Welcome November

Beberapa hari lalu ketika mbak prih membuka pintu pagi-pagi, ucapan pertamanya adalah, “Wah, kaya musim semi…”. Ini akibat melihat bunga melati di halaman sempit rumah kami mulai bermekaran. Pohon adenium pun mulai bermunculan kuncupnya. Sedangkan bunga bougenville dan bunga euphorbia yang sudah lebih dulu mekar, masih mempertahankan warna merah dan jingganya. Cantik! Bahkan tadi pagi aku baru menyadari bahwa bunga pukul empat yang tingginya masih sejengkal itu juga ga mau kalah menghadirkan kuncup. Subhanallah!

Selamat datang November adalah selamat datang pula bagi musim penghujan. Udara mulai sejuk, tidak sepanas bulan Agustus (walau aku dan nindy lahir di bulan Agustus, aku tetap tidak tahan dengan panasnya). Suasana pun mulai menyenangkan. Mbak Rima nun jauh di Pontianak sana malah sudah berkesempatan melihat pelangi. Mbak Heni yang sedang sibuk dengan persiapan melahirkan, tentu sedang mempersiapkan semuanya dengan gembira (OK, semoga semua perkiraan biaya melahirkan itu tidak mengurangi kadar kebahagiaan 😀) Reni sedang memulai hobi barunya menulis. Dan hey, Aski, walau ga jadi cuti, tapi Balita MIA kan tumbuh sehat. Itu sudah kebahagiaan terbesar bagi seorang ibu, bukan?! Semoga lulus diklat dengan nilai yang memuaskan ya… 🙂 Oiya, tak lupa aku ucapkan selamat kepada suami adik kosku Neni yang mana perjuangannya telah menghasilkan buah manis, kantornya berhasil meraih peringkat pertama KPKNL se Kementerian Keuangan. Jujur, membaca sendiri perjuangannya membuatku terharu sekali. Sebagai anggota panitia sudah tahu dari lama sih, cuma kan masih rahasia jadi baru bisa ngasih selamat setelah pengumuman pemenang. 😀

Kamu sendiri, nur?! Aku cukup bahagia mendengar nindy memanggilku “Miii… miii…”. Rasanya sungguh luar biasa. Juga terimakasih kepada mz nug yang sudah membelikan sepeda buat nindy, TV baru, tiket PP untuk mbak prih (oh, sangat menolong anggaran belanja bulan ini), dan juga sepeda keranjang buatku (kami beli bekas tapi masih bagus). Alhamdulillah, berkah SPN 2012. Hidup SPN! *eaaa…

Welcoming November, welcoming happiness.

Yorokobi

Bahagia. Kebahagiaan. Dari satu buku yang kubaca (lupa judulnya), “Kita tidak pernah bisa menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan kita”. Sedang dari buku How to Choose (lupa pengarangnya), aku mendapat kalimat yang harus selalu kuingat:”Aku memilih untuk bahagia”. Ah, ternyata kebahagiaan itu pilihan.

#1
Beberapa hari lalu, sepulang kerja, badanku menderita enter wind. Habis mandi, eh badan kok berasa meriang, panas dingin ga jelas, perut mules ga karuan. Ya sudah, terpaksa tiduran saja. Saat sakit, kan biasanya kesadaran muncul. (Mirip orang kalo lagi sekarat deh). Tiba-tiba aku ingat seseorang yang dulu begitu kubenci. Aku tidak akan membencinya andai dia hanya menyakitiku. Aku begitu dendam karena dia telah lama menyakiti ibuku. Tapi malam itu, berbilang bulan setelah dia meninggal, aku tiba-tiba ingat apa saja yang pernah dia berikan padaku. Tak semua perbuatannya buruk. Dia sudah memberi banyak hal pada keluargaku. Aku ingat uang Rp 20.000 yang dia berikan saat aku mau balik ke kampus. “Buat sangu”, katanya. Meskipun itu tidak akan cukup untuk membeli tiket kereta ekonomi Malang-Jakarta. Mengesampingkan semua perbuatannya yang menyebalkan, aku berpikir, ‘mungkin pemberian-pemberiannya itu tulus kepada-ku (keluargaku)’. Ah, kenapa aku masih harus mendendamnya? Kenapa aku masih saja mencurigainya? Apalagi dia sudah tiada…

Maka malam itu, aku memutuskan untuk memaafkannya. Mulai detik itu, aku akan berusaha hanya mengingat kebaikan-kebaikannya saja. Dan aku juga ingin minta maaf atas segala kebencianku selama ini. Sebuah permintaan maaf yang terlambat. Namun, setelah aku mencoba memaafkannya, aku merasa begitu tenang dan nyaman. Suatu perasaan hangat di dadaku. Sepertinya, “kebahagiaan” telah turun kepadaku malam itu…

“AKu memilih untuk bahagia, dengan melepaskan semua dendam di dada, dan memaafkan.”

#2
Uah, badan capek, kerjaan membosankan. Dengan sebal aku pulang ke kosan. Kosan sepi, gelap gulita. Kunyalakan lampu di lorong. Sehabis sholat maghrib, makan bubur ayam yang Rp 2500-an itu. Karena lapar, jadi terasa nikmat saja. Sambil nonton klip Laruku di HP. Kok, tiba-tiba hidup terasa indah ya?

“Aku memilih untuk bahagia, dengan menyadari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarku.”

#3
Berangkat pagi, 6.30, kuhirup udara Jakarta yang masih bersih. Sampai di halaman kantor, kulihat burung-burung beterbangan. Begitu bebas. Satu yang kuherankan, justru di sini lebih sering kulihat burung kutilang liar daripada di kampung. Naik ke atas, masuk ke ruangan, menyalakan komputer dan duduk di depannya, samar kudengar kicau burung. Wah, kicau burung! Tembus ke dalam tembok kantorku yang tebal ini. Aku jadi merasa nyata, aku masih hidup!

“Aku memilih untuk bahagia, karena Allah telah menganugerahkan kesempatan untukku hidup di dunia.”