Nindy: Gagal Lembur

Aku ga tau apa yang ada di pikiran nindy. Mungkin dia punya semacam antena telepati yang bisa mendeteksi keberadaan berkas dalam tasku. Karena sungguh mengherankan, setiap kali aku membawa berkas untuk dikerjakan di rumah, benar-benar SETIAP KALI, dia selalu punya cara untuk tidur lebih malam. Lha aku kan orangnya ga bisa kurang tidur karena punya darah rendah. Jadi kalo tidurnya udah malam suka kliyengan kalo dipaksa bangun pagi. Padahal sejak kelas 6 SD, aku lebih biasa berkonsentrasi di dini hari. Dan janjiku pula pada diri sendiri untuk tidak mengerjakan pekerjaan kantor selagi nindy terjaga. Namun kalo malamnya sudah diajak begadangan, bagaimana aku bisa bangun pagi untuk mengerjakan lemburan?!

Seperti semalam. Aku sudah membawa dua bendel SOP. Rencanaku sempurna: satu bendel dikerjakan sebelum tidur, dan satu bendel lagi dikerjakan ketika bangun tidur. Namun apa daya, ketika aku sampai di rumah, aku mendapati nindy sedang tidur. Dia baru bangun pukul 7 malam! Walhasil, pukul setengah 10 saja dia masih lari-lari kesana-kemari. Mz nug mencoba ngelonin nindy, tapi nindy malah menggedor-gedor pintu minta dibukain. Begitu lihat aku sedang duduk dengan tumpukan berkas, mukanya langsung sumringah dengan sinar mata dan senyum jahil pingin ngrusuhin. Aaarrggghh! Mau ga mau aku jadi memutuskan untuk tidur karena nindy itu ga bisa tidur kalo yang ngelonin tidak ikutan tidur. Sumpah! Dia tahu itu! Kecuali kalo dia lagi kecapekan dan sudah ngantuk banget, baru dia langsung tidur tanpa memperdulikan teman tidurnya.

Jadi apa kabar SOP-nya?! Untungnya aku berhasil menyelesaikan satu bendel dengan bantuan mz nug yang mbangunin aku jam 3 pagi. Tapi akibatnya ya gini, aku mengetik postingan dengan kepala yang berat banget. Pusing euy…

abi dan nindyDaripada lembur, mending ke Ragunan aja yuk, Mi…

Dulu aku memang sudah berjanji untuk tidak akan membawa pekerjaan kantor ke rumah ketika sudah punya anak. Aku pernah membaca satu kisah tentang seorang ibu yang selalu membawa lemburan sehingga perhatiannya kepada keluarga menjadi jauh berkurang. Bahkan dia sampai ga sadar kalo anaknya kecelakaan saking asyiknya dia mengerjakan tugas-tugas itu. Aku ga mau menjadi seperti itu. Tapi apa daya, ternyata ada masa-masa tertentu dimana aku terpaksa untuk melakukannya. Makanya aku memberikan keringanan pada diriku sendiri dengan syarat pekerjaan tersebut harus dilakukan ketika nindy tidur.

Padahal kalo diinget-inget, aku sudah pernah mengalami kejadian memalukan terkait lembur ini. Jaman nyusuin nindy, suatu hari aku terbangun jam 2 pagi dan mendapati SMS dari Kasubbag (SMS-nya masuk jam 10 malam, aku sudah tidur :p) untuk mengirimkan satu draft laporan ke Kepala Biro (setingkat eselon II). Karena panik, aku segera menyelesaikan konsep laporan itu dan langsung kukirim via email ke Pak Karo. Ternyata Pak Karo tahu dan bilang ke Kepala Bagian kalo aku mengirim email tersebut pukul setengah 4 pagi. Ah, aku lupa kalo sekarang jamannya smartphone. Email bisa terbaca realtime begitu masuk. Berhubung ga pernah punya jadi gagap budaya gini. Intinya sih memang kalo udah jadi ibu-ibu itu jangan lembur deh!

Kesimpulan: ga boleh nyalahin nindy kalo gagal lembur lagi!

Semua Tak Sama

Mungkin ini postingan tandingan (salahmu nen, nggawe blog kok ga iso di-komen :D) atau memang kesadaran yang mulai tumbuh dan sudah saatnya dituliskan.

Ah, memang saya super labil. >.<

Kadang saya sangat bersemangat, kadang tiba-tiba down dengan sangat. 😦

Beberapa waktu lalu saya membaca ini. Lalu ini. Dan neni menyinggungnya kembali di sini.

Tertohok? Nggak sih. Cuma ngakak. Karena aku pun sebenarnya juga begitu.

Hari Minggu kemarin aku sedang menyuapi nindy di gang depan rumah ketika aku melihat Mama Nanda keluar rumah. Iya, Mama Nanda yang super itu. Mama Nanda sedang menyuapi Irsyad (10bln), anaknya yang paling bungsu. Maka adegan pun berlanjut seperti umumnya percakapan ibu-ibu di gang sempit.

MN: Nindy sarapan apa?

NH: Ini nih, sayur asem… (melongok ke makanan Iryad) Bubur bikin sendiri?

MN: Iya… kalo sempet bikiin… kalo ga sempet beli. Hidup cuma sekali kok dibikin susah.

Ahay… bahkan Mama Nanda yang sekarang jadi kepala PAUD Wijayakusuma itu juga nyantai banget menjalani hidupnya. Ga ngoyo. (Duh padahal umminya nindy ini lagi semangat masak khusus buat nindy)

Membaca kembali semangatku di postingan yang di link sama neni, aku merasa amat sangat malu. Sejujurnya dari semua rencanaku itu, baru berkebunlah yang bisa kuteruskan. Itu pun karena dibantu musim penghujan jadi sebenarnya tidak banyak yang kulakukan. Bahkan kalo dipikir lagi, saat aku mulai cuek, tanaman-tanaman itu malah tumbuh dengan cepat. Mungkin mereka merasa terlepas dari beban berat memenuhi harapanku yang tinggi itu. Eh, mungkin ga sih tanaman bisa stres?! :p

Soal menjadi kreatif?! Ga jalan blas. Aku sadar bakat itu perlu. Aku juga sadar diri, sedikit saja aku memforsir diriku, badanku bakal drop dan jadinya malah jatuh sakit. Malah keluar uang banyak buat berobat dan semua jadi tambah berantakan. Jadi sekarang aku suka-suka aja. Sempet nyoba resep baru ya dikerjain, tapi kalo ga ada waktu atau lagi males ya sudah. Nindy kalo ga mau makan ya makan kue aja or beli makanan di luar. Suka suka lah kan masih ASI ini (kata mbak apoteker K24 deket rumah, kalo masih ASI ga perlu tambahan vitamin walau nindy agak susah makan)

Semakin mengenal internet, semakin sering ketemu figur manusia yang bikin iri. Kok bisa sih tetap bekerja, ART less, 2 anak, masak, nyuci, nyetrika, beres-beres rumah, dan tiap hari PP Serpong-Banteng sekeluarga. Analisa iri saya: stamina mbak-e luar biasa, mbak-e di unit yang jarang DL dan konser, suaminya sangat-sangat mendukung, tidak ada kemungkinan mutasi, dsb. Sudahlah. Mereka ya mereka. Kamu ya kamu. Dia hebat dan kamu biasa saja?! Masih banyak kok temennya. :p