Giveaway Persahabatan: Sayonara Jakarta

Kemarin, sesaat sebelum acara pelepasanku (ecieee… pelepasan) ada mbak senior dari lantai 16 yang nyeletuk: Kok perpisahannya sekarang sih? Kan masih dua bulan lagi? Kok tahu mbak? Itu, yang mbok tulis di blogmu itu…

Eaaa… silent reader ternyata *dadah dadah ke si mbake 😀

Lalu pas acara, ada lagi rekan kerja yang memention blog ini. Aih, kang pandu, saya kan jadi malu… :mrgreen:

Kesimpulannya, ternyata banyak juga temanku yang berbaik hati meluangkan waktu demi membaca curhatan ga penting di blog ini (yo iyo lah secara hampir tiap posting dishare di fesbuk 😛 )

Lalu tetiba dapatlah ide untuk memberikan kenang-kenangan kepada para pembaca blog ini. Jujur, mumpung masih di Jakarta juga sih… soale kalo sudah pindah ke tempat mblusuk di Malang itu, pastinya bakalan susah males nyari agen ekspedisi >.<

Giveawaynya gampang kok. Ga perlu pasang banner, ga harus punya twitter (paling sebel kalo ada giveaway yang mensyaratkan follow twitter, secara aku dan mz nug sudah sepakat untuk ga bikin akun twitter), dan ga harus like fesbuk (kan ga jualan ini, hehehe). Cukup jawab pertanyaan berikut di kolom komentar.

  1. Darimana kamu tahu blog ini?
  2. Masih inget ga, apa artikel pertama yang kamu baca?
  3. Blog ini kan umurnya hampir 6,5 tahun. Nah, diantara 396 post yang nangkring di sini, tulisan apa yang paling kamu suka?
  4. Ke depannya, kamu harap nur lebih banyak nulis tentang apa?

Udah sih, itu saja. Kalo mau nambahin saran-saran, nasehat, hujatan kritik, atau apa pun, juga dipersilahkan. Trus kalo sudah selesai menjawab, silakan memilih salah satu hadiah berikut ya…

1. Kokeshi ningyo 3 serangkai

IMG_20140520_200854
2. Kokeshi ningyo hitori dake (yang ini ukurannya lebih besar sedikit dari kokeshi yang paling besar dari 3 serangkai di atas, bahannya juga lebih berat)

IMG_20140520_200737

3. Jilbab segiempat raihan ukuran M (115cm) warna pink

IMG_20140520_201046

4. Jilbab segiempat raihan ukuran L (120cm) warna coklat

IMG_20140520_201017

Eh, kok hadiahnya buat cewek semua?! Hm… kalo ada cowok yang menang, aku berharap dia mau dikasih ini:

5. Voucher belanja Rp50.000 di Superindo

IMG_20140520_201219

Kalo ternyata ga mau juga? Atau vouchernya sudah ditag-in sama pemenang cewek? Hmm… itu urusan nanti lah. Kita bahas via japri. 😀 Yang jelas yang menang ga mungkin kusia-siakan… huehehehe

Oiya, syarat buat ikutan adalah teman blog ini atau rekan kerja atau teman fesbukku. Intinya aku ga mau ada orang nyasar yang tidak kukenal trus mentang-mentang ada giveaway trus tetiba ikutan demi hadiah. Emoh emoh emoh! Karena ini giveaway persahabatan, jadi mohon maaf nanti aku akan seleksi siapa saja yang bisa kusebut teman. Ini hak penyelenggara ya! Mohon dimengerti. Kalo ternyata aku ga kenal? Ya paling tidak pernah komen sekali, atau like sekali, atau follower blog ini lah (komen dll-nya sebelum ada post tentang giveaway ini ya…)

Pemenang akan ditentukan lewat undian. Jadi akan langsung ada nama dan hadiah yang keluar, biar aku ga pusing mikir. Kalo ternyata yang ikut giveaway ini ga sampe 5 orang (tahu diri deh, orang memang tidak terkenal) ya sudah, mari kita pikirkan lagi hadiahnya buat siapa. Hihihi…

Giveaway ini dibuka sampai tanggal 28 Mei 2014 pukul 12.00. Kenapa? Soalnya kalo sampe ada mbak kosku yang menang, aku bisa kasih langsung pas ketemuan tanggal 30 Mei (irit ongkir) Hahahaha…

Tak Setia

Siang ini air mataku menggenang…

Berawal dari keisenganku masuk ke blog temanmu yang juga temanku, akhirnya aku sampai ke rumah mayamu. Dan aku terhenyak…

Kamu yang selama hampir 5 tahun ini kuanggap adik, yang selalu menjadi tempat curhatan masalah pribadiku, sekarang sudah sangat dewasa. SANGAT DEWASA. Dengan semua gaya bahasa, kemampuan bahasa Inggris yang meningkat pesat, dan puisi… Ya, aku kaget  kau kini menulis puisi…

Tapi bukan itu intinya.

Yang membuatku gugu adalah isi rumah mayamu. Jeritan-jeritan hatimu. Rasa sakit di tiap kalimat yang bisa kurasakan sebagai rasa sakitku sendiri. Aku tahu rasa sakit itu Nduk… Aku tahu! Maka seperti kamu dulu yang ikut menangis mendengar cerita sakitku, saat ini pun aku mengetik ini sambil berurai air mata, teringat rasa sakitmu. Aku meruntuk diri. Dimana aku saat kau sakit sedemikian hebatnya?! Sedangkan dulu kamu selalu ada saat aku terluka.

Kenapa aku jarang ada untukmu? Kenapa aku jarang menanyakan kabarmu? Padahal kita berdekatan, masih sering bertemu…

Bodoh!

Dan aku semakin merasa bodoh karena aku tidak bisa segera menghubungimu.

Sungguh, aku ini benar-benar teman yang tak setia 😥

T-T

Soulmate

Kemarin waktu lewat Senen Poncol yang di pinggir jalannya ada lapak yang jual sepatu kets 35 ribuan, tiba-tiba aku teringat adikku.

Itu karena pada kali pertamanya dia ke Jakarta dulu, dia bilang pengin mampir ke situ. Aku dan adikku hanya dua bersaudara, karena itu hubungan kami sangat kuat. Dengan adikku, kami seolah selalu sehati. Dan juga saling melengkapi. Mungkin karena sama-sama virgo. Selera kami sama, kesukaan kami hampir selalu sama. Aku pertama kali makan pisang sale waktu kos di Bintaro dulu. Aku sangat menyukainya. Setahun kemudian ketika pulang, di rumah tiba-tiba adikku ngomong, “aku suka sekali pisang sale”.

Tiba-tiba aku terpikir, itukah yang dinamakan soulmate? Saat dua hati tanpa perlu banyak cakap akan saling mengerti?! Saat segala sesuatu diantara dua orang begitu pas dan serasi?! Orang bilang cinta itu pengertian. Ya, apakah soulmate itu yang ketika kita mampu memaafkan segala kesalahannya, dan menjalankan hubungan hati dalam pengertian memberi tanpa menuntut balasannya nanti?!

Dalam makna itu, tiba-tiba aku teringat padamu.

Baca lebih lanjut

BBB (Benar Benar Bodoh)

Setelah sukses dengan ngluyur 1, 2, dan 3, mungkin memang tiba saatnya aku mengalami apes. Karena cerita berikut akan penuh dengan kesedihan, kemeranaan, dan ketidak-beruntungan, jadi cerita ini juga akan penuh dengan ketidak-jelasan.

Hari Sabtu lalu, 9 Mei 2009, sebenarnya aku sudah berencana menghabiskan hari dengan berleha-leha di kosan setelah dua minggu yang sangat melelahkan, sekalian mengurus DPT ke Kelurahan. Ternyata hari Kamis malam, Siko memberi tahu tentang akan diadakannya suatu pertemuan yang sangat menentukan masa depan study-ku. Aku sempat bimbang, meskipun pada hari Jumat siang aku sudah memutuskan untuk pergi ke Bintaro dengan KRL. Namun tak dinyana, Jumat sore, pekerjaan yang kukerjakan selama seminggu terakhir harus direvisi dengan deadline hari Senin. Sementara ada pekerjaan lain yang juga jatuh deadline hari Senin. Hiks! Akhirnya dengan sangat sedih, aku kembali merubah rencana menjadi: pergi ke kantor di hari Sabtu.
Baca lebih lanjut

Yang Terhempas dan Yang Putus*

Sepanjang sekolah wajib, SD sampai SMA, 60% aku duduk di kelas unggulan.

Padahal aku bukan orang pintar. Dan seingatku, selama di kelas peranku cuma sebagai penggembira. Duduk di belakang, membuat onar bersama anggota “tim penggembira” yang sama-sama jarang bisa tampil di depan kalo diskusi dan jarang bisa menjawab pertanyaan guru. Namun aku senang-senang saja menjalaninya meski harus kuat mental melihat teman-teman yang kecerdasannya di atas rata-rata itu. Lagipula, aku merasa jadi terpacu untuk paling tidak menyamakan prestasi dengan yang lain-lain.

Baca lebih lanjut

Sayonara, atashi no tomodachi…

Saat kita kehilangan sesuatu, saat itulah kita merasakan, betapa berartinya hal itu untuk kita.

Hah, berlebihan sekali. Sebenarnya yang akan terjadi adalah: awal bulan depan, seorang kawanku akan pergi bekerja di sebuah kota di luar Pulau Jawa. Ini gara-gara instansi tempat dia bekerja menugaskannya di tempat itu.

Setelah lulus kuliah, aku jarang sekali bertemu dengannya (baru sekali). Bertukar kabar pun hanya kadang-kadang dilakukan. Hubungan perkawanan kami selama ini memang seperti simbiosis parasitisme. Dia pohon dan aku benalu, yang selalu minta tolong ini itu padanya.

Aku punya banyak sekali hutang budi padanya.

Ketika kuliah dulu, tiap ada liburan, tentu aku ingin pulang ke Kota Kelahiran nun jauh di Jawa Timur. Untuk langsung sampai kesana (soalè bisa juga kalo mau oper-oper ke Surabaya atau Jombang) hanya ada 3 pilihan: Kereta Api Eksekutif (200ribuan), bus eksekutif (180 ribuan), dan kereta ekonomi Matarmaja (55 ribu). Berhubung statusku masih anak kuliah yang bergantung 100% pada subsidi orang tua, tak beranilah aku pilih yang eksekutif-eksekutif itu. Sementara jika memilih kereta ekonomi, perjalanan jauh itu harus ditempuh selama 18 jam ++ (plus macet2nya). Sementara mengingat keadaan kereta ekonomi yang “penuh dinamika” (pemalakan, pencopetan, penindasan, dll), aku selalu diwanti-wanti ibu’ agar tidak pergi seorang diri. Dalam rangka mencari kawan sejalan itu, biasanya aku bertanya (yang sebenarnya adalah meminta tolong) pada teman-teman sekotaku: Adakah yang pulang tanggal segini? Bolehkah aku turut serta di rombongan? Tapi jawaban yang kuterima seringkali: Wah, aku pulang tanggal segini…(ga cocok tanggal) Aku pulang ma Mas-ku tuh…(masa aku mau jadi “obat nyamuk”) Aku naik kereta eksekutif…(ga mungkin bareng) Coba tanya si fulan deh… (ga mau nolong) Jadilah aku sendirian, ga tau harus nanya siapa lagi, setelah terlempar-lempar sedemikian rupa oleh teman-temanku sendiri…

Di saat putus asa seperti itu aku menghubunginya. Dan jawaban yang ia berikan: Iya, aku pulang tanggal segini. Sama si ini dan si itu. Mau ikut? Gampang wès…

Duh, leganya. Kelegaan yang diberikan olehnya, menjanjikan kepastian pada orang yang sudah hampir putus asa, itulah yang menyebabkanku berasa sangat berhutang budi padanya. Dan itu sudah sering kali dia lakukan, selain pertolongan dan bantuan lain yang tak bisa kusebut di sini. Mungkin kalau aku cerita ini padanya, dia akan dengan entengnya bilang: Halah, Nur, biasa aè!! Ngono aè kok dipikir.

Andai aku sudah mencicil pembayaran hutang budi itu paling tidak sedikit saja, mungkin aku nggak akan kepikiran segitunya. Tapi yang terjadi, dia tak pernah meminta tolong apa pun padaku, sehingga aku tak pernah punya kesempatan untuk membalas kebaikannya. Justru aku yang masih juga minta tolong ini itu, menambah panjang list hutang budiku.

Tapi tak apalah. Dia mungkin sungguh-sungguh tak pernah mengharapkan aku membayarnya. Dan juga saatnya bagiku untuk dewasa. Menjadi berani dengan pulang seorang diri (Kemarin udah lho! Dan ternyata baik-baik saja tuh! Nyampe rumah dengan selamat meski naek Matar seperti biasa) Saatnya aku tak lagi bergantung pada pertolongannya.

Selamat jalan Kawan… Semoga engkau bahagia di tempat baru. Semoga mendapat lingkungan kerja yang menyenangkan. Amin… ^_^

Oh, ya, tambahan, berhubung sungai di sana besar-besar, semoga ga sering kebanjiran… (kaya di Jakarta ga kebanjiran aja) 😀