Kepada (Para) Lelaki

Sewaktu SMA dulu, aku pernah menasihati adikku, “Ziz, kalo kamu nanti udah gede, kalo misalnya lagi di mikrolet atau bus kamu liat ada perempuan atau ibu-ibu yang berdiri dan ga kebagian tempat duduk, kamu kasih tempat dudukmu ya…” Adikku yang masih SD itu cuma ngangguk-anggguk dan bilang, “Iya, mbak”.

Entah kenapa, aku tiba-tiba ingin menasihatinya seperti itu. Mungkin karena waktu itu aku masih “mreman” (sekarang juga masih se) sehingga sering tidak ada yang peduli padaku. Bahkan pernah, ketika dalam satu bus, hanya aku seorang diri berdiri, dan di antara laki-laki itu tak ada yang memberikan tempat duduknya padaku.

Seperti aku mengakui kelemahan-kelemahanku sebagai perempuan (walau kadang aku mengingkarinya), atau keyakinanku bahwa darah bangsawan itu benar-benar ada, maka begitulah aku percaya bahwa laki-laki diciptakan LEBIH  daripada wanita. Dengan kekuatannya, dengan kelebihan otaknya.

Tapi aku heran…cenderung tak habis pikir, kenapa kebanyakan laki-laki sekarang jadi lebih “lembek”?! Di bus-bus, jarang sekali ada yang mau mengalah tempat duduk. Di terminal-terminal, asyik saja mereka merokok, tak peduli ada perempuan, apalagi perempuan hamil atau yang bawa anak kecil, duduk di sebelahnya. Ketika menyeberang, mereka bahkan berjalan di sebelah kanan, membiarkan si wanita yang menjadi “tameng” mereka.

Tidak. Aku tak meruntuk semua lelaki. Aku hanya meruntuk mereka yang kehilangan sifat laki-laki.

Mungkin kau protes… itu perempuan kalo janjian selalu molor, kelamaan dandan! Ok, aku mengakui kelemahan wanita itu (walau aku ga termasuk, setidaknya menurutku). Dan karena itu kelemahan wanita, maka betapa mengenaskannya jika itu menjadi kelemahan pria. Hei, kenapa bisa ngaret? Kalian kan ga butuh dandan??!! Sungguh, aku tidak bisa menerima kelemahan macam itu!

Yah, biarlah, sebelum puasa marah-marah dulu. Kan kalo puasa harus mengekang emosi. Hee… <nyengir>