Ibu Tak Harus Sempurna

Pelan-pelan aku mulai membangkitkan kembali hobi lamaku: membaca. Hobi ini lebih mungkin untuk diteruskan karena aku bisa membaca ketika sedang pumping atau naik KRL. Sedangkan kesukaanku nonton film di laptop sepertinya memang harus dimatisurikan sampai waktu yang tidak terbatas, mengingat ada anak kecil yang tidak boleh aku cemari dengan seleraku yang berkutat dengan film-film aneh/berdarah/horor. Oiya, alasan sebenarnya jadi rajin lagi baca adalah karena ga mau kalah dengan mas-mas OB lantai 17 ini yang rajiiin banget baca buku dan minjem buku ke perpus. Ish, masak pegawai kalah sama OB?! (#kompetitip) >.<

Setelah sekian buku (termasuk Filosofi Kopi-nya Dee lho), aku akhirnya malah jatuh terkesan dengan buku ini:

Judul Buku: Cerita Cinta Ibunda (Kumpulan Kisah Nyata Terpilih Lomba Kisah Kasih Ibu WORLD SMART CENTER)

Editor: Ary Nilandari

Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka) Cetakan I, April 2011

Tebal: 409 halaman

Mungkin karena aku emak-emak, dan aku juga seorang anak, makanya aku sangat tersentuh dengan kisah-kisah yang diceritakan di buku ini. Apalagi hampir semuanya merupakan kisah nyata. Mendengarkan para anak (anak-anak ini rata-rata sudah dewasa) bercerita tentang ibu mereka masing-masing, ada beberapa hal yang kudapatkan:

  1. Saat baru baca: Kebanyakan anak menganggap ibu mereka sempurna. Aku pun demikian. Ibu-ibu di sini tampil sebagai wanita sempurna, rela berkorban apa saja. Fokus utamanya adalah point pengorbanan itu. Bahkan meskipun kehidupan keluarga mereka tidak ideal (cukup banyak yang bercerita soal KDRT atau status single parent) ibu-ibu ini tetap berusaha agar hidup anaknya tetap ideal. Melihat itu, aku pun menjadi bertekad untuk lebih banyak berkorban untuk anakku.
  2. Setelah baca sebagian: Meskipun seorang ibu dituntut sempurna, aku menjadi sadar, tidak semua ibu akan menjadi ibu sempurna. Setiap orang punya keterbatasan! Jika di awal ada banyak ibu single parent yang langsung berdiri tegak begitu ditinggal suami, ada cerita seorang ibu yang sampe kaya orang stres lontang-lantung di alun-alun sambil mabuk yang tentu saja membuat anak-anaknya sangat malu. Tapi bukankah begitu adanya? Setiap orang punya batas kekuatan. Dan ibu itu juga cuma sebentar kok berada dalam keterpurukan. Sesudah sadar bahwa anak-anaknya membutuhkannya, dia pun kembali menjalani hidup dan berjuang keras untuk anaknya.
  3. Setelah membaca bagian akhir: Bahwa seburuk apapun ibumu, beliau tetap ibumu. Banyak yang merasa dicuekin ibunya. Ada anak yang ibunya suka selingkuh. Hei, manusia tidak akan pernah sempurna! Bagaimanapun ibu telah berjuang untuk kita dan kita wajib berbakti kepadanya. (di point ini aku bersyukur dilahirkan di keluarga baik-baik dan ibuku juga wanita baik-baik)

Yang sedikit terus mengganjal adalah masalah pengorbanan tadi. Di rumah, rasanya lebih sering mz nug yang berkorban. Jika kerjaan tak terselesaikan, mz nug yang menyelesaikan. Jika makanan tinggal sedikit, mz nug yang mengalah tidak makan atau bikin mie instan. Ah, istri (/ibu) macam apa aku ini?! 😦

Rindu

Adalah dirimu, yang selalu menggelitikku untuk merindu
Tawa lebar diapit dua lesung pipit
Pipi tembam kemerahan
Paha bulat menggemaskan
Senyummu setiap menyambut hadirku

Adalah dirimu, yang selalu aku kangeni
Tak pernah puas rasanya menciumimu seribu kali
Memandang wajah damaimu yang terlelap di sampingku
Seluruh duniaku ada padamu:

 Nindy Kirani Tsabita Nugroho

 

NB: happy long weekend everyone…

Ibu Belajar Berjalan, Anak Belajar Berlari

Ada satu hal yang menarik pada pembicaraanku di telpon dengan ibu’ kemarin pagi. Ibu’ mengeluh dirinya tertular flu dari murid-muridnya. Seperti mesin penjawab otomatis, dari mulutku langsung keluar nasehat-nasehat “sok tahu”: ya minum susu, banyakin buah, ma banyakin tidur. Terasa belum cukup, masih kutambahi dengan lebih “sok tahu” lagi: kalau malam jangan nonton sinetron!

Begitu mendengar hal itu, ibu’ langsung membantah, “Apanya yang nonton sinetron. Orang tiap habis maghrib sekarang ngaji!”

Ibu’ kemudian bercerita, sudah sejak beberapa waktu lalu, setiap malam (kecuali malam jumat) sekitar 28 orang ibu-ibu dan bapak-bapak di kampungku belajar mengaji ke Mas Samsuar. Mas Samsuar adalah ustadz yang biasa mengajar ngaji anak-anak kecil di mushola depan rumah. Target Mas Sam, sebelum Ramadhan nanti, ibu-ibu dan bapak-bapak ini harus sudah bisa membaca Al Quran. Itulah sebabnya kenapa pertemuannya intens sekali.

Sebagai kampung di kaki Gunung Kawi, pengetahuan agama Islam penduduknya memang masih rendah. Jaman dulu tidak ada pelajaran mengaji seperti sekarang. Jadi wajar bila banyak dari orang-orang tua itu yang buta huruf hijaiyah. Surat-surat Al Quran diajarkan secara hapalan, sehingga banyak lafal yang salah-salah. Oleh karena itu, selain mengajarkan cara membaca Quran, target Mas Sam lainnya adalah membetulkan hapalan surat.

Aku jadi kagum pada orang-orang tua itu, terlebih pada ibu’ku. Ibu’ kelahiran 1961. Sudah umum diketahui bahwa semakin tua usia kita, semakin susah mengatur lidah. Itu sangat kurasakan saat belajar tahsin dulu. Tentu butuh perjuangan keras untuk belajar lagi di usia demikian, pun semangat yang harus benar-benar terjaga agar tetap istiqomah.

Ketika aku menceritakan hal itu pada mantan Kasubbag (kebetulan kami sedang menjalani acara menginap “Semalam di Tugu Tani”), aku mendapat komentar yang tak terduga. “Itulah Nur, kenapa saya dulu sengaja ambil S2, padahal sudah mau pensiun kaya gini. Itu biar si Anca (nama anak beliau, red) semangat juga belajarnya…”

Wow! Subhanallah! Ibu-ibu ini sengaja belajar selain untuk mengejar ilmu, juga untuk mengajari anak-anaknya bahwa pendidikan itu penting. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup.

Ibu memang panutan anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu acap kali menjadi patokan/standar, juga diikuti jejaknya. Aku punya beberapa teman perempuan yang semangat menyelesaikan studinya dengan alasan malu dengan ibunya yang dulu lulus S2. Buat anak-anak seperti ini, wajib untuk paling tidak mencapai tingkatan yang sama dengan ibunya dulu. Syukur-syukur kalau bisa lebih tinggi.

Hmm…tambah lagi pelajaran smart parenting hari ini: ibu belajar berjalan, anak belajar berlari. :mrgreen:

Tirai Hati

Suatu malam, telepon di rumahku berdering.
“Selamat ya Nur…” kata temanku di seberang. Dia baru saja melihat pengumuman UMPTN via internet. Dari kelas kami, ada 9 orang yang diterima di jurusan yang sama.
Alhamdulillah. Setelah telpon ditutup, aku langsung sujud syukur. Membayangkan betapa aku telah bersaing dengan puluhan atau ratusan anak lain yang ingin masuk ke sana.
Dengan ceria, kukabarkan berita pada ayahku yang mau menyusul ibu’ ke tempat perkemahan (sebagai guru SD, ibu’ kadang musti menginap pula mendampingi murid-muridnya kalau ada acara perkemahan seperti ini) “Yah, aku diterima”, kataku riang. Ayah cuma senyum, lalu pergi.

Dalam mobil tua (ayah sendiri menyebutnya gerobak beroda empat) di pinggiran bumi perkemahan, ayah tercenung sendiri. “Fakultas XXX. Paling nggak, biaya awal 10 juta. Kalau sepeda motor itu dijual, mungkinkah laku 10 juta? Kalau mobil ini, paling cuma 6 atau 7 juta. Lalu, semester-semester berikutnya bagaimana?” (nb: ternyata setelah melihat pengumuman di koran, daftar ulang membutuhkan biaya 13 juta. Hiks!)

Aku tak tahu cerita ini, sampai setengah bulan lalu saat silaturahmi Idul Fitri ke Kediri, ayah menceritakan perasaannya saat itu. “Rasanya pengin nangis”, ucap beliau. Aku tercekat. Waktu itu, yang kurasakan hanya senang dan bangga. Bangga karena aku bisa masuk fakultas yang dianggap keren. Aku sama sekali tak berpikir bagaimana perasaan kedua orang tuaku. (Sekarang aku bersyukur sekali telah memilih STK, alih-alih masuk ke fakultas itu)

Beberapa hari lalu, aku menonton lagi dorama-paling-sedih kedua setelah Oshin: 1 Liter of Tears. Baik, tak perlu dibahas ceritanya. Semua juga pasti terharu melihat ketabahan Aya dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Tapi, setelah menonton lagi untuk kedua kalinya, aku mengingat-ingat bagian mana dimana air mataku jatuh berderai-derai. Ternyata aku selalu menangis tiap kali bagian ibunya Aya. Bagaimana pada mulanya hanya beliau yang tahu tentang keadaan Aya yang sebenarnya, bagaimana beliau kelimpungan mencari informasi dan dokter untuk Aya, dll.

Orang tua, selalu saja memikul sendiri bebannya. Menyimpannya rapat-rapat di balik tirai hati. Sama sekali tak ingin membebani sang anak. Mungkin kelak ketika aku sudah menjadi orang tua, aku juga akan begitu?!

Jadi merasa bersalah. Terakhir aku ngrepotin orang tuaku adalah kemaren pas pulang. Aku minta anter ke Jombang (habisnya ayah bilang “Kan sekalian ke Kediri”) buat naik kereta bisnis, balik ke Jakarta. Ternyata kami salah jalan: nyasar sampai jalan buntu di atas gunung dan di depan adalah perkebunan, salah jalan lagi masuk jalan berbatu-batu sampai mobil berasa hampir ngguling ke jurang (ibu’ dah pucat aja waktu itu, tangannya erat mencengkeram sisi kaca mobil, duh!), lewat jembatan sempit tanpa pengaman di atas sungai jalur lahar, perjalanan panjang dari gunung ke gunung selama 4 jam, hingga kelaperan dan baru makan jam 2 siang. Hiks, ampun Bu’…

Ibu=obat (?)

Merayakan kembalinya diriku ke blog tercinta… (ternyata bisa nyuri kesempatan di sela kerja)

Beberapa hari lalu Jakarta benar-benar kacau. Siang panaaasss terik ga ketulungan. Malem sumuk (gerah) banget pula. Tapi bisa juga turun hujan dengan derasnya di tengah malam. Trus jadi dingin banget. Kali lain mendung seharian. Perubahan hawa yang drastis ini akhirnya berefek ke kambuhnya penyakit lawasku: biduran! Yah, diriku tak tahu apa bahasa Indonesianya, tapi gampangnya, itu penyakit gatal-gatal yang timbul akibat alergi. Payahnya, ga cuma alergi makanan aja (udang), aku juga alergi perubahan suhu yang ekstrim, bahkan dulu sempat alergi ”tekanan” (jenis yang mungkin ga ada di dunia kedokteran, tapi itulah yang terjadi, tubuhku gatal-gatal di bagian bekas terkena tekanan, misalnya kalau habis duduk di kursi rotan)

Saat sakit, seperti umumnya orang normal, aku kangen Ibu’ (padahal seharusnya kangen Ayah, soalè yang yang bisa metikin kelapa muda buat penawar biduran itu kan Ayah, tapi… suka-suka aku dunk, mau kangen siapa… hehehe) Biasanya Ibu selalu tahu kalau anaknya kenapa-napa (tapi biduran bukan penyakit berat sih, jadi mungkin Ibu’ku ga ada feeling buat ini ^_^) Kalau kita sakit, Ibu’ selalu merawat dengan penuh cinta. Ah, kalau mau ngomongin kasih Ibu mah, ga akan ada habisnya.

Menghubungkan Ibu dan penyakit, aku baru sadar, ternyata dengan keajaibannya, Ibu’ku sudah terhitung beberapa kali menyembuhkan penyakitku. Serius, ga perlu pake obat! Menyembuhkan begitu saja, dengan bagian tubuhnya (bukan kanibalisme lho!). Paling tidak, penyakitku berikut benar-benar telah disembuhkan oleh Ibu’ku:

1. Sakit perut

Dulu, kira-kira masih umur 2 atau 3 tahun, aku pernah menderita perut ”keras”. Istilah Ibu’ begitu sih. Jadi selama sekitar seminggu perutku begitu keras, ga berubah bentuk saat ditekan. Selama itu pula aku sama sekali ga ke belakang. Menurut cerita Ibu’ (soalnya aku ga punya ingatan untuk umur segitu) aku menangis terus (ya iyalah, secara seminggu ga bisa ”keluar”). Akhirnya Ibu’ pontang-panting membawaku ke rumah sakit. Ga tanggung-tanggung, langsung ke rumah sakit umum daerah! Tapi apa kata dokter coba: Putri Ibu tidak menderita penyakit apa pun. Wah, ibuku protes, anak nangis terus, perut keras gitu kok katanya ga sakit?! Maka aku pun di rontgen. Nah, yang ini aku sedikit ingat –mungkin ingatan hanya khusus terbentuk untuk kejadian luar biasa- karena ada bukti otentik hasil rontgen-ku waktu itu dan aku ingat pas disuruh buka baju, lalu menempel ke satu lempengan yang dingin. Setelah di rontgen, sekali lagi dokter menyatakan: Putri Ibu tidak sakit! Sebal, Ibu’ pun pulang ke rumah. Entah siapa yang bilang, pokoknya salah satu tetua (orang sepuh) mengatakan: coba diobati dengan idu dubang (air ludah saat baru bangun tidur, belum kumur-kumur, gosok gigi, atau kegiatan lain; pokoknya yang masih asem-asem itu). Maka dicobalah… dan aku sembuh!! Sembuh begitu saja setelah membuang uang sekian banyak untuk ke RSU. Saat kuliah, penyakitku ini pernah kambuh. Waduh, tersiksa sekali. Ternyata emang beneran sakit (pantes kalo waktu dulu aku nangis terus). Ya sudah, karena tidak mungkin mendapatkan idu dubang Ibu’… eits, jangan salah, aku ga pake idu dubang-ku. Begini, sakitnya itu kan kalo malam sampe keluar keringat dingin… nah, tiap kaosku mulai basah, aku ganti baju. Cara ini bertujuan untuk mencegah masuk angin. Memang jadi repot, tapi lama-lama perutku kembali normal 😀 Alhamdulillah…

2. Gatal-gatal

Sayangnya gatal yang bisa disembuhkan itu bukan gatal karena alergi, tapi gatal karena kena bulu ulat. Biasanya kalau suka maen ke kebun nih! Untuk mengobati gatal ini caranya mudah: gosokkan bagian yang gatal ke rambut Ibu. Seharusnya sih ini berlaku untuk rambut siapa saja, tapi sayangnya dari kecil rambutku selalu dipotong pendek dan 2 penghuni rumah yang lain adalah ayah dan adikku laki (rambutnya lebih pendek lagi dunk). Jadi rambut Ibu’ lah yang jadi korban. Apalagi rambut Ibu’ku tebal dan bergelombang, mantep banget buat dipakai gosok-gosok gitu. Hihihi… Untungnya sekarang sudah ga pernah lagi maen-maen kelayapan ke pekarangan (baca: kebun) atau tegalan.

3. Stres

Bagi teman-teman yang sedang menghadapi masalah… cobalah curhat ke Ibu. Dulu sih aku ga pernah cerita yang aneh-aneh ke Ibu’. Tapi sejak kuliah, gara-gara jauh dari rumah, tiap kali pulang aku selalu menceritakan semua yang kualami ke Ibu’ku. Mulai dari yang benar-benar serius sampai yang benar-benar ga penting. Ternyata Ibu’ dengan setia mau mendengarkan, sesuatu yang dulu tak kusadari. Jadinya, sekarang, kalo lagi ada masalah super berat, aku lebih suka cerita ke Ibu’. Hasilnya: sangat menentramkan dan cerita kita dijamin aman. Kan ga mungkin Ibu kita bakalan cerita ke teman kita kalau kita begini-begitu. Ga mungkin banget! Kalaupun stresnya masih ga ilang, paling nggak, pastilah berkurang… ^_^

Sebenarnya, denger-denger ada lagi satu pengobatan dengan ”memanfaatkan Ibu”. Kalo ga salah, bagi penderita kencing manis, bisa sembuh dengan meminum (maaf) urine dari Ibunya. Tapi, eng, sebaiknya jangan dicoba deh!! (mbayangin aja ngeri)

Oia, tiga penyakit di atas mungkin cuma berlaku untuk kejadian khusus dan orang-orang tertentu. Mungkin juga harus ditambah syarat: ”memakai” ibu masing-masing. Hehehe…

NB: Buat Mbak Endah yang ternyata sudah menugaskan saya dalam Pe-er berantai berikutnya, mohon maaf, saya belum merumuskan apa-apa tentang diri saya. Nanti saja kalau sempat, ya! ^_^