Tugas Hari Minggu

Tugas hari minggu, kupotong kuku
Satu demi satu, bersih kukuku
Tak lupa sepatu kugosok dulu
Selesai tugasku riang hatiku

(lagu yang selalu kunyanyikan saat memotong kuku nindy)

Lagu anak-anak jaman dulu sarat makna ya… Sederhana dan mudah diingat pula. Ga kaya sekarang: aku bukan boneka..boneka..boneka… (iyalah dek, kamu bukan boneka wong bisa makan-ngomong-jalan :p)

Selamat mengerjakan tugas-tugas hari minggu. Selamat jalan-jalan dan menikmati liburan. Jangan lupa potong kuku! :mrgreen:

Alif Ba Ta’

Seorang Gadis, umurnya sekitar 13 atau 14 tahun, masih SMP, ditilik dari seragamnya yang mengharuskannya memakai jilbab setiap hari, maka bisa diduga dia bersekolah di SMP yang berbasis Islam. Tapi kelakuannya… masyaallah! Hampir setiap hari dia marah-marah. Bila marah, selain teriak-teriak ga jelas, dia juga gemar menggebrak-gebrak –entah apa yang digebrak, karena dalam kamar tertutup, aku ga tahu apa pastinya- dan membanting pintu dengan keras. Pernah dalam suatu pertengkaran tengah malam –waktu itu sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam- dengan adik perempuannya, dia berteriak-teriak dan memaki adiknya sebagai “anak yang ga punya bapak”, “monster”, dsb. (Memang sih, status si Adik dalam keluarga itu agak ga jelas. Kebanyakan tetangga menyebut keluarga itu hanya punya 2 orang anak perempuan, tapi kenyataannya ada 3 orang anak perempuan yang tinggal di rumah itu) Sang adik membalas: “Kakak bukan manusia!”. Padahal sepertinya pertengkaran itu dipicu oleh sesuatu yang cukup remeh. Tidak cukup pantas untuk sampai mengeluarkan makian sekejam itu. (Sebagai sesama anak sulung, aku tidak pernah membayangkan bisa memaki adikku seperti itu) Tidak pernah ada cukup alasan untuk bertengkar seheboh artis sinetron!

Ah, sudahlah. Urusan orang ini. Yang aku heran cuma satu, si Gadis itu bersekolah di sekolah yang menekankan pendidikan agama. Tapi kenapa seolah-olah tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap akhlaqnya? Aku mencoba membandingkan dengan dua orang temanku yang waktu kecil basic pendidikannya Islam. Saat masuk ke pendidikan netral, kalaupun pernah “sedikit membelok”, tapi dasar agama yang ditanamkan dulu dengan mudah “mengembalikannya ke jalan semula” atau paling tidak “membatasi kelakuannya agar tidak terlalu jauh membelok”. Mungkin efek pendidikan Islam memang berbeda-beda pada setiap orang.

Aku jadi berpikir tentang diriku. Sepanjang hidup, aku selalu bersekolah di sekolah formal/netral. Pendidikan agamaku? Aku pernah ikut mengaji ke satu kyai/ustad di desa waktu kelas 2 SD, tapi hanya bertahan 1 tahun. Aku keluar dari sana sebelum pelajaranku ”menyentuh” Al Quran karena ”merasa dikucilkan” dan dihina oleh teman-teman (bullying memang mengerikan). Ibuku awalnya memarahiku. Aku tak bergeming. Karena capek marah-marah, Ibu sampai memakai peribahasa untuk mengungkapkan kekecewaannya melihat anaknya ga mau mengaji. ”Ibu kaya burung pungguk mengharap bulan ngarepin kamu ngaji!” ujar beliau (pake versi bahasa Jawa). Waktu itu aku sedih, pengin nangis, tapi mau gimana lagi? Biar mau diapain pun, aku tetep ga mau balik ke tempat yang membuatku ”menderita batin” itu. Aku akhirnya belajar membaca Quran dari buku Iqro jilid 1-6 yang kubaca sendiri sambil sekali-sekali di-review oleh Ayahku. Jadi sampai sekarang, aku mungkin sedikit tahu cara bacanya, tapi kalo ditanya apa hukum tajwidnya… wuah, aku ga tau!

Yang paling kusyukuri adalah takdir yang membawaku hingga aku dapat bersekolah di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Lingkungan di sanalah yang bisa dibilang pendorong terbesar perubahan pada diriku. Dari yang sholatnya bolong-bolong, dari yang ngajinya patah-patah (kaya goyang aja) menjadi aku yang sekarang (masih banyak juga sih sisa-sisa jahiliyah-nya, hehehe).

Ah, kok jadi ngelantur. Balik ke masalah ”pendidikan agama”, aku pingin anak-anakku kelak mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Yah, masih belum jelas juga planningnya kaya apa. Paling nggak kalo ga ikut TPQ (waktu aku kecil di deket rumah ga ada TPQ… T-T) ya masuk sekolah yang basic pendidikannya Islam. Kayanya sih sekarang banyak banget sekolah Islam yang mutunya bagus (dan sangat bagus). Ah, pokoknya anak-anakku ga boleh kaya aku!

Walahwalah Nur… kok mikir anak sih? Cari calon Bapaknya dulu, nikah, baru punya anak! (Ah, kok masih jauh ya?! Masih jauh ternyata… hihihi)

“dik” dan “kit”

Kemarin, waktu lewat di depan gedung Balai Pustaka, aku melihat sebuah spanduk terpasang memanjang di pagar, berbunyi:

Mari Jadikan Hardiknas sebagai Bagian dari Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional

Awalnya hanya sekedar terpikir: ”Oh, kan sama-sama Mei ya? Jadi biar gampang, peringatannya dijadiin satu aja/dibarengin” (jadi inget ulang tahunku yang lebih sering dirayakan tanggal 30 karena ”ngikut” ultah Adik yang sama-sama lahir bulan Agustus)

Tapi, kok, lama-lama berasa ada yang ganjil. Bagian dari batinku yang tidak bisa menerima. Hardiknas… Harkitnas… Harpitnas… (yang terakhir mah ga termasuk atuh…)

Kenapa ”hardiknas” harus dijadikan bagian, dan bukannya dirayakan sendiri? Sebagai anak dari pasangan guru SD, aku merasa sedih, ”Kenapa Hardiknas harus merendahkan diri seperti itu di depan Harkitnas, sampai harus ”meminta” untuk dijadikan sebagai bagian dari Harkitnas?”

Aku mencoba berpikir, Hardiknas itu tanggal 2 Mei, Hardiknas tanggal 20. Kalau dipikir-pikir, bukannya hardiknas duluan yang diperingati. Jadi harusnya ”harkitnas” yang dijadikan bagian dari ”hardiknas”. Eh, tapi tetap saja, kenapa salah satu harus ”dijadikan bagian” dari sesuatu yang lain, kalau nilai ”kepentingannya” sama: sama-sama penting. (Menilik kisah perayaan ultahku yang dirayakan ”di belakang”, pernyataan keberatan atas dasar urutan tanggal ini jadi berasa kurang kuat)

Terus terpikir, seperti kisah ayam dan telur, duluan mana antara ayam dan telur? Kalo pertanyaan itu sih emang subyektif jawabnya. Tapi menurutku, untuk kasus hardiknas dan harkitnas, duluan mana antara pendidikan dan kebangkitan, maka jawabannya: pendidikan dulu diperbaiki, baru kita bisa bangkit. Andai para bangsawan dan pribumi Indonesia dulu tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bisakah Indonesia bangkit? Bisakah mereka terpikir untuk membentuk organisasi dan perserikatan seperti itu? Apakah bisa terwujud kebangkitan nasional tanpa pendidikan yang mendasar?

Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapatku. Suka-suka deh. Aku hanya ingin menyuarakan kesedihanku. Harkitnas kemarin dirayakan dengan sangat meriah dan megah di senayan, tapi hardiknas hampir terlupakan. Sementara nasib guru dan guru honorer makin ga jelas. Guru dituntut untuk melakukan sertifikasi ini itu, guru honorer digaji dengan sangat minim, tapi mereka diminta untuk memberikan kinerja optimal. Kalau ada penyimpangan seperti gank Nero kemaren, lembaga pendidikan dipersalahkan. Sampai kapan sih, dunia pendidikan terus dinomorsekiankan?

**sekali lagi kuterbitkan hasil tulisan yang dibuat dalam keadaan emosi** T-T