Me-refresh Cinta

Tiga malam terakhir ini pekerjaanku tak lain dan tak bukan adalah menyampul buku! (tentu saja setelah menyetrika dan nonton beberapa episode Nodame Cantabile) Gara-gara kehadiran 4 buah buku hasil Book Fair kemarin, aku beli sampul plastik cukup banyak. Akhirnya, tak cuma buku baru, buku-buku lama pun kusampul. Yang terbitan 70-an, terbitan 80-an. Yang sampulnya sudah usang aku ganti juga.
Baca lebih lanjut

Senyum

Sering aku heran pada diriku. Karena untuk hal-hal sepele yang seharusnya secara otomatis bisa dilakukan oleh setiap manusia, aku malah harus mati-matian belajar untuk melakukannya.

Aku telah belajar mati-matian untuk menyapa orang, belajar mati-matian untuk bisa mendekati anak kecil, bahkan belajar mati-matian untuk tersenyum. Yang terakhir itu memang keterlaluan. Apa susahnya sih tersenyum?! Tinggal tarik beberapa otot di wajah ke atas, maka jadilah senyum. Tapi ternyata setelah melihat foto-fotoku jaman SD, TK, sampai SMP, tak ada satu foto pun yang menunjukkan diriku sedang tersenyum. Padahal aku ingat sekali, ketika kamera mengarah padaku, aku sudah menarik semua otot-otot yang bisa membentuk senyuman. Ternyata hasilnya sungguh berbeda. Foto yang sudah dicetak malah menunjukkan wajahku yang sedang cemberut atau marah-marah. Aku pun tak tahu kenapa bisa begitu.

Memang ada satu masa ketika hampir setahun aku tidak bisa tersenyum, tidak bisa tertawa. Okelah, bisa sih. Tapi tak ada senyum dan tawa tulus yang pernah kulakukan. Aku terlalu terkungkung oleh masalah-masalahku. Padahal masalah yang kuhadapi –dibanding dengan masalah-masalah orang lain- jauh… jauuuh lebih ringan.

Setelah mengamati cara-cara orang tersenyum, memperhatikan foto-foto orang tersenyum, akhirnya aku menyimpulkan bahwa untuk membuat sebuah senyuman, yang terpenting ternyata bukan bibir dan otot-otot di sekitar mulut. Lalu apa donk? Yeah, ternyata itu adalah mata! Matalah inti dari senyuman. Sebuah senyum lebar bila tidak diikuti “senyuman pada mata”, maka itu belum bisa disebut sebagai senyuman. (Semua orang juga sudah tahu Nur, kalo mata itu cerminan hati. Hehehe, tapi begitulah. Aku tidak bisa otomatis tahu hal-hal seperti ini. Musti belajar dulu. Payah deh!) Maka mulailah aku “mengikutkan” mata dalam senyumku.

Masalahnya sekarang, mataku pun termasuk jenis mata yang “sayu” (beberapa menyebutnya sendu, beberapa menyebutnya sipit –karena “menghilang” ketika aku tertawa-, meski sebenarnya mungkin lebih tepat disebut mata “ngantuk”) Oleh karena itu, bila sedang diambil foto, sekarang aku lebih suka membelalakkan mataku lebar-lebar. Hasil akhirnya ternyata juga bukan melotot (mungkin memang bukan bakatku untuk melotot, melainkan memberi “tatapan sinis”) dan aku sudah bisa memasukkan “sedikit” senyuman pada mataku (masih sering gagal juga sih)

Oia, selain itu, untuk bisa menghasilkan senyum yang baik, ternyata kita harus membersihkan hati. Yang paling utama adalah dari segala sakit hati seperti dendam dan iri dengki. Juga berusaha membuat hati selalu gembira. Karena dengan hati yang bersih dan bahagia, barulah senyuman tulus di mata itu akan tertampakkan nyata.

Ah, bersyukurlah kalian yang bisa dengan otomatis memberi senyuman. Sekalian mengingat-ingat bahwa senyuman adalah sedekah. Maka marilah tersenyum kawan… selagi kita masih bisa tersenyum.  🙂