Ibu Belajar Berjalan, Anak Belajar Berlari

Ada satu hal yang menarik pada pembicaraanku di telpon dengan ibu’ kemarin pagi. Ibu’ mengeluh dirinya tertular flu dari murid-muridnya. Seperti mesin penjawab otomatis, dari mulutku langsung keluar nasehat-nasehat “sok tahu”: ya minum susu, banyakin buah, ma banyakin tidur. Terasa belum cukup, masih kutambahi dengan lebih “sok tahu” lagi: kalau malam jangan nonton sinetron!

Begitu mendengar hal itu, ibu’ langsung membantah, “Apanya yang nonton sinetron. Orang tiap habis maghrib sekarang ngaji!”

Ibu’ kemudian bercerita, sudah sejak beberapa waktu lalu, setiap malam (kecuali malam jumat) sekitar 28 orang ibu-ibu dan bapak-bapak di kampungku belajar mengaji ke Mas Samsuar. Mas Samsuar adalah ustadz yang biasa mengajar ngaji anak-anak kecil di mushola depan rumah. Target Mas Sam, sebelum Ramadhan nanti, ibu-ibu dan bapak-bapak ini harus sudah bisa membaca Al Quran. Itulah sebabnya kenapa pertemuannya intens sekali.

Sebagai kampung di kaki Gunung Kawi, pengetahuan agama Islam penduduknya memang masih rendah. Jaman dulu tidak ada pelajaran mengaji seperti sekarang. Jadi wajar bila banyak dari orang-orang tua itu yang buta huruf hijaiyah. Surat-surat Al Quran diajarkan secara hapalan, sehingga banyak lafal yang salah-salah. Oleh karena itu, selain mengajarkan cara membaca Quran, target Mas Sam lainnya adalah membetulkan hapalan surat.

Aku jadi kagum pada orang-orang tua itu, terlebih pada ibu’ku. Ibu’ kelahiran 1961. Sudah umum diketahui bahwa semakin tua usia kita, semakin susah mengatur lidah. Itu sangat kurasakan saat belajar tahsin dulu. Tentu butuh perjuangan keras untuk belajar lagi di usia demikian, pun semangat yang harus benar-benar terjaga agar tetap istiqomah.

Ketika aku menceritakan hal itu pada mantan Kasubbag (kebetulan kami sedang menjalani acara menginap “Semalam di Tugu Tani”), aku mendapat komentar yang tak terduga. “Itulah Nur, kenapa saya dulu sengaja ambil S2, padahal sudah mau pensiun kaya gini. Itu biar si Anca (nama anak beliau, red) semangat juga belajarnya…”

Wow! Subhanallah! Ibu-ibu ini sengaja belajar selain untuk mengejar ilmu, juga untuk mengajari anak-anaknya bahwa pendidikan itu penting. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup.

Ibu memang panutan anak-anaknya. Apa yang dilakukan ibu acap kali menjadi patokan/standar, juga diikuti jejaknya. Aku punya beberapa teman perempuan yang semangat menyelesaikan studinya dengan alasan malu dengan ibunya yang dulu lulus S2. Buat anak-anak seperti ini, wajib untuk paling tidak mencapai tingkatan yang sama dengan ibunya dulu. Syukur-syukur kalau bisa lebih tinggi.

Hmm…tambah lagi pelajaran smart parenting hari ini: ibu belajar berjalan, anak belajar berlari. :mrgreen:

Pengorbanan Seorang Ibu

“Eh copot eh copot copot
Apa mak yang copot copot
Giginya eh gigi mak copot
Pantes mak pipinya kempot”

Tiba-tiba teringat sekelumit lirik lagu “Mak Inem Tukang Latah” yang dinyanyikan oleh Adi Bing Slamet.

Ini gara-gara sedari pagi tulang-tulang kaki kiriku sakit sekali. Kaya kram rasanya. Bahkan tadi sempat hampir terjatuh saat menaiki tanjakan di depan Gedung Djuanda I.

Trus apa hubungannya dengan lagu tadi?!

Kalau ga salah, ibu hamil akan sering mengalami pegal-pegal karena kekurangan vitamin B12. Oleh karena itu disarankan untuk banyak mengkonsumsi kacang hijau. Seperti biasa, kalau mikirin sesuatu, aku jadi mikirin yang lain. Kekurangan vitamin B12 merembet pada kekurangan kalsium. Iya, ibu hamil juga sering kekurangan kalsium. Kebutuhan kalsium ibu hamil memang lebih banyak dari rata-rata. Oleh karena itu disarankan pula untuk banyak mengkonsumsi susu. Jika tidak terpenuhi, kalsium akan diambil dari tulang dan gigi sang ibu.

Jadi, menurutku (menurutku, karena tadi belum sempat searching mencari sumber yang terpercaya) osteoporosis pada wanita bukan hanya karena kurang asupan kasium ketika muda, tapi bisa juga karena kehamilan.

Dan tiba-tiba saja lagu Mak Inem tadi jadi terasa begitu kejam. Jangan pernah mengejek seorang wanita yang bungkuk karena osteoporosis atau yang peyot karena giginya ompong. Itu adalah bukti pengorbanan ibu pada anaknya tahu!

 

 

 

OK, back to work! :p

Teka-Teki Usia Kehamilan

Perhatian, tulisan berikut khusus untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas. Ehehe, becanda dink!

Kalau ada yang memperhatikan (emang ada yang merhatiin ya?!) widget di side-barku, mungkin akan menemukan keanehan ini:

Our little N: 20 weeks dan 3 days pregnant

Nur & Nug: we have been married for 4 months, 2 weeks, and 6 days

Kalau dihitung kasaran:

Usia kehamilan nur: 20 minggu lebih 3 hari

Usia pernikahan nur: (4×4 minggu=16+2=18 plus 6 hari) sekitar 19 minggu

Lha kok bisa?! Jadi nur hamil di luar nikah??!

Na’udzubillah, amit-amit jabang bayi… :p

Dulu, aku juga termasuk orang yang suka “sesat” menuduh orang lain “yang bukan-bukan”. Baru nikah 3 bulan kok hamilnya dah gede?!

Usut punya usut, dan setelah mengalami sendiri, barulah aku tahu bahwa perhitungan usia kehamilan dimulai dari hari pertama menstruasi terakhir, bukan dari saat pembuahan!  +malu+

Dipikir-pikir, iya juga, dokter mana tahu jadwal “campur” kita ma suami. Diri sendiri saja ga ingat saking banyaknya (dikeplak suami). Apalagi kapan dari saat-saat itu ketika sperma benar-benar bertemu dengan sel telur.

Namun masyarakat secara umum berpendapat bahwa hamil ya sesudah nikah. Jadi usia kandungannya pasti lebih muda dari usia nikah. Oleh karena itu, waktu pertama kali ke dokter, ibu dokter yang bijak banget ini menyarankan, kalau ada orang yang nanya sudah hamil berapa minggu/bulan, jawab saja sesuai usia pernikahan. Biar tidak menimbulkan kecurigaan. Padahal pada kasusku, aku terakhir “dapet” beberapa hari sebelum menikah. Waktu resepsi pun masih “dapet”. Jika usia kehamilan dihitung dari hari pertama “dapet”, wajar jika usia kandungan dengan usia pernikahanku berjarak sekitar seminggu. Lebih tua usia kandunganku daripada usia nikahku.

Jadi, jangan asal nuduh kalo ga ada bukti yaa… 😀

NB: Alhamdulillah, sekarang udah bisa ngerasain dedek secara jelas. Belum tahu dia ngapain aja pas lagi gerak-gerak gitu, tapi lama-lama aku bisa membedakan gerakannya. Kalo aku kerja yang biasa-biasa saja, dia diam (tidur kali). Kalo aku kecapekan atau telat makan (sampe pusing), dia sering protes (“nendangnya” keras banget). Kalo pas istirahat malam, dia cuma nyapa aja, nyendul-nyendul dikit. Subhanallah… 🙂

Our Little N

Ya, dari kemaren kepikiran sebuah ide. Sebuah ide tentang “N family”

Adalah takdir bahwa aku bertemu dan menikah dengan orang yang inisial nama depannya N, pun nama panggilannya diawali dengan N (walau beberapa orang manggil dia mas Guntur sih, hehehe). Sedang aku meski juga punya nama panggilan lain, nama panggilan resmiku adalah Nur dan nama depanku juga Nur. Maka terpikir olehku, lucu kali ya kalo sekeluarga semua namanya dimulai dengan N. Ga saklek-saklek sih, bisa nama depan atau nama panggilan. Tapi kayane nama panggilan lebih seru.

Pak Nugroho… Ibu Nur… mas N… mbak N… dek N…

Dan mulai hari ini pun aku pasang tambahan widget di side-bar dengan judul our little N.

Kya…lucu mbayanginnya. Keluarga N. (>.<)

Walau sekarang belum boleh bikin nama karena belum 7 bulan (denger-denger katanya pamali), mungkin ada di antara om-om dan tante-tante yang mau ngasih ide?! 😀

NB: ide ini bukan terinspirasi dari Perahu Kertas (baru tau tentang “K family” setelah menceritakan ide ini ke Kiky) :p

Harga Sebuah Perjuangan

Sebenarnya kejadiannya sudah lewat 2 minggu, tapi aku masih suka senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya. 😀

Jadi karena aku pernah memposting tentang ngidamku, kali ini aku ingin cerita tentang bagaimana caraku memperoleh keinginanku.

Pertama kali ketika ngidam mie pangsit Malang, aku bela-belain jalan sekitar 300m dari kontrakan untuk mendapatkan cwi mie (tertulis demikian di spanduknya) yang letaknya di depan Pusdiklat Bea Cukai. Ternyata, cwi mienya kaya mie ayam biasa. Sedih banget waktu itu. Ga aku habisin.

Lalu sekitar hari kamis 2 minggu lalu, sempat kepengin makan bubur sum-sum pagi-pagi. Setelah menyetorkan jari-jari ke mesin absen, aku muter kompleks kantor. Tujuan pertama, kantin di Gedung B yang konon menyediakan menu bubur sum-sum tiap pagi. Ternyata tutup. Maka lanjutlah aku jalan menyusuri jalan Wahidin 2. Tetap ga nemu. Sedih lagi. Jumatnya, pas pengin makan opor ayam di kantin basement, ternyata standnya tutup. Hiks!

Dan kesedihanku terbalas pada hari minggu.
Baca lebih lanjut

Aka-chan’s Story (1)

Beberapa hari yang lalu, baru tahu dari sini kalau pada usia kehamilan 18 minggu itu si dedek udah mulai bisa dengar suara-suara.

Yah, maklum sebelum nikah, dan sampai kehamilan 3 bulan, aku belum pernah mencari tahu  ilmu tentang tumbuh kembang janin di dalam rahim. Tapi alhamdulillah, dorongan nurani cukup menuntunku. Dari yang selama ini jaraaaang banget ngajak ngobrol, tiba-tiba hari Senin kemarin ngobrol sebentar ma dedek. Langsung terhenti gara-gara abinya nanya, “Lagi nyanyi?!” Hyaaaa, orang lagi ngobrol sama dedek kok dikira nyanyi :p
Baca lebih lanjut

Kami Pun Berhak Hidup Layak

Teringat pembicaraan hari Ahad lalu:

Mbak2 (Mb2): Suami kerja dimana?

Nur (N): Hmm…pajak mbak… (ragu mau njawab jujur)

Mb2: Wah, enak ya…basah donk…

N: Ehehehe… (nyengir) kebanjiran donk mbak…

Dan kemudian adegan yang sama akan selalu berulang: menjelaskan bla bla bla tentang tempat kerja suami, bahwa tidak semua orang pajak seperti Gayus, bahwa DJP masih terus berbenah, mohon agar memaafkan apa yang sudah terlanjur terjadi, dan seterusnya, dan seterusnya…

Lama-lama rasanya capek juga, harus melakukan pembelaan di depan orang yang baru dikenal.


Baca lebih lanjut