Blog Bapak-Bapak

Tidak banyak blog milik laki-laki yang kuikuti. Apalagi laki-laki yang sudah berkategori bapak-bapak dan menulis tentang dunia rumah tangga! Mungkin kebanyakan laki-laki memang seperti itu, jarang omong. Dan kalo pun ngomong ga suka membicarakan hal-hal pribadi. Dua orang bapak-bapak yang hobi “nyinyir” dan “nggedabrus” soal macem-macem dari politik, ekonomi, sampe keluarga yang setia aku ikuti adalah pakdhe mastein dan (adhek?!) zeeden. Tapi karena mereka lebih sering ngomongin masalah sosial, jadi aku ragu untuk memasukkan blog mereka dalam kategori blog bapak-bapak. Yah, anggaplah blog mereka itu blog “laki banget”. *berharap-tidak-jadi-ditimpuk-sendal-karena-sudah-bilang-nyinyir 😀

Sementara blog laki-laki lain yang kuikuti adalah blog reviewnya bang Ando. Namun beliau belum bapak-bapak sih ya… Begitu pun dengan si Feris. Oiya, dulu aku juga mengikuti blog suaminya Reni, si mas ipin, yang sayang sekali begitu jadi bapak malah jarang up date kabar.

OK, kembali ke topik. Sejauh ini, blog bapak-bapak yang kuanggap sebagai blog “bapak tulen” ada 2:

1. Blog Abi Fata dan Husna

Blog ini milik… err, siapa ya namanya? Pokoknya suaminya mbak inge, senior di STAN yang baru kukenal via blog baru-baru ini. Maaf ya mbak, aku stalking blog suamimu. Menurutku isinya keren dan bermanfaat semua. Sayang tentu saja aku malu untuk meninggalkan komen. Namanya juga stalker*ngintip-dari-balik-tiang-listrik

2. Blog Hubby’s Note – Our Little Kingdom

Lagi-lagi jangan tanya namanya ya. Kalo istrinya yang punya blog sih namanya mbak kiky, kerja di kantor sebelah, manggil suaminya dengan sebutan mamas. Jadi tentu jangan harap aku manggil mamas juga *dilempar-pot-bunga. Nyasar ke sini tentu saja setelah baca blog istrinya. Seneng baca karena banyak hal dari sudut pandang bapak-bapak dijelaskan di sana. Dari cara memotret anak hingga rincian perjalanan jauh kalo lagi bawa mobil sendiri. Lumayan buat dikirim link-nya ke suami. (walaupun belum punya mobil, hahaha)

Sebenarnya ada satu bapak-bapak lagi yang pernah aku baca blognya tapi sekarang ga nemu lagi, yaitu blog suaminya mbak heni. Aduh, kemana sih tulisan-tulisan mas aryo itu mbak?! *serius-mode-on

Kepada (Para) Lelaki

Sewaktu SMA dulu, aku pernah menasihati adikku, “Ziz, kalo kamu nanti udah gede, kalo misalnya lagi di mikrolet atau bus kamu liat ada perempuan atau ibu-ibu yang berdiri dan ga kebagian tempat duduk, kamu kasih tempat dudukmu ya…” Adikku yang masih SD itu cuma ngangguk-anggguk dan bilang, “Iya, mbak”.

Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin menasihatinya seperti itu. Mungkin karena waktu itu aku masih “mreman” (sekarang juga masih se) sehingga sering tidak ada yang peduli padaku. Bahkan pernah, ketika dalam satu bus, hanya aku seorang diri berdiri, dan di antara laki-laki itu tak ada yang memberikan tempat duduknya padaku.

Seperti aku mengakui kelemahan-kelemahanku sebagai perempuan (walau kadang aku mengingkarinya), atau keyakinanku bahwa darah bangsawan itu benar-benar ada, maka begitulah aku percaya bahwa laki-laki diciptakan LEBIH  daripada wanita. Dengan kekuatannya, dengan kelebihan otaknya.

Tapi aku heran…cenderung tak habis pikir, kenapa kebanyakan laki-laki sekarang jadi lebih “lembek”?! Di bus-bus, jarang sekali ada yang mau mengalah tempat duduk. Di terminal-terminal, asyik saja mereka merokok, tak peduli ada perempuan, apalagi perempuan hamil atau yang bawa anak kecil, duduk di sebelahnya. Ketika menyeberang, mereka bahkan berjalan di sebelah kanan, membiarkan si wanita yang menjadi “tameng” mereka.

Tidak. Aku tak meruntuk semua lelaki. Aku hanya meruntuk mereka yang kehilangan sifat laki-laki.

Mungkin kau protes… itu perempuan kalo janjian selalu molor, kelamaan dandan! Ok, aku mengakui kelemahan wanita itu (walau aku ga termasuk, setidaknya menurutku). Dan karena itu kelemahan wanita, maka betapa mengenaskannya jika itu menjadi kelemahan pria. Hei, kenapa bisa ngaret? Kalian kan ga butuh dandan??!! Sungguh, aku tidak bisa menerima kelemahan macam itu!

Yah, biarlah, sebelum puasa marah-marah dulu. Kan kalo puasa harus mengekang emosi. Hee… <nyengir>

Second Chance

Suatu sore, aku, seorang teman perempuanku, dan seorang teman laki-lakiku sedang ngobrol ngalor-ngidul. Televisi di dekat kami kebetulan sedang menayangkan acara infotainment. Yang dibahas kalo ga salah tentang berita perceraian Pasha Ungu.

Tiba-tiba, ada satu pertanyaan aneh tercetus dariku: “Eh, misal, salah satu pasangan kalian -entah suami atau istri gitu- berselingkuh, terus tobat, minta maaf, dan pengin balikan sama kamu, apakah kalian akan menerimanya?”

Suasana hening. Aku memandang kedua temanku, lalu menyadari bahwa pertanyaanku salah alamat, karena diantara kami tidak/tidak akan pacaran serta sama-sama belum pernah menikah. Mwehehe…

“Yah, seandainya saja sih…” ulangku mencoba memancing.

“Nggak” kata si Pemuda tegas.

“Nggak akan maafin? Meskipun dia udah memohon-mohon? Dan berjanji ga akan mengulang?”

”Ya kenapa dia ga bilang-bilang?! Itu artinya ga jujur…”

”Ya kalo jujur mah namanya bukan selingkuh,” putusku. ”Kan bisa aja dia selingkuh karena ”kecelakaan”. Misal kalo cowok gitu pas digoda banget ma cewek, trus ga sengaja gitu…”

”Iya. Kan dalam pernikahan kadang bisa aja aku bosen ma kamu (maksudnya siy MISAL) trus juteeek banget dan pengin curhat ke orang lain…” imbuh si Gadis.

”Tetep nggak,” balas si Pemuda.

Aku memandang Pemuda yang bersikukuh dengan jawaban ”nggak”-nya itu. ”Emang semua cowok gitu ya? Susah maafin??” simpulku dengan prihatin.

”Rata-rata iya,” jawabnya.

Selama beberapa hari, jawaban itu terus terngiang-ngiang dalam telingaku. Waduh, kenapa ternyata laki-laki itu susah sekali memaafkan? Bisa kiamat donk, kalo terlanjur melakukan ”kesalahan fatal” dan suami nanti tidak memaafkan?!

Tak selang beberapa waktu, terjadilah kejadian yang bisa dianggap hampir serupa. Ada seorang laki-laki dan perempuan yang selama ini meskipun terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya memendam dendam kesumat di hatinya (di hati si lelaki maksudnya). Aku pernah juga sih, berselisih paham dan saling ga enakan dengan si perempuan, bahkan hubungan buruk itu berlangsung selama beberapa bulan. Namun setelah permintaan maaf ba’da Idul Fitri lalu, hubungan kami terasa membaik. Dan sekarang malah ”mesra-mesranya”. Celakanya, hubunganku dengan si Lelaki malah jadi memburuk karena kedekatan itu. Ah, kenapa tak mencoba memaafkan? Kenapa tak mencoba memberi kesempatan kedua?

Memang sih, hanya Allah yang Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Tapi kurasa, setiap orang juga punya hak untuk meminta kesempatan kedua. ^_^