Aku dan Olenka

Sekitar akhir tingkat tiga kuliah, aku sempat meminta beberapa teman menuliskan kritik terhadap pribadiku. Ada beberapa jawaban yang sampai sekarang masih kuingat karena unik, salah satunya: pisahkan dunia mimpi dengan kenyataan (aku lupa kalimatnya, seingatku lebih pedas karena ditulis oleh teman laki-laki)

Aku merasa terkejut dengan jawaban itu karena: 1. Apakah sebegitu terlihatnya bahwa aku tidak bisa memisahkan antara khayalan dan kenyataan?! 2. Yang memberi komentar adalah teman laki-laki yang notabene tidak terlalu dekat denganku. Berarti memang tampak sekali bahwa aku ini memang “orang aneh” yang tidak bisa memisahkan khayalan dan kenyataan, donk?!

Walau awalnya sempat tersinggung, lama-lama aku menerima dan menyadari bahwa diriku memang seperti itu. Mau diapakan lagi?!

——————————————————————————————————————

Aku bertemu Olenka ketika kelas 4 SD. Dia buku milik Lik Jan, adik dari Ibuk. Kubaca sekilas kemudian kuletakkan karena tidak mengerti isinya. Lagipula dia berada di rumah nenek yang hanya kukunjungi ketika liburan. Setahun kemudian di kelas 5, aku membacanya lagi dan terkaget-kaget karena menemukan fakta baru yang dulu tak kusadari karena kurangnya pengetahuanku. Begitu seterusnya. Setiap kali aku bertambah usia, setiap aku kembali membacanya dengan pengetahuanku yang bertambah, selalu saja aku menemukan hal baru. Seperti kitab suci! Setiap kali bertemu, Olenka selalu menyuguhkan wajah barunya padaku.

Pada akhirnya buku ini dihadiahkan kepadaku dan menjadi buku favoritku. Aku cukup bangga karena bisa mengklaim bahwa buku yang kupegang adalah cetakan pertama. 1979.

Gambar dari sini. Ulasan cerita lengkap ada di sana.

Bertemu Olenka bagiku antara anugerah dan kutukan. Anugerah karena bertemu karya luar biasa. Kutukan karena aku tidak bisa lepas darinya. Dalam beberapa fase hidupku, kadang aku melamun dan bertanya-tanya apakah sikap yang kuambil saat itu sama seperti Wyne, Olenka, atau Fanton Drummon?! Sering aku merasa menjadi pecundang seperti Wyne. Kadang aku meniru tindakan-tindakan Fanton.

Akhir-akhir ini yang kurasakan adalah bahwa kehidupan rumah tanggaku seperti rumah tangga orang tua Olenka. Aku harap kami tidak berakhir seperti mereka, baik mereka sebenarnya maupun mereka yang di cerpen Wyne. Aku juga merasa saat ini aku sedang menjadi Mary. Buku-buku teknik, hal-hal teknik. Sesuatu yang dulu selalu kujauhi. Aku lupa rasanya merasakan semilir angin, birunya langit. Aku tidak bisa lagi menebak perasaan orang dan menuangkannya dalam imajinasi menjadi kisah tersendiri. Ya Ren, inilah jawaban kenapa aku tidak bisa lagi menulis cerita. Kurasa saat ini aku sedang menjadi Mary. Oh, aku sungguh berharap suatu saat sebentar saja aku bisa menjadi Olenka kembali.

—————————————————————————————————————-

Sebenarnya apakah benar bahwa hidup di dunia mimpi itu sesuatu yang buruk?! Aku lupa kisah Alice, tapi sepertinya memang pada akhirnya dia meninggalkan Wonderland. Namun bila dipikir-pikir, aku tidak akan menikah bila aku tidak mempercayai dunia khayalku. Unsur hujan dalam nama mz nug. Entahlah.

Tentang Pilihan

“Bego banget sih, udah 12 tahun nunggu dan ga nonton?!”

Mungkin akan ada yang mengatakan hal itu kepadaku. Secara sekarang aja aku masih histeris dan nangis-nangis membaca komentar orang-orang yang nonton konser Laruku semalam.

Iya, 12 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menyebut sebuah penantian. Dari SMP aku sudah membayangkan bisa hadir di konsernya. Dan tentu bukan tanpa BANYAK alasan aku tidak menontonnya. Siapa sih yang ga pingin sing along bersama hyde dan ribuan cielers?! Siapa sih yang ga pingin ikutan nangis menyanyikan “anata” di bawah gerimis?! Siapa sih yang ga pingin ikutan merinding ndengerin “the 4th avenue cafe”?! Siapa sih yang ga pingin ketawa bareng ndenger banyolan ken?! Aku juga pingin dapet lolipop or bulu angsa dari tetsuya…

Tapi aku punya anak bayi yang sudah sering kutinggal. Tapi aku masih menyusui (gimana kabar PD nanti kalo ga disusukan berjam-jam?!). Tapi aku ga mau sendirian desek-desekan malam-malam tanpa muhrimku di sisiku. Tapi aku ga mau ujan-ujanan sampe sakit yang bisa menular ke anakku.

Hidup itu pilihan. Dan jujur, air mata yang tumpah saat ini adalah air mata bahagia. Aku bahagia mendengar cielers semua yang puas dengan konser semalam. Aku bahagia melihat Laruku yang terlihat enjoy konser di sini. Aku sudah mengambil pilihan, dan aku tentu saja akan menanggung semua konsekuensinya.

Apa yang kualami sekarang membuatku teringat masa 2 tahun lalu. Ketika aku mengundurkan diri dari percaturan kursi DIV. Temanku mencemooh aku di notesnya, menyebutku pengecut. Hei, aku bukan tanpa BANYAK alasan memutuskan itu. Kamu tidak tahu betapa banyak air mata tertumpah ketika memutuskannya.

Rasa-rasa dengan umur kepala 2 sekarang, tidak pada tempatnya mencemooh pilihan orang lain. Kita masing-masing sudah dewasa. Kita tentu sudah bisa mengetahui konsekuensinya.

NB: note to myself. Jangan pernah nyalahin pilihan orang lain!

Yorokobi

Bahagia. Kebahagiaan. Dari satu buku yang kubaca (lupa judulnya), “Kita tidak pernah bisa menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan kita”. Sedang dari buku How to Choose (lupa pengarangnya), aku mendapat kalimat yang harus selalu kuingat:”Aku memilih untuk bahagia”. Ah, ternyata kebahagiaan itu pilihan.

#1
Beberapa hari lalu, sepulang kerja, badanku menderita enter wind. Habis mandi, eh badan kok berasa meriang, panas dingin ga jelas, perut mules ga karuan. Ya sudah, terpaksa tiduran saja. Saat sakit, kan biasanya kesadaran muncul. (Mirip orang kalo lagi sekarat deh). Tiba-tiba aku ingat seseorang yang dulu begitu kubenci. Aku tidak akan membencinya andai dia hanya menyakitiku. Aku begitu dendam karena dia telah lama menyakiti ibuku. Tapi malam itu, berbilang bulan setelah dia meninggal, aku tiba-tiba ingat apa saja yang pernah dia berikan padaku. Tak semua perbuatannya buruk. Dia sudah memberi banyak hal pada keluargaku. Aku ingat uang Rp 20.000 yang dia berikan saat aku mau balik ke kampus. “Buat sangu”, katanya. Meskipun itu tidak akan cukup untuk membeli tiket kereta ekonomi Malang-Jakarta. Mengesampingkan semua perbuatannya yang menyebalkan, aku berpikir, ‘mungkin pemberian-pemberiannya itu tulus kepada-ku (keluargaku)’. Ah, kenapa aku masih harus mendendamnya? Kenapa aku masih saja mencurigainya? Apalagi dia sudah tiada…

Maka malam itu, aku memutuskan untuk memaafkannya. Mulai detik itu, aku akan berusaha hanya mengingat kebaikan-kebaikannya saja. Dan aku juga ingin minta maaf atas segala kebencianku selama ini. Sebuah permintaan maaf yang terlambat. Namun, setelah aku mencoba memaafkannya, aku merasa begitu tenang dan nyaman. Suatu perasaan hangat di dadaku. Sepertinya, “kebahagiaan” telah turun kepadaku malam itu…

“AKu memilih untuk bahagia, dengan melepaskan semua dendam di dada, dan memaafkan.”

#2
Uah, badan capek, kerjaan membosankan. Dengan sebal aku pulang ke kosan. Kosan sepi, gelap gulita. Kunyalakan lampu di lorong. Sehabis sholat maghrib, makan bubur ayam yang Rp 2500-an itu. Karena lapar, jadi terasa nikmat saja. Sambil nonton klip Laruku di HP. Kok, tiba-tiba hidup terasa indah ya?

“Aku memilih untuk bahagia, dengan menyadari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di sekitarku.”

#3
Berangkat pagi, 6.30, kuhirup udara Jakarta yang masih bersih. Sampai di halaman kantor, kulihat burung-burung beterbangan. Begitu bebas. Satu yang kuherankan, justru di sini lebih sering kulihat burung kutilang liar daripada di kampung. Naik ke atas, masuk ke ruangan, menyalakan komputer dan duduk di depannya, samar kudengar kicau burung. Wah, kicau burung! Tembus ke dalam tembok kantorku yang tebal ini. Aku jadi merasa nyata, aku masih hidup!

“Aku memilih untuk bahagia, karena Allah telah menganugerahkan kesempatan untukku hidup di dunia.”