Mimpi Buruk itu Bernama “Sibling Rivalry”

Tak pernah terbayangkan di benakku penolakan dari nindy akan adiknya. Yah, sebenarnya sempat terlintas sih, karena hingga detik-detik terakhir mau lahiran pun jawaban nindy tetap “ga mau punya adek”.

Memang ini salahku, memaksakan kehendak tanpa berpikir akibat di belakangnya. Dulu kupikir jarak terlalu jauh itu bikin mubazir, karena kurikulum cepat sekali berganti. Seperti aku dan adikku yang berjarak 5 tahun. Buku-buku yang kupakai, nyaris tidak ada lagi yang masih bisa dipakai adikku. Sementara jarak 3 tahun akan terasa berat ketika keduanya sama-sama masuk sekolah. Biayanya tentu besar. Jarak 1 tahun pastinya juga terlalu dekat. Kasihan, bagaimana nanti ASI-nya?! Makanya aku berpikir bahwa jarak 2 tahun adalah yang ideal.

Ternyata aku salah. Salah besar! Dua tahun adalah usia yang masih patut untuk bermanja. Nindy masih butuh pelukan. Butuh gendongan. Dan tiba-tiba saja semua privilege itu hilang darinya. Mungkin tidak akan seberat ini bila abi masih di sini, masih ada orang lain untuk bermanja. Tapi tentu saja tidak boleh menyalahkan takdir kan?! Lagipula setelah bertanya-tanya kesana-kemari, jawabannya adalah sama: hampir semua anak yang punya adik di usia 2 tahun selalu memberontak.

Ya, selisih 2 tahun ternyata adalah yang terburuk! Karena di usia 1 tahun mereka belum mengerti, di usia 3 tahun mereka sudah beraktivitas di luar rumah sehingga tidak terlalu tergantung pada orangtua. Belum lagi soal kebutuhan ASI. Nindy akhirnya gagal S3 ASIX karena self weaning saat usia 18 bulan. Tidak! Ini bukan masalah “memperkenalkan” dan “menyiapkan datangnya adik” karena dari hamil pun aku sudah memperkenalkan. Nindy suka mengelus perutku, mengerti bahwa ada adik di sana. Aku percaya, ini hanya soal kebutuhan kasih sayang di usia golden age 1-3 tahun.

Masih ingat bagaimana awal-awal si kembar hadir dulu. Nindy hampir tidak terurus! Aku masih lemah karena bekas jahitan sesar. Tidak ada ART. Hanya ada adikku laki-laki di rumah. Saat harusnya nindy sarapan, aku sibuk mandiin si kembar. Saat dia ingin jalan-jalan, aku terus saja sibuk dengan si kembar yang menyusu hampir tiap jam. Aku menyusui sambil membacakan buku, sambil menyuapi dan makan untuk diri sendiri. Sedih sekali. Si kembar kurang ASI karena aku stres, capek, kelelahan, dan juga kelaparan. Nindy uring-uringan. Ngompol. Ga mau makan. Tiap malam dia tidur sambil mengigau, sambil menangis. Aku pun hampir tiap hari menangis. Ah… maafkan ummi nak… Itu adalah masa-masa terburuk buat kita semua… *meweklagi

Alhamdulillah sekarang masa itu sudah lewat. Nindy sudah mulai masuk PAUD, jadi mulai ada kegiatan. Aku sudah ada yang membantu, jadi tidak kecapekan. Si kembar mulai montok karena aku tidak lagi stres/kelaparan. Walau kadang masih ada masa saat menyusui tandem dan nindy nangis-nangis sendirian, tapi semuanya jauuuhh lebih baik daripada dulu.

Yah, terbukti benar apa kata Bayu (teman senasip yang juga mengalami sibling rivalry -1,5y-) : Badai pasti berlalu!

NB: Kamu mengalami juga mimpi buruk ini?! Kuncinya memang cuma sabar… sabar… dan sabar. Coba beri si sulung kegiatan di luar biar perhatiannya teralihkan. Terima saja seluruh kemarahan (dan mungkin kebandelan) yang muncul. Kamu stres?! Si sulung itu jauh lebih stres dari pada kita! Dan memang kok, kalo anak masih kecil-kecil itu wajar kalo capeknya dobel-dobel, ribetnya dobel-dobel. Bersabarlah, badai pasti berlalu! Aku sendiri sampai sekarang juga masih sering kelepasan, marah-marah, ngomel-ngomel, nangis-nangis. Tapi sungguh, dari ini semua baru aku mengerti arti kata sabar. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.

Punya Anak Perempuan Itu…

  1. Harus sabar membujuk si gadis kecil yang minta “ikin ue..” (bikin kue) malam-malam dan tetep sabar walau ternyata hasratnya ngajakin bikin kue cuma buat nyomot-nyomotin adonan yang belum dipanggang *berdoa-khusyuk-biar-si-gadis-kecil-ga-sakit-perut-habis-makan-adonan-gula-dan-telur-mentah-banyak-banyak
  2. Senyum aja kalo si gadis kecil semangat mbantuin nyapu walau ternyata nyapunya melawan arah dan malah ngeberantakin kotoran yang sudah terkumpul
  3. Ketawa aja kalo si gadis kecil cepet protes lihat remahan makanan mengotori lantai atau sisa pastel mengotori tangan lalu minta segera dibersihin. Padahal si gadis sendiri masih suka ninggalin maenan masak-masakannya berantakan menuhin ruangan.
  4. Meringis sedih kalo si gadis kecil yang suka banget diajak maen ke lapangan ini ternyata disana jarang banget ada temen perempuan, karena rata-rata yang maen ke lapangan itu ya anak laki-laki yang asyik nendang bola kesana-kemari dan cuek dengan keberadaan anak perempuan di pinggir lapangan. Sekalinya ada kakak perempuan datang bawa maenan, ternyata si kakak maennya mobil remote control *tepok-jidat
  5. Suka was-was kalo si gadis kecil jadi obyek gemas teman laki-laki kecilnya. Dipelukin, diciumin. Mau nglarang takut dibilang lebay wong si temen laki juga masih kecil dan emaknya ada di sana. 😥
  6. (Sebagai ibu gak modis) sering prihatin kalo ga bisa mendandani gadis kecilnya biar tampak girlie kaya anak-anak perempuan lain. Yah, gimana, selain kemampuan emaknya emang payah gini, si gadis Leo juga bawaannya ga mau pake rok. T-T

Dipikir-pikir, seru juga ya romansa punya anak perempuan. Malah bersyukur punya anak gadis yang suka ringan tangan menolong pekerjaan rumah tangga kaya gini. Dinikmati saja romansanya, kalo punya anak laki-laki nanti pasti bakal beda kan?! Atau jangan-jangan umminya ini jadi ga laku karena si buyung lebih suka maen sama abinya?!

Sumaran de Misuteri

Baru balik. Ga ada bos, masih males kerja, jadi mari kita cerita-cerita dulu… 😀

Tiga hari kemarin aku mendapat tugas dinas luar ke Semarang. Kami berombongan, bertiga dengan bos kecil dan bos besar. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul setengah 2. Begitu sampe kami langsung meluncur ke hotel. Yang kebagian nyari hotel itu saya. Dan berhubung saya “buta” dengan Semarang, maka nyari hotelnya asal saja yang penting masuk rate (maklum jalan-jalannya kan pake uang kantor). Begitu ketemu hotelnya, baru tahu kalo gedungnya bekas asrama haji (ayo ayo yang cah Semarang, silakan tebak!).

HOTERU

Aku mendapat kamar di lantai 2, mojok dekat dengan tangga. Begitu masuk aku mencium bau tidak sedap semacam campuran bau kamar mandi mampet dan bau kamar yang apek. Ah, mungkin lama-lama bakal terbiasa, pikirku.

Masih pukul setengah 4. Masih banyak waktu untuk istirahat sebelum nanti malam keluar makan bareng-bareng. Kesempatan itu kugunakan untuk sholat ashar dan “mengerjakan PR” tilawah harian. Aku merasa bacaanku sering sekali salah. Tapi aku berpikir mungkin karena aku baru selesai mens jadi lama ga baca dan aku sudah terlanjur terbiasa pake quran gede jadi kesusahan baca quran kecil.

Maghrib datang. Setelah sholat, sambil menunggu “panggilan” dari para bos, aku nonton tv sambil baca-baca al ma’tsurat. Males-malesan sih bacanya, ga niat gitu. Sekitar pukul 7 kami pun pergi makan malam di Soto Bangkong (tidak terlalu enak menurutku) dan baru balik sekitar pukul 9.

Sampai kamar, bersih-bersih muka, sholat isya’, nonton tv bentar. Sekitar pukul 11 aku sudah bersiap tidur. Sebelum tidur aku memasang alarm hape ke pukul 05.00 (lupa kalo Semarang itu lebih timur jadi harusnya Subuhnya lebih awal). Hape kutaruh di meja kecil di sebelah kanan kasur. Seperti kebiasaanku kalau tidur di hotel, semua lampu kumatikan kecuali lampu kamar mandi dan lampu depan pintu. Kemudian aku pun tidur tanpa perasaan apa-apa.

Entah pukul berapa, aku terbangun oleh bel pintu. Bel kamar itu kalo dipencet sekali, dia akan berbunyi “ting tunggggg…. ting tungggg…” jadi ada sedikit jeda dan gaung yang cukup lama. Aku terbangun di ting tung pertama. Yang pertama terpikir adalah petugas hotel yang biasanya pagi-pagi menanyakan laundry. Aku turun dari kasur ketika gema ting tung kedua belum menghilang. Sekilas menoleh ke arah pintu yang diterangi lampu, aku tidak melihat bayangan hitam di celah bawah pintu seperti yang biasanya tampak jika ada orang berdiri di depannya. Reflek, bukannya beranjak ke kiri ke arah pintu tersebut, aku malah berjalan ke kanan ke arah meja tempat hapeku berada. Ketika menemukannya, aku pun tersirap. Pukul 02.33. Siapa yang memencet bel di dini hari begini?!

Hatiku mulai ga enak. Apalagi selama itu aku tidak mendengar langkah kaki menjauh. Dengan mengucap bismillah dalam hati, aku memberanikan diri mengintip melalui lubang di pintu. Tidak ada siapa-siapa.

Dengan lemas aku duduk di kursi. Kubaca ayat kursi sekali, lalu kembali naik ke kasur. Di tengah rasa takut yang mulai melanda, aku tergoda untuk menelpon mz nug. Ah, tapi masak mau jadi secengeng itu, nur?! Niat itu pun kuurungkan. Aku mulai membaca salah satu dzikir di al ma’tsurat yang isinya meminta perlindungan dari makhluk-makhluk Allah, dilanjutkan dengan membaca surat An-nas. Sesudah itu aku menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali. Tapi perasaan masih ga enak. Akhirnya aku bilang, “Jangan ganggu lagi ya…” kemudian aku pun tidur sampai pagi. :p

SEN NO TO

Paginya saat sarapan aku membicarakan kejadian itu dengan bos kecil. Beliau orangnya sangat rasional, jadi kesimpulan beliau: itu mungkin hanya pikiran mbak nur saja. Pagi sampai siang kami pun sibuk dengan kegiatan kantor. Alhamdulillah bisa selesai dengan cepat. Sekitar pukul 2 kami sudah cabut. Iseng aku nyeletuk ke bos besar yang asli orang Semarang: pak, saya belum pernah ke Lawang Sewu.

Hyaaa… dengan pengalaman semalam masih belum kapok juga! Bos besar tentu dengan senang hati membelokkan mobil ke arah sana. Masuk ke area Lawang Sewu masing-masing orang dikenai biaya 10 ribu (kami tentu dibayari bos besar 😀). Dan inilah pemandangan yang pertama kali kulihat:

dekat pintu masukDari dekat pintu masuk

Lawang Sewu di siang hari. Dengan sebagian bangunan yang sudah direnov. Menurutku sama sekali tidak terasa aura seramnya. Kami pun masuk ke satu bangunan yang belum direnov. Di situ dipajang foto-foto dokumentasi PT KAI.

bos kecil dan bos besarMana yang bos kecil mana yang bos besar hayoo??

Sebuah lorong di lawang sewuSebuah lorong di lawang sewu.

Bangunan tersebut sebenarnya terdiri dari dua lantai. Setelah puas berkeliling di lantai bawah, para bos pun merasa capek sehingga memilih istirahat di bawah pohon sambil minum minuman dingin yang dijajakan. Aku?! Ga puas donk kalo cuma segitu doank. *sombong Aku pun minta ijin untuk mencari tangga ke lantai atas. Ternyata itu memang tindakan yang bodoh.

Aku menemukan tangga di sisi bangunan sebelah kiri. Tangga ke atas dibagi menjadi 3 arah untuk membuat jeda agar tidak nampak terlalu tinggi. Tidak ada siapa-siapa di situ. Dan tiba-tiba aku merasakan sesak di dada. Begitu sesak sampai rasanya sulit untuk bernafas. Aku memandang ke atas. Ragu untuk meneruskan. Tapi kapan lagi ke Semarang?! Akhirnya dengan mengucap salam aku nekad naik ke atas. Ternyata untuk pergi ke balkon aku harus masuk ruangan dulu. Benar-benar tidak ada siapa-siapa di situ selain aku. Kembali dengan mengucap salam aku masuk. Begitu sampai balkon aku merasa sedikit lega. Di sini aku baru berani mengambil gambar lagi. 😀 *penakutyangsokpemberani

balkon atasBalkon atas.

Karena masih tidak ada orang selain aku, aku pun tidak berani untuk meneruskan petualangan hingga ke ujung bangunan. Namun begitu mau turun, ada dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang hendak naik. Merasa punya teman, aku pun bablas ke bangunan kecil di seberang yang terhubung dengan bangunan induk itu melalui sebuah jembatan kecil. Lagi-lagi kebodohan. Ternyata bangunan itu merupakan kamar kecil jaman Belanda. Sepertinya untuk laki-laki karena aku melihat tempat pipis dari porselen putih yang berdiri (tau kan?!) Di sini nafasku mulai sesak lagi. Tapi ketika turun tangga, rasa berat yang menghimpit tidak sekuat tadi.

Dari gedung tua aku beranjak ke gedung kecil yang sudah direnov. Di sini didisplay beberapa hal terkait lawang sewu. Ada film pendeknya juga. Oiya, ketika di gedung tua tadi, bos besar sempat nyeletuk: biasanya kalo orang habis dari sini langsung mandi. Sekeluarnya aku dari gedung kecil itu, aku melewati deretan toilet di sebelah mushola. Iseng aku mencuci tanganku di salah satu keran di situ. Dan boleh percaya atau tidak, rasa berat yang menggayuti dadaku semenjak di tangga tadi langsung lenyap. Setiba di hotel, aku memutuskan untuk tidak langsung mandi dan malah ngelayap ke daerah Pandanaran untuk membeli oleh-oleh. Entah darimana aku yakin, “penunggu” Lawang Sewu tidak akan mengikutiku.

Walau begitu, untuk jaga-jaga, sisa waktu di hotel kugunakan benar-benar untuk mengaji. Herannya, kali ini tilawahku lancar. Berdzikir pun kulakukan sepenuh hati. Tiap keluar dan masuk kamar aku selalu mengucapkan salam. Bukannya sirik, tapi aku hanya ingin menghormati siapapun yang menghuni kamar itu, karena dia yang lebih berhak atasnya. Sedangkan aku hanya numpang tidur 2 malam. Yang jelas, malam jumat itu aku tidur dengan tenang, bablas sampai pagi, tanpa ketukan dan bel di pintu, juga tanpa mimpi seram ketemu penunggu lawang sewu. 🙂

Sekilas kesan lawang sewu:

1. Bangunan yang direnov itu ditempeli dengan semacam keramik berwarna-warni. Buatku kok jadi tampak kekanakan ya?!
2. Aku belum ketemu basement-nya. Gedung kaya gitu harusnya ada basement-nya bukan sih?! Harusnya ngekor guide nih biar tambah jelas. Sayang waktunya ga cukup (ga enak sama bos)
3. Komposisi temboknya berbeda dengan tembok jaman ini. Bata merah:kapur:pasir=2:1,5:1. Makanya jadinya keras sekali. Hampir mirip gedung induk lah.
4. Di depan ada lokomotif uap yang jadi monumen. Ternyata di situ dulu bekas kuburan pahlawan (seingetku ada 5 orang) tapi kerangkanya sudah dipindahkan.
5. Mau ke sana lagi?! Kalo mau nyari yang seram-seram sih mungkin seiring dengan selesainya renovasi ga bakal nemu seramnya lagi. Yah, hampir mirip museum jayakarta lah…

Surabaya: Random Memories

Garuda, Rabu 19 September. Jadwal berangkat 08.05. Delay 20 menit. Penerbangan lancar. Di pesawat sempat nonton Negeri 5 Menara. Kucepatin dengan kecepatan 16x. Kesimpulan: aku tidak terlalu tertarik untuk menontonnya secara serius. Terlalu banyak orang cakep. Entah kenapa rasanya jadi hilang kesederhanaannya dan aku tidak suka “cakep” yang model begitu.

Sarapan plus makan siang: Rawon Setan Embong Malang depan J.W. Mariot. Enak. Dagingnya besar-besar dan empuk. (ketahuan memorinya cuma rawon di tempat hajatan yang dagingnya hanya sekerat)

Rapat persiapan sampai pukul 19.30. Lanjut makan malam di Warung Padin dekat B.G Junction. Hari pertama tidur pukul 11-an.

Kamis 20 September. Nyari tambahan IKM, cuma dapat 5. Lanjut mempersiapkan kamar hotel dan nge-cek in-in pesawat kepulangan para penilai. Balik ke kantor, gladi resik sampai pukul 18.30. Makan malam resmi dengan para bos (seharian belum mandi euy) di R.M. Kuningan sampai pukul 10-an. Sesorean ada drama pribadi dengan orang rumah. Nindy muntah-muntah. Ternyata keracunan susu UHT basi. Ya Allah… lindungilah aku dan keluargaku…. Hari kedua tidur dengan mata bengkak, pukul 00.30.

Jumat 21 September. Penilaian Alhamdulillah berjalan lancar. Sempat tidur siang sebentar di mushola. Perjalanan pulang ga sempat beli makan. Beli oleh-oleh di bandara buat tetangga yang mbantuin selama nindy sakit. Mahal banget ya! Ternyata selain PPN juga kena airport tax. T-T Garuda jadwal 19.45. Delay 20 menit. Nyamber kroket dan jahe anget. 40 ribu! Mahaall… T-T Penerbangan lancar. Ngantri taxi. Pulsa habis. Stres ga bisa ngubungi rumah. Dapat taxi pukul 11.00. Sampai rumah pukul 11.50. Perut perih telat makan. Hari ketiga tidur pukul 02.00.

Nikmat yang sering dilupakan adalah waktu luang dan kesehatan.

Ngluyur (part 6): nyasar

Sudah lama tidak nyasar *eh?

Dan sudah lama saya ga mengalami kejadian ngluyur yang mendebarkan.

Sebenarnya petualangan tadi siang tidak tepat disebut ngluyur. Wong tujuannya sudah jelas kok! Jadi karena misua hari ini mau ke kanpus, pulang malem, sehingga ga bisa nengokin progress renovasi rumah, aku menawarkan diri menengoknya sendirian. Dasarnya deg-degan penasaran sih, tinggal 4 hari lagi pindahan tapi belum tahu perkembangannya kaya apa.

Dengan alasan pengiritan, maka perjalananku ke Klender kali ini mau oper-oper pake angkutan umum yang merakyat saja (asline yo ga kuat mbayar nek numpak taksi)

Dari kantor, aku berangkat jam 11 ke Stasiun Juanda, naik bajaj Rp6.000,-. Di st. Juanda ternyata aku telat sekitar 5 menit. Commuter Line (CL) jurusan Bekasi baru saja berangkat. Baiklah, gapapa. Tokh aku punya teman yaitu buku Poconggg Juga Pocong yang kupinjam dari kiki. CL berikutnya datang pukul 11.40, harga tiket Rp6.500,-. Naiklah aku ke dalamnya. Btw, CL itu nyaman ya (ya iya wong bukan jam sibuk). Mengingatkanku pada Kereta Ciujung jaman masih PKL dulu (Ciujung itu emang cikal bakalnya CL ga sih?!). Aku turun di Stasiun Klender Baru. Sesuai dengan petunjuk teman sekantor, aku nyebrang jalan dan naik angkot nomor 20. Super pede naiknya ga pake nanya-nanya, pun ga pake liat tulisan tu angkot jurusannya kemana.

Angkot jalan, melewati RSI Pondok Kopi. Kata temenku nanti aku harus turun di pertigaan sebelum pasar. Kupikir ya Pasar Perumnas Klender deket rumah. Lepas BKT (Banjir Kanal Timur), angkot melewati perempatan di daerah yang mirip pasar. Tapi kok bukan Pasar Perumnas? Trus kok perempatan, bukan pertigaan? Setelah agak jauh aku tanya ke sopir, “Pak, ini lewat Pasar Perumnas ga sih? Yang tadi itu ya?”

Pak Sopir: Iya, yang tadi itu neng
Aku: Yah, kelewatan donk pak..
Pak Sopir: Gapapa, ntar juga puter balik
Aku: Puternya jauh pak? Lama ga?
Pak Sopir: Nggak kok. Bentar lagi. Deket lagi.

Posisiku saat itu di belakang sopir. Selain aku, ada 3 penumpang lain berseragam SMA. Aku diem mulai pucet liat tulisan di toko-toko, menyebut alamat Bintara, Bekasi Barat. Kok sampe Bekasi, batinku. Jalanan juga makin sepi, dengan aspal yang tidak terlalu mulus. Aku yang muka komikal kalo kata mbak vyow, ga bisa menyembunyikan kekhawatiranku. Teringat berita-berita santer tentang perkosaan atau pembunuhan di angkot. Mana dari belakang itu aku lihat pak sopir sering banget lihat spion tengah. Terlalu sering untuk ukuran orang menyetir. Akunya pura-pura ga lihat, tapi tetep ga bisa nyembunyiin wajah takut. Yah, bukan GR gimana gitu sih. Mukaku ga ada cantik-cantiknya. Tapi kalo orang ngebet kan bisa aja ga peduli wajah korbannya kaya gimana. Atau kalo ga gitu dirampok? Astaghfirullah. Akhirnya pas salah seorang penumpang turun, aku bilang ke sopir, “Pak, saya turun sini aja.”

Segera aku lari nyebrang jalan, naik angkot yang sama arah yang sebaliknya. Kali ini aku sendirian, berdua saja dengan sopir. Tapi auranya tidak semencekam di angkot sebelumnya. Nyampe di perempatan yang tadi, aku turun. Telpon mz nug dengan kaki masih gemeteran. Sumpah, mata pak sopir tadi masih terbayang-bayang. Dimarahi sih, kenapa ga hati-hati. Lah, namanya nasip. :p Setelah curhat (iya, kalo lagi panik kalo ga curhat ga selesai panikku), aku mulai tenang. Nyebrang jalan trus nanya ke mbak-mbak penjual sendal angkot yang arah ke Perumnas Klender.  Ternyata 03. Dan ternyata pula 03 ini balik ke jalur 20 yang tadi, trus belok kiri sampai berhenti di terminal Perumnas Klender. Sampai situ aku nyambung bajaj, Rp5000,- sampai depan gang (sebenarnya dari pasar bisa jalan kaki, tapi males ah siang panas gitu).

Apa kabar rumah? Masih berantakan >.< Tapi untung banget aku nengokin karena ada sesuatu yang mesti dilaporin tukang ke kami.

Di rumah bentar aja, karena mau ngejar CL yang jam 13.45. Pulang, mampir ke masjid, nebeng sholat. Balik ke jalan besar, naik bajaj yang lewat. Ternyata sopirnya adalah sopir yang sama pas aku nawar-nawar bajaj di pasar tadi, tapi orang ini kasih harga terlalu tinggi jadi aku ga milih dia. Kali ini terpaksa naik karena males nungguin bajaj berikutnya. Rp10.000 ke Stasiun Buaran. Padahal deket lho. Cih!

Begitu turun, karena kelaparan, yang kulakukan adalah mencegat tukang sio may yang lewat. Aku beli sio may Rp5.000 dengan menyodorkan uang Rp20.000. Si mas penjualnya minta aku kasih uang pas aja karena dia baru aja keluar, belum ada uang kembalian. Sementara mau tukar di situ jarang ada orang jualan. Mengorek-orek isi dompet, cuma nemu uang recehan 100-500an. Kuitung nyampe 5 ribu, begitu diitung masnya ternyata cuma Rp4.500. Kata masnya, gapapa mbak. Tapi kan maluuu… Untungnya pas mau pergi iseng buka tas nemu uang Rp2.000. Ah…syukurlah. Sudah itu masnya tetep bilang gapapa kurang 500, tapi ya aku paksa aja daripada malu (pas aku cerita ini ke temen kantor, bapake bilang “kok ga dikasih aja nur 20 rebu”… hiks, pelit sekali ya saya ternyata)

Pulang ke Senen naik CL turun Gambir. Aku inget temenku yang orang Bekasi pernah bilang ada metromini yang sekali jalan dari Gambir ke kantor. Begitu lihat metromini mendekat, aku cuma nanya, “Ke Senen, pak?” Dijawab iya. Mungkin karena capek plus laper, naiklah aku lagi-lagi tanpa membaca jurusannya kemana. Lepas Pertamina, ndilalah bukannya ambil kanan, dia malah belok kiri. Oalaaah… Senennya lewat Pasar Baru tokh?! Ck, sedeket ini masih juga nyasar.

Nyampe kantor pukul setengah 3. Belum maksi belum pumping, malah nulis postingan ga jelas ini. *siul

Balada ASI Perah

Waktu kecil, sekitar umur 5 tahun, lahirlah adik saya Aziz. Waktu itu saya sering melihat ibuk memompa ASI-nya kemudian membuangnya begitu saja ke tempat ari-ari dikubur. Alasannya: ASI ibuk terlalu berlimpah.

Beranjak dewasa saya ketir-ketir. PD saya kecil sekali. Saya ragu apakah saya bisa memberikan ASI untuk anak nanti?!

Begitu hamil, saya mencari tahu tentang manajemen ASI, perawatan payudara, dsb. Saya mulai merawat dan membersihkan PD sejak usia kandungan 7 bulan. Alhamdulillah, berkat semua usaha dan doa, ASI saya lancar keluar di hari pertama. Nindy pun insyaallah telah mendapat kolostrum yang dia perlukan. Allah Maha Adil. Ternyata memang tidak ada hubungan antara ukuran PD dengan produksi ASI. (Temen satu kantor yang PD-nya jauh lebih besar malah ga bisa ngasih ASI tuh. Ga keluar katanya)

Selanjutnya yang terjadi selama di Malang, sejarah itu kembali berulang. ASI terlalu berlimpah yang membuat saya dengan entengnya membuang-buang ASI perahan saya. Rada sedih sih melihat barang berharga dibuang-buang gitu (kuburan ari-arinya sampai jadi sarang semut, akhirnya pindah dibuang begitu saja ke tempat cuci piring). Tapi bagaimana lagi. Kalo ga diperah, PD bengkak. Kalo ga diperah, Nindy cuma dapat foremilk yang membuat pupnya berwarna hijau. Sementara percuma juga bikin stok ASIP karena posisi masih di Malang dan waktu masuk kantor juga masih lama.

Usia 2 bulan kurang seminggu, kembalilah kami ke Jakarta. Mungkin karena capek ngurus Nindy sendirian, atau karena stres banyak pikiran, atau karena Nindy tiba-tiba males mik malam-malam, produksi ASI menurun drastis. Diperah mentok cuma dapat 30 ml. Hua…padahal harus mulai nyetok. Miris mau nangis rasanya. Tambah stres. Padahal baru minggu kemarin buang-buang ASIP. Saat itulah saya mengalami yang namanya harus relaktasi. Saya tambah frekuensi merah, minum susu kedelai, minum susu ibu menyusui, makan jagung rebus, makan sayur hijau… Alhamdulillah, produksi kembali normal setelah seminggu. Tapi itu benar-benar merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Kembali bekerja, jadi harus merah ASIP di kantor. Alhamdulillah, ketika banyak orang bingung ASI-nya kurang, saya malah bingung kehabisan botol tempat menyimpan, bingung ga punya freezer 2 pintu sehingga ASIP saya cuma bisa tahan 2 minggu, bingung freezer kecil sehingga ga muat untuk banyak botol…

Dikit banget dibanding foto-foto ASIP yang bertebaran di internet

Kekurangan dan kelebihan sama-sama bikin bingung. Tapi saya lebih suka bingung karena kelebihan. Hehehe. Alhamdulillah. Semoga bisa terus seperti ini. Amit-amit jangan sampe harus relaktasi lagi! *trauma

Iseng itu Harganya 5 Rebu

Kemarin saya lagi ngumpulin duit. Err, maksudnya sedang mengumpulkan tabungan-tabungan saya ke dalam satu rekening. Selama ini saya memang memelihara 4 rekening (*sombong) : 2 rekening gaji, 1 rekening tabungan dari jaman kuliah yang kartunya dipegang adek, dan 1 rekening bank syariah tempat menampung nafkah dari suami *malu. Karena saya sedang merencanakan sesuatu (yaa yaa..saya sedang ingin membeli mobil untuk nindy biar dia kalo jalan ga kena panas dan polusi Jakarta. Sengaja diekspose biar banyak yang mengamini dan segera terkabul :D), jadilah saya transfer tabungan dari 2 rekening lain ke 1 rekening yang telah disiapkan.

Saya tahu dengan kartu yang saya punya, limit transaksi harian saya adalah 10 juta. Tabungan pertama memang mentok yang bisa ditransfer cuma 10 juta. Nah, tabungan kedua sebenarnya bisa lebih dari 10. Waktu pertama transfer 10, sukses. Iseng kemudian saya tambah transfernya 5 juta lagi. Aplikasi terus jalan. Tapi begitu selesai, keluar struk yang mencatat record transaksi tadi tanpa melaksanakan proses transaksi. Setelah itu saya pergi ke bank yang bersangkutan, mencetak buku tabungan. Betapa kagetnya saya mengetahui bahwa ternyata transaksi kedua yang gagal tadi telah memotong tabungan saya sebanyak 5 ribu rupiah. Saya ga transfer tapi tetap harus bayar biaya transfer. T-T

Yah, sudahlah. Pengalaman. Lain kali jangan iseng lagi.. :p