Yang Terhempas dan Yang Putus*

Sepanjang sekolah wajib, SD sampai SMA, 60% aku duduk di kelas unggulan.

Padahal aku bukan orang pintar. Dan seingatku, selama di kelas peranku cuma sebagai penggembira. Duduk di belakang, membuat onar bersama anggota “tim penggembira” yang sama-sama jarang bisa tampil di depan kalo diskusi dan jarang bisa menjawab pertanyaan guru. Namun aku senang-senang saja menjalaninya meski harus kuat mental melihat teman-teman yang kecerdasannya di atas rata-rata itu. Lagipula, aku merasa jadi terpacu untuk paling tidak menyamakan prestasi dengan yang lain-lain.

Baca lebih lanjut