Atasan VS Bawahan dalam Perspektif Kotak Bekal

Bawahan: Ih, sebel banget deh. Kita yang kerja keras, pulang malem, bikin konsep, nyiapin bahan… bos-bos itu tinggal ngoreksi doank, ga ikut lembur, rapat hahahihi dapet snack, tapi gajinya lebih besar…

———-

Teman(-teman) : Wah, kayane enak nur… yang bikin mbaknya ya?

Nur: Iya

Teman: Oh pantes…

———-

Sudah berulang kali bekalku dipuji karena tampak menggiurkan. Namun setelah tahu kalo embak-lah yang masak, selalu reaksinya yang “oohhhhh…”. Seolah pemakluman kalo bekal enak itu karena ada embak. Tapi yang nentuin menu, yang nyocok-nyocokin lauk, yang belanja ke pasar, ga dihitung? (tunjuk diri sendiri) Eh, termasuk menilai skill si embak lho, beliaunya ini ahli masakan jatim apa jateng, tahu masakan jakarta apa enggak…

———-

Jadi, setiap orang memiliki peranan. Seperti salah satu tokoh novel Terbang Malam Antoine de Saint Exupery: pekerjaan mengencangkan baut apakah ringan?! Bayangkan bila satu baut dalam pesawat lepas. Apa jadinya?!

Bayangan

Walau sudah bertekad buat resign, tentu saja yang namanya perasaan galau itu pasti pernah datang.

Pagi ini aku berjalan menuju nursery room sambil mengamati kotak-kotak ubin di bawah kakiku. Sepatuku yang berhak 3 cm. Rok-ku yang melambai-lambai…

Tetiba aku sadar. BARANGKALI, sebentar lagi bukan lagi ubin yang kuinjak, tapi tanah kering tegalan. Juga bukan lagi rok bersih yang kukenakan, tapi celana panjang lusuh yang biasa dipakai untuk pergi ke kandang ayam.

Kau mungkin akan bilang, mosok se nur? Yo gak mungkin lah se-ngenes itu…

BARANGKALI, tetapi tetap saja mungkin terjadi kan?!

Jujur dengan percepatan resign ini (aku lebih suka menyebutnya percepatan, karena cepat atau lambat keputusan resign pasti akan diambil juga), ada banyak hal yang terlalu mendadak sehingga tidak ada persiapan. Atau lebih tepatnya tidak ada bayangan.

Aku masih bingung apa yang akan kulakukan nanti. Rencana pasti ada. Jangan kau tuduh aku ga punya rencana. Blue print usaha ada. Bahkan aku sudah menyusun langkah-langkahnya. Pun hampir memulai langkah persiapannya.

Tapi untuk kehidupan sebenarnya yang akan kujalani nanti, hingga sekarang aku belum punya bayangan. Dan aku gelisah karenanya…

Mungkin karena aku orang Jawa, yang ndeso, yang masih sedikit percaya dengan kejawen, makanya aku percaya akan adanya isyarat. Dari alam, dari rangkaian peristiwa, dari mimpi. Isyarat itu akan hadir semacam bayangan yang meneguhkan. Iya, aku suka menyebutnya “bayangan”. Dan dia lebih kuat dari logika. Dari sejak akan sekolah di SMP4, sekolah di SMA3, sekolah di STAN, bekerja di keuangan, menikah dengan mz nug, dan yang terakhir: mutasi mz nug, semua selalu ada bayangannya. Semacam wangsit. Semacam ramalan bahwa aku akan berada di sana, dengan orang-orang itu, akan terjadi peristiwa itu. Sedangkan ini?!

Aku merasa masih ada yang salah. Bukan. Bukan soal keputusan ini. Seluruh isyarat peristiwa mendorongku untuk mengambil keputusan ini. Tidak, ini sudah benar. Tapi kenapa masih juga ada yang mengganjal?!

Mungkin karena aku sudah lama absen sholat malam? Mungkin karena aku sudah lama tidak lagi puasa? Mungkin karena aku terlalu jauh dari Tuhan?

Gusti Alloh, nyuwun pangapunten…

Hikmah Banyak Anak

Bukaaann… bukan menentang program KB.

Dan juga bukan karena semboyan “banyak anak banyak rejeki”. Bukan pula alasan agama.

Intinya, aku merasa, anak lebih dari satu itu memang ada baiknya. Lebih dari satu, bukan lebih dari selusin. Huehehehe…

Dulu ketika jaman anak cuma satu, terasa banget kalo nindy itu segala-galanya buat aku. Kalo diumpamakan cintaku 100%: 50% buat nindy, 25% buat suami, 25% buat keluarga. Kecenderungan ini aku lihat pula pada mereka yang anaknya baru satu. Semua-mua disiapin dengan perfect. Semua-mua diusahakan yang terbaik. Anak seolah-olah raja. Yah, mungkin sindrom ibu baru juga berperan di sini sih…

Makanya aku ga mau punya anak cuma satu. Takut terlalu memanjakan…

Ternyata memang keadaan jauh berbeda ketika jumlah anak mulai bertambah. Ketika kehamilan kedua, aku nekat aja tuh makan tape, makan durian, makan nanas… tentu saja dalam jumlah yang sangat sedikit. Tapi aku ga kebayang bakal melakukan itu saat hamil nindy. Setelah lahir pun bawaannya lebih slow. Besok mau MPASI, baru hari ini beli perlengkapannya. Kalo jaman dulu udah dari sebulan sebelumnya kali.

Sikap ke nindy pun mulai berubah. Karena aku harus memikirkan juga kepentingan  adik-adiknya, makanya aku jadi ikhlas ketika nindy harus ditaruh di malang. Pandangan hidup terasa lebih meluas.

Tapi… terlalu banyak anak juga ga baik sih.

Ibaratnya bilangan utuh, kalau terlalu banyak pembagi, maka hasil akhirnya akan kecil sekali. Ini aku lihat setelah aku membandingkan keluargaku dengan keluarga mz nug. Di keluargaku, ibuk cuma punya 2 anak. Di keluarga mz nug, mz nug ada 6 bersaudara. Ketika cucu lahir, ibuk sibuk banget dikit-dikit ke Jakarta nengokin cucu. Ya secara keluarga kami cuma sedikit. Sementara dari pihak purworejo lebih slow. Masih ada anak yang masih berada dalam tanggungan kan?!

Jadi kesimpulannya?! Dua anak cukup. Tiga istimewa. Empat?! Udah ah, ga mau nerusin. Hahaha…

#Resign2014

Ga dipikir-pikir lagi nur?!

Memang cukup menghebohkan ketika seseorang bertitle PNS memutuskan keluar dari kementerian dan melepas status PNS-nya. Apalagi yang bersangkutan masih menanggung ikatan dinas sehingga harus membayar ganti rugi ke negara sekian juta rupiah.

Tapi mau gimana lagi?! Ketika satu tindakan harus diambil. Bismillah. Insyaalloh, saya sudah memutuskan untuk resign tahun ini.

Kenapa?! 

Nah ini… Daripada menimbulkan banyak syak swasangka, berikut aku ceritakan kronologisnya. Intinya, ga mungkin lah… keputusan segede itu aku putuskan begitu saja berdasarkan emosi sesaat. ;)

Masa SD

Iya, alih-alih bercita-cita sebagai dokter, astronot, atau penyanyi, waktu SD cita-citaku adalah “menjadi guru”, yang kemudian kuralat “menjadi PNS”. Kenapa?! Soalnya aku lihat jam kerja PNS itu yang cukup fleksibel. Masuk jam 8, jam 2 siang sudah pulang. Andai nanti aku telah menjadi ibu, aku akan masih punya banyak waktu luang untuk menemani anak-anakku. Buatku gambaran itu adalah gambaran ibu yang ideal. Tetap bekerja, tapi juga tetap mendampingi anak-anaknya. (catt: ga berani jadi guru soale ga kuat mental menanggung beban psikologis kalo sampe anak didiknya ada yang ga berhasil atau ada yang nakal)

Lulus SMA

Jujur, aku memilih masuk STAN waktu itu hanya karena 3 hal: sekolah gratis, ikatan dinas (jadi ga usah nyari kerja lagi), dan sekolah pake seragam (cemen banget ya, secara kalo masuk universitas aku takut dirempongkan masalah “penampilan” :p). Sempat terlupa soal cita-cita PNS itu dan benar-benar ga punya gambaran kerja di kementerian keuangan itu kaya apa (eaaa… susah ya ga sebut merk)

Lulus STAN dan bekerja 2007-2010

Alhamdulillah aku termasuk 10 besar lulusan terbaik dari spesialisasiku, berhak ikut ujian DIV langsung, dan lulus juga ujian psikotest DIV. Ketika kemudian hasil ujian itu tidak diakui, 2 tahun kemudian teman-temanku ikut lagi ujian masuk DIV. Saat itu banyak yang bertanya, kenapa aku ga ikutan?! Bahkan sampai ada temanku yang menuduhku “pengecut”. Memang saat itu aku tinggal selangkah lagi meraih gelar S1 di sekolah tinggi yang “biasa-biasa saja”, jadi memang agak sayang bila ditinggal (nasehat ortu). Tapi di satu sisi, aku punya feeling, bahwa aku tidak boleh terikat terlalu lama dengan instansi ini. Kalo aku ambil DIV, maka masa ikatan dinas yang harus kujalani tentu akan semakin lama lagi.

Menikah dan beli rumah, 2012

Sebelum menikah, aku bertanya kepada mz nug, apakah aku harus tetap bekerja atau di rumah saja mengurus anak? Karena aku lihat mz nug termasuk “ikhwan” (salahkan pemilihan kata ini, tapi memang kata ini yang paling mewakili) jadi aku menanyakan hal itu. Waktu itu jawabannya tidak, aku harus tetap bekerja. Baiklah.

Dari awal menikah juga sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kemana pun mz nug pergi, aku harus menetap di satu tempat yang kami jadikan home base. Dengan demikian ada harapan ketika mendekati masa pensiun nanti, mz nug akan ditempatkan di home base dan kita tinggal menjalani sisanya dengan tenang (ckckck, jek ate rabi wes mikir pensiun) Selain itu kami berdua sepikiran juga bahwa hidup nomaden itu kurang baik bagi perkembangan anak. Ini berkaca ke pribadiku sih, yang susah beradaptasi. Ga kebayang baru masuk berapa bulan atau berapa tahun, terpaksa harus pindah lagi, nyari sekolah lagi, nyari temen lagi. Kok kasihan gitu. Belum lagi biaya pindah, tenaga dan waktu buat berpindah-pindah. Makanya ye, kemarin jadi sensi pas ada yang bilang “sepakat menikah tapi sepakat juga untuk tidak serumah”. Iya nih, ini kami emang kaya gitu. Trus masalah buat lo?! :p

Lalu waktu memilih beli rumah di perumnas klender (rumah di gang kelinci itu) memang pertimbangannya adalah bila satu saat nanti mz nug mutasi, rumah itu tidak akan terlalu jauh dari kantor. Jadi kalo ada apa-apa dengan anak di rumah, aku bisa langsung kabur (masih dalam jangkauan). Tapi terus entah kenapa terselip juga pemikiran, kalo ada apa-apa di kemudian hari, akan lebih cepat menjualnya (dan alhamdulillah sih, ini udah ada yang bersedia beli)

Ketika baru menempati rumah itu, kalo ga salah pas ulang tahun pernikahan kedua, tetiba aku iseng bikin bagan semacam blue print gitu. Jadi di blue print itu, memang ada rencana resign atau mutasi nanti di tahun 2017. Pertimbangannya:

  1. Jakarta bukan tempat yang ideal untuk membesarkan anak. Lingkungannya. Gaya hidup konsumtifnya. Polusinya. Makanannya (kebanyakan nonton acara investigasi). Biaya sekolahnya yang mahal.
  2. Jakarta bukan tempat yang ideal untuk tinggal. Banjirnya. Macetnya. Tingkat kesetresannya.
  3. Tahun 2017 insyaalloh hutangku di koperasi sudah lunas. Ikatan dinas juga sudah selesai. Jadi kalau pun resign, tidak perlu bayar ganti rugi.
  4. Masih ada waktu 5 tahun untuk mulai merintis usaha bila memang opsi resign yang akan diambil.

Namun kemudian, ternyata kami mendapat anugerah anak kembar. Seperti yang pernah kusinggung di sini, aku beneran puyeng. Apalagi dari awal begitu lahiran, ibuk sudah meminta agar nindy ditaruh di Malang. Karena aku pasti kerepotan mengurus 2 bayi plus 1 balita. Aku menolak. Siapa sih orang tua yang tega berpisah dengan anak?! Waktu itu wacana resign menyeruak. Mz nug yang awalnya ingin aku tetap bekerja, setelah melihat kondisi kami, akhirnya mengikhlaskan. Ibuk juga ikhlas. Namun ternyata ayah belum bisa menerima keputusan itu.

Aku akhirnya mencoba bertahan. 6 bulan kucoba untuk meng-handle semua. Namun ternyata aku kalah.

Kondisi fisik dan mentalku ga kuat menanggung semua ini. Karena capek, nindy sering kubentak-bentak. Padahal dia mencari perhatian hanya karena haus kasih sayang. Sesederhana pingin digendong saja aku ga bisa karena aku punya luka cesar. Sementara ribut dengan nindy, si kembar juga terabaikan. Kalo dulu nindy kuberi stimulasi ini itu, pada si kembar aku benar-benar ga ada waktu buat megang. Hampir ga pernah aku mengajak mereka bermain, membelajari ini itu, karena nindy selalu merajuk padaku. Akhirnya perkembangan si kembar juga sedikit terlambat. Aku frustasi. Semua hal kulakukan dengan tidak maksimal. Ditambah drama ART berkali-kali (aku menyadari bahwa beban kerja di rumahku memang berat, 2 bayi ga sama dengan 1 bayi, apalagi 2 bayi plus 1 balita bung!). Ibuk dan ayah di Malang sampai pusing pergi kesana-kemari mencari ART yang bisa dipercaya, sampai kecapekan, ga doyan makan mikirin kondisi cucu-cucunya.  Bahkan mz nug yang pulang cuma 2 bulan sekali, setiap kepulangannya selalu diwarnai dengan kejadian “lari-lari ke UGD”. Apa itu kencan berdua suami istri?! Sekedar ngobrol bareng intim aja ga bisa. Dahsyat!

Sampai titik dimana kemarin, drama ART terakhir, ibuk meminta lagi: nindy harus ditaruh di Malang. Diiringi tangis luar biasa aku menyetujui keputusan itu. Tapi keesokan harinya, setelah tangisku reda, aku mulai berpikir jernih.

Abi di Kalimantan, aku dan si kembar di Jakarta, nindy di Malang. Kami ini keluarga macam apa?!

Dan pertanyaan di film “Usagi Drop” terus-menerus menghantuiku: seberapa besar aku bisa berkorban untuk anak-anakku?!

Pekerjaan ini? Karier ini? Seberapa penting ini semua dibandingkan keluarga?

Lalu perhitungan finansial yang kubahas dengan adikku. Blak-blakan. Angka di atas kertas bicara. Kami kerja kaya romusha! Kerja keras ga ketemu keluarga tapi ga bisa dapat apa-apa bahkan minus setiap bulan. Sampai kapan tabungan itu bisa bertahan mem-back up pengeluaran?! Padahal semua juga tahu, aku bukan tipe istri boros. Bahkan cenderung tipe orang pelit bin medit.

Opsi mutasi juga terpaksa disingkirkan karena hingga sekarang peraturan tentang mutasi masih tidak jelas kapan disahkan. Padahal aku harus mengejar momen sebelum nindy berumur 4 tahun, karena aku pernah membaca, memori/ingatan permanen akan mulai terbentuk di usia itu. Aku ga mau nindy punya ingatan bahwa umminya telah membuangnya dan lebih memilih adik-adiknya.

Cuti di luar tanggungan negara juga bukan pilihan karena aku tidak ingin lagi bekerja setengah 8 sampai jam 5 kaya gini. Nanti pas usia sekolah, siapa yang mau antar jemput anak-anakku?! Walau sudah berstatus PNS, pekerjaan PNS di sini berbeda jauh dengan bayanganku masa SD dulu. Belum lagi bila harus konser, pulang malam, dinas luar berhari-hari…

Maka demikian, bismillah, opsi resign pun diambil. 6 bulan prosesnya, dan insyaalloh tidak sampai 4 bulan, aku akan bisa berkumpul kembali dengan nindy, dengan keluargaku di Malang sana. Semoga Alloh melancarkan jalan ini. Semoga jalan ini dilimpahi keberkahan.

Mohon doa restu semua….

Tanya-Pobhia

Ditulis dari pusdiklat KU – BPPK

Omong-omong, ini keikutsertaanku yang pertama dalam diklat setelah nikah lho.. #penting Soale selama nikah dan punya anak, males banget ninggalin kerjaan rutin, DL, dan semacamnya.

Diklat yang kuikuti kali ini alhamdulillah dilatari dengan tujuan mulia: untuk menambah ilmu. Sepanjang kerja, aku baru dua kali ikut diklat (prajab mah ga usah dihitung ya…) Diklat yang pertama beneran karena pingin ngabur dari kerjaan dan pingin hore-hore. Jadi kalo ditanya hasilnya apa, apa saja yang dipelajari, ya sudah lupa semua. Padahal waktu itu keluar sebagai ranking dua. Huahahaha #sombong

Mungkin karena tujuannya mulia itu, so far aku enjoy banget dengan diklat ini. Banyak pengetahuan baru, ketemu orang-orang baru…

Sek sek, kok jadi mbahas diklat mulu sih?!

Back to “judul”

Jadi aku tuh dari dulu kan pemalu ya… (serius lho… sila tanya temen-temen SD :p ) trus aslinya introvert… jadi yang namanya berdiri di depan forum itu ampuunnn…. ga berani deh! Bersuara di forum?! Hiii…. Kondisi akutnya, aku pun mengalami yang namanya “tanya-pobhia” alias malu bertanya kalo lagi berada di dalam suatu forum. Tanya-pobhia ini ga main-main, karena setiap kali mau bertanya, jantungku deg-degan ga karuan, lidah kelu, dan perasaan gelisah tak menentu (kok terdengar dangdut sekali sih?!)

Mosok sih nur? Lebay ih…

Mungkin terdengar mengada-ada. Tapi buat aku yang ngalamin sendiri, perasaan deg-degan parah itu sungguh-sungguh menyiksa. Padahal pas sekolah atau kuliah gitu kan “bertanya” masuk nilai aktivitas ya?! Untungnya nilaiku masih baik-baik saja walau aku selalu mendapat nilai minimal untuk nilai aktivitas ini. :p

Makanya dulu aku sempat ingin masuk D4 itu salah satu alasannya adalah ingin meningkatkan kemampuan public speaking-ku. Namun kemudian aku berpikir, kalo soal keberanian berbicara di forum (untuk “bicara di depan umum” belakangan aja deh) “barangkali” bisa dilatih di kantor saja.

Hmm… sudah berhasilkah?!

Sejauh ini, memang belum berhasil 100% sih. Adakalanya dalam satu rapat, nyaliku surut lagi, tetiba menjadi orang bego. Makanya aku cukup gembira karena di diklat ini aku merasa cukup aktif di kelas.

Analisaku, aku bisa menekan tanya-pobhia kalo:

  1. Berada di lingkungan orang-orang yang kukenal. Di diklat ini, 3 dari 5 pengajarnya aku kenal #KKN dan pesertanya juga rekan satu instansi
  2. Materi yang dibahas adalah sesuatu yang sudah cukup familiar. Materi di diklat ini berkaitan dengan pekerjaannku 4 tahun terakhir.

Aku berharap semoga penyakit satu ini semakin berkurang. Dan untuk lebihnya, bolehkah aku berharap untuk naik level menjadi “berani bicara di depan umum”, just like my father?!