Sayonara, Banana Smoothie

Aku akan selalu mengenangmu, sebagai themes pertama yang kupakai ketika pertama kali aku bergabung di sini.

Warnanya kuning mencolok, dengan gambar segelas smoothie di pojokan. Themes ini kupilih berdasarkan pertimbangan atas tujuan awalku membuat blog: membagi pengetahuan tentang kesehatan, keuangan keluarga, dan dunia kewanitaan lainnya. Aku ingin blogku menyehatkan seperti smoothie dan selalu membagi keceriaan secerah warnanya. (Apalagi memang kuning merupakan warna favoritku selain putih dan cokelat)

Namun, seperti yang kau lihat sekarang (hm, siapa yang kumaksud dengan “kau” ya?!) tulisanku akhir-akhir ini tak lebih dari “sampah”. Alih-alih membagi pengetahuan (mungkin memang aku sudah tak punya pengetahuan yang layak untuk dibagikan), aku malah bercerita tentang hal-hal pribadi yang lebih tepat ditaruh di diary.

Aku merasa sudah tidak pantas memakai banana smoothie sebagai themes bagi blog-ku ini. Di sisi lain, aku juga merasa amat susah untuk kembali menampilkan tulisan yang bermutu.

Oleh karena itu, biarlah blog ini menjadi diary saja. Kelak saat aku siap menulis lagi seperti dulu, mungkin aku akan membuka rumah yang baru. Atau… kembali lagi ke smoothie yang menyegarkan itu?! Wallahualam.

NB: La dolce vita! Judul untuk blog ini dulu juga kupilih agar aku senantiasa hanya bercerita tentang “indahnya hidup”. Tapi akhir-akhir ini aku benar-benar terlalu sering mengeluh, semakin suram saja. Maka dengan berat hati, kulepaskan juga “dia”…  😦

Tetsu_Laruku

Hanya karena terlalu terpesona oleh kecantikan Haido lah, aku jadi telat merhatiin mas om yang satu ini.

Yup, leader-sama dari Laruku: Ogawa Tetsuya a.k.a Tetsu.
Kalo dari wajah sih, emang masih cantikan Haido. Tapi (berhubung kali ini hatiku sedang berpaling padanya) ternyata setelah diliat-liat, om ini benar-benar “menarik”

1. Senyumnya itu loh!!
Pertama kali jatuh hati waktu liat klip Link. Senyumnya manis sekali. Ketawanya benar-benar lepas. Ngliat Tetchan ketawa, jadi pengin ikutan ketawa, pengin ikutan bahagia seperti dia. Bandingin dengan senyuman Haido yang sumpah seducing abis! Ngliat dia senyum aku malah merinding. (Pantesan banyak sekali cewek –termasuk aku- yang dibikin jatuh hati padanya. 😛 Tapi sekarang nggak, Haido-kun! Hm…matte, mungkin kapan-kapan aku kembali jatuh hati padamu?! 😀 )

2. Skill-nya
Baik, Nur emang ga ngerti musik, apalagi ngomongin alat musik. Yang jelas, meski ga ngerti musik, aku ter”wah-wah” ngliat permainan Tetchan di Stay Away. Akhirnya aku masuk ke satu forum yang isinya bassist-bassist Indonesia, diantara mereka banyak yang ngaku kalo Tetchan adalah inspirasi mereka bermain bass, bahkan ada yang bilang kalo dia maen bass gara-gara liat Tetchan. Oia, kalo ga salah Tetchan juga pernah dinobatin jadi bassist terbaik gitu! Sugoi ne…

3. Leader-sama
Hm… suka aja liat cowok yang sanggup menghandle semua. Meski ga tau kepribadian Tetchan sebenarnya, tapi kalo mikirin kata pemimpin: sedikit otoriter, keras hati, tapi bisa dekat dengan semua, pantang menyerah, dsb. Dari tahun 90-an, Laruku dah jatuh bangun berkali-kali, tapi mereka tetap eksis. Kenapa? Karena mereka punya pemimpin yang hebat seperti Tetchan. Baca deh, disini.

4. Seorang lelaki dan impiannya
L’arc-en-ciel adalah impian Tetsu. Dan dia merintis jalan untuk mewujudkan impiannya itu dengan susah payah. Sekarang dia mendapatkannya. Laruku begitu sukses. Apalagi yang lebih mendebarkan selain melihat seorang laki-laki mengejar impiannya? ^_^ (kok malah inget Musashi ya?!) Kalo ndengerin Bravery, jadi pengin peluk Tetchan

5. Romantis, jahil, serius, banyak sifat menarik yang gabung dalam dirinya
Kalo baca cerita lamarannya Tetsu ke Ayana di sini, jadi beneran mupeng. Romantis sekali. Mungkin ga ya, dilamar kaya gitu? Hwaa… mimpi siang hari. Selain itu, Tetchan kadang-kadang juga jahil. Liat behind d’scene nya Chronicle -dia makan pisang trus kulitnya dibuang begitu saja di jalan biar salah satu kru terpeleset- benar-benar jahil. Tapi kalo pas latihan, tampangnya serius banget. Fiuh! Satu lagi, Tetchan juga ga merokok lho! Benar-benar cute.

Over all, om ini dah menikah dengan Aya-chan. Selisih umurnya 16 tahun. Ckckck, lebih pantes jadi ponakan ma Paklik. Tapi kalo liat foto itu jadi bertanya-tanya, sebenarnya cantikan mana sih, Tetchan ma Ayana? :mrgreen:

Tirai Hati

Suatu malam, telepon di rumahku berdering.
“Selamat ya Nur…” kata temanku di seberang. Dia baru saja melihat pengumuman UMPTN via internet. Dari kelas kami, ada 9 orang yang diterima di jurusan yang sama.
Alhamdulillah. Setelah telpon ditutup, aku langsung sujud syukur. Membayangkan betapa aku telah bersaing dengan puluhan atau ratusan anak lain yang ingin masuk ke sana.
Dengan ceria, kukabarkan berita pada ayahku yang mau menyusul ibu’ ke tempat perkemahan (sebagai guru SD, ibu’ kadang musti menginap pula mendampingi murid-muridnya kalau ada acara perkemahan seperti ini) “Yah, aku diterima”, kataku riang. Ayah cuma senyum, lalu pergi.

Dalam mobil tua (ayah sendiri menyebutnya gerobak beroda empat) di pinggiran bumi perkemahan, ayah tercenung sendiri. “Fakultas XXX. Paling nggak, biaya awal 10 juta. Kalau sepeda motor itu dijual, mungkinkah laku 10 juta? Kalau mobil ini, paling cuma 6 atau 7 juta. Lalu, semester-semester berikutnya bagaimana?” (nb: ternyata setelah melihat pengumuman di koran, daftar ulang membutuhkan biaya 13 juta. Hiks!)

Aku tak tahu cerita ini, sampai setengah bulan lalu saat silaturahmi Idul Fitri ke Kediri, ayah menceritakan perasaannya saat itu. “Rasanya pengin nangis”, ucap beliau. Aku tercekat. Waktu itu, yang kurasakan hanya senang dan bangga. Bangga karena aku bisa masuk fakultas yang dianggap keren. Aku sama sekali tak berpikir bagaimana perasaan kedua orang tuaku. (Sekarang aku bersyukur sekali telah memilih STK, alih-alih masuk ke fakultas itu)

Beberapa hari lalu, aku menonton lagi dorama-paling-sedih kedua setelah Oshin: 1 Liter of Tears. Baik, tak perlu dibahas ceritanya. Semua juga pasti terharu melihat ketabahan Aya dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Tapi, setelah menonton lagi untuk kedua kalinya, aku mengingat-ingat bagian mana dimana air mataku jatuh berderai-derai. Ternyata aku selalu menangis tiap kali bagian ibunya Aya. Bagaimana pada mulanya hanya beliau yang tahu tentang keadaan Aya yang sebenarnya, bagaimana beliau kelimpungan mencari informasi dan dokter untuk Aya, dll.

Orang tua, selalu saja memikul sendiri bebannya. Menyimpannya rapat-rapat di balik tirai hati. Sama sekali tak ingin membebani sang anak. Mungkin kelak ketika aku sudah menjadi orang tua, aku juga akan begitu?!

Jadi merasa bersalah. Terakhir aku ngrepotin orang tuaku adalah kemaren pas pulang. Aku minta anter ke Jombang (habisnya ayah bilang “Kan sekalian ke Kediri”) buat naik kereta bisnis, balik ke Jakarta. Ternyata kami salah jalan: nyasar sampai jalan buntu di atas gunung dan di depan adalah perkebunan, salah jalan lagi masuk jalan berbatu-batu sampai mobil berasa hampir ngguling ke jurang (ibu’ dah pucat aja waktu itu, tangannya erat mencengkeram sisi kaca mobil, duh!), lewat jembatan sempit tanpa pengaman di atas sungai jalur lahar, perjalanan panjang dari gunung ke gunung selama 4 jam, hingga kelaperan dan baru makan jam 2 siang. Hiks, ampun Bu’…

Lintasan Kenangan

Juli 2008

Selasa siang yang biasanya terik kali ini tak terasa menyakitkan. Jam 2 tadi aku mengantarnya sampai ke stasiun. Melihat kereta yang perlahan menjauh meninggalkanku, tenggorokanku serasa tercekik. Dengan susah payah kusembunyikan air yang mulai menggenang di mata. Kupaksakan menampilkan padanya, senyuman termanis yang kupunya.

Kembali ke kantor, mencoba bekerja seperti biasa, tapi ingatanku selalu tertuju padanya. Sudah sampai manakah? Amankah di kereta? Nyamankah perjalanan? Kukatakan pada rekan sekerja betapa aku merasa sangat kehilangan.

Sore hampir maghrib. Sempat aku menghilangkan gundah dengan menyapa seorang pria tampan yang kebetulan jalan searah pulang denganku. Selama percakapan, sempat kuterhibur dan bisa melupakannya. Tapi begitu kami berpisah dan aku terpaksa sendirian, kerinduanku kembali membuncah.

Gontai. Kunaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kuputar kunci dan kubuka pintu. Berantakan. Sisa-sisa kekacauan tadi pagi. Ah, baru beberapa jam yang lalu ia masih berada di sini, setelah selama 3 hari kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sehelai kertas tergeletak di lantai. Dengan berdebar kupungut, berharap ada tulisan tangannya di sana. Namun tak ada. Kecewa, kulihat sekeliling. Berharap lagi untuk menemukan sisa-sisa jejaknya yang tertinggal. Namun tak juga kumenemu. Dengan putus asa kuhempaskan tubuh ke ranjang –ranjang yang selama 3 malam ini ditidurinya-. Sedikit pun tak tercium bau tubuhnya. Kenapa? Kenapa dia pergi bagaikan kabut? Pergi begitu saja tanpa setitik pun jejak tersisa?

Aku merindunya. Aku sungguh merindukannya. Tak kusangka menghantarkan kepergian, jauh lebih menyakitkan daripada pergi itu sendiri. Aku gugu. Baru kusadari, betapa selama ini sudah berkali-kali hatinya tersayat melihat kepergianku.

Agustus 2008

Sudah sebulan, keluhku dalam metromini yang melaju menghantarkanku pulang ke kosan. Kupandang jalanan di luar -jalan yang pernah aku lewati bersamanya-. Masih terik matahari di senja Agustus yang kering ini. Dia tidak pernah tahan dengan hawa panas Jakarta, kenangku. Juga polusi di dalamnya. Tapi dia suka sekali naik bajaj. Meski aku sudah pernah mengajaknya naik busway yang jauh jauh lebih nyaman itu, dia lebih suka memintaku untuk naik bajaj. Aku teringat kesabarannya menanti bersamaku selama 4 jam untuk bisa naik ke puncak monas. Dia begitu tegar. Padahal pastinya migrain yang biasa dia derita itu telah menyerang, tapi dia tetap tersenyum, mengalah pada keinginan adikku. Kini aku tersenyum getir merinduinya.

Ah, tunggulah! Tunggulah hingga sebulan lagi. Aku akan pulang.

Okasan, aishiteru!

Akhir-akhir ini jadi makin sering posting ngaco. Ini tulisan isengku beberapa bulan lalu. Bagian akhir emang kutambah-tambahin se, sebuah pemikiran dan perasaan nyata yang tak sempat kutuliskan dulu. Hehehe, senang bercerita dengan bahasa kacau seperti ini. Tapi emang sih, aku tak pernah berhenti merindukan ibu’ku. ^_^

Sekedar Omong-omong, Setelah Akhirnya Aku Bisa On-line Lagi

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi…”
Itulah selarik kalimat dalam lagu milik Dewa (hm, Dewa apa Dewa 19 sih?) yang beberapa hari lalu suka berdenging di telingaku.

Dan di bawah ini dua puisi (ntahlah, mau disebut puisi atau tulisan ngaco) yang kutulis selama kegiatan arisan Dharmawanita di biroku. Karena aku merasa sepi di tengah keramaian ibu-ibu itu.

***

Lelaki Hujan

Lelaki hujan menyelinap lewat lenyap malam.
Jejaknya sirna diiris liris gerimis.
Perempuan mimpi makin asyik merajut sepi
terkungkung jeruji keangkuhan yang ia bangun sendiri.
Sadar tlah ditinggalkan.

Malam kian sunyi.
Sepertinya memang ia tak kan balik lagi.

***

Mimpi Siang Hari

Ku ingin kau merantaiku, lalu menyeretku ke sana
Seperti manusia purba kita hidup bersama
Kau berburu, aku menjaga rumahmu.
Bila ku menolak, kau tak segan memukulku.
Aku budakmu, tapi juga cintamu
Bersama kita nyalakan api untuk anak kita.
Dalam gua, akan lahir ratusan cucu, cicit, dan moyang
Karna hidup panjang seribu tahun bukan bualan.

Hanya keinginan, lelakiku, hanya mimpiku.
Jangan gugu senyum dikulum begitu!

***

Kata Ncep, tulisan yang kedua seperti aku seorang… apa? pencinta KDRT? Yang kubaca lagi memang kedengaran seperti sadomasokis. (tulisanè bener ga siy?) Ya nggaklah, aku masih mencintai kedamaian hidup. And I’m straight.

Sebuah ruangan, dan nausèè

Apa yang ada di pikiranmu tentang hal berikut:

Sebuah ruangan yang luas, berukuran sekitar 10 x 20 meter, bertegel ubin warna krem ukuran 20 cm, dengan dinding kayu dan jendela-jendela putih tak tembus pandang berlis alumunium, beberapa kursi kayu panjang dan tempat sampah berjejer di pinggir melingkar ruangan, sebuah meja pingpong tanpa peralatan yang entah mengapa terletak begitu saja di tengah ruangan, dan AC yang dingin menggigit?

Aku yang berada di sana selama 1,5 jam terakhir, dibekukan oleh dingin AC yang menembus bajuku, merasa begitu mual dengan ruangan itu. Mungkin ubinnya masih baru dipasang. Tapi dinding-dinding kayu dan jendela putih tak tembus pandang ini mengingatkanku pada interior jaman tahun 80-an. Tempelan kertas di dinding, berkarat di makan usia. Sobek disana-sini hingga ketikan di atasnya akan susah dibaca. Dua buah poster yang hanya akan di baca oleh orang iseng, bukan karena ingin tahu apa pesan yang ingin disampaikannya. Tulisan-tulisan keterangan di atas pintu juga banyak yang copot, menyisakan potongan kata yang hanya bisa direka maksudnya. Secara keseluruhan, ruangan ini begitu menyedihkan. Tak ada keceriaan. Kesemuanya seperti saling dukung-mendukung untuk menenggelamkan manusia-manusia yang berada di dalamnya ke dalam kehampaan dan keputusasaan.

Lalu datanglah seorang bapak muda dengan dua orang anaknya. Si gadis kecil berumur sekitar 4 tahun dan si buyung berusia 3 tahunan. Berbeda dengan orang-orang dewasa yang sedari tadi berada di sana, dua manusia kecil ini datang dengan riangnya. Awalnya hanya menggelayut manja ke ayahnya, sedetik kemudian, semburat berlarian di dalam ruangan.

Bagi mereka, ruangan itu sama sekali tidak nampak menyedihkan. Bahkan sepertinya kamu bisa melakukan apa saja untuk menikmatinya. Kamu bisa berjalan sambil memutar-mutar tubuhmu seperti penari zapin (tak peduli bahwa dunia seperti gempa sesudahnya). Kamu bisa berlarian menyeberangi ruangan: mau yang sependek lebar ruangan atau balapan lari sepanjang ruangan. Kamu bisa berjalan dengan aturan hanya boleh menginjak tengah ubin, tanpa diperkenankan menginjak garis pembatas. Atau sebaliknya, berjalan tepat sesuai garis ubin yang ada. Sudah bosan? Ada meja pingpong dimana kamu bisa merangkak di ruangan lebar di bawah sambungan. Atau kalau butuh tantangan, cobalah merangkak sambil melompati kaki meja pingpong itu, bermain halang rintang. Tak peduli kakimu akan kotor sesudahnya. Tak peduli panjang rambutmu akan menggerai di lantai ubin yang jarang tersapu. Dunia begitu indah dan hanya berisi tawa.

Aku iri. Aku iri dengan keceriaan itu.

Dunia dalam mata anak kecil. Semuanya adalah obyek yang menarik untuk diketahui, untuk dipelajari. Bahwa ternyata berjalan berputar akan memusingkan kepalamu, lantas kenapa? Lalu kau berpikir kenapa ada meja yang ganjil itu, maka kau bertanya pada ayahmu, dan ayah akan memberikan penjelasan yang membuatmu berpikir tentang sesuatu yang hebat?!

Waktu kecil, aku merasa kehidupan orang dewasa itu pastilah begitu rumit dan berat. Padahal aku tidak mau hidupku menjadi rumit dan berat. Maka waktu dewasa, aku bersikap hati-hati. Aku tidak berani mengambil resiko terlalu besar. Pilihan untuk bersekolah di sekolah tinggi kedinasan adalah contohnya. Aku takut dengan resiko “ditolak waktu melamar kerja”. Terlunta kemana-mana dengan map lusuh dan masa depan tak tentu. Aku juga menghindari hal-hal yang sekiranya dapat mendatangkan masalah padaku. Oleh sebab itu aku akan menengok kanan-kiri waktu menyeberang, aku akan berjalan di sisi sebelah kiri jalan, dan tidak akan mengeluarkan anggota badan waktu naik kendaraan.

Tapi semua ini kadangkala membuatku bosan. Apa yang akan terjadi andaikata aku marah dan membentak-bentak atasan? Apakah beliau akan memafkanku? Apa yang terjadi kalau aku makan makanan yang sudah jatuh di jalanan? Apakah aku akan sakit karenanya? Aku tahu, jika aku makan, belum tentu aku akan sakit. Tapi aku juga tahu, bahwa mungkin aku juga bisa sakit karenanya. Atasan mungkin akan memecatku (tapi kalo PNS agak susah sih). Tapi mungkin juga dia hanya akan terbahak dan menganggapku gila (minimal lagi PMS). Dan semua ke”tahu”an ini pada akhirnya mengurungkan niatku untuk melakukannya. Beberapa waktu lalu aku suka melompat-lompat di dalam lift, hingga Ncep marah padaku. Namun setelah aku membaca bahwa melompat-lompat di dalam lift membahayakan jiwa, aku pun berhenti melakukannya. Ide-ide gila menjadi tidak menarik lagi.

Memang masih banyak hal yang tak kuketahui. Bahwa bagaimana sebenarnya orang merakit komputer, aku tak tahu. Bagaimana sebuah lempengan hijau dengan pernik-pernik kecil menjadi begitu berarti bagi sebuah radio, aku juga tak tahu. Aku tidak tahu cara orang-orang menentukan kerangka yang pas dan mengatur segalanya agar sebuah gedung bisa berdiri. Aku pun tidak tahu bagaimana kerja seorang intel membuntuti tersangka pembunuhan.

Namun sekali lagi, semangatku untuk mengetahui hal-hal tersebut sudah lungkrah. Dan dalam kebosananku pada diriku, maka dalam beberapa waktu aku bisa mengalami “suprême dégoût de moi”, suatu rasa mual pada diri sendiri (sebenarnya ini cuma copy paste saja, bukan berarti aku bisa bahasa Perancis) seperti kata Sartre dalam La Nausee (nah, aku juga bukan penganut paham ini, sama sekali bukan). Tak selalu terjadi memang. Seperti hujan yang akan mereda dan hilang seiring musim, demikian juga perasaanku. Jika sedih aku akan menangis, namun setengah jam kemudian aku dapat tertawa dengan lepasnya. Jika merasa kebas atau nausea, dalam beberapa hari kemudian aku akan kembali menjadi manusia normal seperti semula. Meskipun sebenarnya tidak ada batas baku atas “kenormalan” manusia.

Sekeras aku menyangkal diriku, aku bisa merasa, memang aku serupa ruangan itu.

Tadaima!

Assalamu’alaikum…

Apa kabar semuanya?! (berasa artis) Lama ga posting, blogwalking tapi ga komen, jadi kangen berat ma semua. ^_^

Ga ada oleh-oleh dari Malang nih. Karena bahan postingan malah ketinggalan di rumah (ga punya komputer maupun laptop, jadi masih nulis di notes kaya jaman baheula, hehehe)

Beberapa hari sebelum lebaran, Nur malah sempat diributkan dengan masalah zakat. Karena sekarang udah punya penghasilan sendiri dan besarnya di atas nishab (kalo ga salah, 520 x harga pangan pokok), jadi sudah wajib bayar zakat penghasilan. Sebenarnya akan jauh lebih ringan kalo zakat ini dibayarkan perbulan. Namun karena selama setahun tidak ada kesadaran untuk menunaikannya, jadinya dirapel. Waktu aku hitung, dan kusebutkan angka hasil perhitunganku, sempet bikin keluargaku lumayan shock. Yah, karena jumlahnya memang cukup untuk biaya hidup hemat selama sebulan.

Rencana awal, kubayarkan di kampung aja, jadi sekalian mbantu orang-orang yang emang sudah kukenal. Tapi kok malah susah, ada “sesuatu” yang menghalangi(memberati)ku. Bingung, padahal berasa utangku banyak banget (gimana kalo tiba-tiba aku meninggal, pas arus balik misalnya) jadi bete plus panik juga. Untunglah, Reni bilang kalo kita bisa bayar zakat lewat ATM. Oh ya?! (Nasib orang kuper nan gaptek :p) Ya sudah, tar aja deh bayarnya pas udah di Jakarta lagi (ATM lumayan jauh dari rumah di kampung).

Dan… yatta!! Tadi pagi sudah kutunaikan hutangku. Via ATM Mandiri (ATM BRI ternyata ga bisa siy). Senang!!! 😀

Bahasa bunga daisy = “kebahagiaan” (gambar di atas tu bukan krisan lho!)

Oia, tadi pagi juga udah sempet ke poliklinik buat tambal gigi. Minggu depan mesti balik lagi. Lumayan, kan gratis! Mwehehe…

Kalo kamu, adakah sesuatu yang membuatmu senang hari ini? ^_^

Ralat:

Berdasarkan beberapa referensi, ternyata memang yang dimaksud dengan zakat penghasilan memang benar ada (sesuai fatwa MUI) tapi perhitungannya tidak seperti yang aku sebutkan di atas. Untuk lebih jelas tentang zakat ini, aku mohon untuk mengecek sendiri ke referensi yang kamu punya (Nur sendiri ga berani nyebutin referensinya). Sepertinya aku memang sudah salah hitung tentang zakatku. Ah, semoga dimaafkan. Buat yang lain, teliti sebelum membeli. Hehehe, maksudnya lebih ati-ati gitu. Cukuplah Nur yang salah.

Ilmu itu mendahului amal. Ah, kenapa aku lupa?! 😦