperawanannya pada Yves, dengan adegan yang hampir sama dengan adegan Sri dan Saputro di buku ini. Ingatan-ingatan tentang hal seperti ini akan sulit dihapus dari otak, hampir sama kalau kita melihat adegan tersebut secara langsung via video/gambar bokep. Aku tidak tahu bagaimana pikiran anak-anak lain yang malah diwajibkan membaca buku ini saat SMP atau SMA.

Hal lain yang menggangguku: dahulu, “sedikit” terpengaruh buku-buku Nh. Dini, aku pernah memiliki pandangan bahwa seks bebas itu tidak masalah selama tidak ada pihak yang dirugikan, selama bukan terjadi di dekatku, selama bukan aku yang melakukannya. Sebuah pandangan yang sangat sempit. Sekarang setelah bisa melihat kerusakan apa yang mungkin ditimbulkan, aku jadi merasa bersalah pernah memiliki pandangan seperti itu.

Ah, Nh. Dini yang kubenci dan kucinta. Apapun itu aku tetaplah pengagumnya.

Kesimpulan: Buku-buku Nh. Dini seharusnya dilabeli “khusus dewasa”, begitu pula dengan buku-buku sastra lain. Berlebihankah?!

Habibie & Ainun

Saya BARU mengagumi Pak Habibie setelah membaca buku ini.

Lah?! Pak Habibie kan idola anak-anak nur?! Masak kamu ga kagum sama orang yang bisa bikin pesawat?!

Yah, jawabannya sesederhana saya dulu tidak tertarik dengan iptek. Saya lebih kagum dengan orang-orang yang bergerak di bidang kemanusiaan semacam Mahatma Gandhi, Helen Keller, Bundha Theresa, dll. Lagipula cita-cita saya bukan jadi pilot/astronot. Dulu cita-cita saya jadi PNS (dan sekarang terkabul) :mrgreen:

Baru setelah membaca buku ini saya sadar: Pak Habibie juga manusia (emangnya dulu apaan?!) Bahwa beliau pernah terpuruk, takut, kecewa, marah, sama seperti kita. Kalo dulu kan kesannya beliau orang pinter. Titik. Padahal kalau mau membaca kisah hidupnya, banyak hal menakjubkan di sana.

Lahir dari keluarga terpelajar (hmm, menarik bahwa beliau ternyata bukan anak orang miskin trus naik jadi orang kaya -nyindir buku orang lain- -ntar deh cerita-), perjuangannya untuk meraih apa-apa yang kita lihat sekarang, cintanya pada istrinya yang beliau sebut dengan “cinta yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi” (rangkaian kata ini muncul lebih dari 10 kali -sempet bosen tapi ya kan perasaan Pak Habibie kayak gitu-), pemikirannya terhadap berbagai hal, harapan-harapannya, cita-citanya. Saya menyebut buku ini “PENUH”. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dan hal-hal yang bisa kita renungkan.

(ini maunya bikin resensi atau apa sih, kok ga jelas gini)

Baiklah karena terbatasnya waktu (oh, ayo cepat selesaikan sebelum ditagih laporan) saya hanya mau mengutip beberapa hal yang menarik sebelum buku yang luar biasa ini saya kembalikan ke perpustakaan (sudah ditagih je). Maaf juga kalo nyupliknya dari belakang. Yang bagian depan isinya perjuangan keluarga selama di Jerman. Menarik juga, dan ada yang terus saya ingat, tapi mau nulis takut ga sempat.

Saya menyampaikan kepada mereka: “Anda sudah operasi istri saya 12 kali dalam 4 minggu dan hasilnya makin memprihatinkan. Apakah jikalau isteri saya dioperasi lagi anda dapat menggaransi keadaan Ainun lebih baik? Jikalau Anda memberi garansi membaik maka saya dapat menyetujui isteri saya dioperasi lagi untuk ke 13 kalinya.”

Jawaban mereka : “Kami tidak dapat memberi garansi.” “Kalau demikian apa gunanya Anda mengoperasi isteri saya lagi? Saya tidak dapat menyetujui anda operasi isteri saya lagi. Saya serahkan kepada Tuhan YME. Saya hanya memohon kepada anda semua untuk tidak memberi rasa sakit kepada isteri saya. Demikian putusan saya.”

(disini saya mewek)

Tiba-tiba sekitar pukul 13.00 wajah Ainun muncul di sudut mata saya dan perasaan gelisah dan keprihatinan saya meningkat. Saya segera menghentikan diskusi dan minta maaf, karena saya harus berkonsentrasi memanjatkan doa untuk Ainun yang sedang dioperasi…

Kemudian Prof.Dr.Burges menjelaskan. “Sekitar pukul 13.00 kami mendapat masalah, keadaan menjadi kritis karena terjadi pendarahan besar pada saat pembersihan tumor…”

“Untung ada Tuhan. Untung saya percaya dan yakin ada Allah SWT. Untung saya mampu memanjatkan doa dengan bahasa getaran nurani penuh dengan keyakinan akan didengar oleh Allah SWT. Untung ada agama. Untung saya dan Ainun sangat religius. Kalau tidak mungkin susah kami atasi ini semua.”

(betapa kuatnya iman Pak Habibie dan betapa kuat sambungan batinnya dengan istrinya)

Saya bertanya: “Bagaimana Anda peroleh tiket ini jikalau sebelumnya semua sudah dijual?” Jawaban kepala perwakilan Lufthansa singkat: “Setelah saya sampaikan keadaan ibu Ainun dan masalah yang dihadapi, maka secara spontan enam penumpang mengundurkan diri. Mereka semua bukan warga negara Indonesia.”

(bahwa kemanusiaan tidak mengenal SARA, ini tentang hati nurani)

Lalu saya bertanya: “Mengapa warna putihnya tidak merata?… Mengapa begini?” Dr. Pulunggono menjawab dengan sangat berhati-hati: “Saya bukan ahlinya Prof. Saya hanya ahli MRI.” Lalu saya berkata: “Menurut textbook anda kalau ada gambaran seperti ini, artinya apa?” Dr. Pulunggono menjawab dengan nada amat hati-hati dan sopan: “Kanker ovarium stadium 3 atau 4, Prof.”

(ini kalo di film pasti jadi adegan klimaksnya)

Darah daging saya memang engineer. Saya meng-engineering politik, ekonomi, dan sebagainya sehingga dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah saya tentukan.

(Jadi bukan hanya Gus Dur yang katanya terlalu canggih untuk Indonesia. Cara pemikiran Pak Habibie pun kurang bisa dimengerti oleh orang awam. Tapi saya kagum. Kalau jaman dulu orang bisa rangkap-rangkap ilmunya: ahli matematika, filsuf, astronomi, dst. So, ga masalah donk kalo Pak Habibie melihat ekonomi dan politik berdasar ilmu yang beliau kuasai. Kalopun ternyata salah, seenggaknya beliau sudah berusaha)

Berulang kembali pertanyaan pada diri saya lagi, mengapa untuk kepentingan pengamanan, seluruh keluarga saya harus berkumpul di satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau keluarga saya masih tetap berada di satu tempat? … Saya mulai berfantasi, saya ingat nasib keluarga Tsar Romanov dari Rusia yang semuanya dibunuh di satu tempat dalam revolusi kaum Bolshevik.

(Tuh kan, Pak Habibie juga manusia. Bisa takut, parno, bahkan ngayal yang enggak-enggak)

Tetapi Pak Harto berpikir, ketika bangsa Indonesia tinggal landas untuk memasuki abad yang akan datang, itu berarti membutuhkan waktu 25 tahun. … Jadi kalau dia memberikan kepercayaan kepada seseorang yang berumur bukan 37 tahun tetapi 47 tahun, maka dapat dibayangkan 25 tahun kemudian usia orang tersebut mencapai 70 tahun. Jadi, perhitungan Pak Harto tersebut sangat masuk akal…

(Pak Habibie ketika ditunjuk untuk memimpin pengembangan SDM dan iptek di Indonesia, merasa kurang pede karena menurut beliau ada beberapa orang yang lebih lebih berpengalaman -namun ternyata lebih sepuh-. Ah, saya LAGI-LAGI kangen Pak Harto)

Tanggal 23 Januari 1993, saya selaku Ketua Badan Pembina Yayasan Abdi Bangsa dari ICMI, menerbitkan dan meluncurkan Harian Umum Republika… Harian Umum Republika juga berhasil mengeluarkan lembaga mobilisasi dana “Dompet Dhuafa”… ICMI juga mendirikan Bank Muamalat Indonesia… demikian pula Asuransi Takaful…

(wow, semua wajah Islam modern lahir dari peran serta Pak Habibie?! *menjura)

Organisasi multirateral seperti Bank Dunia dan IMF didirikan untuk membantu terciptanya dunia yang tentram. Namun sangat disayangi kebijakan yang diambil memanfaatkan “standar ganda” yang disalah artikan oleh politik sesaat kelompok kecil saja antar negara yang tidak menguntungkan sesama manusia yang semakin erat ketergantungannya.

(oh well, saya tahu IMF busuk tapi ga nyangka kalo sebusuk ini… ah, ga tega nyeritainnya. Baca sendiri deh! *menangisi-nasip-Indonesia)

Pada IAS’96, N-2130 akan diperkenalkan sebagai pesawat 130 penumpang berkecepatan tinggi di daerah transonic, yang digerakkan oleh dua mesin jet dan akan terbang perdana pada bulan Agustus 2002 sebagai tanda Indonesia tinggal landas memasuki era globalisasi. Karena itu perkenalan N-2130 pada IAS’96 di Cengkareng Jakarta, ditanggapi oleh dunia industri dirgantara sangat serius.

(Indonesia pernah berjaya! Indonesia pernah hampir jaya! Tapi itu duluuu… -nangis lagi-) note: IAS-Indonesia Airshow

Eh, udah jam 11 aja. Udah dulu deh. Keburu ditelpon lagi sama perpusnya. Komen sebagai penggila buku:

  1. Pak Habibie sukses deh bikin novel. Walau agak lambat dan penuh pemikiran di awal, begitu hampir selesai alurnya kebut-kebutan. Klimaksnya cakep banget. Bikin pembaca deg-degan lho pak…
  2. Eh, ini ada editornya ga sih?! Saya agak susah payah baca tanda-tanda baca yang ga lazim. 😦

Oiya, saya sengaja ga terlalu nyorotin kisah cintanya. Bukan ga menarik, tapi pasti bakal diungkapkan habis-habisan di film. Sedangkan pemikiran-pemikiran yang “penuh” itu saya yakin tidak akan mampu terungkap dengan baik di filmnya (saya nulis plek-plekan saja tidak mampu menyampaikan kembali dengan baik, hiks). Jadi buat yang penasaran dengan kisah cintanya, silahkan nonton filmnya saja. 😀

Madre dan Komik 5 cm

Lama-lama kok jadi suka nulis buku apa yang sudah dibaca. Habisnya dua yang ini cukup berkesan sih :p

Judul: Madre (Kumpulan Cerita)

Penulis: Dee

Penerbit: Bentang, Cetakan kedua Agustus 2011

Tebal: 160 halaman

Kalo kemarin Filosofi Kopi gagal menawanku, kali ini Madre berhasil membuatku lupa diri sehingga tak menyadari sudah berada di nursery room selama hampir 1 jam (yah, cerita madre sendiri panjangnya hampir setengah buku). Aku suka semua isi buku ini. Manis, gurih. Menawan, indah. Walau lagi-lagi ada sedikit yang mengganjalku, tapi aku memilih untuk tidak mengindahkannya (Aku merasa gaya bahasa Tansen dalam blog enggak banget untuk ukuran laki-laki. Mungkin karena memang aku jarang membaca blog laki-laki yang isinya curhatan) Terseru: Madre. Paling menyentuh jiwa: Perempuan dan Rahasia.

Judul: (komik) 5 cm

Penulis: Is Yuniarto, Donny Dirgantoro

Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia) Cetakan kedua Oktober 2011

Tebal: ga tau (hampir sama dengan tebal Madre)

Pernah baca novel 5 cm? Pernah. Isinya apa? Lupa! Aku baca 5 cm sebelum buku ini booming dibicarakan orang. Aku suka, tapi ga fanatik. Makanya ceritanya berlalu begitu saja dari ingatan. Dengar-dengar 5 cm akan difilmkan dalam waktu dekat. Oleh karena itu waktu nemu komik ini di perpus, aku langsung pinjem. Lumayan menyegarkan ingatan akan alur cerita 5 cm karena ternyata aku beneran salah inget semua alurnya. Lagipula 5 cm bukan buku yang bagus diinget alurnya, tapi lebih penting dipahami isinya. Banyak quote super. Banyak hal yang menggugah kesadaran. Itulah kekuatan 5 cm. Tentang komik ini, aku suka tipe gambarnya. Bersih. Dan tiap tokohnya digambar dengan karakter yang spesifik. Namun memang aku setuju bahwa untuk ukuran komik, ceritanya terlalu datar. Yah, susah lah menerjemahkan buku penuh makna ke dalam komik. Komik butuh alur yang seru dan itu memang tidak ada di novel 5 cm.

Ibu Tak Harus Sempurna

Pelan-pelan aku mulai membangkitkan kembali hobi lamaku: membaca. Hobi ini lebih mungkin untuk diteruskan karena aku bisa membaca ketika sedang pumping atau naik KRL. Sedangkan kesukaanku nonton film di laptop sepertinya memang harus dimatisurikan sampai waktu yang tidak terbatas, mengingat ada anak kecil yang tidak boleh aku cemari dengan seleraku yang berkutat dengan film-film aneh/berdarah/horor. Oiya, alasan sebenarnya jadi rajin lagi baca adalah karena ga mau kalah dengan mas-mas OB lantai 17 ini yang rajiiin banget baca buku dan minjem buku ke perpus. Ish, masak pegawai kalah sama OB?! (#kompetitip) >.<

Setelah sekian buku (termasuk Filosofi Kopi-nya Dee lho), aku akhirnya malah jatuh terkesan dengan buku ini:

Judul Buku: Cerita Cinta Ibunda (Kumpulan Kisah Nyata Terpilih Lomba Kisah Kasih Ibu WORLD SMART CENTER)

Editor: Ary Nilandari

Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka) Cetakan I, April 2011

Tebal: 409 halaman

Mungkin karena aku emak-emak, dan aku juga seorang anak, makanya aku sangat tersentuh dengan kisah-kisah yang diceritakan di buku ini. Apalagi hampir semuanya merupakan kisah nyata. Mendengarkan para anak (anak-anak ini rata-rata sudah dewasa) bercerita tentang ibu mereka masing-masing, ada beberapa hal yang kudapatkan:

  1. Saat baru baca: Kebanyakan anak menganggap ibu mereka sempurna. Aku pun demikian. Ibu-ibu di sini tampil sebagai wanita sempurna, rela berkorban apa saja. Fokus utamanya adalah point pengorbanan itu. Bahkan meskipun kehidupan keluarga mereka tidak ideal (cukup banyak yang bercerita soal KDRT atau status single parent) ibu-ibu ini tetap berusaha agar hidup anaknya tetap ideal. Melihat itu, aku pun menjadi bertekad untuk lebih banyak berkorban untuk anakku.
  2. Setelah baca sebagian: Meskipun seorang ibu dituntut sempurna, aku menjadi sadar, tidak semua ibu akan menjadi ibu sempurna. Setiap orang punya keterbatasan! Jika di awal ada banyak ibu single parent yang langsung berdiri tegak begitu ditinggal suami, ada cerita seorang ibu yang sampe kaya orang stres lontang-lantung di alun-alun sambil mabuk yang tentu saja membuat anak-anaknya sangat malu. Tapi bukankah begitu adanya? Setiap orang punya batas kekuatan. Dan ibu itu juga cuma sebentar kok berada dalam keterpurukan. Sesudah sadar bahwa anak-anaknya membutuhkannya, dia pun kembali menjalani hidup dan berjuang keras untuk anaknya.
  3. Setelah membaca bagian akhir: Bahwa seburuk apapun ibumu, beliau tetap ibumu. Banyak yang merasa dicuekin ibunya. Ada anak yang ibunya suka selingkuh. Hei, manusia tidak akan pernah sempurna! Bagaimanapun ibu telah berjuang untuk kita dan kita wajib berbakti kepadanya. (di point ini aku bersyukur dilahirkan di keluarga baik-baik dan ibuku juga wanita baik-baik)

Yang sedikit terus mengganjal adalah masalah pengorbanan tadi. Di rumah, rasanya lebih sering mz nug yang berkorban. Jika kerjaan tak terselesaikan, mz nug yang menyelesaikan. Jika makanan tinggal sedikit, mz nug yang mengalah tidak makan atau bikin mie instan. Ah, istri (/ibu) macam apa aku ini?! 😦