Si Kembar 5 Bulan, Nindy 2,5 Tahun

Lagi-lagi postingan borongan. Singkat aja deh.

SI KEMBAR

Ga terasa, si kembar udah jalan 5 bulan aja. Ni anak-anak yang waktu pulang dari RS cuma segede guling (beneran lho, aziz apa ya dulu yang nyeletuk: eh, gulingnya ada 6 -__-!) sekarang tau-tau bajunya udah ukuran L! 😀

Setelah tertunda hampir 2 minggu karena sakit campak, lalu ada simbah njenar, lalu hujan, dll, akhirnya lunas juga itu imunisasi DPT III. Alhamdulillah, utangnya tinggal imunisasi campak nanti di 9 bulan. Btw, si kembar keren lho, disuntik udah ga nangis. Cuma njerit trus diem. Demam juga ga pake lama. Ihh… jagoanku kuat-kuat… *uyel2 BB Nashir 7,5kg, Nazar 7,3kg.

nashir-nazar per 5 bulan... emaknya lagi demen ma kamera 360 jadi maaf kalo fotonya agak ga natural... yg penting cakep kan?! huehehe

nashir-nazar per 5 bulan… emaknya lagi demen ma kamera 360 jadi maaf kalo fotonya agak ga natural… yg penting cakep kan?! huehehe

Dari sisi perkembangan sebenarnya sama, cuma entah males atau apa, si Nashir lebih menonjol di motorik sementara Nazar lebih ke verbal. Nashir kalo ditaruh telentang kepala di utara misal, guling-guling-guling ke kanan sampe kepalanya tau-tau udah di selatan -__-! Sedang Nazar kalo lagi ngoceh bisa setengah jam sendiri, udah bisa bilang “maamaa, paapaa…” Nazar aslinya juga bisa tengkurap cuma males. Nashir pun sebenarnya juga bisa ngoceh cuma pendiem. Yo terserah anaknya lah… yang penting sehat.

Deg-degan sebentar lagi MPASI tapi belum ada persiapan sama sekali kecuali beli tepung gasol di toko deket rumah (btw, gasol sekarang mahal ya… ingetnya dulu pas jaman nindy masih 14rb, sekarang 18,5rb, huehehe) Si Nazar kayane mulai tumbuh gigi, udah suka ngginggit p*t*ng. Dua-duanya gusinya memang sudah keras. Gemar banget nggigitin teether. Semoga pas makan nanti mereka udah bisa duduk tegak kaya nindy dulu. Sekarang masih harus disangga. Tapi ga ngoyo sih… kan tiap anak beda-beda…

NINDY 

Anak gadisku… sudah gede… Di sekolah sudah ga ditungguin di kelas lagi. Mbaknya enak nunggu di luar aja. Tapi kalo sama umminya kolokannya kambuh. Udah tahu warna abu-abu. Goresan tangannya udah mulai bisa membentuk lingkaran. Udah bisa nyusun balok hingga tinggi tanpa jatuh, itu kan butuh ketelitian dan kesabaran. Cepet banget hapal puzzle. Udah bisa menghitung dengan benar dan tahu maknanya (uuh, bangganya!) “Dedeknya kembar, dedeknya ada dua…” Lagi suka kata “banget”. “Bagus banget… harum banget…”. Masih belum lancar juga bicaranya (salahkan bentuk lidah) tapi aku sabar menunggu… BB terakhir 12,5kg (alhamdulillah, akhirnya bergerak lagi itu angka timbangan)

senyummu ki asli manis bener lho nduk...

senyummu ki asli manis bener lho nduk…

Selalu sehat ya nduk… le… Tambah pinter, sholeh dan sholehah. Semoga Alloh selalu melindungi kalian…

Uangku Uangku, Uangmu Uang Kita

Wiii… melihat judulnya pasti deh langsung berpikiran miring:

Ih, nur, ga nyangka kamu sematre itu!

Tenang sobaaatt… di sini aku akan menceritakan kronologisnya.

Jadi pada suatu masa, seorang gadis yang baru lulus sekolah ikatan dinas, bekerja pada departemen yang kata banyak orang sebagai tempat basah. Setelah 3 tahun kenyang hidup pas-pasan (di pinggiran Jakarta) dengan uang kiriman 300rb per bulan, uang 850rb honor-pertama-yang-masih-jauh-di-bawah-UMR-Jakarta baginya merupakan anugrah tak terhingga. Apalagi setelah genap statusnya sebagai PNS. Terima gaji 100% plus tunjangan. Semua terasa berlebih sekali buat gadis yang biasa hidup sederhana ini. Namun dengan semua itu, tak terlalu banyak yang berubah dari kehidupannya. Dia masih berpikir berulang kali untuk membeli lauk ayam/daging di warteg. Masih berpikir banyak bagaimana caranya supaya bisa ngirit. Masih jarang beli baju dan terus mengandalkan lungsuran. Kebiasaan  yang sudah bertahun-tahun melekat tentu saja susah dihilangkan.

Dengan semua habit itu, yang berubah cuma satu: nilai tabungannya. Tak tanggung-tanggung, dari lima digit menjadi delapan digit. Si gadis yang merupakan anak pertama ini memang tidak dibebani tanggungan keluarga. Hanya sesekali dia membelikan barang yang lumayan mahal untuk adiknya atau mengirim untuk orang tua. Selebihnya, orang tuanya ngotot bahwa mereka masih bisa menanggung sendiri biaya sekolah anak kedua. Maka si gadis memutuskan, tabungannya yang lumayan itu akan dia pergunakan saja untuk biaya nikahnya nanti.

Sampailah satu ketika dimana si gadis bertemu pemuda yang mau menikahinya. Mereka sepakat, sang pemuda akan menanggung 70% biaya resepsi dan si gadis sisanya. Tabungan pemuda memang hanya cukup untuk itu. Tidak masalah, kata si gadis. Karena walau menanggung 30% biaya resepsi, sisa tabungannya masih cukup untuk membayar kontrakan rumah. Di titik ini, si gadis merasa senang karena langkah pengiritan yang dia lakukan sudah benar. Tabungannya ternyata sangat berguna.

Beberapa bulan sebelum menikah, si gadis bersama atasan dan temannya harus melakukan dinas ke luar kota. Di dalam mobil yang menuju kantor daerah, atasan si gadis menyinggung kebiasaan irit si gadis. Ibu atasan ini mengkritik sifat irit si gadis yang menurut beliau agak keterlaluan. Beliau menceritakan kisah teman seangkatannya yang sudah lebih dulu pensiun.

Dulu, bu nana (sebut saja demikian) itu suaminya kerja jadi pemahat es buat hotel-hotel. Keluarga mereka lumayan berkecukupan, bisa beli rumah mewah di tahun-tahun dimana pegawai departemen kami (yang saat itu cuma menerima gaji tanpa tunjangan) kalo hidup lurus-lurus saja bakal sering kekurangan. Singkat cerita, bu nana ini adalah orang yang sangaaatt irit. Saking iritnya, semua tambahan penghasilan dia simpen dalam bentuk emas, emas, dan emas. Pokoknya beliau ini suka sekali investasi emas. Pernah bu nana dan bu atasan semasa muda sama-sama diklat. Sepulang diklat, mereka mendapat uang transport yang cukup banyak. Bu atasan menghabiskan uang itu buat beli baju suami dan anak-anaknya, juga kosmetik buat dia. Sementara bu nana membelanjakan semua uang transportnya buat beli emas. Sifat irit ini membuat bu nana suka lupa dengan penampilan. Beli baju yang murah-murah. Makan yang murah-murah. Karena suaminya bosan diajak ngirit terus (penghasilan gede tapi kehidupan kaya orang susah), maka si suami ini lari dengan perempuan lain. Tinggallah bu nana dengan harta peninggalan suaminya, tanpa suami di sisinya.

Intinya, bu atasan menasehatiku untuk tidak terlalu irit. Secukupnya, asal tidak dihambur-hamburkan. Bersenang-senang untuk diri sendiri itu perlu. Kalo nasehat yang sering beliau katakan sih, “Perempuan itu ga boleh kurang sajen”. Tentu bukan sajen pake susuk biar suami tetap lengket, tapi perhatikan penampilan jangan sampai suami bosan.

Semenjak itu dan setelah membaca banyak artikel keuangan dan artikel keluarga, aku akhirnya tahu: pos entertainment dan me time itu sama sekali ga haram!

Jadilah aku yang dulu kekeuh ngekepin duit, sekarang ga terlalu khawatir udah ngabisin dana cadangan buat bayar DP rumah (tapi tetep dalam tahap ngumpulin lagi sih). Beda banget ma diriku yang dulu yang takut banget kalo sampai uang habis. Rela beli baju buat suami dan anak yang agak mahalan (tapi kalo buat diri sendiri masih belum bisa, hehehe). Makan juga hampir selalu ada protein hewani sekali dalam menu seminggunya. Memang kalo untuk urusan penampilan seperti yang dibilang atasanku tadi aku masih belum mampu (sisa kebiasaan tentu masih ada). Tapi aku sekarang sedang mencoba untuk lebih menikmati hidupku tanpa perlu sepanjang waktu mikirin keuangan.

Btw, setelah mendapat teguran dari temanku di sini, aku jadi galau dan membahas komennya dengan beberapa orang yang sudah mengenalku dari lama. Dari mbak rosa (kasubbag), menurut beliau, beliau senang melihat keadaanku sekarang yang sepertinya lebih enjoy menikmati hidup. Sedangkan Ncep sepertinya tergolong aliran konservatif walau memaklumi keputusanku dengan mempertimbangkan kemajuan jaman sekarang. Mbak prih (walau ga kutanya) ternyata juga termasuk aliran konservatif. Inti golongan ini adalah, aneh aja seorang ibu setelah punya anak masih kepikiran mentingin diri senang-senang  sendiri. Karena pusing, puyeng dan mulai goyah dengan prinsipku semula, kuadukanlah hal ini pada suami. Dan inilah pendapat suami:

Iya, di Islam itu sebenarnya kewajiban istri adalah berbakti pada suami. Thok! Ga pake yang lain-lain. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah, makanan, tempat tinggal yang nyaman untuk istri membesarkan anak, juga pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jika istri bekerja, uang itu adalah uangnya. Merupakan ibadah baginya bila ia ikhlas memberikan uang itu untuk kebutuhan keluarga. Sedangkan uang suami adalah uang keluarga, karena laki-laki diberi kelebihan kekuatan untuk bekerja dibanding wanita.

Hm…senada ma tulisan ini dan ini deh… 🙂

Jadi?! Ya begitu. Suami aja bilang gitu. Makin jelas deh. Uangku uangku, uangmu uang kita. Walau end up-nya simpenan yang ngotot disimpen ini pastinya akan balik ke keluarga. Tapi kan enak gitu kalo ngerasa masih punya uang pribadi yang bebas untuk suka-suka. 😀

Tambahan: Yang kumaksud “uangku” di sini adalah uang tambahan seperti uang makan, honor tim, dsb. Sementara gaji dan tunjangan seluruhnya memang ditujukan untuk keluarga. Ini sudah kesepakatan antara aku dan suami, bahwa tambahan penghasilan di luar gaji merupakan hak masing-masing. Terserah apakah akhirnya akan diberikan untuk keperluan keluarga atau dipakai untuk keperluan pribadi.

Tradisional VS Modern

Clodi. Sling. Medela swing. Baby wrap. Stroller. Baby bouncer. Baby bather. Training pants.

Buat sebagian orang, apalagi yang belum menikah, saya yakin istilah-istilah itu terasa sangat asing. Ha wong saya sendiri waktu hamil 3 bulan, tiap nemu istilah baru pasti langsung ketik di google dan nyari tahu gambarnya (asli ga mudheng) >.< Maka inilah penterjemahan saya atas istilah-istilah itu:

clodi=cloth diapers a.k.a pampers yang bisa dicuci; sling=gendongan modern yang biasanya pake ring; medela swing=pompa ASI elektrik yang paling mahal; baby wrap=gendongan dari kain spandek yang entah gimana makenya; stroller=kereta bayi, ini juga barang mahal; baby bouncer=ayunan versi modern, kaya kursi malas kakinya besi; baby bather=”kursi” buat naruh bayi untuk dimandiin; training pants=celana buat latihan pipis ke toilet

Kata orang, semua barang itu diciptakan untuk mempermudah kehidupan ibu jaman sekarang. Tapi benarkah kita butuh semuanya?!

Ibuk Malang pernah bilang, anak jaman sekarang benar-benar dimanja. Segala kebutuhan ada. Tinggal beli saja. Kalo ibu-ibu jaman dahulu, bikin sendiri semuanya. Saya ingat ibu menjahit sendiri popok-popok, merajut sendiri sarung tangan dan kaki, bahkan membuat sendiri bantal bayi.

Kalau saya disuruh kaya gitu?! Waduuh..ampun! Saya ga bisa menjahit maupun merajut. Saya masih harus beli barang-barang kebutuhan bayi. Namun untuk beli-beli ini, saya masih bersikukuh untuk menjadi ibu tradisional saja. Saya ga pake clodi. Saya lebih memilih pake popok kain biasa dan nyuci popoknya 2x sehari. Gempor?! Iyaa.. Tapi namanya juga ibu-ibu punya bayi. Saya pake gendongan kain yang sama dengan gendongan jaman saya bayi dulu. Saya pake pompa manual karena merasa pompa itu sudah cukup memadai. Saya belum beli stroller karena buat apa bawa nindy pergi jauh lama-lama, orang masih kecil gitu. Pergi sebentar ya digendong saja. Saya tidak punya baby bouncer dan memilih mengayun nindy di pelukan walau bikin kaki pegal (nindy mintanya gendong berdiri, hadeuhh..). Saya ga punya baby bather karena cukup meletakkannya di pangkuan. Apa itu training pants?! Saya sudah mulai mentatur nindy dari usia dia 1,5 bulan.

Intinya sih pilihan ya, buat jadi ibu modern yang memakai semua barang-barang yang harganya subhanallah itu atau menjadi ibu tradisional yang menerapkan pola asuh ala emak-emak kampung. :p
Baca lebih lanjut

Postingan Sebelum Pulang

Ini adalah postingan sebelum pulang (dan mungkin sebelum hiatus untuk 3 bulan ke depan) karena insyaallah mulai besok aku cuti dan insyaallah hari Kamis sudah akan meluncur ke Malang. Ya, aku memutuskan untuk melahirkan di Malang saja. Persiapan?! Nol persen. Belum packing, belum nyari rumah sakit, belum apa-apa… Lalu teringat blog yang kosong selama sebulan terakhir. Jadi kuputuskan yang kulakukan pertama adalah mencorat-coret dinding blog ini dengan rekapan apa-apa yang bisa kutulis sebelum (mungkin) aku tidak bisa posting selama di Malang. 😀

 

Tentang dedek

Hari ini tepat masuk hitungan 36w. Semalam priksa ke RSIA Tambak. Sayangnya dokter Onni sudah menunjuk dokter lain untuk menggantikannya dikarenakan kesibukan beliau melanjutkan studi. Ya sudah deh, sama dokter Ika aja.

Hasil USG dedek menunjukkan kalo dedek baik-baik saja. Alhamdullillah. Semua lingkar kepala, lingkar perut, dan panjang paha berada di kisaran persentil 20-an. BB 2,234kg (kalo ga salah inget, soalnya ini lagi ga bawa hasil USG-nya). Kata dokter Ika itu normal, ga kecil ga besar. Padahal kalo aku lihat di web, harusnya 36w itu 2,3-2,5kg. Padahal ga ada kelainan pada plasenta. Apa dedek nahan makan karena aku suka bilang jangan ngrepotin Ummi, ya?! (yah, kekhawatiran akan proses persalinan pasti ada kan?!) Huhuhu…dedek makan yang banyak ya… Nanti Ummi latihan senam kegel aja ma jalan pagi tiap hari. Yang penting dedek sehat… T-T

Sudah dapat 1 nama kalo dedek lahir cewek. Tapi belum nemu ide kalo sampai dedek lahir cowok. Ternyata nyari nama cowok lebih susah daripada nyari nama cewek!
Baca lebih lanjut

Update

Weew… Sudah lama tidak update. Posting terakhirku tertanggal 4 Mei lalu. 😳

Ibarat rumah yang ditinggal 3 minggu, debunya sudah lengket di lantai, laba-labanya sudah beranak, dan semut-semutnya sudah ganti ratu. Blog yang kutinggal 3 minggu ini statnya jadi mengenaskan, lilypienya ngadat di hitungan 27 minggu, dan tidak pernah ada komentar baru. Menyedihkan. (sok seleb)

Baiklah, marilah kita mulai postingan baru dengan postingan tak bermutu. :mrgreen:

Update kabar:

  • Tanggal 2 Mei adalah milad mz Nug. Aku hanya ngasih kado murah (istri pelit). Juga karena keterbatasan dana kebijakan anggaran ketat, hanya menyiapkan membelikan kue tart yang biasa (pelit kuadrat). Tapi perjuangan belinya itu lho… seru banget! Lari-lari dari tempat liqo ke Tip Top, pulang cepet-cepet dan menaruhnya di kulkas dengan sedikit trik mengelabui biar ga ketahuan. Makanya dia lumayan kaget waktu kubangunin jam 1 pagi. Hanya mungkin karena masih setengah sadar, dengan muka mengantuk dia tiup lilin, bilang makasih, trus ngajakin tidur lagi. Baru paginya dia nanya, itu kue belinya kapan? Disimpan dimana? Kok bisa ga ketahuan? Hoho, nur gitu lho! 😉
  • Dapat kunjungan dari Pakdhe. Beliau ke kontrakan sama mbak sepupu, sama suaminya mbak sepupu, dan sama cucunya a.k.a keponakanku. Mengenai kunjungan ini, aku ingin membuat postingan tersendiri.
  • Dari kantor: monitoring dan evaluasi SOP yang cukup melelahkan. 1 kantor pusat, 1 eselon II, dan 4 kantor di Tangerang. Yang ke Tangerang dibikin PP tiap hari selama 3 hari. Berbuah capek yang teramat sangat. Salah satunya ke STAN, tapi ga sempat mampir kemana-mana, dan ga sempat ketemu siapa-siapa. Hiks!
  • Kunjungan terakhir ke Dokter Onni tanggal 16 pas libur kejepit yang dipaksakan itu. Aku udah naik 8 kg aja lho! Jadi 63 sekarang. Alhamdulillah, dedek sehat dengan berat 964 gram. Perkiraan sementara masih perempuan. Walau sudah merayunya jauh-jauh hari agar dada-dada ketika di USG (kok bisa aku kepikiran dada-dada ya?!), dedek tetep anteng (lah, niru abinya nih, kalem bener). Komentar Dokter Onni: ini hidungnya niru ibunya (jiah, pesek donk?! T-T) tapi bibirnya tipis niru bapaknya. (Padahal aku sungguh berharap dedek secara fisik niru abinya semua aja biar cakep, hahaha) Pas diliat wajahnya itu, dedek ternyata lagi merem sambil komat-kamit. Wuaaa, lucunya… Lagi ngomong apa to, nak?! Lagi wiridan, ya?! (semoga aja bukan bakat cerewet, hihihi)

Sesuai hitungan lilypie, minggu ini dedek udah masuk hitungan 28 minggu. Sudah 7 bulan. Tetap sehat di sana sampai lahiran nanti ya, nak… Ummi sayang dedek… 🙂

Ummi Ga Boleh Bo’ong

Dulu saat aku cerita ke ibu’ kalo’ dedek dah mulai kerasa gerakannya, ibu’ langsung berpesan, “Sering-sering diajak ngobrol!”

Tentu saja dengan polos aku balik nanya, “Ngobrolin apa, bu’?!”

“Ya kalo mau ngapa-ngapain diajak. Sholat diajak, makan diajak… Itu Nug juga kalo mau pergi-pergi pamit dulu ke anaknya, biar anaknya tahu bapaknya mau kemana…”

Sejak itu aku jadi lumayan sering ngajak omong dedek. Awal-awal sempat ragu, bicara sendiri kaya orang ga waras ini ngefek ga ya?! Tapi akhirnya semakin mantap setelah Dr. Onni juga menyarankan hal yang sama. Bahkan beliau mengajarkan triknya. “Kalau ngajak ngobrol, sambil pegang perut. Kalau ga dipegang, kan bayinya ga tahu ibunya lagi ngomong sama siapa.” Oh, begitu…

Mula-mula sih memang respon dedek agak lambat. Selisih beberapa menit baru dia mulai merespon dengan gerakannya. Lama-lama tenggang waktu antara omongan dan respon mulai memendek. Yang bikin aku takjub, adalah bagaimana dia bisa begitu mengerti apa yang kita omongkan. Jadi ceritanya, si Abi kan mulai ikut-ikutan ngajak ngobrol. Tapi dedek sama sekali ga mau merespon abinya. Akhirnya suatu malam, pas lagi sendirian, aku coba membujuk dedek. “Nak, lain kali kalo Abi ngajak ngobrol, dedek njawab ya.. Kan kasihan Abi didiemin terus. Dedek selain nurut ke Ummi, juga harus nurut ke Abi. Dedek ngerti kan?!”

Dan besok sorenya, ketika abinya nyapa, dedek benar-benar merespon dengan tendangannya. Kyaa..subhanallah!

Tapi, kadang aku kena “getah” juga dari aktifnya dedek. Misalnya kemarin. Sebagai hasil dari libur panjang, hari Senin meja di ruangan penuh dengan makanan oleh-oleh dari mereka yang pulang kampung. Salah satunya adalah tape ketan bungkus daun jambu khas Kuningan. Sebenarnya, wanita hamil dilarang makan tape. Tapi karena tergoda, aku makanlah tape itu sebungkus. Sore hari, saat mau pulang, ternyata masih banyak tape yang tersisa. Inisiatif, kubungkuslah empat buah buat mz Nug. Di kontrakan, ketika kusodorkan tape itu, mz Nug ngajakin makan. Aku berkilah, “Adek kan ga boleh makan  tape…”

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba: Dug! Dug!

Eh, dedek protes! Dua kali perutku ditendang keras banget. Buru-buru aku meralat. “Yaa..sebenarnya adek tadi udah makan sebungkus di kantor…” ucapku malu-malu. Melihat itu, mz Nug ketawa ngakak, terus elus-elus perutku. “Dedek pinter ya… Bagus gitu. Jangan tiru-tiru Ummi. Bo’ong itu ga baik..”

(-_-!)

Kena deh!