Curhat Perempuan Tak Berbakat

Mbak prih suka menyebut mamanya nanda (baca cerita tentang teman-teman nindy) sebagai perempuan serba bisa. Selain jago crafting dari ngerangkai manik-manik sampai nyusun seserahan nikah, mamanya nanda juga pinter pengobatan Islam khususnya bekam (dan aku salah satu pasiennya). Iri ga sih ngeliatnya?!

Sebelum puasa, aku sempat ngobrol dengan salah seorang teman pumping. Ibu ini wanita pekerja, punya 4 orang anak, tapi tetep bisa masak buat keluarga, nyuci botol dan nyeteril sendiri, bahkan nyuci baju (walau itu cuma nyemplungin ke mesin cuci, tetap saja dia yang tanggung jawab atas cucian). Tiap hari (di hari kerja normal) dia tidur pukul 11 malam dan bangun pukul 3 untuk mulai memasak. Padahal dia masih punya anak bayi yang biasanya bangun tiap 2 jam sekali buat nenen lho! Ke kantor pun kadang dia bawa barang-barang untuk dijual seperti gamis anak atau jilbab, sehingga menjadi penghasilan kedua baginya. Ah, rupanya ga perlu jauh-jauh ke Australia. Di gedung ini ternyata terselip seorang Astri Nugraha!

Dua contoh ibu teladan itulah yang mendorongku untuk mencetuskan salah satu resolusi Ramadhan tahun ini adalah: menjadi ibu dan istri yang lebih rajin.

Salah satu yang sedang kuusahakan sekarang adalah mencoba menjadi lebih kreatif. Aku tertarik dengan crafting sejak masuk ke web ini. Indah sekali bukan?! Tentu senang sekali punya ibu luar biasa seperti dia. Aku pun bertekad untuk belajar banyak.

Tapi ternyata susaaaahhh… T-T Aku benar-benar merasa terlalu otak kiri, tidak punya jiwa seni, dan sama sekali tidak bisa rapi… 😥

Ketika kelas 2 SD, aku pernah mendapat tugas membuat lampion dari kertas karton. Kertas karton digunting bentuk lingkaran dan dilipat membentuk segilima. Segilima-segilima itu kemudian dirangkai hingga membentuk bola. Mungkin karena tidak bisa rapi dan belum mengenal busur derajat (andai sekarang tentu kutarik sudut 72 derajat :p) , lampionku gagal berbentuk bola dan sukses dinilai 4 oleh Bu Guru. Bayangkan! Ketrampilan dapat 4!

Seterusnya tiap kali membuat prakarya, nilaiku memang selalu pas-pasan. Aku pun berpikir memang aku tidak punya bakat di bidang seni. 😥

Tapi entah kenapa, walau tidak berbakat, kali ini aku cukup bersemangat. Walaupun tetap, prakaryaku tidak ada rapi-rapinya. Masih inget gembor yang kubikin minggu lalu? Benar-benar memalukan.

Sampai hari ini aku sudah melakukan cukup banyak hal. Tidak ada yang bagus dan bisa dibanggakan. Tapi semoga menjadi penyemangat dalam prosesku. Doakan agar perempuan tidak berbakat ini akhirnya dapat melakukan dengan baik walau tanpa bakat. Please, doakan ya teman-teman.. 😦

Bunga dari pita. Aslinya di situs Heather dibuat dari kain. Berhubung di rumah hanya ada pita merah ini, aku iseng bikin dan ternyata gampang. Bunga pita ini sempat menganggur lama hingga suatu hari hiasan baju nindy copot. Aslinya disana bertengger kain berbentuk dasi kupu-kupu berwarna pink. Iseng daripada kosong, kuganti dengan bunga ini walau aku tahu warna merah dan pinknya sungguh tidak nyambung. (tuh kan, memang ga ada jiwa seni :p)

Kaleng bekas cat. Sudah dari dulu aku ingin menggunakannya sebagai pot. Kebetulan masih ada sisa cat besi warna putih yang sudah mulai rusak. Daripada dibuang semua, mending dicat-in ke sini. Karena ga ada kuas, aku ngecatnya pake sikat gigi bekas. Gabungan cat rusak dan kuas sikat gigi menghasilkan karya absurd seperti itu. Tapi lumayanlah tampilannya jadi lebih seragam sekarang. Aslinya kan mereka beda merk.

Oiya, nemu tips ngilangin cat besi yang nempel di tangan. Harusnya pake tinner, cuma waktu itu sudah habis. Iseng aku pake minyak kayu putih, ternyata bisa! Benar-benar wajib diinget nih!

Sepatu nindy ini yang sebelah kiri talinya kepanjangan, jadi susah dipake jalan karena sering lepas. Semalam akhirnya aku potong sedikit tali itu kemudian aku jahit kembali. Mungkin karena ngantuk (setengah merem karena udah hampir pukul 2) ternyata ada benang yang keluar sehingga hasil jahitannya tampak-sangat-tidak-rapi. Sedih banget aku. Padahal awal-awal rapi lho, ndilalah pas bagian terakhir kok kaya gitu. Kayane mau aku bongkar lagi deh!

Batik ini sebenarnya sudah sangat ngepres body. Tapi aku sayaaang banget! Semalam aku mendedel kupnatnya dengan harapan agar dia bisa jadi lebih longgar. Padahal sudah berpikir dari lama: dedel yang bagian depan! Eh, entah melamun atau apa, aku malah ndedel bagian belakangnya. Hiks! Jadilah dia tidak seindah dulu. Apa sebaiknya kujahit kembali kupnat itu ya?!

No picture: jampel. Jampel adalah kain tebal untuk mengangkat panci panas. Kemarin waktu bongkar-bongkar gudang dan mencari baju bekas untuk disumbangkan, aku menemukan celana olahraga jaman SMP yang sudah tidak mungkin dipakai lagi karena karetnya sudah longgar. Aku merobeknya dan hanya melipatnya menjadi tiga kemudian menjahitnya agar menjadi tebal. Ini pertama kalinya aku mencoba tusuk feston dan ternyata: sangat tidak rapi! OK, rapi di bagian yang menghadap ke aku, namun berantakan di sisi yang membelakanginya. Sebelum iseng-iseng bermain dengan kain flanel, sepertinya aku harus memperbaiki dulu caraku mengaplikasikan tusuk feston.

Sejujurnya di antara semua, yang paling terasa manfaatnya adalah kotak mainan nindy ini. Dibuat dari kardus bekas, dibungkus dengan kertas kado yang sudah lusuh dan kertas kado bekas kado nikahan dulu (sudah hampir dua tahun ya), kemudian dilapisi dengan selotip lebar. Warnanya ga matching karena cuma memanfaatkan kertas yang ada dan juga tidak rapi karena kardus bekasnya udah ga kokoh. Tapi kotak ini sangat membantu membuat meja TV jadi tidak berantakan lagi.

Oiya, yang sudah kulakukan dalam menambah daftar tugasku di rumah adalah menyiram tanaman (tiap pagi), beres-beres kamar (tiap pagi), ngajak nindy jalan-jalan (tiap pagi), nyuci piring (kalo mbak prih lagi ga sempat), dan nyapu jalan depan (tiap Sabtu). Melihat list pekerjaan remeh-remeh ini, terasa sekali kalo kemarin-kemarin aku sangat-sangat malas! :p

Semoga resolusi Ramadhan ini tercapai. Lebih rajin. Menjadi lebih baik. Gambarimasu!

Liburan Produktip

Weekend kemaren plus libur kejepit Pilkada DKI bisa dibilang salah satu liburan yang cukup produktip buatku. Walau ga ikut milih karena belum 7 bulan memegang KTP DKI (kata petugas lho, jadi aku golput karena disuruh –dan kebetulan lagi males milih) namun aku berdoa semoga siapapun yang nantinya terpilih akan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Amin…

BELANJA LEBARAN

Lebaran sebentar lagi. Karena tahun lalu ga mudik (ya iya wong sebelum puasa udah di Malang), jadi tahun ini insyaallah mau mudik ke Purworejo. Karena ga enak kalo dateng tanpa bawa apa-apa, jadi pingin mbeliin baju-baju buat keluarga Purworejo. Karena males belanja di bulan puasa, maka dikebutlah belanja mumpung lagi weekend. 🙂

Pas libur Pilkada, kelar mz nug nyoblos ke TPS dan ngurus kartu ATM yang patah entah dari tahun kapan, sorenya kita belanja term pertama. Deket aja, ke Ramayana Klender. Alhamdulillah, dapat baju-baju buat semua adik (Malang dan Purworejo) plus 1 kaos untuk mz nug. Sebelum pulang, sempet ngopi-ngopi cantik di Dunkin deket situ. Kenapa ditulis? Karena aku dan mz nug jarang banget kaya gini (sedih, hiks) so bisa jadi ini moment setahun sekali. T-T

Lanjut hari minggu, pergi ke Thamrin City. Ssstt, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di thamcit (keliatan banget kupernya). Dapat sarung buat 2 mbah yut, mukena buat mbah yut putri, ma baju koko buat Ayah dan Bapak.

BEKAM

Hari sabtu. Mbak prih yang sudah dari lama ngompor-ngomporin aku, antusias sekali begitu akhirnya aku setuju untuk mencoba berbekam. Yang mbekam? Tetangga sendiri. Hehehe. Dari dulu aku memang takut bekam karena khawatir dengan riwayatku yang cenderung selalu kurang darah, HB rendah, dan tekanan darah rendah.

Kesan setelah dibekam? Enak sih. Urat yang kenceng-kenceng lumayan lemes. Tapi memang belum terlalu kerasa efeknya karena baru sekali. Semoga nanti setelah rutin, bisa ngobatin kakiku yang uratnya rada ga beres ini.

BERKEBUN

Sebenarnya hari sabtu berencana ke Puskesmas buat tambal gigi, tapi ternyata poli gigi bukanya cuma pas hari kerja. Akhirnya malah melipir ke pasar dan…: membeli tanaman. Bismillah, mulai mencanangkan gerakan berkebun. Semoga aku istiqomah dalam hobi baruku. Dulu pas di kontrakan pernah mencoba menanam pandan. Antusias di awal namun begitu malesnya datang, tanaman tak terurus dan akhirnya mati 😥 Semoga kali ini tidak. Demi lingkungan, rumah, dan udara yang lebih baik! Semangat!

Sebagai emak-emak yang sedang berusaha irit, kemarin beli tanaman cuma sedikit, trus kupecah biar cepet jadi banyak. Bahkan ada yang kupecah kecil-kecil dan kutanam di gelas aqua. Ceritanya disemai gitu. Nanti kalau sudah besar dan kuat, dipindah ke pot yang layak. Sekalian tunggu tabungan buat beli pot karena TERNYATA harga pot itu MAHAL ya sodara! (buatku yang mengira pot bagus itu harganya cuma 5 rebu) Seterusnya, aku berencana minta bibit ke tetangga-tetangga saja. 😀

Oiya, dapet ilmu baru dari mbak prih. Ternyata bikin lubang air untuk gelas aqua itu bukan di dasar, tapi di pinggir. Bukan ditusuk, tapi disobek pake gunting/pisau. Hmm… baru tahu. Makasih mbak…

DIY

Akhir-akhir ini keranjingan baca blog tentang kerajinan dan DIY alias Do It Yourself. Terinspirasi dari semangat crafting para emak-emak di luar sono, kemarin alih-alih beli gembor untuk menyiram tanaman, akhirnya aku coba bikin sendiri dari tempat sabun bekas yang sudah pecah. Cuma kulubangi pake obeng yang dipanaskan di kompor, lalu kusambung dengan pipa paralon (err, sebenarnya itu pipa untuk kabel) pake kawat tali. Sebagai seorang yang pernah dapat nilai 4 untuk kerajinan tangan, penampakan prakaryaku tentu saja berantakan seperti ini:

Kesalahan: lubang airnya kebanyakan

Pesan: kawat tali itu beda jauh dengan benang

Sementara aku berasyik-masyuk dengan tanaman, mz nug sendiri asyik merakit meja belajar. Beli di carefour pas lagi diskon, harganya sekitar 300-an. Lumayan lah. Buat isi-isi kamar nindy biar ga melompong. Jadi pingin beli lemari baju buat nindy ih… (jare irit nur?!)