Cincin

Kemarin, kuputuskan untuk melepas cincin di tangan kiriku.

Bingung mau menyebutnya cincin apa. Cincin tunangan, bukan. Yang jelas cincin itu “kudapat” sebelum nikah, dengan latar belakang kisah yang rumit. Dari awal cincin itu sudah menuai banyak pujian. Desainnya memang unik. Cincin emas dengan krom putih di bagian muka. Matanya ada 6 kecil-kecil, mengapit bagian tengahnya yang terbelah sehingga membentuk gambaran serupa kupu-kupu (kata orang) atau logo salah satu partai Islam (kataku) atau logo Aceh. Entahlah. Yang jelas memang tampak bagus, walau beratnya cuma 3 gram dan emasnya bukan 24 karat.

Cincin itu akhirnya terpaksa kulepas karena dia mulai menyakiti jariku. Seiring dengan pertambahan berat badan, jariku ikut membengkak. Selain itu, kulit di bagian bawah cincin itu sudah tampak kering mengerikan. Desain cincin bermata memang rata-rata memiliki rongga di bagian bawah matanya. Karena itu sabun sering menyelip di sana. Juga tekanan dari “kaki gua” yang membentuk rongga itu serasa mengiris-iris.

Hal ini berbeda dengan tangan kananku yang memakai cincin nikah. Jari manis tangan kananku kulitnya masih baik-baik saja. Kebalikan dengan “cincin tunangan” tadi, cincin nikahku dari awal sudah membuat orang mengerutkan dahi. Bentuknya memang terlalu sederhana. Bahkan terkesan kampungan. Bulat sempurna tanpa mata dengan permukaan atas yang kasar. Di bagian dalam ada ukiran nama kami berdua. Karena waktu persiapan nikah yang sangat mepet, kami memang tidak sempat memesan cincin yang bagus. Yang membuat sedih, saking anehnya, banyak yang berkomentar kalau cincin nikahku terlalu biasa, atau tidak terlihat seperti cincin nikah. Ah…

Cincin, cintakah dia padaku?!
Cincin, berikanlah jawabnya…

Ada yang tahu lagu Yuni Shara tahun 90-an itu?! Entah kenapa lagu ini membuatku merenung, bahwa cincin-cincin ini seperti cinta. Sepanjang hidup, aku memang baru 2 kali ini mempunyai cincin. Jadi keduanya bisa langsung dibandingkan. Cincin tunangan, seperti cinta sebelum nikah. Indah, tampak bagus di luar. Membuat semua orang iri. Serasa manis dijalani. Tapi tidak bagi orang yang menjalaninya. Dengan segala macam aturan yang dilanggar ketika masa pacaran. Itu menyakiti hati nurani! Sebaliknya cincin nikah, selayaknya cinta dalam pernikahan. Walau sangat sederhana, dia terasa begitu nyaman. Orang mungkin melihat begitu banyak masalah dalam pernikahan. Ada orang yang setelah nikah malah jadi kurus karena banyak pikiran. Tapi sesungguhnya hatinya tenang.

Yang jelas, sampai saat ini, cincin nikahku belum perlu kulepas.

 

Cincin…cincin…tanda cinta darimu…

(lupa-lupa liriknya nih…ada yang punya lengkap?!)

Me-refresh Cinta

Tiga malam terakhir ini pekerjaanku tak lain dan tak bukan adalah menyampul buku! (tentu saja setelah menyetrika dan nonton beberapa episode Nodame Cantabile) Gara-gara kehadiran 4 buah buku hasil Book Fair kemarin, aku beli sampul plastik cukup banyak. Akhirnya, tak cuma buku baru, buku-buku lama pun kusampul. Yang terbitan 70-an, terbitan 80-an. Yang sampulnya sudah usang aku ganti juga.
Baca lebih lanjut

Kuliah 2: Cinta dan Pernikahan

Memenuhi tugas kedua mahasiswa pemula, saya terpaksa membongkar kembali koleksi buku saya. Dari dua tema yang diberikan, kebetulan saya punya buku baik yang terkait dengan pernikahan maupun kesehatan. Namun kenapa saya milih tema pertama? Hahaha, semata karena buku yang ini yang sudah berhasil saya khatamkan. 😀 Sekedar antisipasi pertanyaan kenapa saya bisa memiliki buku ini: satu-satunya-buku-tentang-pernikahan-yang-saya-miliki ini diberikan oleh murobbiyah saya (dulu! Sekarang ga pernah liqo lagi :p)

Judul : Saatnya untuk Menikah

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim

Penerbit : Pro-U Media cetakan ketiga Desember 2007

yang kupunya, covernya sih bukan kaya gini
Baca lebih lanjut