Dewamata, Nara-kun…

Nara-kun e, tengoku ni…

Seharusnya kita lengkap berenam seperti 6 mata cincin ummi ini kan, Nara-kun?! Setiap kali memandang cincin ini, ummi membayangkan 6 n yang lengkap… nug, nur, nindy, nara, nashir, dan nazar.

the ring

Waktu itu sekitar bulan Januari. Entah kenapa ummi tiba-tiba tertarik untuk mencari nama anak laki-laki. Padahal ummi tidak sedang program punya anak. Masih ada spiral IUD di rahim ummi. Namun tiba-tiba saja ummi ingin sekali memberi nama “nara” pada anak laki-laki ummi nanti. Meskipun saat itu ummi tidak tahu apa arti nama “nara”.

Padahal di otak ummi, yang terkenang saat menyebut kata “nara” adalah kuburan di Jepang. Kota tua itu memiliki kompleks makam kuno, persis seperti yang sekilas muncul di salah satu ending song anime Kenshin.

“Nara” pula yang ummi pilih untuk menjadi kampung halaman dari tokoh-tokoh di cerpen ummi ini.

Lalu kenapa ummi memilih kata yang identik dengan kuburan?! Ah, mungkin memang itu sudah “takdir” kita bukan?!

Nara-kun sayang…

Maaf ummi tidak sempat menguburkanmu dengan layak. Entah dikemanakankah “jasadmu” yang hanya 2 cm itu. Mereka tidak pernah menyerahkannya kepada ummi.

Nara-kun…

Suatu saat nanti, insyaallah kita akan bertemu. Semoga kita berenam bisa berkumpul di syurga ya onii-san…

Dewamata, Nara-kun… Ummi selalu menyayangimu…

NB:

  • Tertuju kepada anakku yang belum pernah kutemui, yang keberadaannya tidak pernah kuduga, walau begitu dia tetap anakku juga
  • Ternyata “nara” dalam bahasa sanksekerta adalah titisan dewa Wisnu yang berarti “manusia”. Sumber dari sini.

Bye Bye Kemayoran

Suatu hari di penghujung Desember 2012. Aku turun dari boncengan motor mz nug, lalu memandang sekeliling. Ke gedung KPP Pratama Kemayoran, ke masjid Angkasa Pura, ke gedung RMCI, ke pohon-pohon akasia dan si daun kupu-kupu yang mengapit jalan ber-paving block itu di kanan-kiri. Akankah tahun depan aku masih bisa melihat pemandangan ini setiap pagi?!

Dan ternyata firasatku benar. Tahun ini gelombang mutasi kembali melanda Kemayoran. Salah satu teman mz nug ke Sampit, mas Wida ke Batu Licin, dan mz nug sendiri ke Samarinda.

Bagiku, Kemayoran adalah salah satu tempat yang “masuk ke hati”. Bermula dari sebuah novel Nh. Dini, nama Kemayoran menyelinap ke dalam hatiku. Lalu aku penempatan Jakarta, daerah Senen tepatnya. Maka aku pun mencari kos di daerah yang masih dekat dari kantor. Cempaka Sari, sekitar 15 menit perjalanan dari kantor, disanalah aku tinggal selama 3 tahun pertama. Ternyata daerah ini masih masuk kecamatan Kemayoran. Panas, sumpek, airnya asin, gotnya bau, dan banyak nyamuk. Itulah kesan selama tinggal di Kemayoran.

Suatu waktu gelombang pengangkatan plus mutasi melanda teman-teman sekelasku di STEI. Aku yang saat itu belum dekat dengan mz nug, spontan berbisik “yokatta ne, sempai!” begitu tahu dia diangkat di Kemayoran. Sebegitu saja menyeletuk saat metromini yang aku tumpangi sedang berhenti di salah satu perempatan merah di jalan Bungur.

Kemudian aku menikah dengan mz nug, dan jalurku setiap pagi selama 2,5 tahun adalah Rawamangun-Cempaka Putih-Kemayoran-Senen. Sekarang bertambah Klender sejak kami pindah ke gang kelinci ini. Mengunjungi Kemayoran adalah seperti bermeditasi di tengah heningnya gedung-gedung tinggi. Jalan yang lebar. Gedung-gedung yang sepi. Ah, aku benar-benar akan merindukan bola berputar di atas gedung BMG itu. Juga megahnya warna biru gedung RMCI, walau aku tidak mengerti tulisan latin yang tertera di sana “sola gratia sola fide”?! Entahlah, aku bukan penganut agama itu. 🙂 Juga jalan berkelok yang kukatakan bagian dari Jakarta yang paling menawan. Deretan pohon daun kupu-kupu… Aku akan merindukan bunga-bungamu yang cantik. Pohon akasia di depan Kejaksaan, semoga kamu bisa menang melawan benalu itu. Abang tukang bubur yang buburnya enak banget. Para penjual lain yang aku tidak kenal. Ternyata kenanganku hanya sampai segini saja. Bye Kemayoran… :’)

NB: Terimakasih untuk semua anggota kelompok II. Khususon bapak ketua tim yang baik hati. Teman-teman fungsional semua. Seluruh keluarga besar Kemayoran. Ibu yang menyapaku walau aku ga pernah hapal (maaf ya bu…). Terimakasih semuanya…

Paperbook In Memory

Di sela-sela kesetresan marilah kita membuat postingan ngelantur.

Sepanjang kuliah di STAN dulu, selain dipanggil dengan nama “Sonora”, mbak-mbak kosku juga kadang memanggilku dengan nama “Sunako”. Sunako Nakahara sejatinya merupakan tokoh utama dalam manga Perfect Girl Evolution. Karakternya ANEH (pake kapital), suka menyendiri, sadis, freak, wajahnya jelek, penampilannya berantakan, dan sederet kejelekan lain. Tapi, di balik ketidakberuntungannya itu, terselip satu keberuntungan padanya; yaitu si Sunako ini selalu dikelilingi oleh 4 pemuda tampan. Namun berhubung karakternya yang kaya tadi, tentu saja para pemuda tampan ini mengelilingi Sunako bukan dalam rangka naksir. Hahaha *miris  Selengkapnya cari sendiri deh ceritanya.

Aku memang setuju akan penilaian mbak kosku akan karakterku yang lumayan mirip Sunako itu. Tapi diam-diam dalam hati aku juga menyetujui bahwa aku mewarisi pula sisi lain Sunako. Yaitu keberuntungannya dikelilingi cowok-cowok cakep. Eh, serius?! Iyaaa… serius! Sejujurnya selama hampir setahun aku ber-arubaito alias bekerja paruh waktu sebagai penjaga persewaan komik bernama Paperbook, aku lumayan dimanjakan dengan pemandangan cowok-cowok cakep baik personil Paperbook maupun para penghuni Saung Bandung, kosan cowok tempat Paperbook bernaung. Dan beginilah ceritanya:

1. Kisah Tono, Toni, dan Tino

Tiga serangkai Tono, Tino, dan Toni adalah cowok-cowok lulusan Aktuaria yang sama-sama pinter, cakep, putih, tinggi, dan berbadan bagus ala pemain basket. Tono adalah direktur Paperbook, atau dengan kata lain he was my boss. Beberapa pelanggan Paperbook yang perempuan mengaku tertarik pada mas Tono. Syukurlah, aku tidak sampai jatuh hati karena sudah sifatku dari dulu untuk tidak bisa naksir ke laki-laki yang terlalu ganteng *opo-sih Mas Tono di otakku selain identik dengan “tajir” *eaaaa 😀 juga identik dengan wangi. Iya, wangi! Even habis pulang kerja pun (yang mana tampilan awut-awutannya tetap menggoda) wangi parfumnya masih bisa tercium olehku dari jarak 2 meter *lebay

Yang kedua adalah Toni, penghuni Saung Bandung. Mas Toni ini cowok Lampung, jadi wajar lah ya kalo putih. Sempet punya kisah (to the point aja: naksir) ke mbak kosku yang menjadi manajer Paperbook. Masih teringat di otakku bagaimana mbak kosku ini di hari ultahnya sampe banjir buket bunga. Huaaa… ngiri! Satu buket dari pacar resminya, dan buket lain dari penggemarnya. Ah, itulah keberuntungan wanita cantik. Hehehe. Aku masih ingat bunga-bunga putih itu memenuhi kamar. Keren banget! Juga masih ingat bagaimana mbak kosku ini diajak kondangan ke kawinan saudara mas Toni, yang mengakibatkan mbak kosku yang lain ikutan heboh mendandani mbak kosku ini. Ah, masa lalu 😀 Oiya, yang identik dari mas Toni adalah penampilannya yang selalu rapi.

Yang terakhir adalah mas Tino. Dibandingkan dengan kedua temennya, mas Tino ini adalah yang paling sederhana. Makanya aku sebenarnya tertarik tapi ga berani ngaku karena salah satu mbak kosku ternyata juga naksir dia. Hihihi. Kadang kalo lagi ngomongin mas Tino, kami berandai-andai (eh, apa aku aja ya?!) andai mas Tino dipakein bajunya mas Toni dan dikasih parfumnya mas Tono. Hemm, pasti jadinya perfect. Wkwkwkw…

Pernah ada satu kejadian lucu. Waktu itu aku lagi sendirian menjaga Paperbook yang lagi sepi. Aku duduk di lantai menghadap ke pintu terbuka yang menghubungkan Paperbook dengan Saung Bandung. Rupanya waktu itu mas Tino lagi mandi dan ada anak kosan yang menyalakan alat elektronik entah apa yang intinya menyebabkan listrik di kosan njeglek (Halah, bahasane. Apa sih?! Maksudnya meterannya turun). Aku mendengar mas Tino mengomel jadi aku mendongak dan paaass: melihat mas Tino melintas di depan pintu dengan hanya memakai celana boxer (panjang selutut woy! jangan ngeres dulu). Yang lucu adalah reaksi mas Tino yang tampak kaget sekali begitu melihatku dan langsung balik lagi ke belakang. Selanjutnya dia kembali melintas dengan kaos di badan menuju ke meteran listrik di depan dan menaikkan saklar. Aku tentu saja waktu kejadian tadi juga malu banget dan langsung nunduk (sumpaaahh, ga sengaja mas!) tapi gimana ya…. disuguhi pemandangan indah cowok t*pless dengan rambut basah… *kemudian-mimisan

2. Mas Eko dan Mas Eka

Udah ah, seriusan! Ga boleh cerita jorok lagi!

Mas Eko dan mas Eka adalah salah satu penyumbang buku-buku di Paperbook. Mereka jauh-jauh lebih senior di atasku. Kebanyakan buku yang disumbang mas Eko adalah buku-buku serius. Pintu kamar mas Eko berhadapan dengan pintu penghubung Paperbook ke Saung Bandung, jadi kalo kedua pintu itu sedang terbuka, aku bisa melihat sebagian isi kamar mas Eko yang menurutku cukup rapi untuk ukuran cowok. Aku ga pernah ngobrol dengan mas Eko karena orangnya serius dan pendiam, yang selalu membuatku sungkan kalo ketemu. Setelah bekerja, aku bertemu mas Eko ketika sedang monev ke kantor sebelah. Tak kusangka, beliau sudah menjadi Eselon IV di kantornya. Wew! Emang orangnya pintar sih… Yang jelas agaknya beliau sudah ga ingat dengan wajahku.

Sedang mas Eka hanya pernah kubaca namanya di buku-buku keagamaan yang ada di Paperbook, tanpa sekali pun pernah bertemu. Dan kemudian siapa sangka, takdir mempertemukan dan menyatukan kami. Ya, disinilah kami berada. Di unit Eselon II yang sama. Benar-benar ya, dunia hanya selebar daun kelor. Saat ini beliau sudah memiliki 5 orang anak :p

3. Para yunior: Soni, Sunu, Sani

Soni adalah yunior yang paling menyenangkan. Dia benar-benar serupa adik bagiku. Tingkahnya yang slengekan semakin membuatku gemas-gemas sebal. Di antara semua kamar di Saung Bandung, hanya ke kamar Soni lah aku pernah masuk sendirian, tentu saja pas lagi ga ada orang, semata-mata untuk mengambil buku-buku Paperbook yang selalu saja lupa dia kembalikan ke raknya. Benar-benar penjaga paling ceroboh! Tapi paling aku sayang. Hehehe. (note: sayang sebagai adik lho ya!)

Sunu berasal dari Bali. Para penghuni kosan cewek di depan Paperbook (kalo ga salah) banyak yang meleleh oleh ketampanan wajahnya, sehingga aku kebagian tugas menyampaikan salam-salam itu. Si Sunu ini (mungkin karena beda budaya) suka membuatku jengah dan malu kalo dia ke Paperbook dengan hanya bercelana pendek sehingga ketika dia duduk celana itu akan naik ke atas dan menampakkan sebagian pahanya. Aurat ihhh… Sunu adalah tamu pria pertama dalam hidupku (aku saat itu belum pernah berbincang berdua saja dengan laki-laki) saat dia ke kosanku untuk mengambil sesuatu dan akhirnya ga bisa pulang karena terjebak hujan. Eh, aku udah nawarin untuk minjemin payung lho! Tapi mungkin dia lagi butuh teman ngobrol saja. Dialah yang mengajariku cara menikmati hujan berpetir. Satu-satunya memori paling menyenangkan darinya.

Sani adalah penjaga Paperbook yang kariernya paling singkat. Orangnya hitam manis dengan perwakan tinggi besar. Keberadaan Sani semakin menegaskan betapa di Paperbook aku dikelilingi banyak laki-laki tampan dan wanita cantik sedang aku menjadi satu-satunya itik buruk rupa. Tak perlulah dijelaskan lagi soal banyaknya cewek yang naksir dia, tapi yang jelas kisahnya berakhir manis karena sekarang dia menikah dengan temanku dan kini mereka sedang menanti kelahiran anak kedua. 🙂

4. Para ikhwan: Hasan, Husein, Akhmad

Hasan adalah salah satu ikhwan di Saung Bandung. Sebagai ikhwan, tentu saja aku ga banyak cakap dengannya. Memori pertamaku adalah saat aku terjebak oleh hujan dan ga bisa pulang, Hasan dan Mas Tino sama-sama menyodoriku payung. Tentu saja aku lebih memilih meminjam payung Hasan ketimbang menerima tawaran dari mas Tino. Lebih karena sama Hasan aku pasti ga ada apa-apa sih. Kalo minjem punya mas Tino kan nanti bisa-bisa kebawa mimpi. Hihihi. Memori keduaku adalah saat kami sama-sama mengikuti tes D4. Cuma pandang-pandangan dari jauh, sambil bilang dalam hati, “oh, dia ikutan juga to?!” Hasil akhirnya kami sama-sama keterima D4. Bedanya dia langsung masuk sedang aku setelah perjalanan panjang akhirnya ga jadi masuk D4. :p Memori terakhirku dengannya adalah saat psikotes untuk para pelaksana. Aku saat itu termasuk gelombang dua. Jadwal tes siang. Aku sampai di tempat tes dengan dianter mz nug. Saat itu aku sedang menyusui nindy, jadi bawaannya laper mulu. Karena kelaparan, aku pergi duluan meninggalkan mz nug yang sedang memarkir motor. Aku cuek makan bekal di pos satpam (kebetulan saat itu kosong) ketika rombongan gelombang pertama berhamburan keluar dari gedung tanda tes sudah selesai. Aku melihat dengan sudut mata segerombolan laki-laki berjalan ke arahku sambil membawa nasi kotakan hasil pembagian dari panitia. Seperti biasa, aku ga memandang wajah-wajah mereka. Begitu dekat, salah satunya berkata padaku, “Boleh duduk di sini, mbak?!” Aku bilang silakan tanpa memandang wajah si pembicara. Orang yang berbicara tadi akhirnya duduk paling dekat denganku, sementara teman-temannya duduk di sekeliling kami. Aku sebenarnya ga enak berada di tengah pria kaya gitu, apalagi dari perawakannya pastilah mereka dari salah satu unit di instansiku yang isinya cowok semua. Tapi mau pindah kok males. Kan aku yang duluan duduk. Lalu datanglah mz nug, yang spontan berseru menyapa laki-laki di sebelahku. Aku akhirnya mendongak memandang wajahnya. Ternyata Hasan! Dia juga kaget melihatku. Dia pun menyimpulkan dari keberadaan aku dan mz nug kalo kami sudah menikah. Dia bertanya untuk memastikan dan kami jawab iya. Kemudian dia langsung menggoda mz nug dengan mengatakan bahwa berarti sejak Paperbook dulu kami sudah saling naksir. Kami serentak menjawab enggak seperti itu ceritanya.

Husein adalah yunior. Beda dengan Hasan yang pendiam, Husein ini cerewet banget. Berhubung sudah sejak dulu aku males dengan cowok yang terlalu cerewet (kecuali adikku Aziz :D) maka aku pun paling males nanggepin adik yang satu ini. :p

Akhmad adalah ikhwan yang paling misterius. Sejujurnya, sepanjang berada di Paperbook, aku sama sekali tidak tahu nama ikhwan ini. Bahkan ga tau letak kamarnya yang mana. Dia sangat sangat super duper pendiam. Saat Saung Bandung rame di malam minggu pun karena semua anak kos yang ga ngapel pada nonton Liga Inggris, aku jarang banget melihat penampakan batang hidungnya. Kesempatan melihat dia nongol hanya saat adzan berkumandang, karena dia akan segera berangkat ke masjid terdekat. Satu-satunya informasi yang terekam di otakku adalah bahwa mas Akhmad ini seangkatan dengan mbak kosku, artinya hanya setingkat di atasku, berdasarkan kaos Dinamika yang dia kenakan. Selebihnya, aku ga tau apa-apa. Cuma memang, setiap kali melihat dia berkelebat, aku merasakan perasaan aneh. Jelas bukan perasaan naksir. Di kemudian hari, barulah aku mengerti perasaan itu. Ialah firasat akan takdir kami di masa depan. Karena ya, dengan akhmad inilah aku sekarang menikah. 🙂

So Hasan, begitulah aku dan mz nug menikah. Tidak, tidak ada naksir-naksiran sepanjang masa Paperbook itu. Kenal nama aja tidak. Tapi memang begitulah Tuhan bermain-main dengan takdir. Kalo ga gini kan ceritanya ga bakalan menarik. 🙂

Lem Povinal

Siang ini aku lagi asyik memindahkan pembukuan kas ketika kusadari ternyata ruangan sudah sepi. Orang-orang keluar mencari makan siang. Yang tersisa adalah satu dua orang yang kebetulan mendapatkan makan siang konsumsi rapat. Aku tidak termasuk kedua himpunan itu, karena aku membawa makan siangku sendiri dari rumah, buah kreasi masak tadi pagi.

Sembari menempel catatan kas yang sudah kuketik rapi ke buku kas yang baru, tiba-tiba perasaanku kelu. Sebabnya sangat sederhana. Ialah lem yang kupegang.

Lem cair merk Povinal

Terus terang, lem ini membangkitkan kenangan sedihku. Kurasa tak banyak orang yang kenangan sedihnya bangkit ketika melihat sebotol lem. +rool eye+

Adalah Ayah, pada sekitar tahun 90-an, yang selalu membawa pulang lem merk povinol ini sepulang beliau dari TPS. Jaman Orde Baru, pegawai negeri diwajibkan menjadi anggota partai pemerintah. Itu tak ada urusan denganku. Yang kubenci adalah, saat PEMILU, pegawai negeri terutama guru diwajibkan juga menjadi anggota Panitia Pemungutan Suara.

Itulah sebabnya aku membenci PEMILU. Karena setiap kali PEMILU berlangsung, aku harus ditinggal ayah dan ibu yang keduanya berprofesi guru untuk menjadi panitia PEMILU. Tak tanggung-tanggung, perginya itu dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore! Maka inilah yang terjadi padaku sepanjang PEMILU Orde Baru:

  • Pemilu Tahun 1987: Aku yang masih berusia 2 tahun, akibat ditinggal ibu dan begitu lama tidak mendapatkan ASI, sejak itu aku tidak mau minum ASI. Jadi tidak seperti adikku, aku tidak melewati ritual sapih-menyapih.
  • Pemilu Tahun 1992: Aku bersama adik yang masih berusia 2 tahun, dititipkan ke tetangga. Karena kurang pengawasan, atau karena aku lagi linglung, jariku terbakar korek api.
  • Pemilu Tahun 1997: Tak banyak yang kuingat selain karena aku sudah lumayan besar, juga karena sudah biasa ditinggal.

Saat ini, aku sudah bisa ikut PEMILU. Ayah dan ibu sudah tidak wajib menjadi panitia TPS. Tapi tetap saja aku membenci PEMILU. Karena saat PEMILU, sering kali pilihannya tidak ada yang sreg di hati :p

Kaze-san è

Musim gugur tahun ini datang di dini hari
Dedaun menguning mengiring redup harap di hati
Menghembus dingin,
satu persatu luruh dalam sisa kabut
Kubur jejakmu dengan hitam daun
Menyisa lengang jalan, lengang diriku di ujung.

Masih juga seperti dulu, kasih, aku bertahan
Ikhlas melepas kenangan
Sesampai nyanyi sunyi, senada alunan sepi
Kuhapus luka dengan air mata. Sudah kering semua.
Kau tahu?!
Duka kan menguatkanku!
Pilar dari prasasti kemenangan bernama kedewasaan.

Hingga tiba hari ketika kusongsong musim semi.

Yang Pertama

Akhir-akhir ini aku merasa, kebanyakan tulisanku berisi tentang pengalaman pertama. Rata-rata sih berupa hal-hal ga penting seperti pertama kali naik pesawat, pertama kali ke musium, pertama kali dateng ke pameran foto, dll.

Ah, kenapa ya, aku suka mengingat sesuatu yang terkait dengan “pengalaman pertama”?! Atau sebenarnya kecenderungan ini bukan pada diriku saja?

Khusus pembaca perempuan, boleh lanjut… hehehe ^-^v

Baca lebih lanjut

Lintasan Kenangan

Juli 2008

Selasa siang yang biasanya terik kali ini tak terasa menyakitkan. Jam 2 tadi aku mengantarnya sampai ke stasiun. Melihat kereta yang perlahan menjauh meninggalkanku, tenggorokanku serasa tercekik. Dengan susah payah kusembunyikan air yang mulai menggenang di mata. Kupaksakan menampilkan padanya, senyuman termanis yang kupunya.

Kembali ke kantor, mencoba bekerja seperti biasa, tapi ingatanku selalu tertuju padanya. Sudah sampai manakah? Amankah di kereta? Nyamankah perjalanan? Kukatakan pada rekan sekerja betapa aku merasa sangat kehilangan.

Sore hampir maghrib. Sempat aku menghilangkan gundah dengan menyapa seorang pria tampan yang kebetulan jalan searah pulang denganku. Selama percakapan, sempat kuterhibur dan bisa melupakannya. Tapi begitu kami berpisah dan aku terpaksa sendirian, kerinduanku kembali membuncah.

Gontai. Kunaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kuputar kunci dan kubuka pintu. Berantakan. Sisa-sisa kekacauan tadi pagi. Ah, baru beberapa jam yang lalu ia masih berada di sini, setelah selama 3 hari kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sehelai kertas tergeletak di lantai. Dengan berdebar kupungut, berharap ada tulisan tangannya di sana. Namun tak ada. Kecewa, kulihat sekeliling. Berharap lagi untuk menemukan sisa-sisa jejaknya yang tertinggal. Namun tak juga kumenemu. Dengan putus asa kuhempaskan tubuh ke ranjang –ranjang yang selama 3 malam ini ditidurinya-. Sedikit pun tak tercium bau tubuhnya. Kenapa? Kenapa dia pergi bagaikan kabut? Pergi begitu saja tanpa setitik pun jejak tersisa?

Aku merindunya. Aku sungguh merindukannya. Tak kusangka menghantarkan kepergian, jauh lebih menyakitkan daripada pergi itu sendiri. Aku gugu. Baru kusadari, betapa selama ini sudah berkali-kali hatinya tersayat melihat kepergianku.

Agustus 2008

Sudah sebulan, keluhku dalam metromini yang melaju menghantarkanku pulang ke kosan. Kupandang jalanan di luar -jalan yang pernah aku lewati bersamanya-. Masih terik matahari di senja Agustus yang kering ini. Dia tidak pernah tahan dengan hawa panas Jakarta, kenangku. Juga polusi di dalamnya. Tapi dia suka sekali naik bajaj. Meski aku sudah pernah mengajaknya naik busway yang jauh jauh lebih nyaman itu, dia lebih suka memintaku untuk naik bajaj. Aku teringat kesabarannya menanti bersamaku selama 4 jam untuk bisa naik ke puncak monas. Dia begitu tegar. Padahal pastinya migrain yang biasa dia derita itu telah menyerang, tapi dia tetap tersenyum, mengalah pada keinginan adikku. Kini aku tersenyum getir merinduinya.

Ah, tunggulah! Tunggulah hingga sebulan lagi. Aku akan pulang.

Okasan, aishiteru!

Akhir-akhir ini jadi makin sering posting ngaco. Ini tulisan isengku beberapa bulan lalu. Bagian akhir emang kutambah-tambahin se, sebuah pemikiran dan perasaan nyata yang tak sempat kutuliskan dulu. Hehehe, senang bercerita dengan bahasa kacau seperti ini. Tapi emang sih, aku tak pernah berhenti merindukan ibu’ku. ^_^