The New Album

L’arc-en-Ciel have released their new album?

Sebenarnya sudah lama juga sih. Tapi aku baruuu aja tahu kalo CD original mereka sudah beredar di Indonesia dengan harga Rp 55.000 saja (kabarnya itu sudah murah banget buat CD import)

Judul albumnya “Kiss”. Doain ya, biar aku bisa membelinya… (masak ngaku penggemar tapi ga punya CD mereka sama sekali?! ^_^)

Ah, hebatnya make-up dan dunia fotografi, bahkan bapak-bapak berumur hampir 40 tahun seperti mereka bisa tampak imut gitu. Tapi tetap saja: Haido-kun, kawaii!! 😀

(Kapan ya, Laruku datang ke Indonesia? Pengiin… ^o^)

Chrysanthenum

Bagi yang perhatian dengan avatar yang kupakai untuk menanggapi komentar-komentar di blog ini… yup, itulah bunga favoritku: bunga krisan. Chrysanthenum (bhs.Yunani: kuning megah) atau bunga seruni atau bahasa kerennya Golden Flower ini memang menjadi my favorite stuff setelah aves. Hehehe…

Awal jatuh cintaku dengan krisan adalah sejak SMA. Waktu itu ada acara di SMA-ku yang namanya ”Bedhol Desa”. Dalam program ini, semua siswa (beserta guru) tumplek bleg ke salah satu desa terpilih, nginep di rumah penduduk selama 3 hari 2 malam, dan melakukan berbagai kegiatan sosial. Mirip mahasiswa yang lagi KKN (jadi pulangnya juga harus membuat laporan T-T). Pada waktu Bedhol kedua (kelas 3 SMA), desa yang terpilih itu terletak di salah satu lereng gunung di daerah Pasuruan. Lengkap sekali obyek yang bisa dijadikan bahan penulisan. Ada usaha pemerahan susu, perkebunan apel, air terjun yang masih ”perawan”, hingga yang paling menarik: kebun krisan! Itulah untuk pertama kalinya kau pergi ke perkebunan bunga. Yang terpikir waktu itu, ”Indah sekali, bagai di surga!” (padahal pastinya di surga ga ada tanah becek-becek gitu… hihihi)

Pulang dari sana, aku bawa sekitar 3 pohon krisan yang warna kelopaknya berbeda-beda. Tapi dasar masih bodoh, aku ga tahu kalau krisan berpohon tinggi (tinggi atau panjang sih?) itu adalah jenis krisan potong yang hanya sekali berbunga sudah itu mati. Saat aku sedih sekali melihat krisan itu mati, Ibu’ malah nyeletuk dengan enteng, ”Halah, bunga kaya gitu aja, banyak di sini…” Wohoho, ajaibnya Ibu’ku. Padahal daerahku adalah daerah panas yang ga mungkin cocok untuk pertumbuhan bunga-bunga cantik namun rapuh seperti itu. Apalagi setahuku, krisan berasal dari Cina. Jadi tidak mungkin bunga eksklusif seperti itu bisa tumbuh di tempat sembarangan. Maka untuk membuktikan ucapannya, suatu hari Ibu’ku membawa bibit bunga yang mirip krisan. Awalnya aku tidak percaya, ”Ni krisan tapi kok batangnya ga panjang, ga bisa tegak, cenderung menjulur di tanah” Ternyata memang itu jenis krisan yang sudah lama sekali beradaptasi dengan iklim Indonesia. Berbunga majemuk dengan kelopak bertumpuk-tumpuk, warnanya putih, dan kalau bunganya mekar indah sekali, mirip gambar di avatarku itu. Aku menyebutnya jenis krisan kebun.

Sebenarnya selain krisan untuk bunga potong dan si krisan kebun, adapula jenis krisan pot. Yang ini sering kita temukan dijadikan dekor atau penghias panggung. ^_^

Jadi, beberapa keistimewaan krisan bagiku:

1. Bunga yang cantik tapi murah

Hehehe, cocok denganku yang agak-agak pelit. Harga krisan jauh lebih murah daripada mawar, tapi cantiknya ga kalah dengan mawar.

2. Bunga yang serbaguna

Mulai dari dekor panggung, penghias pelaminan, dirangkai di papan ucapan selamat, dijadikan karangan bunga mulai dari buket hingga karangan bunga untuk pemakaman. Krisan hampir selalu ada dimana-mana. (Jadi inget buket bunga di lobby kantor yang selalu menyelipkan krisan di dalamnya. Bahkan terkadang pure krisan dengan berbagai warna. Kawaiiii… Tiap hari bisa menikmati keindahan krisan secara gratis ^_^ Sayang, deket pos satpam, jadi ga bisa kalau pengin ”nyuri” barang setangkai aja… T-T) Eh, ada teh Chrysanthenum juga, tapi sampai sekarang aku belum pernah meminumnya.

Gara-gara tergila-gila ke krisan, waktu di SMA aku sampai pakai cologne yang beraroma krisan (waktu itu sih merknya Putri splash cologne). Tapi setelah menyadari bahwa baunya sebenarnya terlalu menyengat, akhirnya aku relakan juga meninggalkannya.

Sampai saat ini, film yang terkait dengan krisan yang pernah kutonton adalah ”The Curse of Golden Flower”. Filmnya Pak Chow Yun Fat itu keren banget. Intrik yang rumit dan kekejaman yang indah. Tapi ngeri juga mbayangin seorang ayah mencambuki putranya sendiri sampai mati dan 10.000 ribu orang dibantai dalam satu malam! Jadi, yang ga suka liat ”kekejian” kaya gitu, disarankan jangan nonton.

Dan akhirnya aku baru tahu(telat banget seh), krisan adalah simbol kekaisaran Jepang, dengan nama resmi Queen of the East. Pas banget kan?! 😀

Tugas Berantai

Ehem…akhirnya kukerjakan juga tugas berantai ini.

1) Tulis nama dan link situs pemberi tugas.
Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Eckha (http://cha_chaby.blogs.friendster.com/my_blog/ )
dan juga
Achie (http://vollk_tree87.blogs.friendster.com/achieachie/2008/04/tugas_berantai.html)

2)Tulis (lebih tepatnya copy n paste) peraturan seperti di bawah ini.
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog.

Agak susah juga menulis facts atau habbits. Bingung, karena merasa “kebiasaan” dan “bagaimana sebenarnya diriku” sudah tampak jelas dari luar, ga ada yang ditutup-tutupi. Aku sendiri merasa malu karena terlalu ekspresif, tidak punya rahasia dan tidak bisa jaga imej. Tapi ya sudah, mengingat ini “tugas”, ya kukerjakan saja lah…

Fakta-fakta di balik “kekaleman” (:p) Nur:

1. Aku suka banget segala jenis aves

Kabarnya, kita ga boleh menjadikan masa lalu sebagai alasan. Tapi kenyataannya seperti itu. Ketika aku tidak punya boneka seperti teman-teman lain, aku hanya bisa mengelus-elus ayam. Saat aku tak punya teman bermain, aku hanya bisa curhat ke ayam. Di kalangan tetangga, Nur kecil terkenal sebagai anak yang suka ”ngomong sendiri sama ayam” (mungkin ketidakwarasan otakku sudah tampak dari situ :D). Kalau aku sedih pun, misal lagi putus asa, aku suka ngliatin burung-burung terbang. Aku gemas sekali melihat burung yang cantik atau lucu. Terakhir, obsesif kompulsifku kambuh melihat burung dara di iklan Axis. Lucuuuu sekali!!! (Ada yang punya bros angsa atau apa gitu? Lagi nyari nih… Hehehe)

2. Aku suka sekali hal-hal berbau Jepang

Tak usah dijelaskan, aku seperti ”jatuh cinta” dengan hal yang satu ini. Entah sejak kapan aku jatuh cinta. Yang kuingat, sedari SD aku sudah suka mencari tahu hal-hal tentang Jepang dari Ensiklopedi Indonesia-nya Hassan Sadily. Yang namanya orang jatuh cinta, biasanya punya feeling. Nah, yang ini aku punya cerita. Dulu, SMP-ku di Kabupaten. Sementara rumahku di desa. Entah kenapa aku ngotot minta masuk SMA di kota. Aku mbayangin, kalau nanti bisa sekolah di kota, mungkin aku bisa nemu tempat kursus bahasa Jepang. Maka masuklah aku ke Smunti, yang terkenal dari jaman baheula sebagai SMA jurusan ilmu pasti (dulu nyebutnya SMA B). Tak dinyana, di tahun aku masuk sana, dibukalah ekskul bahasa Jepang. Aneh sekali diantara ekskul KIR dll itu. Pas banget pokoknya. Maka bertemulah aku dengan cintaku (yang berakibat hancurnya bahasa Inggrisku yang sejak awal sudah hancur T-T ”Orang itu harus memilih”…)

3. Penyakit kronis no 1: mudah panik!

Penyakit ini jelek banget deh! Aku orangnya melankolis sejati, yang suka bikin rencana. Jadi kalau ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai yang kuharapkan, wah, langsung panik aku. Mana kalau panik suka teriak-teriak ga jelas (lepas kontrol intonasi suara), jadi semua noleh ke aku. Malu-maluin! Sampai sekarang aku belum tahu bagaimana cara menyembuhkannya, atau paling tidak, menguranginya.. T-T

4. Memutuskan di detik terakhir

Agak aneh emang, di satu sisi aku suka bikin rencana, di sisi lain, perbuatanku kebanyakan ga berencana. Hem, susah njelasinnya. Tapi biasanya keputusan besar di hidupku kulakukan dengan kenekatan tanpa berpikir panjang. Misal: memilih tempat sekolah, dsb. Istilah kerennya: mengikuti instuisi. (emang iya?) Justru kalau aku terlalu menggebu-gebu dan berencana sebegitu rumit, akan tidak terlaksana. Jadi, kebiasaan membuat rencana hanya untuk menalangi perbuatan yang sudah pasti, misal: mengerjakan tugas atau pekerjaan lain.

5. Kalo lagi stress: nyanyi-nyanyi ga jelas

Hehehe, yang ini mungkin ga banyak yang tahu kecuali teman seruangan atau teman kos. Sebenarnya, kalau lagi suntuk, Nur biasa nyanyi-nyanyi semua lagu yang aneh-aneh: dari lagu campursari, keroncong, dangdut, pop, J-pop/J-rock, lagu Cina, lagu nasional, lagu-lagu daerah, hingga lagu India! Tapi ya itu, dengan suara yang begitu sumbang karena range vokal terbatas dan benar-benar buta nada. Walhasil, teman seruanganku sering kubuat ikut-ikutan suntuk gara-gara ”terpaksa” ndengerin suaraku. 😀

6. Tidur cepet, bangun cepet

Aku ga bisa begadang. Kecuali kalau dipaksa bisa juga sih, tapi jarang sekali aku begadang. Daripada begadang, aku lebih suka tidur cepet (jam 9 sudah siap-siap tidur) dan bangun pagi-pagi. Sekali lagi menyalahkan masa lalu: pernah suatu saat mau ujian cawu (dulu istilahnya EHB) matpel IPA, eh malamnya listrik mati. Karena belajar pake lampu minyak bikin pusing (remang-remang gitu) akhirnya Ayahku ngasih ide: tidur aja, besok jam setengah tiga belajar. Sejak saat itu, kebiasaan bangun pagi mulai tumbuh, dengan ayahku sebagai alarm (beliau biasa sholat malam sih) Ternyata bangun pagi itu enak banget! (yah, sekarang kalau malasnya timbul kadang suka juga bangun telat. Apalagi kalau lagi ga sholat. Kqkqkq)

7. Brother complex

Aku dua bersaudara. Meski pusat gravitasiku adalah Ibuku, tapi aku ga bisa dipisahkan dari adikku. Mbak kosan lah yang mencapku dengan istilah ini, karena sering sekali aku bercerita dengan antusiasnya tentang adikku. Ehem, akhir-akhir ini aku baru nyadar, kadang aku tertarik seseorang (cowok) dari kemiripannya dengan adikku. Tertarik lho! Bedakan dengan ”suka”. Jadi misal: ni anak manis juga, padahal otaknya biasa-biasa aja. Kenapa aku jadi merhatiin dia ya? Lama-lama baru nyadar, oh, dia kalo senyum mirip banget ma adikku, ada lesung pipinya. Dan contoh-contoh yang lain. Tapi kalo masalah ”suka” sih, itu tergantung ”instuisi” ya… 😀

8. Aku ga bisa beli baju untuk diriku sendiri

Huhuhu, ada yang tahu bagaimana nyembuhinnya? Alih-alih baju, aku jauh lebih mudah mengeluarkan uang untuk buku. Masalah ini sudah sering sekali jadi bahan kemarahan Ibu’ku. Jadi, dari dulu bajuku ya itu-itu saja. Kebanyakan bajuku berupa: baju yang dibelikan Ibu’ku, baju lungsuran Ibu’ku, baju lungsuran Mbak kosku, baju lungsuran Mbak seruanganku, baju kelompok yang terpaksa harus dibeli (misal jaket kelas dll), dan baju yang dibelikan orang. Sementara baju yang pure kubeli sendiri atas inisiatif sendiri, mungkin baru satu atau dua. Bukan berarti ga ada uang, tapi aku merasa tiap kali beli baju sendiri, selalu saja ada yang salah. Entah kekecilan, entah cepet robek, dll. Padahal kan aku sendiri yang milih?! Di sisi lain, aku mudah sekali mengeluarkan uang untuk membeli baju buat adikku. Kalau aku punya uang sisa tinggal 50 ribu, aku lebih suka membelikan baju untuk adikku (karena sadar, dia suka baju). Padahal ”seharusnya” sebagai perempuan, aku lebih peduli terhadap mode. Tapi aku ”belum” bisa. Aduh, gimana solusinya ya??

9. Aku takut menyeberang jalan

Yang ini baru saja aku menyadari. Beberapa waktu lalu, aku menyeberang jalan dengan temanku (perempuan tentu) dan pas menyeberang, tanganku digandengnya. Setelah sampai di seberang, dia bilang ”Nur, tadi tubuhmu kaku sekali!” Hahaha, begitulah, sebenarnya aku takut menyeberang. Mungkin trauma gara-gara beberapa kali hampir tertabrak di jalan depan kantor. Ditambah kematian ”Mas mantan tetangga” (karena aku terhitung sudah 3 kali pindah rumah)- teman masa kecil yang sudah kuanggap kakak kandung- beberapa waktu lalu akibat kecelakaan. Lalu setelah kematian Mas itu, aku diwanti-wanti Ibu’ agar hati-hati menyeberang. Eh, bukannya hati-hati, aku malah jadi takut menyeberang. Apakah ini efek sifat membesar-besarkan masalah? Ga tahu juga. Tapi aku tetep bisa menyeberang sendiri kok. Cuma ya itu, dengan tubuh kaku dan jantung berdebar kencang… hihihi

10. Aku susah mencari teman

Dengan jujur kuakui, kehidupan sosialku agak kacau. Teman bagiku seseorang yang datang dan pergi begitu saja. Terlalu sering kehilangan membuatku jadi kebas dan tak peduli. Mungkin terlalu lama bergaul dengan ayam?? Sebagai akibatnya, aku tidak bisa menunjuk 10 orang lain untuk meneruskan tugas berantai ini. Maafkan aku ya Jeng Endah… ^_^ Maka biarlah tugas ini berakhir di sini.

Menabung Yuk! (part 2)

Masih melanjutkan yang kemarin. Yang ini pelajaran singkat yang kudapat dari Mbak Kos (maaf Mbak, ga ijin dulu ^^), rekan sekerja, dan orang tuaku sendiri. Mereka semua ini merupakan orang-orang yang sudah pernah merasakan “pahit manisnya” investasi. Hehehe… Jika ada yang tidak setuju, sekali lagi, ini sekedar masukan buat pertimbangan. OK! Berikut ringkasannya:

Investasi? Hmm…WAJIB! Menabung itu perlu, tapi tabungan adalah uang yang idle yang nilainya bisa terhempas oleh inflasi. Tabungan diperlukan untuk meng-handle kebutuhan yang mendesak. Nah, kalo “berasa” tabungan sudah “lebih dari cukup” untuk itu, ga ada salahnya tabungan didepositokan. Bunga lebih tinggi dan uang pun lebih aman. Eh, bunga bank kan haram? Tenang. Kan sekarang sudah ada deposito syariah yang insyaallah lebih menentramkan. ^_^

Orang yang pengin “main” aman bisa berinvestasi dengan emas atau tanah. Yang ini aman banget dari resiko inflasi, karena nilainya semakin lama semakin tinggi (asal ga dicuri atau tanahnya dalam sengketa aja).

Bentuk lain dari investasi adalah asuransi. Ada banyak tipe asuransi yang tersedia saat ini, antara lain:

  • ŸAsuransi Jiwa

Asuransi jiwa bagus, tapi hanya kalo kita sudah punya seseorang yang bergantung pada pendapatan kita. Misal: ada suami/ istri, anak-anak, atau adik yang kehidupannya bergantung pada kita. Suatu contoh: Sepasang pengantin baru, istri tidak bekerja, anak masih kecil pula. Sedang menyicil suatu rumah mungil mereka. Lalu tiba-tiba sang suami meninggal. Tanpa asuransi, sang istri yang nggak bekerja itu harus menghadapi kenyataan bahwa dia kehilangan pendapatan (karena cuma bergantung pada suami), punya tanggungan baru (si anak), dan harus membayar cicilan hutang rumah! Betapa berat beban sang istri. Di sinilah peran asuransi membantu beban ahli waris. Namun, bagi yang belum punya tanggungan (aku misalnya: belum nikah dan adikku masih di bawah tanggungan orang tuaku) asuransi jenis ini masih belum terlalu diperlukan.

Bagaimana kalo suami istri sama-sama bekerja? Biar suami aja kali ya, kan dia yang harusnya bertanggung jawab atas kita (istri)? Hoho, jangan terlalu egois, Jeng! Bagaimana kalau ganti kita yang tiba-tiba meninggal? Sementara selama ini biaya hidup dan hutang-hutang ditanggung berdua. Kan kasihan juga suami ditinggal dengan banyak tanggungan yang harus dibayarnya sendirian?!

  • ŸAsuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan diperlukan kalau kita bener-bener yakin kalo kita bakal punya penyakit berat. Ini bisa dilihat berdasarkan riwayat kesehatan: apa kita emang sakit-sakitan, apa ortu pernah punya penyakit berat? Kalo berasa sehat-sehat aja (amin), biasa hidup sehat, atau leluhur ga pernah masuk rumah sakit gara-gara penyakit berat, aku rasa asuransi ini nggak perlu-perlu amat. (Tapi tergantung pribadi masing-masing juga sih!)

  • ŸAsuransi Pendidikan

Ga perlu diambil! Waduh, kok jadi galak banget. Iya, soalnya pelajaran ini dari ortuku sendiri. Uang asuransi yang dijanjikan akan diberikan setelah sekian tahun, karena nilainya sesuai dengan ketetapan di muka, gara-gara inflasi sekarang jadi hampir tak bernilai. Apalagi biaya pendidikan semakin lama semakin mahal. Selain itu, uang ini oleh perusahaan asuransi biasanya diinvestasikan ke bentuk lain. Jadi sama aja dengan minjemin uang mereka. Pokoknya untung di mereka ga enak di kita deh! Kalau ingin mempersiapkan uang pendidikan buat anak-anak, lebih baik uang itu dipisahkan dari pendapatan, diinvestasikan sendiri dalam bentuk lain (sesuai pilihan kita), dan jangan di-uthek-uthek sampai benar-benar diperlukan, misal: pas anak mau masuk sekolah.

  • ŸAsuransi Rumah

Hmm…dari rekan sekerjaku. Mbak ini sudah mengasuransikan rumahnya di daerah Rawamangun, dulu, dengan nilai pokok 400 juta. Ternyata sekarang rumah di daerah situ rata-rata sudah bernilai 1,5 M (minimal). Jadi, kalo ada apa-apa dengan rumah itu, si Mbak cuma bisa mendapat ganti rugi sebesar maksimal 400 juta. Rugi dunk! Di sisi lain, dengan posisinya yang berada di daerah aman (hmm, elit lah!), kecil juga kemungkinan bakal ada kebakaran dsb. Jadi, bisa dibilang asuransi tersebut sia-sia. (Masih berdasarkan pendapat rekan sekerjaku itu, lho!)

  • ŸAsuransi Mobil

Daripada asuransi rumah, asuransi mobil masih lebih berguna. Hehehe…Ini karena seringnya terjadi kejadian tidak mengenakkan terhadap mobil (Jakarta gitu…). Tapi bisa juga Anda tidak mengambilnya kalo berasa (sekali lagi “berasa”!) sebagai pengemudi yang hati-hati dan selalu menjaga kendaraan dengan baik, sehingga kejadian-kejadian terburuk kecil sekali kemungkinan terjadi. :p

Mo tsuzuku… (masih berlanjut, jangan bosen, ya!) ^^

Menabung Yuk!! (part 1)

Terinspirasi dari blog temanku, aku jadi ingin membahas tentang sedikit trik keuangan yang kuketahui dari “obrolan-obrolan ringan”. Meski data-datanya tidak terlalu valid, namun menurutku cukup layak juga untuk diperhatikan (apa direnungkan ya?). Berikut “pelajaran” yang telah kukumpulkan selama ini:

Dari acara Oprah (lagi! My favorite television program deh!), saat membahas tentang “Debt Diet”, sempet juga disinggung tentang Anggaran Rumah Tangga yang ideal. Yang jelas, tiap-tiap rumah tangga (orang per orang juga bisa disebut rumah tangga nggak?) harus mempunyai anggarannya sendiri. Ini untuk mencegah pengeluaran berlebih yang nggak jelas jluntrungan-nya. Contoh yang diberikan seperti ini:

a. Rumah (plus asuransi dan perbaikan2nya) 35%

b. Transportasi (plus bensin, bea parkir, kir, dsb) 15%

c. Lain-lain (makan, baju, rekreasi, dsb) 25%

d. Utang 15%

e. Tabungan 10%

Aku nggak tahu apakah anggaran macam ini bisa diterapkan di Indonesia atau hanya berlaku di AS sana. Utang dimaksud adalah utang-utang dalam bentuk kartu kredit, terserah kredit macam apa pun. Sebenarnya agak bertolak belakang juga dengan yang pernah dikatakan Ustad Antonio (bahwa tabungan dan investasi harusnya mencapai 30% dari keseluruhan pendapatan). Tapi sementara ini membahas yang dari Oprah dulu deh!

Buat orang yang belum menikah seperti aku, dan masih nge-kos pula, rumus di atas kuterapkan dengan menghitung pendapatan honor (yang masih di bawah UMR Jakarta! Huhuhu) dikurangi pengeluaran untuk kos (35% x 850 rb = 297 rb, tapi ternyata kos ku sebulan 300 rb, masih mendekati lah!), transpor ke kantor, dan tabungan (ga nyampe 10% sih, tapi paling ga nabung), sisanya baru kuhitung sebagai pengeluaran maksimal yang bisa kubuat makan dan biaya hidup lain. Cukup bermanfaat juga lho!

Sementara buat yang udah nikah, point penting yang sempet kuinget adalah wajib-nya kita untuk punya rumah sendiri. Selain nanti total pengeluarannya lebih murah, rumah juga investasi yang bagus buat masa depan. Jangan sampai kita keasyikan tinggal di apartemen (huuu…apartemen??) trus saat tua, saat gaji tinggal 75% (buat para PNS nih!) kita baru kelabakan nyari rumah, sementara harganya dah melangit. Cucu-cucu kan biasanya selalu mendamba “liburan ke rumah nenek”?! Malu donk, kalo “nenek” malah ga punya “rumah”?! Hehehe…

Point lain, adalah “Kalo Bisa Jangan Pernah Berhutang, Apalagi Terlibat Dalam Suatu Kartu Kredit”. Sudah dikenai biaya administrasi, kemudahan dalam menggunakan kartu kredit akan membuat kita lebih mudah mengeluarkan uang. Belum lagi brosur yang gencar diberikan oleh pihak Bank, menawarkan informasi tentang barang-barang baru dengan iming-iming diskon, point, bonus, dsb yang bikin kita mupeng dan semakin komsumtif jadinya. ^_^

Point terakhir: Stop Shopping! Hehehe, susah ya kalo buat cewek ga jalan-jalan ke mall. Tapi pikir deh, tiap kali kita ke mall, atau nganterin temen belanja misal, hampir bisa dipastikan kita tertarik juga membeli sesuatu. Padahal sesuatu itu tidak terlalu penting buat kita. Aku aja, yang terkenal diantara teman-teman dengan tekad kuat dalam masalah pengeluaran, ga pernah bisa meninggalkan Carrefour tanpa membeli apapun. Kqkqkq… Kalo mau jalan-jalan, trus terpaksa keluar uang tapi uang itu akan tetap bermanfaat, bahkan manfaatnya adalah bagi masyarakat, cobalah jalan ke pasar tradisional. Kalaupun kita keluar uang, tokh kita sudah mendukung perekonomian rakyat…(Kan katanya pasar tradisional lagi kembang-kempis tuh!) ^_^

Tsuzuku … (bersambung)

Pe-èr dari Temenku

Pertanyaan-pertanyaan berikut aku dapat dari blog sebelah, yang oleh pemilik blog bersangkutan “dimintakan” agar aku mengisinya juga…hehehe. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaannya bagus dan menarik, hanya sayang jawabannya agak pribadi. Tapi tak apalah…ku up load di sini.

1. Sebutkan pekerjaan-pekerjaan yang Anda gemari!

Jawaban:

  • Membaca buku yang bagus sambil ngemil (nikmat banget!)
  • Nonton dorama yang ceritanya menarik, apalagi kalau pemainnya cakep-cakep ^_^
  • Belanja bulanan! (ga tau nih, virus dari mana…aku menikmati sekali jalan ke Harmoni –dulu- atau ke Carrefour –sekarang-)

2. Sebutkan hal-hal yang Anda sering ucapkan!

Jawaban:

  • Astaghfirullah…(ni kesebut berkali-kali deh, saat emang lagi salah, saat kaget, saat dimarahin ortu, hehehe)
  • Pèk! (bukan berarti ngomong jorok, tapi kata ini diucapin di akhir kalimat langsung, sebagai ganti dari kata Rèk yang biasa diucapin sama anak Jawa Timur. Ini sering bikin muak temen seruanganku lho! ^_^)
  • Maaf (ini lebih sering kuucapkan waktu sms atau chatting. Aku lebih suka kata maaf alih-alih kata sorry. Bagiku permintaan maaf dengan kata sorry berasa ga tulus, ga sepenuhnya minta maaf, dan ngentèngin banget –padahal mungkin maksudnya nggak demikian-)

3. Sebutkan buku-buku yang sedang Anda baca akhir-akhir ini!

Jawaban:

  • Fiqih Wanita (ga habis-habis tuh 700 halaman. Padahal belinya dah bulan lalu. Mungkin kurang tekadku untuk menyelesaikannya?)
  • Save Your Child (yang ini malah dah 2 bulan lebih kubeli, ga selesai juga karena aku dapat banyak banget buku pinjaman yang lebih menarik. Karena buku terjemahan, bahasanya agak aneh, jadi emang agak males bacanya.)
  • Yang baru kubaca dalam 1 bulan terakhir: Markesot Bertutur (Cak Nun), Cerita Seribu Satu Malam (jilid 2), How To Choose, The Tipping Point, Harry Potter 7, Andrea Hirata buku 2-3, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (Hamka), dan Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hamka juga). Ini gara-gara kos-ku yang ga menyediakan tv, jadi aku menggila dengan bacaanku (ga tau harus senang atau bersyukur T-T)

4. Sebutkan hal-hal yang ingin Anda lakukan sebelum Anda meninggal!

Jawaban:

  • Menikah dan punya anak (hehehe, kan sekarang belum tuh…siapa yang tahu kapan ajalku coba?)
  • Naik haji (walah) soalnya katanya ga boleh naikin haji orang tua kalo diri sendiri belum naik haji.
  • Nerbitin buku (tentang apa ya?)

5. Sebutkan lagu-lagu yang biasa Anda dengarkan lagi dan lagi berulang kali belakangan ini!

Jawaban:

  • Link – Laruku (wah, mantap bikin semangat)
  • Sepohon Kayu (salah satu dari sedikit nasyid yang kusuka…kqkqkq)
  • Hidamari no Uta – Le Couple (ga tau, serasa gimana gitu ndengerinnya)
  • Stay Away – Laruku (baru dapet pinjeman VCD dari Mbak Kos. Ga nyangka, Hayde dkk bisa nge-dance kaya gitu. Dan di beberapa adegan Haido-kun goyang pinggul –bukan ngebor lho!- so cute dengan tampang cuek-nya itu! Hehehe)

6. Sebutkan hal-hal yang sudah Anda pelajari sampai tahun ini!

Jawaban:

  • Dalam urip itu pasti banyak arep. Karena dalam urip harus bisa urap, kita harus bisa mengendalikan arep tersebut, sehingga bisa mencapai urup. (bingung? Coba ganti urip=kehidupan, arep=kemauan, urap=berbaur, bersosialisasi, dan urup=cahaya, kesempurnaan. Nah, mudah kan?! Ni nyontek dari bukunya Cak Nun)
  • Dunia kerja itu (bisa) sangat mengerikan!!!
  • Dan lain-lain (banyak banget kan?!)