Kecipir dan Pelangi

Apa hubungan kecipir dan pelangi?! Jawabannya: tidak ada. Tulisan ini hanya untuk memposting resep kue kering kecipir dan resep rainbow cake yang pernah kujanjikan dulu. 🙂

Kue Kecipir (resep dari ibuk)

Bahan:

Tepung beras ketan 500gr, mentega 250gr, gula pasir 250gr, telur 3 butir, wijen secukupnya/sesuai selera, minyak goreng secukupnya

Cara:

  1. Kocok telur dan gula hingga mengembang.
  2. Masukkan mentega. Aduk hingga rata. (Untuk memudahkan, mentega bisa dilelehkan dulu lalu didinginkan baru dicampur ke adonan. Tapi kemarin aku langsung hantam aja, kukocok pake mixer kecepatan rendah)
  3. Tambahkan tepung ketan dan wijen, uleni sampai kalis. Cetak dengan cetakan bunga mawar (yang bentuk corong itu) panjang-panjang sekitar 5cm
  4. Goreng di minyak dingin. Ini bagian paling tricky. Jadi minyaknya harus dingin atau anget pas nyemplungin adonannya. Persis kaya nggoreng krupuk udang.

kecipirMaaf ga punya fotonya. Gambar dari sini.

Rasanya?! Enakkk… Nindy suka. Aku suka. Abi suka. Ada sekantong kecil yang kubawa ke kantor buat kiki, sebagai kompensasi rasa bersalah karena selama ini cerita doank kalo habis bikin ini-itu tanpa ngasih icip ke dia. Kebetulan mbak dimi ikut ngicip kecipirnya. Katanya enak banget. Tapi mungkin agak keras karena kalo dilihat di resep lezat itu kan tepungnya 200gr doank. Buatku sih untuk percobaan kali ini cukup sukses.

Rainbow Cheese Cake (resep lupa dari mana)

Bahan basecake:

Tepung terigu 200gr, gula pasir 200gr, susu bubuk 20gr, SP 1sdm, telur 10 butir, mentega 150gr, margarin 50gr, pewarna secukupnya

Cara:

  1. Lelehkan mentega dan margarin (aku pake blueband yang plus butter), biarkan dingin
  2. Campur tepung dan susu bubuk
  3. Kocok telur, gula, dan SP hingga mengembang
  4. Tambahkan campuran terigu dan susu sedikit demi sedikit
  5. Tambahkan campuran mentega
  6. Bagi adonan menjadi 6 bagian. Aku beli pewarna cuma kuning, merah, dan biru. Warna lainnya diturunkan dari 3 warna primer  itu. #emakirit
  7. Panggang 20 menit di suhu 175 derajat. Kemarin aku praktek cuma setengah resep. Jadi masing-masing adonan aku panggang 180 derajat 5 menit api bawah dilanjut 5 menit api atas bawah

Bahan cream:

cream cheese 300gr, mentega putih 100gr, susu bubuk 1 sachet

Cara:

  1. Aduk semua bahan
  2. Tunggu kue dingin baru dicover.

Aku baru tahu ternyata kata “dingin” ini maksudnya masukkan kue ke lemari es terlebih dahulu. Mula-mula aku langsung cover aja pada suhu ruangan. Jadinya aseeeemmmm. Ga nyambung blas. Makanya sempat kukira gagal. Namun begitu masuk kulkas, rotinya jadi lembut bangettt… dan cream cheese-nya begitu yummy. Ga nyombong, samalah rasanya dengan rainbow cheese cake harvest. *mintadilemparsendal

Ok, mari kita tutup postingan ini dengan foto anak kecil lagi nguleni adonan:

lucuManisnyaaaa!!! >.<

Jajan buat Kumpulan

SEHARUSNYA hari Sabtu kemarin aku dan nindy menghadiri acara pertemuan dengan para POC’ers di rumah mbak heni. POC adalah nama kost-an ketika aku masih di STAN. POC angkatan pertama, anggotanya terdiri dari mbak heni, mbak nduk, mbak ephie, mbak rima, mbak vio, amel, nidya, dan aku. Berhubung kami sudah lama tidak ketemu (kecuali aku dengan amel dan mbak heni dengan mbak ephie karena kerjanya sekompleks) maka tercetuslah ide untuk kumpul para emaks di rumah mbak heni. Karena mbak heni mengusulkan ide potluck dan nidya sudah berjanji akan membawa kue, aku pun mencari-cari makanan yang kira-kira belum dibawa oleh yang lain. Aku teringat cetakan takoyaki yang sudah lama dihibahkan oleh ibuk. Maka terpikirlah untuk memerawani cetakan tersebut dengan percobaan bikin kue lumpur. Yups, aku pun berencana datang dengan membawa kue lumpur dan puding busa.

Namun apa daya, setelah bangun pukul setengah 4, mempersiapkan bahan-bahan, bahkan puding busa sudah jadi, mbak prih ternyata sakit. 😥

Aku masih meneruskan membuat kue lumpur (wong bahan-bahan sudah siap semua) walau hati ini teramat galau. Setelah kue lumpur matang dan aku berdiskusi dengan mz nug, maka kami pun mengambil keputusan untuk tidak hadir di pertemuan POC. Mana tega kami ninggalin mbak prih yang sedang sakit sendirian di rumah. Hiks! Sedih atas sakitnya mbak prih, juga sedih karena ga jadi ketemu para emaks. Padahal sebenarnya jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah (yang ngelempar batu Nabi Adam). Maaf ya teman-teman…

Buat kenang-kenangan, aku tulis saja resepnya di sini ya… Ini pertama kali aku bikin kue lumpur dan kedua kalinya aku bikin puding busa (yang dulu gagal total). Hasilnya enak kok. Resep diambil dari NCC, satu komunitas memasak yang sudah kondang sejagad maya. 🙂

PUDING BUSA NATA PANDAN (resep asli: Puding Busa Jeruk Mandarin) – 1/2 resep

Bahan:

  • 2 butir putih telur
  • 1 bungkus agar-agar putih
  • 100 gr gula
  • 375 cc air
  • 30 gr nutrisari (aku ganti dengan sedikit pasta pandan)
  • jeruk mandarin (aku ganti dengan nata de coco rasa pandan)

Cara:

  • Tata nata de coco di cetakan.
  • Rebus agar-agar, gula, dan air sampai mendidih, matikan api.
  • Ambil campuran agar-agar, taruh sedikit di wadah secukupnya untuk mengikat nata de coco agar nata de coconya nanti tidak “melayang”.
  • Kocok putih telur hingga kaku, masukkan agar-agar yang sudah hilang uap panasnya. Aduk rata. Tuang ke atas nata de coco.

Tips (diambil dari para anggota NCC dan pengalamanku):

  • Pastikan wadah dan alat mengocok putih telur benar-benar bersih dan kering. Putih telur dikatakan kaku kalo dia tidak tumpah ketika wadah dibalik.
  • Saat mencampur agar-agar dengan putih telur, ambil dulu sekitar 2 sendok buat memancing, setelah rata baru dituang sisanya sedikit-sedikit.
  • Bikin vla dulu baru bikin agar-agar, biar kuning telornya tidak harus “menunggu”. Sedang putih telur gapapa masuk kulkas dulu.
  • Vlanya kalo pake susu UHT/kental manis, takaran gulanya sebaiknya dikurangi. Kemarin aku lupa kalo UHT-nya sudah manis, jadi kemanisan deh… Pun bila UHT/kental manisnya sudah berasa vanila, bahan vanilanya juga bisa ditiadakan.

VLA VANILA

Bahan:

  • 250 ml susu
  • 100 gr gula
  • 1 butir kuning telur
  • 1/2 sdm maizena
  • 1/4 sdt vanila

Cara:

  • Maizena diencerkan dengan sedikit susu. Tambahkan telur dan vanili.
  • Rebus susu dan gula hingga mendidih, kecilkan api. Masukkan larutan maizena.
  • Rebus campuran sampai kental dan meletup-letup

Catatan: Aku sudah dua kali ini bikin vla dan gagal lagi. T-T Tapi masih mending sih daripada dulu (dulu vla-ku bau amis :p). Yang sekarang cuma kurang kental dan teksturnya kurang halus. Mungkin api-ku kebesaran dan maizenaku kurang.

Maaf fotonya berantakan

KUE LUMPUR MUNGIL (Resep asli: Kue Lumpur Labu Parang)

Bahan:

  • 300 ml santan sedang kental (aku bikin dari 2 sachet santan kara yang kecil-kecil itu, kutambah air sampai semua menjadi 300ml)
  • 1/2 sdt garam
  • 2 butir telur
  • 150 gr labu kukus halus (aku ganti dengan kentang seadanya, pas kutimbang mentah 1 butir itu 200 gr, jadi ya tepungnya yang sedikit aku kurangi)
  • 130 gr tepung (menyesuaikan dengan kentang)
  • 120 gr gula
  • kismis untuk topping

Cara:

  • Telur dan gula dikocok hingga mekar, masukkan kentang. Aduk rata (aku kocok pake mixer kecepatan rendah)
  • Di resep tidak ada step masukin tepung. Kalo aku, aku masukin tepung sedikit demi sedikit setelah kentang rata, aduk pake spatula.
  • Tuang santan secara bertahap.
  • Panaskan cetakan (pengalaman: cetakan takoyaki ga perlu dikasih mentega, kalo pun ngasih sedikiiit aja, soale bagian yang kena mentega jadi susah gosong, padahal kan lumpur bagusnya bawahnya agak coklat-coklat gitu, krasa mantep matangnya). Apinya kecil saja.
  • Tuang adonan 3/4 cetakan (itu kalo cetakan lumpur ya, kalo model aku yang cekung banget, kayane bagusnya 1/2 aja). Tutup.
  • Setelah setengah matang, taburi kismis (kismisnya 1 aja 😀)
  • Tutup lagi, panggang hingga matang.

Ada anak kecil ngintip umminya lagi usil motretin kue.

Itu nindy manjat kotak isi alat-alat tulis lho. Ada-ada aja nih anak. Nggemesiiinn…

Resep MPASI: pepes mujair dan puding melon

Daripada pusing, nulis resep dulu ah.

Di usia 8 bulan, nindy sudah boleh makan ikan darat. Berdasar sumber yang aku lupa namanya, daging ikan sebaiknya dimasak terpisah, ga dicemplung langsung ke bubur kaya daging ayam. Sekalian juga nyobain bumbu-bumbu dapur. Ini resep yang kucoba hari sabtu dan minggu kemaren. Sumbernya?! Lagi-lagi ngaco berdasar kreasi sendiri. Tapi nindy suka bangeet lho… Padahal buburnya bau ikan banget kaya dikasih nori. Entah udah bosen dengan ayam dan menu biasanya, entah emang dia doyan ikan kaya umminya. :p

Pepes mujair

Bahan:
Mujair 1 ekor, bersihkan sisiknya, potong jadi 2
1 siung bawang merah, iris tipis
1 siung bawang putih, dikeprek, cincang
1 potong daun bawang, potong menyerong
3 lembar daun salam

Caranya:
Di dalam loyang, tata ikan. Taburi dengan bawang-bawangan dan tutup dengan daun salam. Kukus sekitar 15 menit. Angkat.

Bubur Beras Putih

Bahan:
Beras putih 2 genggam, cuci bersih
Air 200ml
Kaldu ayam 2 blok, cairkan
1 buah labu siam lalapan, buang getahnya, kupas, potong kecil-kecil
Daun bawang secukupnya

Caranya:
Beras dimasukkan dalam slow cooker, tambahkan air. Setel ke high. Setelah 3 jam, masukkan kaldu, labu, dam daun bawang. Masak lagi selama 1 jam. Saring bersama daging mujair. Hidangkan.

Puding melon

Bahan:
1 sdt agar-agar
300ml air

Caranya:
Campur air dan agar-agar, rebus sampai mendidih. Angkat. Taruh dalam wadah. Biarkan dingin agar membeku. Setelah dingin, ambil sekitar 3 sendok makan. Saring (lebih halus saringannya lebih baik). Hidangkan dengan puree melon (melon dipotong-potong, kukus sekitar 3 menit, haluskan).

Resep MPASI: bubur oatmeal dan tumis bok choy

Haiyaa…sombong nian sok-sokan nulis resep. Ah, sharing kan gapapa kan ya?

Jadi ceritanya nindy lagi bosan makan makanan yang itu-itu aja (baca: bubur beras plus lauk yang dicemplung bareng). Maka mbak prih mengusulkan agar aku membuat bubur oatmeal. Pengalaman minggu lalu, nindy lahap banget pas makan bubur oatmeal plus mashed potatoes (cih, kentang tumbuk doank sok-sokan bilang mashed potatoes). Padahal menurutku ga nyambung ya kentang asin ma oatmeal (kebiasaan sendiri makan oatmeal dicampur yang manis-manis). Tapi lha anaknya doyan, OK lah, bikin oatmeal pake lauk asin lagi aja.

Nengok ke kulkas, eh kok lagi kosong. Belum belanja (emak males). Ga ada kentang. Ga ada tahu/tempe. Cuma ada sebuah bokchoy teronggok dengan mengenaskan. Hadeuh. Mikir: kalo dicemplung ke oatmeal, kok kayane aneh nantinya. Kalo dikukus, rasanya tetap hambar kan? Praduga tak berdasar: nindy makan tumisan gapapa kali ya?

Dan, inilah menu nindy hari minggu kemarin:

Bubur oatmeal

3 sdm cooking oatmeal
300 ml air

Rebus oatmeal dan air sampai mengental. Angkat. Saring.

Tumis bok choy

1 buah bok choy (aku ambil daunnya aja dan batangnya yang muda, cuci, potong-potong)
1/2 siung bawang putih, dikeprek, cincang
1 blok kaldu ayam (daging ayam direbus dengan daun bawang, bawang putih, dan wortel, sisakan airnya hingga 3/4, bekukan di ice tray)
extra light olive oil dan air secukupnya

Panaskan minyak zaitun, tumis bawang putih sampai harum, siram air, tambahkan kaldu. Setelah mendidih, masukkan bok choy. Tumis sampai layu. Angkat. Haluskan (diblender/disaring). Tuang di atas bubur oatmeal.

Hasilnya? Nindy lahap bangeeettt… Awalnya bubur oatmealnya cuma kukasih 2 sendok, eh minta tanduk sampe aku terpaksa bikin bubur baru buat sore harinya. Anak senang, emaknya lebih senang lagi.. >.< Alhamdulillah…

NB: maaf no picture, tapi ga hoax kok…

Minggu Bola-bola

Weekend kemarin, temanya adalah “bola-bola”

Sabtu malem minggu, bikin bola-bola coklat.

Minggu pagi, pingin bikin kue klepon. Sebelumnya belum pernah bikin. Tanya ibuk, ternyata beliau juga ga pernah bikin. Akhirnya nemu resep di internet yang ga usah pake air kapur sirih (ga punya soale). Sempet deg-degan takut ga jadi, ternyata jadi juga. Cuma karena ga tau takaran pasta pandan yang pas, jadi ngasihnya dikit banget. Hasilnya, warna kleponnya hijau toska :p

Warna yang lebih cocok untuk cat dinding ketimbang makanan… 😛

Masih belum bisa bikin klepon yang tipis kulitnya penuh isinya (diprotes suami, katanya gula merahnya kurang). Kayane itu emang butuh pengalaman.

Nindy imunisasi

Setelah semingguan Jakarta dihajar hujan badai, Jumat malem tanggal 13 Januari, alhamdulillah langit cerah. Akhirnya jam setengah 8 malam nekat ngajak nindy ke bidan. Menuhin utang imunisasi DPT 3 yang telat 2 minggu. Kali ini ngotot ga mau ngasih parasetamol. Tapi ternyata demamnya lama. Setelah bertahan melihat nindy demam dan rewel semalaman dan seharian, akhirnya luluh juga ketika melihat panasnya mencapai 38,4 derajat. Entah karena parasetamol atau karena emang siklusnya udah selesai, Sabtu malem demamnya udah turun.

Damai wajahmu dalam pelukku…

BB 7,8kg. Naik 700 gram. Alhamdulillah.

Brownies Kukus

Hujan di hari Sabtu membuatku membatalkan semua rencana, termasuk rencana imunisasi nindy 😦

Akhirnya iseng bikin brownies kukus. Hasilnya? Terlalu lembut kaya sponge cake (-_-!) Entah kelamaan ngaduk atau kebanyakan SP (resepnya cuma 1/2 sdt kukasih 1 sdt :p)

Tapi yang penting, suami bilang enak 😀 (mbak Prih juga bilang enak kok, jadi ga subyektif ya… 😀) Eh, aku juga bilang enak. Hihihi.

Buat yang pingin nyoba, resep dari sini. Insyaallah gampang…

Tumis Kangkung Ibuku

Sudah ke warteg-warteg, tapi belum pernah ketemu. Sudah coba googling, tapi tak ada resep yang serupa. Maka yakinlah aku, ini adalah resep asli kreasi ibuk-ku. Ibu terhebat di dunia.

“Tumis Kangkung” (a la bu Kasiati)

Bahan:
kangkung segar, potong-potong, cuci bersih
santan kental sedikit saja (kira-kira 1 gelas)

Bumbu:
bawang merah, bawang putih, merica, gula, garam, tomat (haluskan)
daun bawang, iris
lengkuas, digeprek
kecap manis
minyak untuk menumis

Cara memasak:

  1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, tambahkan lengkuas
  2. Masukkan santan, biarkan mendidih sebentar, tambahkan kecap manis
  3. Masukkan kangkung dan daun bawang. Tutup biar kangkung cepat matang
  4. Selesai

Tuh kan, mudah banget nget nget… Dan masakan ini benar-benar belum pernah kutemui di daerah lain. Jadi di rumah Malang, istilah tumis kangkung dan oseng kangkung itu berbeda. Tumis untuk kangkung masak kuah santan seperti di atas, dan oseng untuk kangkung tumis pake bawang dan cabe iris seperti yang sering ditemui di warteg-warteg. Rasa tumis kangkung a la ibuk?! Hmmm… sedap! Apalagi dimakan pas anget-anget pake lauk tempe Malang digoreng garing dan asin. Yummy…

NB: Maaf ga ada gambar (ketahuan udah lama ga masak). Maaf juga ga pake takaran. Kalo masak aku juga cuma ngira-ngira. Jadi semua bahan dan bumbu secukup dan sepantasnya saja ya.. ^-^v