Up Date Campur-campur

Walau sebenernya ga penting juga di up date. Tidak berguna apapun bagi pembaca… -_-!

1. 1 Mei

  • Nindy 9 bulan, siap-siap imunisasi campak.
  • Merangkak tambah cepet, rambatan, naik tangga.
  • Ternyata alergi telur (bruntusan pas tak kasih kuning telur)
  • Err… apa ya? Belum ada perkembangan lain yang perlu diceritakan (kemarin udah telat up datenya)

Abaikan wajah perempuan jelek di sebelahnya. Fokus sama anak yang imut itu aja 😀

2. 2 Mei

  • Milad mz nug yang ke… pokoknya sama dengan tahun lahirku lah…
  • Pingin ngajakin makan siang bareng, ternyata aku ada jadwal rapat
  • Pingin ngasih kado, ternyata gagal
  • Menangis ga bisa nonton Laruku (berharap bisa nonton cuplikan konser)

Suatu saat pasti kan bertemu (di akhirat maksudnyah?!)

3. Rumah sebulan

  • Tiap buka pintu pagar di penghujung senja, bawaannya lega. Sudah sampai rumah!
  • Suasananya tenang, kaya di kampung
  • Temen bagian sebelah yang sudah lebih dulu tinggal di kawasan itu selama 2 tahun juga bilang emang daerah itu lebih mirip kampung
  • Gang sempit (di kota Malang juga banyak gang sempit), anak-anak bermain di sore hari, anak-anak belajar ngaji di masjid seusai magrib, anak yang lebih gede belajar/les ke tempat gurunya -diantar orang tua-, dan para balita yang ngomong dalam bahasa balita (ampun deh mbayangin pas di Kemayoran dulu). Semoga benar-benar tempat yang baik untuk tumbuh kembang anak.
  • Angin di balkon. Langit. Jarang terdengar bising motor. Lambaian daun-daun lamtoro depan sekolah yang menyembul dari balik atap.
  • Rumah yang masih kosong dari perabot 😀

Diambil dari jarak jauh dengan hape kualitas rendah

4. Wajan Happy Call

  • Beli dengan mencicil 4 kali ke temen kantor. Baru bayar 1 kali cicil.
  • Di kaskus nemu barang yang sama, harganya lebih murah 50 ribu. Tapi pasti yang itu ga boleh dicicil 😀
  • Kata ibuk (penasehat keuangan pribadiku), gapapa kalo uang buat beli alat-alat dapur. Ga pernah ada ruginya. (yay, direstui!)
  • Percobaan pertama: martabak telur a.k.a. terang bulan. Walau kurang moist karena takaran santannya tak kurangi (takut keenceran) dan kurang berani ngasih menteganya (eh, kurang isian juga sih) hasilnya lebih memuaskan daripada pake wajan biasa.

Gambar happy call dari sini

Our (soon) New Home

Jadi inilah yang bikin aku rada uring-uringan di tengah pressure kerjaan kali ini.

Iya, kecil. Iya, modelnya udah kuno. Iya, di gang sempit. Iya, mungkin akan terancam banjir. Tapi masih di Jakarta, harga terjangkau, dan “ini adalah rumah kami”. Insyaallah, dalam waktu dekat. Mohon doa agar semua lancar.

NB: Sebenarnya sudah sangat muak dengan Jakarta. Tapi banyak pertimbangan kenapa kami memilih Jakarta sebagai home base. Semoga suatu saat nanti bisa mewujudkan rumah impian, dengan balkon menghadap Gunung Kawi dan sawah-sawah di bawah…

Luas dan Sempit, Besar dan Kecil

Dulu, keluargaku pernah tinggal di sebuah rumah Penjaga Sekolah. Kami pindah kesana waktu umurku 4 tahun. Di situ pula aku bersekolah. Di SDN Saptorenggo I.

“Rumah Penjaga Sekolah” berbeda dengan rumah yang ditujukan buat Guru SD. Terdiri dari 4 ruangan: ruang tamu, 2 kamar tidur, dan satu ruang tengah. Dapur terletak di belakang, sedikit terpisah. Eng…ada yang nyadar keanehannya? Yup, tidak ada kamar mandi! Kamar mandi terletak di pojok lain sekolah, terpisah 2 lokal kelas dan satu ruang perpustakaan. Letaknya pas di pojokan yang paling dekat kuburan. Bayangin kalo kebelet pipis pas jam 12 malam, aku tetep harus jalan ke kamar mandi yang deket kuburan itu sendirian!

Saat itu, aku merasa senang sekali tinggal disana. Dari ruang tamu, dalam beberapa langkah sudah bisa masuk kamar tidur. Barang-barang terletak berdempetan dan multifungsi (jadi ngebandingin ma rumah-rumah di Jepang yang barangnya umpek-umpekan ga jelas dalam satu ruangan). Meja di ruang tengah bisa menjadi meja makan, meja belajar, meja kerja, meja setrika, rak sepatu (bawahnya), dan meja masak (kalo lagi bikin kue lebaran). Keren sekali! Bagiku rumah itu sudah sangat luas. Halamannya bahkan super luas (ya iyalah, halaman SD gitu!). Bertahun-tahun tinggal di sana, aku merasa nyaman. Aku menganggap lokal kelas adalah rumahku juga, perpustakaan sekolah sebagai ruang pribadiku (keren bo, punya perpustakaan pribadi…hehehe).

Namun, keinginan pindah dan punya rumah sendiri terus menggebu-gebu. Dari pihak Ibu’, beliau mengeluhkan dapur yang sangat sempit (kalo mau masak gede-gedean, kami harus pake tungku dan masak di halaman belakang -kaya orang primitif aja- atau mengusung kompor ke ruang kelas…hohoho) dan letaknya yang kepisah itu. Unfortunately, pintu dapur itu mengarah ke pojokan kuburan. Kasihan kalo Ibu’ lagi masak malam-malam dan harus menikmati pemandangan gelap gulita di kejauhan. Apalagi (tentu saja) rumah kami jauh dari tetangga. Juga letak tempat cuci piring yang nebeng di teritis belakang. Kata Ibu’, kasihan liat aku nyuci piring sambil setengah hujan-hujanan. Hehehe…

Akhirnya, alhamdulillah, dengan perjuangan keras selama 4 tahun, kami dapat mendirikan rumah di kampung yang sekarang. Awalnya aku sedih, masih lebih sayang dengan rumah yang dulu. Suatu hari, saat aku (kalo ga salah inget) sudah kelas II SMP, ayah mengajakku mengunjungi bekas rumah di SD itu. Karena ga bisa masuk, aku hanya bisa melongok dari jendela. Lalu aku menyadari, ya ampun, sempit sekali! Entah karena aku sudah tumbuh jauh lebih tinggi, atau karena sudah lebih terbiasa dengan rumah sekarang yang memang lebih luas, jadi waktu melihat rumah yang lama: ruang tamu 3×4 m, kamar tidur 2,5×2,5 m, dan dapur 1,25×2 m (cuma cukup buat 2 orang!) itu, semua terlihat begitu menyesakkan. “Lho, perasaan dulu kelihatan luas?!”.

Aku akhirnya sadar. Tentu saja dulu rumah itu terlihat luas. Karena aku melihatnya dari kacamata seorang anak kecil! Pastinya buat Ayah dan Ibu’, dulu pun rumah itu sudah terasa sumpek sekali.

Ternyata, masalahnya ada pada perbedaan sudut pandang. Bagi anak kecil, ruang yang sempit terlihat luas. Namun bagi orang dewasa, tentu saja ruangan itu ga muat untuk menampung tubuhnya.

Mengenang ini, aku jadi membandingkannya dengan masalah-masalah yang kadang kuhadapi. Sering aku mengeluh ini itu, seolah hal tersebut adalah sesuatu yang besar. Padahal, bagi orang lain, mungkin hal itu adalah masalah kecil. Disini terlihat perbedaan “kebesaran” jiwa. Dengan jiwaku yang kerdil, aku merasa masalah kecil adalah bencana, cobaan yang mesti ditanggung, atau azab atas perbuatanku. Padahal, yang diperlukan adalah memperbaiki cara pandang.

Kurasa, sama seperti rumah, semakin “besar” manusia, semakin besar pula masalah. Masalah yang datang akan selalu sebanding dengan kemampuan kita, karena Dia telah menjanjikan seperti itu. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Aku pernah mendengar, kabarnya, orang besar itu adalah orang yang otaknya berisi masalah negara, masyarakat, dan hal-hal besar lain. Orang kerdil adalah yang masalahnya hanya berkutat pada diri pribadinya. Apakah aku bisa tampil cantik hari ini? Kenapa baju di jemuran ga kering-kering? Dan hal-hal remeh lainnya. Ah, kalo seperti itu, rasanya masih jauh diriku dari gambaran “orang besar” …

Menjadi orang besar, dan berjiwa besar, ada yang tahu bagaimana caranya?

NB: Tak dinyana, ternyata bekas rumah di SD itu sekarang menjadi perpustakaan, sama seperti keinginanku punya rumah yang banyak bukunya. Hehehe…