Tentang Pilihan

“Bego banget sih, udah 12 tahun nunggu dan ga nonton?!”

Mungkin akan ada yang mengatakan hal itu kepadaku. Secara sekarang aja aku masih histeris dan nangis-nangis membaca komentar orang-orang yang nonton konser Laruku semalam.

Iya, 12 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menyebut sebuah penantian. Dari SMP aku sudah membayangkan bisa hadir di konsernya. Dan tentu bukan tanpa BANYAK alasan aku tidak menontonnya. Siapa sih yang ga pingin sing along bersama hyde dan ribuan cielers?! Siapa sih yang ga pingin ikutan nangis menyanyikan “anata” di bawah gerimis?! Siapa sih yang ga pingin ikutan merinding ndengerin “the 4th avenue cafe”?! Siapa sih yang ga pingin ketawa bareng ndenger banyolan ken?! Aku juga pingin dapet lolipop or bulu angsa dari tetsuya…

Tapi aku punya anak bayi yang sudah sering kutinggal. Tapi aku masih menyusui (gimana kabar PD nanti kalo ga disusukan berjam-jam?!). Tapi aku ga mau sendirian desek-desekan malam-malam tanpa muhrimku di sisiku. Tapi aku ga mau ujan-ujanan sampe sakit yang bisa menular ke anakku.

Hidup itu pilihan. Dan jujur, air mata yang tumpah saat ini adalah air mata bahagia. Aku bahagia mendengar cielers semua yang puas dengan konser semalam. Aku bahagia melihat Laruku yang terlihat enjoy konser di sini. Aku sudah mengambil pilihan, dan aku tentu saja akan menanggung semua konsekuensinya.

Apa yang kualami sekarang membuatku teringat masa 2 tahun lalu. Ketika aku mengundurkan diri dari percaturan kursi DIV. Temanku mencemooh aku di notesnya, menyebutku pengecut. Hei, aku bukan tanpa BANYAK alasan memutuskan itu. Kamu tidak tahu betapa banyak air mata tertumpah ketika memutuskannya.

Rasa-rasa dengan umur kepala 2 sekarang, tidak pada tempatnya mencemooh pilihan orang lain. Kita masing-masing sudah dewasa. Kita tentu sudah bisa mengetahui konsekuensinya.

NB: note to myself. Jangan pernah nyalahin pilihan orang lain!