Kaze-san รจ

Musim gugur tahun ini datang di dini hari
Dedaun menguning mengiring redup harap di hati
Menghembus dingin,
satu persatu luruh dalam sisa kabut
Kubur jejakmu dengan hitam daun
Menyisa lengang jalan, lengang diriku di ujung.

Masih juga seperti dulu, kasih, aku bertahan
Ikhlas melepas kenangan
Sesampai nyanyi sunyi, senada alunan sepi
Kuhapus luka dengan air mata. Sudah kering semua.
Kau tahu?!
Duka kan menguatkanku!
Pilar dari prasasti kemenangan bernama kedewasaan.

Hingga tiba hari ketika kusongsong musim semi.

Antara Krisan, White Chocolate, dan Hujan

Menyebut namanya, seperti menyapa salju, seperti mengundang kekuatan, seperti memanggil angin…

Dia dingin seperti salju, juga putih sesuci tampaknya, turun dalam kemurnian sejati yang tak ternoda.
Dia kuat seperti bambu, meliuk menahan takdir hidup yang menimpa. Wajah yang selalu tersenyum meski banyak beban di pundaknya.
Dia adalah angin, yang seringkali semilir berhembus dalam sepiku…

Bukan maksud berpuisi. Nur kan bukan tipe cewek romantis!

Kalau di lagunya Mbak Utada Hikaru itu: Atarashii uta, utaeru made…. Begitulah kenyataannya. Masih juga krisan, white chocolate, dan hujan, membuatku teringat pada seseorang yang sudah berbilang tahun tak pernah lagi kusua. Sempat mencari lewat internet, hanya kudapati berita bahwa proposal penelitiannya berhasil disetujui untuk mendapatkan beasiswa. Itu pun masih data tahun 2006. Tak ada email, tak ada friendster. Mungkin karena sampai saat ini hatiku masih kosong, belum ada yang mengisi, sehingga masih juga namanya yang tersebut? Entahlah.

Krisan di lobby, coklat yang kumakan kemarin, awan mendung menjelang hujan, dan dingin yang kurasakan saat ini. Ah, kenapa aku kembali memanggil namanya? Padahal belum pasti juga, dialah “cinta sejatiku”.

Atashi no suteki na koi, doko ni arimasuka?