Tautan

Ada pada beberapa orang, ketika pertama bertemu, hati ini seketika bertaut, entah oleh rasa apa.

Juga ada pada beberapa, seiring dengan berjalannya masa, membangun tautan dari yang tak kasat mata hingga menjulang mengangkasa.

Namun sayang ada pada beberapa pula, sejak pertama jumpa, bahkan telah melewati berpuluh waktu, tak kunjung dapat menemu titik temu.

Maka untuk yang terakhir, tak perlulah memaksakan diri. Tautan yang dipaksa hanya akan menyakiti.  Tak perlulah bermain hati. Dia akan tahu kemana seharusnya dia berlabuh.

 

 

(lama ga bikin tulisan kaya gini, jadi kaku banget… ah, saya sudah menjadi terlalu teknis)

 

Kisah Dara

Alkisah, Si Coklat -ayam babon, induk dari semua ayam-ayamku- dengan anehnya tiba-tiba mengerami telurnya yang baru dua butir. Suatu anomali, karena biasanya dia bisa mengerami telur hingga belasan dan menetaskan lebih dari 7 ekor anak ayam yang lucu. Tapi karena dia adalah si Coklat, babon kesayangan Ibu yang apapun perbuatannya akan selalu dimaafkan, maka perbuatannya kali ini pun kami maklumi.

Setelah 21 hari, salah satu telur itu menetas. Seekor anak ayam berbulu kuning keluar dari dalamnya dengan cekatan. Cekatan? Iya. Karena dari awal dia sudah tampak begitu kuat. Cairan dan darah yang meliputi tubuhnya dia bersihkan sendiri. Begitu kering, dia sudah lari-lari di sekitar petarangan. Mematuk-matuk mata induknya, bersembunyi di bawah sayap si Coklat… pokoknya benar-benar usil. Si Coklat mengamati anak pertamanya itu (pertama untuk kloter ini). Kok kuning ya? Eh, tapi ada beberapa helai bulu coklat kecil di sela sayapnya. Syukurlah… dia memang anakku. :mrgreen:

Baca lebih lanjut

Sekedar Omong-omong, Setelah Akhirnya Aku Bisa On-line Lagi

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi…”
Itulah selarik kalimat dalam lagu milik Dewa (hm, Dewa apa Dewa 19 sih?) yang beberapa hari lalu suka berdenging di telingaku.

Dan di bawah ini dua puisi (ntahlah, mau disebut puisi atau tulisan ngaco) yang kutulis selama kegiatan arisan Dharmawanita di biroku. Karena aku merasa sepi di tengah keramaian ibu-ibu itu.

***

Lelaki Hujan

Lelaki hujan menyelinap lewat lenyap malam.
Jejaknya sirna diiris liris gerimis.
Perempuan mimpi makin asyik merajut sepi
terkungkung jeruji keangkuhan yang ia bangun sendiri.
Sadar tlah ditinggalkan.

Malam kian sunyi.
Sepertinya memang ia tak kan balik lagi.

***

Mimpi Siang Hari

Ku ingin kau merantaiku, lalu menyeretku ke sana
Seperti manusia purba kita hidup bersama
Kau berburu, aku menjaga rumahmu.
Bila ku menolak, kau tak segan memukulku.
Aku budakmu, tapi juga cintamu
Bersama kita nyalakan api untuk anak kita.
Dalam gua, akan lahir ratusan cucu, cicit, dan moyang
Karna hidup panjang seribu tahun bukan bualan.

Hanya keinginan, lelakiku, hanya mimpiku.
Jangan gugu senyum dikulum begitu!

***

Kata Ncep, tulisan yang kedua seperti aku seorang… apa? pencinta KDRT? Yang kubaca lagi memang kedengaran seperti sadomasokis. (tulisanè bener ga siy?) Ya nggaklah, aku masih mencintai kedamaian hidup. And I’m straight.