Balik Jaman Kuliah

Apanya?!

Bokeknya.

Hahaha….

Jadi semenjak kerjanya udah nerima gaji full (kalo 850rb/bulan itu mah ga usah dihitung ya… ) alhamdulillah ga pernah ngerasain lagi yang namanya saldo tabungan di bawah 100rb. Somboong… Ya kan aku emang orangnya medit, jadi walau ada duit selalu dieman-eman. Tanggungan ngasih ortu ga ada. Paling kalo udah ngumpul banyak bisa mbeliin tv, hape adek, ikutan urunan beli mobil… Gaya hidupku juga sederhana. Jarang makan di tempat hip, ga ngikutin fashion, ga perawatan badan, pokoke ga neko-neko. Alhamdulillah sih berkat hidup kaya gitu pas nikah tabungannya bisa dipake buat resepsi yang 2 hari 1 malam itu (biasa, nikah ala kampung). Pas setelah nikah juga bisa buat DP rumah.

Namun roda kehidupan memang benar-benar harus berputar. Setelah ngerenov rumah, lalu lahiran sesar yang biayanya tinggiiii sekali (yang kupikir bisa ditalangi mz nug namun ternyata mz nug ada tanggungan lain), aku kini dihadapkan pada kenyataan bahwa bayar ART sekarang itu MAHAL jendral! Hampir ga ada ART yang mau ngurus bayi dengan bayaran 800rb/bulan. Rata-rata minta 1jt. Lha sekarang kan kami mempekerjakan 2 orang, jadi 2 jt/bulan. Belum ibu cuci PP yang kami bayar 500rb/bulan. Kenapa sok-sok an pake ibu cuci?! Soalnya bayinya kembar jadi cucian menggunung. Makan waktu banget kalo harus ngurusin nyuci setrika pula. Lalu tiba-tiba Budhe (ART yang sepuh) protes ga mau disamain bayarannya dengan yang muda dan ngancem mau balik kampung, sehingga kami gajilah sesuai yang dia minta yaitu 1,5jt. Maka demikianlah, keluarga ini harus membayar 3jt/bulan untuk ART saja.

Belum cicilan KTA. Belum cicilan koperasi. Belum biaya air dan listrik yang membengkak gara-gara cucian yang banyak dan AC yang hampir ga pernah mati. Belum biaya transportku yang lebih mahal daripada nebeng mz nug dulu. Belum belanja bulanan yang jadi luar biasa karena yang dikasih makan memang jadi tambah banyak.

Maka aku pun berputus harapan dengan file excel yang dulu rajin kuisi itu. Ngenes bok lihat angkanya! Jadi aku putuskan untuk merubah (lagi) metode pengelolaan anggaran rumah tangga. Kali ini mau coba pake sistem amplop dan pemisahan rekening.

Kelemahan sistem yang dulu adalah tabungan dan uang belanja bulanan tergabung dalam satu rekening. Ini menyebabkan kalo pas kebalasen make tabungan aku masih bisa excuse: yah, bulan depan harus diganti. Rasa “kere” itu ga pernah muncul karena melihat bahwa saldo tabungan penuh terus, padahal isinya tabungan, bukan uang belanja!

Sekarang aku sudah mindahin tabungan ke rekening tabungan khusus. Jadi kliatan sih betapa mengenaskannya posisi keuangan kalo lihat jumlah tabungan yang ngumpul ternyata enggak seberapa. Hehehe. Lalu rekening gaji dan TC (opo iku?! tunjangan As, barangkali kamu bakal nanya :D) bener-bener buat belanja aja. Yang mandiri buat bayar tagihan-tagihan, yang BRI buat belanja bulanan. Hasilnya? Ya itu tadi, saat akhir bulan begini beneran bokek. Saldonya di bawah 100rb. Udah deh, diemlah kalo kaya gini. Ga berani neko-neko. Kerasa bener “kere”-nya.

Sampe-sampe tadi pagi pas Kasubbag mau pinjem uang 500rb gara-gara beliau ga bawa ATM, jawabanku adalah: maaf banget mbak, saya lagi ga punya uang. (iya,  soale ATM yang isinya tabungan sengaja ditinggal di rumah)

Yak, makan siang di warung “murah baek” aja yuk! *nyiapinkakibuatgempor

Uangku Uangku, Uangmu Uang Kita

Wiii… melihat judulnya pasti deh langsung berpikiran miring:

Ih, nur, ga nyangka kamu sematre itu!

Tenang sobaaatt… di sini aku akan menceritakan kronologisnya.

Jadi pada suatu masa, seorang gadis yang baru lulus sekolah ikatan dinas, bekerja pada departemen yang kata banyak orang sebagai tempat basah. Setelah 3 tahun kenyang hidup pas-pasan (di pinggiran Jakarta) dengan uang kiriman 300rb per bulan, uang 850rb honor-pertama-yang-masih-jauh-di-bawah-UMR-Jakarta baginya merupakan anugrah tak terhingga. Apalagi setelah genap statusnya sebagai PNS. Terima gaji 100% plus tunjangan. Semua terasa berlebih sekali buat gadis yang biasa hidup sederhana ini. Namun dengan semua itu, tak terlalu banyak yang berubah dari kehidupannya. Dia masih berpikir berulang kali untuk membeli lauk ayam/daging di warteg. Masih berpikir banyak bagaimana caranya supaya bisa ngirit. Masih jarang beli baju dan terus mengandalkan lungsuran. Kebiasaan  yang sudah bertahun-tahun melekat tentu saja susah dihilangkan.

Dengan semua habit itu, yang berubah cuma satu: nilai tabungannya. Tak tanggung-tanggung, dari lima digit menjadi delapan digit. Si gadis yang merupakan anak pertama ini memang tidak dibebani tanggungan keluarga. Hanya sesekali dia membelikan barang yang lumayan mahal untuk adiknya atau mengirim untuk orang tua. Selebihnya, orang tuanya ngotot bahwa mereka masih bisa menanggung sendiri biaya sekolah anak kedua. Maka si gadis memutuskan, tabungannya yang lumayan itu akan dia pergunakan saja untuk biaya nikahnya nanti.

Sampailah satu ketika dimana si gadis bertemu pemuda yang mau menikahinya. Mereka sepakat, sang pemuda akan menanggung 70% biaya resepsi dan si gadis sisanya. Tabungan pemuda memang hanya cukup untuk itu. Tidak masalah, kata si gadis. Karena walau menanggung 30% biaya resepsi, sisa tabungannya masih cukup untuk membayar kontrakan rumah. Di titik ini, si gadis merasa senang karena langkah pengiritan yang dia lakukan sudah benar. Tabungannya ternyata sangat berguna.

Beberapa bulan sebelum menikah, si gadis bersama atasan dan temannya harus melakukan dinas ke luar kota. Di dalam mobil yang menuju kantor daerah, atasan si gadis menyinggung kebiasaan irit si gadis. Ibu atasan ini mengkritik sifat irit si gadis yang menurut beliau agak keterlaluan. Beliau menceritakan kisah teman seangkatannya yang sudah lebih dulu pensiun.

Dulu, bu nana (sebut saja demikian) itu suaminya kerja jadi pemahat es buat hotel-hotel. Keluarga mereka lumayan berkecukupan, bisa beli rumah mewah di tahun-tahun dimana pegawai departemen kami (yang saat itu cuma menerima gaji tanpa tunjangan) kalo hidup lurus-lurus saja bakal sering kekurangan. Singkat cerita, bu nana ini adalah orang yang sangaaatt irit. Saking iritnya, semua tambahan penghasilan dia simpen dalam bentuk emas, emas, dan emas. Pokoknya beliau ini suka sekali investasi emas. Pernah bu nana dan bu atasan semasa muda sama-sama diklat. Sepulang diklat, mereka mendapat uang transport yang cukup banyak. Bu atasan menghabiskan uang itu buat beli baju suami dan anak-anaknya, juga kosmetik buat dia. Sementara bu nana membelanjakan semua uang transportnya buat beli emas. Sifat irit ini membuat bu nana suka lupa dengan penampilan. Beli baju yang murah-murah. Makan yang murah-murah. Karena suaminya bosan diajak ngirit terus (penghasilan gede tapi kehidupan kaya orang susah), maka si suami ini lari dengan perempuan lain. Tinggallah bu nana dengan harta peninggalan suaminya, tanpa suami di sisinya.

Intinya, bu atasan menasehatiku untuk tidak terlalu irit. Secukupnya, asal tidak dihambur-hamburkan. Bersenang-senang untuk diri sendiri itu perlu. Kalo nasehat yang sering beliau katakan sih, “Perempuan itu ga boleh kurang sajen”. Tentu bukan sajen pake susuk biar suami tetap lengket, tapi perhatikan penampilan jangan sampai suami bosan.

Semenjak itu dan setelah membaca banyak artikel keuangan dan artikel keluarga, aku akhirnya tahu: pos entertainment dan me time itu sama sekali ga haram!

Jadilah aku yang dulu kekeuh ngekepin duit, sekarang ga terlalu khawatir udah ngabisin dana cadangan buat bayar DP rumah (tapi tetep dalam tahap ngumpulin lagi sih). Beda banget ma diriku yang dulu yang takut banget kalo sampai uang habis. Rela beli baju buat suami dan anak yang agak mahalan (tapi kalo buat diri sendiri masih belum bisa, hehehe). Makan juga hampir selalu ada protein hewani sekali dalam menu seminggunya. Memang kalo untuk urusan penampilan seperti yang dibilang atasanku tadi aku masih belum mampu (sisa kebiasaan tentu masih ada). Tapi aku sekarang sedang mencoba untuk lebih menikmati hidupku tanpa perlu sepanjang waktu mikirin keuangan.

Btw, setelah mendapat teguran dari temanku di sini, aku jadi galau dan membahas komennya dengan beberapa orang yang sudah mengenalku dari lama. Dari mbak rosa (kasubbag), menurut beliau, beliau senang melihat keadaanku sekarang yang sepertinya lebih enjoy menikmati hidup. Sedangkan Ncep sepertinya tergolong aliran konservatif walau memaklumi keputusanku dengan mempertimbangkan kemajuan jaman sekarang. Mbak prih (walau ga kutanya) ternyata juga termasuk aliran konservatif. Inti golongan ini adalah, aneh aja seorang ibu setelah punya anak masih kepikiran mentingin diri senang-senang  sendiri. Karena pusing, puyeng dan mulai goyah dengan prinsipku semula, kuadukanlah hal ini pada suami. Dan inilah pendapat suami:

Iya, di Islam itu sebenarnya kewajiban istri adalah berbakti pada suami. Thok! Ga pake yang lain-lain. Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah, makanan, tempat tinggal yang nyaman untuk istri membesarkan anak, juga pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Jika istri bekerja, uang itu adalah uangnya. Merupakan ibadah baginya bila ia ikhlas memberikan uang itu untuk kebutuhan keluarga. Sedangkan uang suami adalah uang keluarga, karena laki-laki diberi kelebihan kekuatan untuk bekerja dibanding wanita.

Hm…senada ma tulisan ini dan ini deh… 🙂

Jadi?! Ya begitu. Suami aja bilang gitu. Makin jelas deh. Uangku uangku, uangmu uang kita. Walau end up-nya simpenan yang ngotot disimpen ini pastinya akan balik ke keluarga. Tapi kan enak gitu kalo ngerasa masih punya uang pribadi yang bebas untuk suka-suka. 😀

Tambahan: Yang kumaksud “uangku” di sini adalah uang tambahan seperti uang makan, honor tim, dsb. Sementara gaji dan tunjangan seluruhnya memang ditujukan untuk keluarga. Ini sudah kesepakatan antara aku dan suami, bahwa tambahan penghasilan di luar gaji merupakan hak masing-masing. Terserah apakah akhirnya akan diberikan untuk keperluan keluarga atau dipakai untuk keperluan pribadi.

Menghadapi Kenyataan

“The truth will be never shared to anyone”

Sekelumit lirik lagu Bravery dari Laruku itu mengingatkanku pada keadaanku saat ini. Berbulan-bulan lampau, saat aku mulai kuliah di STIE, aku memperhatikan sesuatu yang menurutku agak ganjil. Sebagian besar teman kelasku terdiri dari pegawai Pajak. Tapi ada pula yang dari DJA, Setjen, BPK, BPKP. Pegawai Pajak katanya penghasilannya jauh lebih besar daripada pegawai Kementerian Keuangan lainnya. Namun yang kulihat, malahan anak Setjen atau DJA bisa lebih mentereng. Hape-nya lebih bagus. Barang-barangnya lebih  berkelas. Aku berpikir: kenapa bisa begitu?!

Aku juga punya teman akrab. Dia menikah dengan kakak kelas. Dua-duanya kerja di DJP. Tapi sampai sekarang, hingga mereka mempunyai satu anak, mereka masih tinggal di kontrakan yang sama. Terakhir ketemu, gadget yang dipegang juga biasa saja.

Setelah menikah dengan orang Pajak, akhirnya aku bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi.

Iya, walau penghasilan besar, tapi kalau yang ditanggung juga banyak, maka keadaannya akan sama saja dengan orang yang penghasilannya sedang-sedang saja.

shashin ni wa utsuranai tsukuri egao no shita no kimochi nante zettai ni

Maka inilah aku, menyadari akan kekuranganku, memahami akan kemampuanku. Selamat tinggal mobil impian. Aku tidak akan memaksakan diri untuk meraihmu. Mari kita mulai lagi merencanakan keuangan dengan mempertimbangkan segala kondisi yang ada. Baru satu tahun. Jalan masih terbentang. Pelan-pelan semua mimpi itu pasti terwujud. Insyaallah.

NB: Bravery- lagu yang diciptakan Tetsu untuk mengingatkan penggemar mereka agar tidak terlalu nyinyir terhadap keputusan yang telah dia ambil. Hei, kamu ga tau kan yang sebenarnya terjadi?! Jadi ga usah banyak komentar deh!

Sayang Uang

Memang ya, menikah itu merubah banyak prioritas.

Tadi pagi ada temen yang ngajakin urunan buat beli sio may. Aku tanya, berapa? Dijawab 30 ribu. Dan aku pun langsung memutuskan tidak. Walau beresiko nggak enak karena ga ikut rame-rame menanggung beban bersama, tapi rasanya sayang aja aku njajan sendiri habis 30 ribu sementara kas keluarga bulan ini defisit hampir 3 juta *usap peluh (dan sekarang cuma bisa memandang sedikit ngiler pada sio may yang teronggok tapi ga berani ngambil karena gengsi dan ga enak hati :oops:)

 

Eh tapi tapi, kalo liat mainan lucu buat Nindy kok masih suka ga tahan godaan ya?! Buat beli baju mz Nug juga biar mahal dengan enteng bilang: ah gapapa… Sementara diri sendiri rasanya sudah berbulan-bulan baju ga ganti-ganti. Ayo-ayo, lungsuran baju, datanglah padaku!! *oramodal