Rindu

Adalah dirimu, yang selalu menggelitikku untuk merindu
Tawa lebar diapit dua lesung pipit
Pipi tembam kemerahan
Paha bulat menggemaskan
Senyummu setiap menyambut hadirku

Adalah dirimu, yang selalu aku kangeni
Tak pernah puas rasanya menciumimu seribu kali
Memandang wajah damaimu yang terlelap di sampingku
Seluruh duniaku ada padamu:

 Nindy Kirani Tsabita Nugroho

 

NB: happy long weekend everyone…

Lintasan Kenangan

Juli 2008

Selasa siang yang biasanya terik kali ini tak terasa menyakitkan. Jam 2 tadi aku mengantarnya sampai ke stasiun. Melihat kereta yang perlahan menjauh meninggalkanku, tenggorokanku serasa tercekik. Dengan susah payah kusembunyikan air yang mulai menggenang di mata. Kupaksakan menampilkan padanya, senyuman termanis yang kupunya.

Kembali ke kantor, mencoba bekerja seperti biasa, tapi ingatanku selalu tertuju padanya. Sudah sampai manakah? Amankah di kereta? Nyamankah perjalanan? Kukatakan pada rekan sekerja betapa aku merasa sangat kehilangan.

Sore hampir maghrib. Sempat aku menghilangkan gundah dengan menyapa seorang pria tampan yang kebetulan jalan searah pulang denganku. Selama percakapan, sempat kuterhibur dan bisa melupakannya. Tapi begitu kami berpisah dan aku terpaksa sendirian, kerinduanku kembali membuncah.

Gontai. Kunaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kuputar kunci dan kubuka pintu. Berantakan. Sisa-sisa kekacauan tadi pagi. Ah, baru beberapa jam yang lalu ia masih berada di sini, setelah selama 3 hari kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sehelai kertas tergeletak di lantai. Dengan berdebar kupungut, berharap ada tulisan tangannya di sana. Namun tak ada. Kecewa, kulihat sekeliling. Berharap lagi untuk menemukan sisa-sisa jejaknya yang tertinggal. Namun tak juga kumenemu. Dengan putus asa kuhempaskan tubuh ke ranjang –ranjang yang selama 3 malam ini ditidurinya-. Sedikit pun tak tercium bau tubuhnya. Kenapa? Kenapa dia pergi bagaikan kabut? Pergi begitu saja tanpa setitik pun jejak tersisa?

Aku merindunya. Aku sungguh merindukannya. Tak kusangka menghantarkan kepergian, jauh lebih menyakitkan daripada pergi itu sendiri. Aku gugu. Baru kusadari, betapa selama ini sudah berkali-kali hatinya tersayat melihat kepergianku.

Agustus 2008

Sudah sebulan, keluhku dalam metromini yang melaju menghantarkanku pulang ke kosan. Kupandang jalanan di luar -jalan yang pernah aku lewati bersamanya-. Masih terik matahari di senja Agustus yang kering ini. Dia tidak pernah tahan dengan hawa panas Jakarta, kenangku. Juga polusi di dalamnya. Tapi dia suka sekali naik bajaj. Meski aku sudah pernah mengajaknya naik busway yang jauh jauh lebih nyaman itu, dia lebih suka memintaku untuk naik bajaj. Aku teringat kesabarannya menanti bersamaku selama 4 jam untuk bisa naik ke puncak monas. Dia begitu tegar. Padahal pastinya migrain yang biasa dia derita itu telah menyerang, tapi dia tetap tersenyum, mengalah pada keinginan adikku. Kini aku tersenyum getir merinduinya.

Ah, tunggulah! Tunggulah hingga sebulan lagi. Aku akan pulang.

Okasan, aishiteru!

Akhir-akhir ini jadi makin sering posting ngaco. Ini tulisan isengku beberapa bulan lalu. Bagian akhir emang kutambah-tambahin se, sebuah pemikiran dan perasaan nyata yang tak sempat kutuliskan dulu. Hehehe, senang bercerita dengan bahasa kacau seperti ini. Tapi emang sih, aku tak pernah berhenti merindukan ibu’ku. ^_^

Aku Menjauh (lagi) ?!

Akhir-akhir ini, jadi sering merasa “kosong”

Pada-Mu

Aku berdiri di atas padang berduri
Angin berhembus bawa anyir darahku
Tubuhku kelu, tapi hatiku lebih pedih
saat jarak ini terasa kian jauh

Diri-Mu megah pada arsy-Mu
dan aku yang hina tenggelam dalam lumpur
Lihatlah tanganku yang merangkak penuh luka
menggapai-Mu
(Ini padang tiada berbatas)
Lihatlah diriku tiada berupa…
menderita karena cinta

Rinduku memutih salju
memuncak pada-Mu.

Semoga diriku tak lagi terpuruk sejauh itu.