Uangku Uangku, Uangmu Uang Kita

Wiii… melihat judulnya pasti deh langsung berpikiran miring:

Ih, nur, ga nyangka kamu sematre itu!

Tenang sobaaatt… di sini aku akan menceritakan kronologisnya.

Jadi pada suatu masa, seorang gadis yang baru lulus sekolah ikatan dinas, bekerja pada departemen yang kata banyak orang sebagai tempat basah. Setelah 3 tahun kenyang hidup pas-pasan (di pinggiran Jakarta) dengan uang kiriman 300rb per bulan, uang 850rb honor-pertama-yang-masih-jauh-di-bawah-UMR-Jakarta baginya merupakan anugrah tak terhingga. Apalagi setelah genap statusnya sebagai PNS. Terima gaji 100% plus tunjangan. Semua terasa berlebih sekali buat gadis yang biasa hidup sederhana ini. Namun dengan semua itu, tak terlalu banyak yang berubah dari kehidupannya. Dia masih berpikir berulang kali untuk membeli lauk ayam/daging di warteg. Masih berpikir banyak bagaimana caranya supaya bisa ngirit. Masih jarang beli baju dan terus mengandalkan lungsuran. Kebiasaan  yang sudah bertahun-tahun melekat tentu saja susah dihilangkan.

Dengan semua habit itu, yang berubah cuma satu: nilai tabungannya. Tak tanggung-tanggung, dari lima digit menjadi delapan digit. Si gadis yang merupakan anak pertama ini memang tidak dibebani tanggungan keluarga. Hanya sesekali dia membelikan barang yang lumayan mahal untuk adiknya atau mengirim untuk orang tua. Selebihnya, orang tuanya ngotot bahwa mereka masih bisa menanggung sendiri biaya sekolah anak kedua. Maka si gadis memutuskan, tabungannya yang lumayan itu akan dia pergunakan saja untuk biaya nikahnya nanti.

Sampailah satu ketika dimana si gadis bertemu pemuda yang mau menikahinya. Mereka sepakat, sang pemuda akan menanggung 70% biaya resepsi dan si gadis sisanya. Tabungan pemuda memang hanya cukup untuk itu. Tidak masalah, kata si gadis. Karena walau menanggung 30% biaya resepsi, sisa tabungannya masih cukup untuk membayar kontrakan rumah. Di titik ini, si gadis merasa senang karena langkah pengiritan yang dia lakukan sudah benar. Tabungannya ternyata sangat berguna.

Beberapa bulan sebelum menikah, si gadis bersama atasan dan temannya harus melakukan dinas ke luar kota. Di dalam mobil yang menuju kantor daerah, atasan si gadis menyinggung kebiasaan irit si gadis. Ibu atasan ini mengkritik sifat irit si gadis yang menurut beliau agak keterlaluan. Beliau menceritakan kisah teman seangkatannya yang sudah lebih dulu pensiun.

Dulu, bu nana (sebut saja demikian) itu suaminya kerja jadi pemahat es buat hotel-hotel. Keluarga mereka lumayan berkecukupan, bisa beli rumah mewah di tahun-tahun dimana pegawai departemen kami (yang saat itu cuma menerima gaji tanpa tunjangan) kalo hidup lurus-lurus saja bakal sering kekurangan. Singkat cerita, bu nana ini adalah orang yang sangaaatt irit. Saking iritnya, semua tambahan penghasilan dia simpen dalam bentuk emas, emas, dan emas. Pokoknya beliau ini suka sekali investasi emas. Pernah bu nana dan bu atasan semasa muda sama-sama diklat. Sepulang diklat, mereka mendapat uang transport yang cukup banyak. Bu atasan menghabiskan uang itu buat beli baju suami dan anak-anaknya, juga kosmetik buat dia. Sementara bu nana membelanjakan semua uang transportnya buat beli emas. Sifat irit ini membuat bu nana suka lupa dengan penampilan. Beli baju yang murah-murah. Makan yang murah-murah. Karena suaminya bosan diajak ngirit terus (penghasilan gede tapi kehidupan kaya orang susah), maka si suami ini lari dengan perempuan lain. Tinggallah bu nana dengan harta peninggalan suaminya, tanpa suami di sisinya.

Intinya, bu atasan menasehatiku untuk tidak terlalu irit. Secukupnya, asal tidak dihambur-hamburkan. Bersenang-senang untuk diri sendiri itu perlu. Kalo nasehat yang sering beliau katakan sih, “Perempuan itu ga boleh kurang sajen”. Tentu bukan sajen pake susuk biar suami tetap lengket, tapi perhatikan penampilan jangan sampai suami bosan.

Semenjak itu dan setelah membaca banyak artikel keuangan dan artikel keluarga, aku akhirnya tahu: pos entertainment dan me time itu sama sekali ga haram!

Jadilah aku yang dulu kekeuh ngekepin duit, sekarang ga terlalu khawatir udah ngabisin dana cadangan buat bayar DP rumah (tapi tetep dalam tahap ngumpulin lagi sih). Beda banget ma diriku yang dulu yang takut banget kalo sampai uang habis. Rela beli baju buat suami dan anak yang agak mahalan (tapi kalo buat diri sendiri masih belum bisa, hehehe). Makan juga hampir selalu ada protein hewani sekali dalam menu seminggunya. Memang kalo untuk urusan penampilan seperti yang dibilang atasanku tadi aku masih belum mampu (sisa kebiasaan tentu masih ada). Tapi aku sekarang sedang mencoba untuk lebih menikmati hidupku tanpa perlu sepanjang waktu mikirin keuangan.

Btw, setelah mendapat teguran dari temanku di sini, aku jadi galau dan membahas komennya dengan beberapa orang yang sudah mengenalku dari lama. Dari mbak rosa (kasubbag), menurut beliau, beliau senang melihat keadaanku sekarang yang sepertinya lebih enjoy menikmati hidup. Sedangkan Ncep sepertinya tergolong aliran konservatif walau memaklumi keputusanku dengan mempertimbangkan kemajuan jaman sekarang. Mbak prih (walau ga kutanya) ternyata juga termasuk aliran konservatif. Inti golongan ini adalah, aneh aja seorang ibu setelah punya anak masih kepikiran mentingin diri senang-senang  sendiri. Karena pusing, puyeng dan mulai goyah dengan prinsipku semula, kuadukanlah hal ini pada suami. Dan inilah pendapat suami:

Iya, di Islam itu sebenarnya kewajiban istri adalah berbakti pada suami. Thok! Ga pake yang lain-lain. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah, makanan, tempat tinggal yang nyaman untuk istri membesarkan anak, juga pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jika istri bekerja, uang itu adalah uangnya. Merupakan ibadah baginya bila ia ikhlas memberikan uang itu untuk kebutuhan keluarga. Sedangkan uang suami adalah uang keluarga, karena laki-laki diberi kelebihan kekuatan untuk bekerja dibanding wanita.

Hm…senada ma tulisan ini dan ini deh… 🙂

Jadi?! Ya begitu. Suami aja bilang gitu. Makin jelas deh. Uangku uangku, uangmu uang kita. Walau end up-nya simpenan yang ngotot disimpen ini pastinya akan balik ke keluarga. Tapi kan enak gitu kalo ngerasa masih punya uang pribadi yang bebas untuk suka-suka. 😀

Tambahan: Yang kumaksud “uangku” di sini adalah uang tambahan seperti uang makan, honor tim, dsb. Sementara gaji dan tunjangan seluruhnya memang ditujukan untuk keluarga. Ini sudah kesepakatan antara aku dan suami, bahwa tambahan penghasilan di luar gaji merupakan hak masing-masing. Terserah apakah akhirnya akan diberikan untuk keperluan keluarga atau dipakai untuk keperluan pribadi.

Cinta Yanti

Namanya Yanti. Baru lulus SMA. Cantik. Kulit putih. Wajah menarik. Ketika teman-teman seusianya sedang sibuk dengan mata kuliah apa hari ini, si Yanti sibuk mencuci di pantry. Ketika teman-teman seusianya kelayapan di mall dengan dandanan menor, si Yanti lagi kelayapan mencari makanan yang diinginkan para pegawai di kantor.

Yanti gadis remaja yang sederhana. Di tengah arus ke-alay-an yang merajalela, kadang dirinya masih suka menyanyikan Salah Alamat keras-keras. Lain waktu hapenya memutar musik India entah dari film mana. Tapi nanti pukul 9 ketika pekerjaan kelar, diambilnya air wudhu, dan segeralah ia sholat dhuha. Ya, dialah Yanti yang selalu berwiridan panjang di setiap akhir sholat fardhunya.

Dan pagi ini, berlatar musik pop-melayu sok religius yang di kupingku terdengar munafik banget (maaf, tapi aku merasa lagu-lagu itu banyak yang terdengar asal bikin dan enggak tulus) si Yanti nyeletuk, “Berasa lagi puasa ya, Mbak…”

“Iya…” jawabku ngasal.

“Enak ya kalo puasa… Rasanya adem. Lagu-lagu juga pada ngajakin tobat, kedengarannya ademmm bener. Kalo puasa dosa-dosa kita diampuni kan, ya Mbak… Dosa-dosa setahun diampuni kan Mbak?”

“Iya, insyaallah…” mau manjangin tapi males.

“Seneng ya… kalo diampuni. Yanti banyak banget dosanya. Kapan sih puasa lagi?!”

Masyaallah, Yanti. Ucapan sederhanamu menusukku. Aku saja sering lupa akan dosa-dosaku. Tapi dirimu yang masih begitu muda, jauh lebih muda dari adikku, sudah menyadari kekuranganmu dan punya rasa cinta yang begitu besar pada bulan Romadhon.

Ah, Yanti… Semoga di akhirat nanti kau bertemu Romadhon yang kau cintai. Semoga pintu puasa memanggilmu.

NB: Sungguh kepada band-band alay di luar sana, terimakasih atas lagu-lagu rohanimu yang TERNYATA bisa menyentuh hati anak muda.

Keajaiban Jilbab (part 2)

Di tulisan pertama dulu, aku pernah menulis tentang keuntungan-keuntungan yang bisa didapat jika memutuskan memakai jilbab. Ringkasnya sih kira-kira antara lain:

  1. Bikin pemakainya kliatan tambah cantik
  2. Mendorong peningkatan kadar ketaqwaan dan akselerasi pembelajaran Islam
  3. Melancarkan urusan (coz jadi banyak yang mau nolong, hehehe…)

Disini aku ingin menambahkan 2 point lagi yang baru aja kepikiran.

1. Menimbulkan keberanian dan rasa aman

    Pada suatu forum di kosan lama, kita sedang membahas angkutan kereta api ekonomi yang beroperasi komuter di Jakarta. Mulai dari beda antara kereta listrik dan kereta diesel (KRD) hingga keadaan KRD yang tampaknya lebih mengenaskan daripada KRL (padahal KRL pun sebenarnya sudah cukup mengenaskan ^_^)

    Mb R : Eh, aku pernah lho ke Serang naik KRD, naiknya dari jendela. Hehehe…

    Mb V : Heh, serius?

    Mb R : Iya, dibantuin ma bapak-bapak

    Mb V : Kamu berani emang sendirian naik kereta kaya gitu?

    Mb R : Biasa aja tuh. Dapet tempat duduk, ga ada yang ngangguin.

    Mb V : Kalo aku sih ga berani….

    Mb R : (memandang Mb V) Ehm…apa karena aku pake jilbab ya? (ket: Mb V waktu itu belum berjilbab) Dulu pas aku belum berjilbab juga bakal pikir-pikir dulu kalo mau kaya gitu.

    MbV : Iya juga kali ya…

    Keberanian serupa juga kurasakan saat naik Matar sendirian. Biasa aja. Alhamdulillah, ga ada yang ganggu atau mengambil tempat dudukku (meskipun sempet kutinggal ke kamar mandi). Padahal Matar waktu itu juga sedang lumayan penuh.

    2. Mempercantik kulit 😀

      Jika point 1 lebih ke kecantikan muka, point ini lebih ke “kelembaban kulit”. Terus terang kulitku termasuk kulit kering. Dulu aku sering minder dengan penampakan kulit lenganku yang seperti tanah Jawa di bulan Agustus, kering-kerontang, pecah-pecah karena kekurangan air (hiperbolis banget siy Nur). Sering iri juga kalo ngliat lengan temen sekosan yang asli mulus, terlihat lembab terawat. Ternyata setelah pake jilbab, yang otomatis bajunya lengan panjang, kulit lenganku terasa ada perubahan. Mungkin karena ketutup jadi kelembabannya ga ilang.

      Sekarang jadi sedih kalo liat cewek atau anak ABG yang udah kulitnya item (sama, aku kan juga item banget) malah pake baju lengan kutung-kutung, terpotong sampe ke lengan atas. Udah item, kok ga malu ya nunjukin ke”iteman”nya. Hehehe… Sudah gitu bingung pake lotionnya yang whitening. Daripada bingung pake lotion pemutih, kan lebih mudah menutupinya. Tunggu dan rasakan perubahannya (halah!) Yaa, tapi kalo dah “sulum” jangan dilepas lagi lah. Buat suami aja tar. Kqkqkq… 😀

      Alif Ba Ta’

      Seorang Gadis, umurnya sekitar 13 atau 14 tahun, masih SMP, ditilik dari seragamnya yang mengharuskannya memakai jilbab setiap hari, maka bisa diduga dia bersekolah di SMP yang berbasis Islam. Tapi kelakuannya… masyaallah! Hampir setiap hari dia marah-marah. Bila marah, selain teriak-teriak ga jelas, dia juga gemar menggebrak-gebrak –entah apa yang digebrak, karena dalam kamar tertutup, aku ga tahu apa pastinya- dan membanting pintu dengan keras. Pernah dalam suatu pertengkaran tengah malam –waktu itu sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam- dengan adik perempuannya, dia berteriak-teriak dan memaki adiknya sebagai “anak yang ga punya bapak”, “monster”, dsb. (Memang sih, status si Adik dalam keluarga itu agak ga jelas. Kebanyakan tetangga menyebut keluarga itu hanya punya 2 orang anak perempuan, tapi kenyataannya ada 3 orang anak perempuan yang tinggal di rumah itu) Sang adik membalas: “Kakak bukan manusia!”. Padahal sepertinya pertengkaran itu dipicu oleh sesuatu yang cukup remeh. Tidak cukup pantas untuk sampai mengeluarkan makian sekejam itu. (Sebagai sesama anak sulung, aku tidak pernah membayangkan bisa memaki adikku seperti itu) Tidak pernah ada cukup alasan untuk bertengkar seheboh artis sinetron!

      Ah, sudahlah. Urusan orang ini. Yang aku heran cuma satu, si Gadis itu bersekolah di sekolah yang menekankan pendidikan agama. Tapi kenapa seolah-olah tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap akhlaqnya? Aku mencoba membandingkan dengan dua orang temanku yang waktu kecil basic pendidikannya Islam. Saat masuk ke pendidikan netral, kalaupun pernah “sedikit membelok”, tapi dasar agama yang ditanamkan dulu dengan mudah “mengembalikannya ke jalan semula” atau paling tidak “membatasi kelakuannya agar tidak terlalu jauh membelok”. Mungkin efek pendidikan Islam memang berbeda-beda pada setiap orang.

      Aku jadi berpikir tentang diriku. Sepanjang hidup, aku selalu bersekolah di sekolah formal/netral. Pendidikan agamaku? Aku pernah ikut mengaji ke satu kyai/ustad di desa waktu kelas 2 SD, tapi hanya bertahan 1 tahun. Aku keluar dari sana sebelum pelajaranku ”menyentuh” Al Quran karena ”merasa dikucilkan” dan dihina oleh teman-teman (bullying memang mengerikan). Ibuku awalnya memarahiku. Aku tak bergeming. Karena capek marah-marah, Ibu sampai memakai peribahasa untuk mengungkapkan kekecewaannya melihat anaknya ga mau mengaji. ”Ibu kaya burung pungguk mengharap bulan ngarepin kamu ngaji!” ujar beliau (pake versi bahasa Jawa). Waktu itu aku sedih, pengin nangis, tapi mau gimana lagi? Biar mau diapain pun, aku tetep ga mau balik ke tempat yang membuatku ”menderita batin” itu. Aku akhirnya belajar membaca Quran dari buku Iqro jilid 1-6 yang kubaca sendiri sambil sekali-sekali di-review oleh Ayahku. Jadi sampai sekarang, aku mungkin sedikit tahu cara bacanya, tapi kalo ditanya apa hukum tajwidnya… wuah, aku ga tau!

      Yang paling kusyukuri adalah takdir yang membawaku hingga aku dapat bersekolah di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Lingkungan di sanalah yang bisa dibilang pendorong terbesar perubahan pada diriku. Dari yang sholatnya bolong-bolong, dari yang ngajinya patah-patah (kaya goyang aja) menjadi aku yang sekarang (masih banyak juga sih sisa-sisa jahiliyah-nya, hehehe).

      Ah, kok jadi ngelantur. Balik ke masalah ”pendidikan agama”, aku pingin anak-anakku kelak mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Yah, masih belum jelas juga planningnya kaya apa. Paling nggak kalo ga ikut TPQ (waktu aku kecil di deket rumah ga ada TPQ… T-T) ya masuk sekolah yang basic pendidikannya Islam. Kayanya sih sekarang banyak banget sekolah Islam yang mutunya bagus (dan sangat bagus). Ah, pokoknya anak-anakku ga boleh kaya aku!

      Walahwalah Nur… kok mikir anak sih? Cari calon Bapaknya dulu, nikah, baru punya anak! (Ah, kok masih jauh ya?! Masih jauh ternyata… hihihi)

      Keajaiban Jilbab

      Aku dan Ncep sering ngobrol di kamar mandi, sembari mengambil air wudhu. Sering obrolan itu “nggak penting banget”. Namun kadang ada pula obrolan yang bisa “membangkitkan inspirasi”. Hehehe, salah satunya seperti kemaren.

      Waktu kita sama-sama lepas jilbab buat ambil air sholat, tiba-tiba timbul pertanyaan seperti ini:

      Kenapa ya:

      1. Orang yang biasa berjilbab, ketika dia ga pake jilbab jadi keliatan “biasa banget”. Bukan jelek sih, tapi “kecantikannya” jadi banyak yang ilang… 😉

      2. Orang yang biasanya tidak berjilbab, sekalinya berjilbab jadi keliatan “luar biasa” (kecantikannya nambah)

      Aku inget waktu Pondok Romadhon di SMA dulu, ada temenku akhwat yang setiap hari kulihat dia dalam jilbabnya. Orangnya pintar banget, aktif di organisasi, dan kliatan cantik. Nah, malamnya waktu kita semua mau tidur (tidurnya waktu itu di mushola) otomatis dia ngelepas jilbabnya. Aku “mencuri pandang” ke dia (ga begitu akrab, jadi ga berani mandang lama-lama :p), “Lho, kok aneh, ya?! Tembem gitu… Padahal biasanya manis banget…” Kqkqkqkq

      Yah, ada juga sih yang bisa dijadikan pengecualian. Ada yang manisan ketika ga pake jilbab (tapi sedikit yang kaya gini), atau sama aja baik pake jilbab maupun nggak (mungkin karena sikapnya setelah berjilbab ga ada perubahan) seperti aku! Hehehe… (ini kata adik kosku, maksudnya mungkin sama-sama jelek :D)

      Tapi lepas dari cantik tidaknya seseorang ketika memakai jilbab, sampai saat ini aku banyak kebantu dengan jilbabku. Dulu waktu mau mutusin make jilbab apa nggak, aku sempat punya kekhawatiran kaya gini: “Tar kalo pake jilbab, pasti disangka orang alim. Padahal bacaan Quran-ku masih kacau balau kaya gini. Belum kalo ditanya masalah agama. Aku kan ga ngerti apa-apa. Ntar malah malu-maluin. Berjilbab tapi ga tahu apa-apa!”

      Tapi kenyataan menunjukkan sebaliknya. Justru setelah aku nekat memakai jilbab, bacaan Al Quran-ku jauh lebih baik daripada dulu (wah, ga tahu juga, tiba-tiba udah jadi kaya gitu, ga ngerti juga gimana asalnya). Lagipula berhubung udah berjilbab, jadi sering diajakin kajian ini itu, jadi ilmu agamanya juga lumayan bertambah. Semoga sekarang “malu-maluin”-nya ga parah-parah amat. ^_^

      Ada lagi yang terasa banget setelah aku pake jilbab: aku merasa lebih “diperempuankan”! Dulu, sering banget aku merasa dibedakan dari perempuan lain. Inget acara “Tolong” di sebuah stasiun televisi swasta dulu itu ga? Di acara itu, kliatan banget kalo orang tu rata-rata lebih suka nolong cewek cakep daripada cewek jelek atau perempuan tua. Nah, dulu aku sering banget mengalami yang kaya gitu. Kalo aku seorang diri berdiri di tengah bis yang semua bangku sudah penuh, mana ada seseorang yang rela memberikan kursinya padaku. Waktu mengalami kejadian memalukan gara-gara kantong kresek yang kubawa jebol dan oleh-oleh berupa buah salak yang kubawa bergelundungan kemana-mana, permintaan tolongku malah ditolak oleh seorang bapak pemilik toko kelontong! (akhirnya ditolongin ma satpam sih) Sekarang, hohoho, aku lumayan sering mendapat bangku gratis di metromini. Waktu nyasar ke BKF karena suatu urusan, juga tiba-tiba ada bapak-bapak yang mau nganterin aku menemui seorang bapak yang kucari itu. Pokoknya berasa semuanya jauh lebih mudah.

      ** Sekarang tinggal membenahi “yang di dalam” nih, kok belum juga berubah ya?! Ayo Nur, semangat! **