Bukan Sok-sokan, Tapi Keterpaksaan

Memang kok, manusia itu harus disentil dulu baru nyadar… 😛

Sepanjang hidup, aku ga pernah ngalamin yang namanya harus diet. Bahkan saat hamil pun, rasanya aku ga pernah over weight. Dengan tinggi 159 cm dan berat badan di kisaran 60-an, aku selalu dimanja dengan BMI yang senantiasa berada di kisaran normal, ga pernah lebih dari 23. Ya pernah sih khawatir waktu habis lahiran nindy, BB stuck di angka 62. Tapi walau beberapa kali bilang mau diet, kata-kata itu hanya sampai pada taraf manis di bibir saja, belum pernah terwujud dalam tindakan nyata.

Hingga teguran itu datang…

Hari Jumat kemarin, seperti biasa aku melaksanakan piket bagian. Yang dimaksud piket adalah berada di kantor hingga pukul 18.30 sebagai tindakan preventif kalau-kalau ada penugasan dadakan sesudah jam kerja. Seharusnya sih memang sampai pukul 18.30, tapi aku selalu membandel, pulang habis magrib saja.

Kemarin itu aku keluar kantor sekitar pukul 18.15. Perkiraanku, aku akan naik KRL nomor KA 644 yang biasanya melintas di st Juanda pukul 18.40. Namun, begitu sampai di stasiun, aku melihat tumpukan penumpang di peron. Layar penunjuk memberitahukan, KRL Bekasi terdekat yang akan melintas adalah KA 634.

Sebentar. KA 634?!

Aku kaget. Karena KA 634 adalah KRL yang biasa kunaiki ketika pulang di jam normal. Jadwal dia melintas di Juanda adalah pukul 17.19. Selanjutnya adalah KA 636 di pukul 17.37. KA 640 di pukul 18.06. Lalu KA 644. Namun di layar petunjuk, diberitahukan bahwa saat itu di belakang KA 634 adalah KA 640 dan tidak ada tanda-tanda dari KA 644. Jadi sudah telat begitu, KA 636 juga tidak ada?!

Hiks! Jadi hari itu ada gangguan?!

Dengan gelisah aku menuju peron tempat gerbong 6 akan berhenti (penumpang commuter punya kebiasaan naik gerbong yang itu-itu saja). Disana aku bertemu bapak-bapak yang biasa kubarengin (walau aku ga kenal). Kok belum pulang pak? Ada gangguan? Tanyaku. Dan dijawab oleh bapak itu bahwa sejak pukul 5 sore tadi memang tidak ada KRL Bekasi melintas.

Alamak!

Dari peron kulihat KA 634 yang ngetem karena tertahan sinyal masuk St Juanda. Aku galau. Ikut ga ya? KRL ini pasti bakal padet banget. Tapi tadi di layar dikatakan kalo KA 640 sudah berada tepat di belakangnya. Jadi kupikir gangguan sudah berlalu dan kereta akan berjalan lancar tanpa ditahan-tahan. Apalagi aku tadi terakhir makan nasi pukul setengah 5. Jadi kayane kuat lah energiku untuk berdesak-desakan di kereta…

Setelah 15 menit tertahan, kereta pun datang. Bismillah, aku naik dan langsung menempatkan diri di bagian tengah. Strategi kalo kereta diprediksikan bakalan padat: jangan berdiri di pinggir! Karena ketika posisi miring, kamu akan tergencet oleh penumpang lain.

Masuk gambir, tertahan lagi. Tapi masih biasa. Masuk manggarai tertahan lagi. Itu juga biasa. Di manggarai banyak orang masuk lagi, padahal kulihat ada KRL Manggarai-Bekasi ngetem di jalur 1. Sampai jatinegara, kereta makin penuh. Jendela-jendela sudah dibuka tapi udara makin pengap saja.

Di cipinang, kereta tertahan setengah jam.

Aku lupa sejak kapan, aku punya kebiasaan kalau oksigen menipis, maka aku lebih cepat sesak napas daripada orang lain. Misal saat AC di kantor mati atau kelamaan berada di kamar mandi. Jadi aku sadar kalo aku masih bisa bernapas, tapi aku merasa kaya ga ada apa-apa yang masuk. Semacam tidak ada oksigen yang diikat. Dugaan ngawurku sih karena HB-ku yang hampir selalu rendah. Padahal HB berfungsi mengikat oksigen. Jadi kalo oksigen menipis (oksigen ya, bukan udara 😛 ) semakin sedikit pula oksigen yang bisa dibawa oleh darah.

Kembali ke kereta. Aku mulai sesak napas. Saat itu aku masih sempat memasang status di fesbuk, mengumpat kenapa kami ga dikasih waktu barang 15 menit aja biar KRL bisa ngetem di Cakung. Karena di st Cipinang itu tidak ada peron, jadi kami berhenti dalam keadaan pintu tertutup dan AC minimal. Pingin lompat keluar jadi ga bisa kan?! Yang bikin sebal, sempat kulihat salah satu dari 4 kereta yang mendahului kami adalah kereta barang tanpa peti kemas! Subhanalloh, rasanya kami dianggap lebih rendah daripada barang!

Ketika kereta jalan, aku merasa badanku mulai gemeteran. Rasanya pingin minta duduk, tapi apa alasannya?! Aku ga pernah pingsan. Bahkan saat saluran ovariumku pecah dan hampir kehabisan darah pun aku ga pingsan. Aku pernah mendengar kalo orang mau pingsan itu didahului dengan pusing. Sementara aku tidak merasa pusing, hanya lemas dan gemeteran. Tahan nur, tahan. Tinggal 3 stasiun lagi.

Lepas Klender, aku makin gemeteran. Rasanya tak tertahan lagi, tapi aku yakin diriku kuat. Saat itu tiba-tiba bapak-bapak di sebelahku berteriak: kasih duduk donk! Ada orang mau pingsan ini! Aku yang lemas masih menolak dan bilang, gapapa pak. Saya kuat! Tapi orang-orang memaksa duduk. Saat itulah, peristiwa paling menakutkan kedua dalam hidupku terjadi:

Kedua tanganku kaku! Semua jariku mengejang seperti orang stroke. Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kedua tanganku. Aku kaget. Panik! Takut! Orang-orang juga panik. Tangan kananku dipegang bapak-bapak, tangan kiriku dipegang mbak-mbak. Mereka bilang tanganku dingin banget. Aku lihat telapak tanganku yang putih memucat seperti tidak ada aliran darah disana. Mereka mengoleskan minyak angin dan memijat tanganku. Aku mencoba menggerakkan kedua kakiku, untunglah bisa! Aku takut sekali kalo sampai stroke. Masih muda kena stroke. Anak-anakku nanti bagaimana?

Alhamdulillah, seorang bapak yang berdiri di sebelah kiriku ternyata bisa urut. Dia memijat beberapa titik di lengan dan punggungku. Aku merasa kesemutan seluruh badan. Tanganku pelan-pelan mulai bisa kugerakkan. Warnanya mulai memerah tanda aliran darah sudah kembali. Bapak di sebelah kananku memberiku minum. St Klender Baru aku lewatkan. Orang-orang menyarankan agar aku ikut kereta balik. Tentu saja aku ikuti saran itu, wong berdiri saja belum mampu.

St Bekasi. Orang-orang turun, orang-orang naik. Mereka yang naik memandangku dengan heran. Wajah lusuh, jilbab berantakan, air mata masih mengalir sisa-sisa kepanikanku. Aku telpon mz nug sambil menangis. Ga kebayang jika hal buruk tadi terjadi. Ga ada saudara. Fuad sudah jauh di Kalimantan sana. Siapa yang bakal menjemputku? Uh, susah sungguh hidup sendiri tuh…

Besok sorenya, aku pergi ke klinik dekat rumah. Aku jelaskan permasalahanku, kekhawatiranku. Aku berkata bahwa aku tidak pernah punya asma (tapi kata dokter ternyata asma juga bisa muncul ketika dewasa). Dokter memeriksa jantungku, paru-paruku. Semua normal. Tekanan darah normal. Tidak anemia juga. Jadi?

Ibu harus olahraga!

Huahahaha… jadi aku kurang olahraga? Dugaan dokter, mengingat aku punya riwayat alergi juga (eh, sungguh ya, alergi itu penyakit sepele yang efeknya ga sepele), sebaiknya aku mulai menjalankan pola hidup sehat. Olahraga minimal seminggu 3 kali dan harus yang aerobik agar aliran darahku lancar. Pilihannya berenang, jogging, atau bersepeda. Banyak makan sayur hijau untuk melawan anemia.

Maka begitulah. Mulai sekarang aku harus diet (baca: jaga makanan) dan berolahraga. Beneran pingin ketawa. Selama ini aku sudah baca banyak artikel tentang olahraga di mommies daily dan juga blog mbak Ira. Aku pikir waktuku untuk menjalani itu masih jauh. Aku berencana untuk berolahraga dan mengatur makanan nanti pas di Malang dan ketika si kembar sudah disapih. Namun selain resign, ternyata olahraga pun tak bisa menunggu. Harus sekarang! Aku ga mau peristiwa kemarin terjadi lagi. Nakutin tahu!

Hari minggu pagi aku mulai dengan bersepeda 10 menit (btw sepedaan 10 menit itu ternyata jauh ya… aku hampir ngelilingin seluruh kompleks perumnas 😛 ) Ternyata detak jantung cuma 100/menit. Padahal targetku 140/menit. Yah, pelan-pelan dulu deh. Siangnya pas belanja ke foodmart, dari yang biasanya nyamber roti diskonan, sekarang ga tertarik lagi. Nyambernya yogurt donk! Huehehehe… Dahsyat juga ternyata efeknya. Semoga bisa istiqomah.

Jadi rencanaku adalah:

Minggu: sepeda 10 menit (sekalian lanjut belanja ke pasar)

Senin: nyobain aplikasi2 workout yang ada di android

Rabu: jogging 10 menit

Jumat: SKJ di kantor

Yang agak bingung memang soal mengatur jadwal di pagi hari. Harus bangun sebelum subuh! Huhuhu, beratnya. Doain saya sukses menjalaninya ya…

Oiya, nur menyelenggarakan give away persahabatan lho… Ikutan donk, biar rame… Hahahaha… *nasib blogger ga terkenal

Selamat…

Hari Sabtu malam minggu kemarin aku menginap di kostan Ncep. Untunglah Ncit –teman sekamar Ncep- sedang pulang kampung, jadi aku bisa tidur di sana. Eh, kami bukan mau Pajama’s Party kok! (halah, pajama… bilang aja daster!^_^) Tujuanku menginap di sana adalah demi niatan mulia: nebeng nonton final Piala Uber. (yaelah, masih jaman ya, numpang nonton TV ke tetangga??)

Dan akhirnya, setelah perjuangan keras, Indonesia hanya mampu meraih medali perak. Tapi tak apa. Para Srikandi Pertiwi itu telah berjuang sepenuh tenaga, hingga mampu melampaui target. Salut dan terima kasih buat Maria Kristin, Liliana-Vita, dan Firdasari. Mereka seolah menjadi simbol kebangkitan pebulu tangkis wanita yang selama ini dianggap terpuruk. Hidup wanita! (lah, ga nyambung)

Seorang kawanku dalam sms-nya bilang:

Wah, mangkane kalah. Kowe nonton seh…

Biasanya sih, memang kalau aku nonton tim kesayanganku bertanding, seringnya tim itu malah kalah. Huhuhu, semoga kekalahan tim Uber bukan karena aku tonton T-T

Yang sempat aku perhatikan kemarin adalah para suporter. Wuih, meriah sekali! Tapi sayang, saat pemain agak kendor, suporter juga ikut ga bersemangat. Saat pemain ganda bertanding –yang merupakan pertandingan paling seru dalam rangkaian itu-, bahkan Pak Menpora sempat mengangkat tangan dan berdoa. Tapi saat kedudukan sudah 2-0, kebanyakan penonton mulai diam. Permainan Firdasari terkesan “sepi” dari teriakan. Padahal fungsi suporter adalah men-suport, memberi semangat. Aku jadi ingat cerita adikku (karena aku ga liat sendiri bagaimana nyatanya), waktu Arema terdegradasi dari liga utama, justru stadion Gajayana semakin penuh dengan Aremania. Dan dengan dukungan tinggi semacam itu, Arema kembali masuk ke liga utama. Itulah bentuk sumbangsih Aremania –kelompok suporter yang pernah menjadi suporter terbaik se-Indonesia- bagi tim kesayangan mereka. Mereka tidak meninggalkan pahlawan mereka saat pahlawan itu terpuruk! (wah, subyektif ya contohnya, mentang-mentang penulis juga termasuk Arek kabupaten Malang ^_^)

Ah, sudahlah. Kapan ya, bisa beli TV sendiri? Perlu ga sih? Kata kawanku, “Mangkane, tuku TV lah Nur. Ojo nemen-nemen lek nabung 😛 Wis dadi pegawai ae lho.” Hehehe, orang-orang terdekatku memintaku untuk “lebih konsumtif”. Yah, gimana ya? Tanpa disuruh pun, aku sudah konsumtif kok!