Soulmate

Kemarin waktu lewat Senen Poncol yang di pinggir jalannya ada lapak yang jual sepatu kets 35 ribuan, tiba-tiba aku teringat adikku.

Itu karena pada kali pertamanya dia ke Jakarta dulu, dia bilang pengin mampir ke situ. Aku dan adikku hanya dua bersaudara, karena itu hubungan kami sangat kuat. Dengan adikku, kami seolah selalu sehati. Dan juga saling melengkapi. Mungkin karena sama-sama virgo. Selera kami sama, kesukaan kami hampir selalu sama. Aku pertama kali makan pisang sale waktu kos di Bintaro dulu. Aku sangat menyukainya. Setahun kemudian ketika pulang, di rumah tiba-tiba adikku ngomong, “aku suka sekali pisang sale”.

Tiba-tiba aku terpikir, itukah yang dinamakan soulmate? Saat dua hati tanpa perlu banyak cakap akan saling mengerti?! Saat segala sesuatu diantara dua orang begitu pas dan serasi?! Orang bilang cinta itu pengertian. Ya, apakah soulmate itu yang ketika kita mampu memaafkan segala kesalahannya, dan menjalankan hubungan hati dalam pengertian memberi tanpa menuntut balasannya nanti?!

Dalam makna itu, tiba-tiba aku teringat padamu.

Baca lebih lanjut

Minna, aishiteru!

“Nilai hidup seseorang dapat dilihat dari jumlah orang yang mengantarkan ketika ia meninggal”

(manga Rurouni Kenshin, narasi pada prosesi pemakaman Kamiya Kaoru)

Seorang wanita berusia 83 tahun ditemukan meninggal dalam rumahnya di kawasan Menteng. Seorang tetangga yang curiga dengan bau busuk dari rumah tersebut, menemukan mayat sang wanita yang telah meninggal 11 hari lalu. Di kamar lain, ditemukan pula satu-satunya manusia yang masih tinggal di rumah itu: adik perempuan almarhum, berusia 81 tahun, dalam keadaan lemah hampir sekarat. Pemakaman segera dilakukan. Sangat sederhana. Hanya dihadiri beberapa tetangga, beberapa orang anggota perkumpulan yang mereka ikuti, dan seorang saudara jauh. Tragis!
Baca lebih lanjut

Sayonara, atashi no tomodachi…

Saat kita kehilangan sesuatu, saat itulah kita merasakan, betapa berartinya hal itu untuk kita.

Hah, berlebihan sekali. Sebenarnya yang akan terjadi adalah: awal bulan depan, seorang kawanku akan pergi bekerja di sebuah kota di luar Pulau Jawa. Ini gara-gara instansi tempat dia bekerja menugaskannya di tempat itu.

Setelah lulus kuliah, aku jarang sekali bertemu dengannya (baru sekali). Bertukar kabar pun hanya kadang-kadang dilakukan. Hubungan perkawanan kami selama ini memang seperti simbiosis parasitisme. Dia pohon dan aku benalu, yang selalu minta tolong ini itu padanya.

Aku punya banyak sekali hutang budi padanya.

Ketika kuliah dulu, tiap ada liburan, tentu aku ingin pulang ke Kota Kelahiran nun jauh di Jawa Timur. Untuk langsung sampai kesana (soalè bisa juga kalo mau oper-oper ke Surabaya atau Jombang) hanya ada 3 pilihan: Kereta Api Eksekutif (200ribuan), bus eksekutif (180 ribuan), dan kereta ekonomi Matarmaja (55 ribu). Berhubung statusku masih anak kuliah yang bergantung 100% pada subsidi orang tua, tak beranilah aku pilih yang eksekutif-eksekutif itu. Sementara jika memilih kereta ekonomi, perjalanan jauh itu harus ditempuh selama 18 jam ++ (plus macet2nya). Sementara mengingat keadaan kereta ekonomi yang “penuh dinamika” (pemalakan, pencopetan, penindasan, dll), aku selalu diwanti-wanti ibu’ agar tidak pergi seorang diri. Dalam rangka mencari kawan sejalan itu, biasanya aku bertanya (yang sebenarnya adalah meminta tolong) pada teman-teman sekotaku: Adakah yang pulang tanggal segini? Bolehkah aku turut serta di rombongan? Tapi jawaban yang kuterima seringkali: Wah, aku pulang tanggal segini…(ga cocok tanggal) Aku pulang ma Mas-ku tuh…(masa aku mau jadi “obat nyamuk”) Aku naik kereta eksekutif…(ga mungkin bareng) Coba tanya si fulan deh… (ga mau nolong) Jadilah aku sendirian, ga tau harus nanya siapa lagi, setelah terlempar-lempar sedemikian rupa oleh teman-temanku sendiri…

Di saat putus asa seperti itu aku menghubunginya. Dan jawaban yang ia berikan: Iya, aku pulang tanggal segini. Sama si ini dan si itu. Mau ikut? Gampang wès…

Duh, leganya. Kelegaan yang diberikan olehnya, menjanjikan kepastian pada orang yang sudah hampir putus asa, itulah yang menyebabkanku berasa sangat berhutang budi padanya. Dan itu sudah sering kali dia lakukan, selain pertolongan dan bantuan lain yang tak bisa kusebut di sini. Mungkin kalau aku cerita ini padanya, dia akan dengan entengnya bilang: Halah, Nur, biasa aè!! Ngono aè kok dipikir.

Andai aku sudah mencicil pembayaran hutang budi itu paling tidak sedikit saja, mungkin aku nggak akan kepikiran segitunya. Tapi yang terjadi, dia tak pernah meminta tolong apa pun padaku, sehingga aku tak pernah punya kesempatan untuk membalas kebaikannya. Justru aku yang masih juga minta tolong ini itu, menambah panjang list hutang budiku.

Tapi tak apalah. Dia mungkin sungguh-sungguh tak pernah mengharapkan aku membayarnya. Dan juga saatnya bagiku untuk dewasa. Menjadi berani dengan pulang seorang diri (Kemarin udah lho! Dan ternyata baik-baik saja tuh! Nyampe rumah dengan selamat meski naek Matar seperti biasa) Saatnya aku tak lagi bergantung pada pertolongannya.

Selamat jalan Kawan… Semoga engkau bahagia di tempat baru. Semoga mendapat lingkungan kerja yang menyenangkan. Amin… ^_^

Oh, ya, tambahan, berhubung sungai di sana besar-besar, semoga ga sering kebanjiran… (kaya di Jakarta ga kebanjiran aja) 😀