Tentang Makanan dan Apa yang Kau Makan

Sekitar 2 minggu lalu aku nonton Oprah. Yang dibahas waktu itu adalah sebuah film berjudul Food Inc. Food Inc adalah film dokumenter nominasi Oscar 2010 yang mengungkap “kejahatan” di balik industri makanan Amerika. Walau terjadi di Amerika, namun film ini layak dijadikan bahan pertimbangan, BARANGKALI makanan yang kita makan sama “mengenaskannya” dengan keadaaan makanan di sana.

Segmen pertama film ini meneliti produksi daging industrial di Amerika Serikat. Bagaimana ayam diternakkan secara instan dalam 49 hari (dulu perlu waktu 3 bulan) dengan antibiotik dan tanpa pernah melihat sinar matahari. Sapi diberi makan jagung sehingga dagingnya seringkali tercemar bakteri E-coli yang bermutasi (korban kebanyakan adalah anak-anak yang lambungnya masih lemah). Di segmen ketiga nanti akan digambarkan bagaimana industri mengatasi masalah E-coli ini. Alih-alih memberi makan sapi-sapi itu dengan rumput, mereka justru menyemprot daging-daging yang sudah dipotong itu dengan amoniak! :muntah

Segmen kedua mengulas tentang produksi industrial benih dan sayur-sayuran (terutama jagung dan kacang kedelai) yang ternyata telah menjadi bahan baku hampir semua produk: kecap, burger, cola, pakan ternak, hingga baterai!

Segmen terakhir adalah tentang ekonomi dan kekuatan hukum dari perusahaan-perusahaan makanan besar. Ternyata, subsidi di Amerika diberikan kepada petani jagung dan para peternak besar, agar mereka bisa menyediakan pangan yang murah bagi seluruh rakyat Amerika. Apakah pangan yang murah itu? Tak lain adalah fast food. Hamburger seharga $99 sen (ga nyampe $1). Yang mengenaskan, harga sayuran segar di sana lebih mahal daripada harga sebuah burger. Ada adegan yang membuatku mengelus dada. Ketika satu keluarga berbelanja ke supermarket, si adik ngiler ingin makan pear. Si kakak meraih sebutir pear dan memasukkan ke timbangan. Melihat harga yang tertera di sana, si kakak berkata, “Tidak, kita tidak punya uang untuk membeli ini”. Fast food membuat obesitas menjadi penyakit yang umum di Amerika, temasuk penyakit-penyakit turunannya (keluarga “miskin” tadi menghabiskan $11 untuk membeli makan sekeluarga berupa fast food, tapi membutuhkan $130 untuk membeli obat bagi diabetes ayah mereka)

Bagi yang tertarik menonton film itu secara lengkap, dapat diunduh di sini. (tidak disarankan buat yang jijikan!)

Ketika aku membicarakan film itu dengan adikku, dia bilang, “Ayam di sini juga kaya gitu”. Si Kiki (temen sebelah meja) malah bilang kalau temennya yang kuliah di peternakan pernah bercerita, ada peternakan ayam di Indonesia yang mengamputasi kaki ayam-ayamnya agar ayam tersebut ga jalan kemana-mana. Karena ayam tersebut cuma bisa duduk saja, daging mereka jadi lebih cepat besar. Astaghfirullah…

Buah-buahan Indonesia sendiri juga ga luput dari rekayasa. Semangka disuntik pewarna biar merah, asinan mangga dicelup pewarna kain biar kuning. Di desa mbahku, seorang petani bercerita bahwa sawah yang sudah pernah ditanami melon, untuk tanaman berikutnya tidak perlu dipupuk karena pupuk di tanah tadi sudah sangat berlebihan.

Bingung nyari makanan yang aman?! Sepertinya kita memang harus menerapkan pola lama: makan secukupnya dan tidak berlebihan. Inget ga?! Dulu yang namanya makan daging ayam paling banter ya sebulan sekali pas ada selamatan. Selebihnya sayur, tempe tahu, ma ikan-ikan yang terjangkau: ikan asin, ikan pindang, mujaer dari Bendungan Karangkates. Sayur juga kadang ngasal aja: ada rebung ya rebung, syukur-syukur kalau ada jamur di pekarangan pas musim penghujan, bunga buah pisang, daun singkong, bayam…

Tapi kalau hidup di kota susah juga ya… :p

NB: gambar diambil dari sini

Cileungsi e Ikimashita

Rabu malam, aku mendapat sms dari ibu: Diah, jare paklik lara. Tilpunen. Ndek kene gak iso ngubungi. (kira-kira bunyinya begitu) Waktu itu aku masih di kantor, lembur. Kucoba menghubungi nomor paklik, tak tersambungkan. Ya sudah. Kupikir paling sakit biasa saja.

Sepanjang sisa minggu, pulsaku mepet di bawah sepuluh ribu. Aku masih ingat harus nelpon paklik. Tapi karena beda operator, aku takut pulsaku ga cukup. Sabtu sore, baru pulsa kuisi lagi. Minggu pagi, aku masih nyuci ketika Aceng tiba-tiba naek ke atas. Aku lari sembunyi ke kamar, menunggu sampai dia selesai dengan urusannya. Sambil nunggu, aku ingat janjiku menelepon paklik.

Baca lebih lanjut

Karada ga futotte imasu ka?

Kemaren, waktu mau jalan ke kamar mandi, ketemu ma ibu-ibu dari ruangan sebelah. Maunya nyapa, eh ternyata beliaunya yang nyapa aku duluan:

“Mbak Nur sekarang gemukan ya…”

Ya, ampun!! Padahal perasaan waktu nimbang kemaren beratku masih “normal” (normal maksudnya sama dengan berat waktu kuliah ^_^). Tapi ga tau juga, kalo emang badanku sekarang mulai menggembung. Yah, anak perempuan emang paling sensi masalah berat badan. Padahal yang penting kan kesehatan?! Menurutku, yang harus diperhatikan sebenarnya cuma dua hal berikut:

1. Body Mass Index

Ukuran ini mudah ngitungnya, tinggal membagi berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Range-nya untuk yang di bawah angka 18, berarti dia “masih terlalu kurus” dan harus menambah beratnya biar ideal. Idealnya adalah antara 18-23 (kalo ga salah inget). Lebih dari 23 berati gemuk, sedang lebih dari 25 berarti Anda sudah over weight. Hmmm…berdasarkan perhitungan terakhir, body mass index-ku masih 20,5. Yaah..masih bisa dibilang ideal kan?! kqkqkq….

Kalo ga mau susah-susah ngitung, aku inget ada timbangan berat badan yang langsung bisa menghitungnya. Kalo di kosan lama (jaman kuliah dulu) ada timbangan macam itu. Ga tau merk-nya apa. Dari Jepang kayanya. Soalnya keterangannya pake hiragana dan kanji. Wah, jangan sampe masuk zona futotteru atau futotteiru deh!

2. Lingkar perut

Nah, yang ini dapetnya dari acaranya Oprah, Dr Oz. Kata dia, lemak paling jahat adalah yang di perut. Dia nyebutnya lemak pada omentum. Omentum ini berada di sebelah luar dinding perut, lebih deket ke kulit luar, bentuknya semacam jaring yang fungsinya emang buat “menangkap” lemak. (kaya ikan aja) Kalo lemak banyak bertumpuk di sini, resiko kena serangan jantung lebih tinggi. Nah, buat mengukur apakah omentum kita berlebih dalam “menangkap lemak”, kita ngukurnya pake meteran biasa aja alias mengukur lingkar perut. Idealnya, lingkar perut buat cewek adalah 32,5 inchi sedang buat cowok 34 inchi. Tapi mungkin aku salah inget. Yang lebih mudah adalah “lingkar perut tidak boleh lebih dari setengah tinggi badan”. Ini mudah, tapi buat mewujudkannya susah. Hmmm…aku aja tinggal selisih 3 cm dari batas maksimalku. Huhuhu…serem banget deh! (mungkin emang bener kata ibu-ibu tadi T-T) Oia, ngukurnya pas di bagian puser ya… ^_^

Selain ukuran-ukuran tersebut di atas, tentu saja banyak aspek lain yang harus diperhatikan seperti tekanan darah, tingkat kolesterol, dsb. Tapi kan yang begitu-begitu susah ngukurnya… hehehe

Yah, semoga postingan pertamaku ini sedikit berguna bagi pembaca.

Selamat mengukur….