Kaze-san รจ

Musim gugur tahun ini datang di dini hari
Dedaun menguning mengiring redup harap di hati
Menghembus dingin,
satu persatu luruh dalam sisa kabut
Kubur jejakmu dengan hitam daun
Menyisa lengang jalan, lengang diriku di ujung.

Masih juga seperti dulu, kasih, aku bertahan
Ikhlas melepas kenangan
Sesampai nyanyi sunyi, senada alunan sepi
Kuhapus luka dengan air mata. Sudah kering semua.
Kau tahu?!
Duka kan menguatkanku!
Pilar dari prasasti kemenangan bernama kedewasaan.

Hingga tiba hari ketika kusongsong musim semi.

Untuk Sebuah Negeri yang Jauh

Sebenarnya ingin sekali aku mem-posting kegiatanku selama liburan kemarin. Tapi begitu sampai di kostan, kunyalakan tv, dan kulihat berita tentang sebuah negeri yang jauh, aku merasa malu (selama di Malang emang jarang nonton berita). Di sebuah negeri yang jauh itu, jangankan berlibur bersama keluarga, bisa menemukan anggota keluarga dalam keadaan hidup atau selamat-tak-berkurang-suatu-apa susah sekali pastinya. Maka aku pun teringat pada sajak yang kubuat jaman SMA, yang sebenarnya terinspirasi oleh keadaan negeri yang jauh itu. Karena Nur pada dasarnya tak pandai bersajak, maka jadilah sajak itu seperti sajak buatan anak SD. Di bawah adalah bunyi sajakku dulu, dengan sedikit perubahan. ๐Ÿ˜›

Say Hello to God

Hallo Tuhan, selamat pagi

Bumi hari ini meriah sekali

Ada banyak bunga api dan laut bau anyir

Mayat bergelimpang dan jeritan anak kecil

Hallo Tuhan, selamat pagi

Kami lihat Kau berubah kini

Menjadi moncong senapan, rudal, dan senjata

Bukankah Engkau yang berhak atas nyawa?

Hallo Tuhan, selamat pagi

Kami di tepi bumi, hanya bertahan karena-Mu

Meski tak ingin menyerah

Ini hidup terasa kian lelah

Hallo Tuhan, selamat pagi…

Apa esok kami masih boleh bermimpi?!