November

Penuh warna.

Ada yang sedang menikmati indahnya pengantin baru, ada yang sedang bahagia dengan kehamilannya, ada yang harap-harap cemas menunggu kelahiran putrinya, ada yang baru saja mendapat momongan, ada yang sedang menyesuaikan diri dengan rumah barunya, ada yang sedang bersiap dengan ujian DIII khususnya, ada yang sepertinya ingin menikah november tahun depan

Walau hari hujan, walau hari mendung, tetaplah dalam keceriaan..

Dan Nindy, sudah 3 bulan. Dan kami, hampir satu tahun menikah. Dan aku,semalam pukul 21.15 adalah jam kelahiranku, 26 tahun lalu. Karena penanggalan hijriah berganti mulai magrib, maka lahirku terhitung tanggal 8 dzulhijah. Jadi sampai sebelum magrib nanti, aku masih berhak merayakan (?) malam kelahiranku. Dua malam sebelum malam takbiran hari raya besar. Itulah sebab aku menyandang Fauziah sebagai nama belakang.

Kalau kamu, ingatkah kamu pada masa kelahiranmu?!

Update

Weew… Sudah lama tidak update. Posting terakhirku tertanggal 4 Mei lalu. 😳

Ibarat rumah yang ditinggal 3 minggu, debunya sudah lengket di lantai, laba-labanya sudah beranak, dan semut-semutnya sudah ganti ratu. Blog yang kutinggal 3 minggu ini statnya jadi mengenaskan, lilypienya ngadat di hitungan 27 minggu, dan tidak pernah ada komentar baru. Menyedihkan. (sok seleb)

Baiklah, marilah kita mulai postingan baru dengan postingan tak bermutu. :mrgreen:

Update kabar:

  • Tanggal 2 Mei adalah milad mz Nug. Aku hanya ngasih kado murah (istri pelit). Juga karena keterbatasan dana kebijakan anggaran ketat, hanya menyiapkan membelikan kue tart yang biasa (pelit kuadrat). Tapi perjuangan belinya itu lho… seru banget! Lari-lari dari tempat liqo ke Tip Top, pulang cepet-cepet dan menaruhnya di kulkas dengan sedikit trik mengelabui biar ga ketahuan. Makanya dia lumayan kaget waktu kubangunin jam 1 pagi. Hanya mungkin karena masih setengah sadar, dengan muka mengantuk dia tiup lilin, bilang makasih, trus ngajakin tidur lagi. Baru paginya dia nanya, itu kue belinya kapan? Disimpan dimana? Kok bisa ga ketahuan? Hoho, nur gitu lho! 😉
  • Dapat kunjungan dari Pakdhe. Beliau ke kontrakan sama mbak sepupu, sama suaminya mbak sepupu, dan sama cucunya a.k.a keponakanku. Mengenai kunjungan ini, aku ingin membuat postingan tersendiri.
  • Dari kantor: monitoring dan evaluasi SOP yang cukup melelahkan. 1 kantor pusat, 1 eselon II, dan 4 kantor di Tangerang. Yang ke Tangerang dibikin PP tiap hari selama 3 hari. Berbuah capek yang teramat sangat. Salah satunya ke STAN, tapi ga sempat mampir kemana-mana, dan ga sempat ketemu siapa-siapa. Hiks!
  • Kunjungan terakhir ke Dokter Onni tanggal 16 pas libur kejepit yang dipaksakan itu. Aku udah naik 8 kg aja lho! Jadi 63 sekarang. Alhamdulillah, dedek sehat dengan berat 964 gram. Perkiraan sementara masih perempuan. Walau sudah merayunya jauh-jauh hari agar dada-dada ketika di USG (kok bisa aku kepikiran dada-dada ya?!), dedek tetep anteng (lah, niru abinya nih, kalem bener). Komentar Dokter Onni: ini hidungnya niru ibunya (jiah, pesek donk?! T-T) tapi bibirnya tipis niru bapaknya. (Padahal aku sungguh berharap dedek secara fisik niru abinya semua aja biar cakep, hahaha) Pas diliat wajahnya itu, dedek ternyata lagi merem sambil komat-kamit. Wuaaa, lucunya… Lagi ngomong apa to, nak?! Lagi wiridan, ya?! (semoga aja bukan bakat cerewet, hihihi)

Sesuai hitungan lilypie, minggu ini dedek udah masuk hitungan 28 minggu. Sudah 7 bulan. Tetap sehat di sana sampai lahiran nanti ya, nak… Ummi sayang dedek… 🙂

Arti Memberi

Di blog ini, temanku berkata ingin memiliki seorang sahabat. Sejak membaca tulisan itu aku bertanya-tanya, “Ya, bagaimanakah caranya mendapat sahabat?”

Semasa SMP, Nur terkenal sebagai orang yang judes dan sombong. Aku tidak pernah menyapa teman-temanku. Sebenarnya bukan tidak mau menyapa, tapi memang “tidak bisa menyapa”. Lidahku selalu kelu ketika harus melakukannya. Aku terlalu pendiam dan rendah diri. Mungkin latar belakang hidup 7 tahun jauh dari tetangga yang membuatku seperti itu. Entahlah. Yang jelas, waktu itu bisa dikata, aku tak punya teman.

Namun semua berubah sedikit demi sedikit sejak SMA. Di SMA, aku punya klik yang terdiri dari anak-anak Kabupaten dan anak kota lain. Kami memang minoritas diantara anak-anak asli Kota Malang. Dengan adanya klik, kami bisa saling menguatkan. Masuk kuliah, hidup sebagai anak kos memaksaku belajar bersosialisasi dengan orang lain. Sekarang, meski sebenarnya rendah dirinya masih ada, tapi kurasa, aku tak sependiam dan setertutup seperti dulu.

Aku akhirnya menyimpulkan, untuk memiliki seorang sahabat, atau paling tidak beberapa teman, kita dululah yang harus bersedia menjadi sahabat atau teman bagi orang lain. Dalam Pelatihan Pra Jabatan yang baru kuikuti beberapa minggu kemarin, diajarkan dan ditekankan pentingnya prinsip memberi. Rosul juga mengajarkan tentang tangan di atas yang lebih baik dari tangan di bawah. Memberi, adalah suatu prinsip alam. Pohon-pohon memberi buah; binatang menjadi sumber protein, menjadi teman, memberikan keindahan. Matahari memberi sinar, hujan memberikan kehidupan. Alam selalu memberi, tanpa pernah menuntut kita memerikan balasan atas apa yang sudah mereka lakukan.

Memberi juga merupakan salah satu prinsip dalam persahabatan. Menjadi teman dulu, baru beroleh teman. Memberikan diri untuk menjadi sahabat dulu, baru kita mendapatkan persahabatan dari orang lain. Namun memang, mempertahankan persahabatan adalah bagian yang lebih sulit daripada mencari sahabat itu sendiri. Berusaha menjadi sahabat yang baik membutuhkan kesabaran dan energi yang besar. Paling tidak, kita harus selalu siap ketika sahabat kita membutuhkan, mau mendengarkan keluh kesahnya padahal kita juga sedang kesusahan.

Di luar konteks persahabatan, ternyata konsep memberi tetap berlaku untukku. Dulu, aku tidak pernah bisa dekat dengan anak kecil. Setiap kali aku mendekati seorang anak kecil, dia selalu lari, atau paling tidak, menunjukkan sikap ketakutan yang sangat. Aku sampai merasa putus asa, mempertanyakan “keperempuanku”. Namun, setelah aku mencoba menghilangkan perasaan-perasaan buruk dalam diriku, kini dengan sedikit senyuman, meski masih agak kaku, aku mulai bisa berdekatan dengan makhluk-makhluk lucu itu ^^. Dalam Musashi, aku pernah membaca (sayang tak bisa kutulis lengkap di sini, aku lupa itu di jilid berapa) bahwa “seorang anak kecil pun mengerti tentang kecantikan yang murni”. Ternyata dengan memberi maaf, aku bisa memperoleh suatu “hidup yang lebih baru”.

Dan kemarin, Allah telah genap memberikan 23 tahun kesempatan hidup padaku. Entah berapa tahun, berapa bulan, atau berapa hari lagi kesempatan itu akan diberikan padaku. Aku berharap, dengan semakin berkurangnya umurku, semoga sisa umurku adalah umur yang barokah, dan aku bisa semakin dewasa dalam menjalaninya. (Dan semoga doa-doa teman-temanku yang diberikan padaku kemarin dikabulkan oleh-Nya) Amin… ^_^