Jajan buat Kumpulan

SEHARUSNYA hari Sabtu kemarin aku dan nindy menghadiri acara pertemuan dengan para POC’ers di rumah mbak heni. POC adalah nama kost-an ketika aku masih di STAN. POC angkatan pertama, anggotanya terdiri dari mbak heni, mbak nduk, mbak ephie, mbak rima, mbak vio, amel, nidya, dan aku. Berhubung kami sudah lama tidak ketemu (kecuali aku dengan amel dan mbak heni dengan mbak ephie karena kerjanya sekompleks) maka tercetuslah ide untuk kumpul para emaks di rumah mbak heni. Karena mbak heni mengusulkan ide potluck dan nidya sudah berjanji akan membawa kue, aku pun mencari-cari makanan yang kira-kira belum dibawa oleh yang lain. Aku teringat cetakan takoyaki yang sudah lama dihibahkan oleh ibuk. Maka terpikirlah untuk memerawani cetakan tersebut dengan percobaan bikin kue lumpur. Yups, aku pun berencana datang dengan membawa kue lumpur dan puding busa.

Namun apa daya, setelah bangun pukul setengah 4, mempersiapkan bahan-bahan, bahkan puding busa sudah jadi, mbak prih ternyata sakit. 😥

Aku masih meneruskan membuat kue lumpur (wong bahan-bahan sudah siap semua) walau hati ini teramat galau. Setelah kue lumpur matang dan aku berdiskusi dengan mz nug, maka kami pun mengambil keputusan untuk tidak hadir di pertemuan POC. Mana tega kami ninggalin mbak prih yang sedang sakit sendirian di rumah. Hiks! Sedih atas sakitnya mbak prih, juga sedih karena ga jadi ketemu para emaks. Padahal sebenarnya jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah (yang ngelempar batu Nabi Adam). Maaf ya teman-teman…

Buat kenang-kenangan, aku tulis saja resepnya di sini ya… Ini pertama kali aku bikin kue lumpur dan kedua kalinya aku bikin puding busa (yang dulu gagal total). Hasilnya enak kok. Resep diambil dari NCC, satu komunitas memasak yang sudah kondang sejagad maya. 🙂

PUDING BUSA NATA PANDAN (resep asli: Puding Busa Jeruk Mandarin) – 1/2 resep

Bahan:

  • 2 butir putih telur
  • 1 bungkus agar-agar putih
  • 100 gr gula
  • 375 cc air
  • 30 gr nutrisari (aku ganti dengan sedikit pasta pandan)
  • jeruk mandarin (aku ganti dengan nata de coco rasa pandan)

Cara:

  • Tata nata de coco di cetakan.
  • Rebus agar-agar, gula, dan air sampai mendidih, matikan api.
  • Ambil campuran agar-agar, taruh sedikit di wadah secukupnya untuk mengikat nata de coco agar nata de coconya nanti tidak “melayang”.
  • Kocok putih telur hingga kaku, masukkan agar-agar yang sudah hilang uap panasnya. Aduk rata. Tuang ke atas nata de coco.

Tips (diambil dari para anggota NCC dan pengalamanku):

  • Pastikan wadah dan alat mengocok putih telur benar-benar bersih dan kering. Putih telur dikatakan kaku kalo dia tidak tumpah ketika wadah dibalik.
  • Saat mencampur agar-agar dengan putih telur, ambil dulu sekitar 2 sendok buat memancing, setelah rata baru dituang sisanya sedikit-sedikit.
  • Bikin vla dulu baru bikin agar-agar, biar kuning telornya tidak harus “menunggu”. Sedang putih telur gapapa masuk kulkas dulu.
  • Vlanya kalo pake susu UHT/kental manis, takaran gulanya sebaiknya dikurangi. Kemarin aku lupa kalo UHT-nya sudah manis, jadi kemanisan deh… Pun bila UHT/kental manisnya sudah berasa vanila, bahan vanilanya juga bisa ditiadakan.

VLA VANILA

Bahan:

  • 250 ml susu
  • 100 gr gula
  • 1 butir kuning telur
  • 1/2 sdm maizena
  • 1/4 sdt vanila

Cara:

  • Maizena diencerkan dengan sedikit susu. Tambahkan telur dan vanili.
  • Rebus susu dan gula hingga mendidih, kecilkan api. Masukkan larutan maizena.
  • Rebus campuran sampai kental dan meletup-letup

Catatan: Aku sudah dua kali ini bikin vla dan gagal lagi. T-T Tapi masih mending sih daripada dulu (dulu vla-ku bau amis :p). Yang sekarang cuma kurang kental dan teksturnya kurang halus. Mungkin api-ku kebesaran dan maizenaku kurang.

Maaf fotonya berantakan

KUE LUMPUR MUNGIL (Resep asli: Kue Lumpur Labu Parang)

Bahan:

  • 300 ml santan sedang kental (aku bikin dari 2 sachet santan kara yang kecil-kecil itu, kutambah air sampai semua menjadi 300ml)
  • 1/2 sdt garam
  • 2 butir telur
  • 150 gr labu kukus halus (aku ganti dengan kentang seadanya, pas kutimbang mentah 1 butir itu 200 gr, jadi ya tepungnya yang sedikit aku kurangi)
  • 130 gr tepung (menyesuaikan dengan kentang)
  • 120 gr gula
  • kismis untuk topping

Cara:

  • Telur dan gula dikocok hingga mekar, masukkan kentang. Aduk rata (aku kocok pake mixer kecepatan rendah)
  • Di resep tidak ada step masukin tepung. Kalo aku, aku masukin tepung sedikit demi sedikit setelah kentang rata, aduk pake spatula.
  • Tuang santan secara bertahap.
  • Panaskan cetakan (pengalaman: cetakan takoyaki ga perlu dikasih mentega, kalo pun ngasih sedikiiit aja, soale bagian yang kena mentega jadi susah gosong, padahal kan lumpur bagusnya bawahnya agak coklat-coklat gitu, krasa mantep matangnya). Apinya kecil saja.
  • Tuang adonan 3/4 cetakan (itu kalo cetakan lumpur ya, kalo model aku yang cekung banget, kayane bagusnya 1/2 aja). Tutup.
  • Setelah setengah matang, taburi kismis (kismisnya 1 aja 😀)
  • Tutup lagi, panggang hingga matang.

Ada anak kecil ngintip umminya lagi usil motretin kue.

Itu nindy manjat kotak isi alat-alat tulis lho. Ada-ada aja nih anak. Nggemesiiinn…

Jalan-jalan

Weekend kemaren, dua hari itu aku kelayapan ga jelas.

Hari Sabtu:

Ada acara arisan Dharma Wanita bertempat di rumah Kepala Biro. Berhubung masih anak baru, jadi aku belum “diwajibkan” ikut arisannya (Rp 50.000,- per bulan!). Karena ga tahu dimana rumah Bapak Kabiro, maka aku bersama 3 anak baru lainnya berangkat dari kantor, menumpang mobil seorang Kasubbag.
Ternyata jalannya cukup jauh (meski Ciledug lumayan deket dari almamater dulu, tapi aku belum pernah ke daerah Ciledug yang ini). Sampai di sana, sudah ada beberapa ibu yang ga kukenal. Olala, rupanya para pensiunan dari biro organta juga diundang.

Acaranya… sama seperti acara ibu-ibu pada umumnya (awalnya sempat curiga ini jangan-jangan sekalian syukuran ulang tahun Bapak Kabiro yang juga jatuh bulan Juni, tapi ternyata kita semua salah duga). Ada demo alat-alat rumah tangga (panci, mixer, ma cetakan kue apem), kocokan arisan bulanan, dan diakhiri dengan acara bergosip ngobrol-ngobrol plus makan-makan, dah itu pulang!

Pulangnya, kita lewat jalan yang berbeda dengan jalan berangkat tadi. Kalo berangkat lewat tol, pulangnya kita lewat Blok M. Tapi entah kenapa jalannya (menurutku) muter-muter ga karuan. Mana jalanan panas banget, kena macet berkali-kali, ga bawa air minum. Aku duduk di belakang sementara AC cuma nyala di depan. Kena panas matahari dan ga dapet AC, walhasil: PUSIIING!!! Karena Nur ga boleh telat minum jadinya kepala rasanya nyut-nyutan.

Dalam keadaan setengah sadar (karena pusing banget) nekat turun di Atrium Senen. Dari awal Ncep emang ngajakin jalan ke atrium. Ya sudahlah. Kebetulan aku juga ada sesuatu yang pengin kubeli. Sehabis sholat ashar kita berdua puter-puter di Matahari. Tapi tetap saja: ga beli apa-apa. Meski diembel-embeli diskon 50%, hargan barang-barang masih di atas seratus ribu.

Pukul 04.30 sore, dengan kaki gempor sehabis muter-muter, aku seret Ncep ke Pasar Senen. Niatan awalnya sih cuma ngecek harga elektronik, tapi ternyata begitu tahu kalo harga di situ masih lebih murah dari Carrefour, akhirnya aku tergoda juga untuk membeli… tipi!! Oh, tipi!! Sudah 8 bulan aku ga bisa menikmati tipi di tempat tinggalku gara-gara di kosan ga disediain tipi, musti bawa sendiri-sendiri. Dan hari minggu kemaren (nganyari ki ceritane, ihiiirrr!!) aku bisa nonton final Indonesia Open di kosan! Amazing!!

Hari Minggu:

Setelah 6 bulan tidak pulang kampung, Ibu’ku yang begitu merindukanku (masa’ sih Nur?!) akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta menjengukku. Insyaallah beliau bersama Adik-ku Kandung dan 2 kakak sepupuku akan berangkat ke sini tanggal 28 nanti.

Nyambung cerita di atas, sebenarnya niat beli tipi juga dalam rangka penyambutan rombongan besar dari Malang itu. Mana Adikku dah bingung aja kalo sampe ga bisa nonton final Euro. Masih dalam rangka penyambutan, aku berencana membawa Ibu’ jalan-jalan ke Mangga Dua. Kabarnya ITC Mangdu itu jauh lebih lengkap dari ITC Cempaka Mas yang deket kosan. Tapi masalahnya, selama 3 tahun hidup di ”deket Jakarta” dan 8 bulan tinggal di Jakarta, aku belum pernah ke Mangga Dua!

Jadilah, hari minggu siang jam setengah 1 (dhuhuran di rumah dulu) aku mencoba berangkat sendirian ke Mangga Dua via busway. Niatnya: ngecek rute termudah dari kosan ke Mangga Dua. Aku dulu pernah sekali nanya ke petugas di sana, katanya halte terdekat ke Mangga Dua tu halte Pademangan. Busway jalur Kampung Melayu-Ancol.

Siang panas terik kutembus dengan berjalan kaki menuju halte busway. Sama seperti kemarin, kepalaku mulai nyut-nyutan. Tapi kali ini aku sudah mengantisipasi dengan membawa air minum dalam botol. Masuk halte Rawasari Selatan, dengan PeDe aku beli tiket, naek busway Pulogadung-Harmoni. Di halte busway Senen, banyak orang masuk. Aku masih dengan nyantainya duduk. Nyampe Harmoni, aku transit ke busway Blok M-Kota yang ke arah Kota. Aku duduk dengan tenang. ’Hmm, Halte Pademangan tu habis halte apa ya?’, pikirku. Dalam waktu kurang dari setengah jam, busway sudah nyampe stasiun kota. ”Mbak, pemberhentian terakhir”, kata petugasnya mengingatkanku yang masih terlongong-longong di bangku belakang. ’Lho, kok tadi ga lewat halte Pademangan?’. Dalam waktu beberapa detik baru aku sadar: Harusnya kan aku transit di Senen tadi! Naik yang jurusan Ancol! Ya ampun, dimana ini?! (Sekedar info, aku baru dua kali itu ke daerah kota) Bagus, aku nyasar dengan suksesnya!

Dengan malu-malu aku bertanya kepada petugas di pintu, ”Pak, kalo ke Mangga Dua naek apa ya?”. Bapaknya menjawab, ”O, naek 15, Mbak. Mbak keluar dulu.” Hiks, pertama kali turun di halte Kota. Aku keluar, dan melihat banyak mikrolet parkir di depan stasiun. Salah satunya 15. Tapi berdasarkan petunjuk Bapak penjual minuman di situ, katanya semua mikrolet mengarah ke Mangga Dua kok. Jadi aku malah naek 39. Ternyata deket aja.

Aku masuk ke ITC Mangga Dua dengan tujuan pertama: mesin ATM (berhasil menemukannya setelah tanya ke satpam). Sudah itu aku masuk ke lantai dasar. Masyaallah, penuhnya. Sesak sekali. Para pedagang berteriak-teriak di tengah kekacauan manusia. Aku yang masih shock dengan kenyataan itu hanya bisa berjalan pelan-pelan sambil mengingat-ingat arah pintu keluar dan berharap tidak nyasar lagi. Namun di tengah kekhusyukanku merenungi keadaan, seoarang penjual minuman dingin menawarkan dagangannya padaku, ”Teh, Mbak!” Awalnya aku ga denger, baru ngeh beberapa saat kemudian lalu spontan menolak, ”Oh, nggak Mas. Makasih”. Tapi ternyata Mas-nya ngotot (mungkin ngeliat mukaku yang kelelahan habis nyasar-nyasar). Aku bilang aja kalo aku bawa minum sendiri (kenyataannya emang demikian, aku suka bawa minum sendiri kemana-mana) Eh, Mas itu malah marah. ”Bakalan susah jodoh!!” sungutnya sambil ngeloyor pergi. Huhuhu, aku pengin nangis. Emang aku salah kalo ga beli? Itu doa yang bikin aku takut banget. Udah nyasar, disumpahin ga laku-laku. Huahuhuhu…hiks…hiks…

Dengan kesedihan mendalam (hiks) aku mencoba terus berjalan melihat-lihat keadaan. Aku menyimpulkan: sepertinya aku nggak perlu membawa Ibu’ku ke sini. Baju-baju memang banyak pilihan, tapi kalo ga lengan pendek ya lengan panjang tapi nrawang. Sepatu dan tas juga banyak pilihan, tapi di Cempaka Mas juga banyak. Ah, perjalanan ke MangDu yang sia-sia dunk?! Clingak-clinguk, liat bawah (dah di lantai 2 ceritane), liat atas… lho, di lantai 5 itu ada apa ya? Ta..ko..ku.. Takoku? Jadi inget takoyaki. Karena penasaran, aku langsung naik ke lantai 5 dan ternyata benar… gerai takoyaki!! Wah, langsung deh beli, mumpung ada kesempatan nyicip takoyaki. Aku beli yang original. Isinya irisan daging gurita dan daun bawang, berbalut tepung yang dipanggang di cetakan kaya kue apem (tapi lebih cekung). Taburannya nori dengan siraman mayones dan saus taucho (bener ga ya?). Enak dimakan waktu anget-anget dengan saus sambal (biar agak pedes). Mungkin yang ga suka ikan disarankan jangan makan karena agak-agak amis (norinya mungkin ya?! Tahu deh)

Begitulah, perjalanan ke Mangga Dua yang ”ga penting banget”. Bukannya beli baju malah wisata kuliner. Hehehe…